Sebagai umat muslim, hidup kita tidak lepas dari aturan dan koridor yang telah Allah Ta’ala tetapkan. Karena hakikat eksistensi manusia adalah untuk beribadah kepada Allah, dan ibadah sendiri memiliki syarat-syarat tertentu agar dapat diterima. Oleh sebab itu, manusia disebut mukallaf, yaitu yang dibebankan oleh hukum-hukum dan kewajiban-kewajiban.

Termasuk keutamaan mempelajari ilmu ushul fikih adalah, supaya seorang muslim mengetahui apa saja kewajiban bagi dirinya; apa yang harus ia lakukan dan apa yang harus ia  tinggalkan. Dan salah satu pembahasan yang tidak dapat dipisahkan dari ilmu ini adalah tentang hukum.

Definisi Hukum

Hukum dalam Bahasa Arab berasal dari kata hakama-yahkumu, yang berarti menahan atau mengalihkan penggunaan[1].

Hukum dapat bermakna pula memutuskan. Ibnu al Atsir[2] berkata, hukum adalah mengetahui, memahami, dan memutuskan dengan adil[3].

Sedangkan secara istilahnya, hukum dapat diartikan sebagai sesuatu yang ditunjukkan oleh khithab syari’at atas perbuatan seorang hamba baik berupa keharusan, kebebasan dalam memilih, maupun berupa tanda-tanda (wadh’i)[4].

Apabila definisi di atas dijabarkan, maka sebagai berikut:

Khithab syari’at yang dimaksudkan dalam pengertian di atas adalah dalil dari Al Qur’an dan hadits Nabi-shallallahu ‘alaihi wa sallam-, karena khithab dapat diartikan pengarahan suatu perkataan kepada seseorang, yang dalam konteks ini subyeknya adalah Allah dan Rasul.

Khithab ini juga dalam hal-hal yang berkaitan dengan syari’at Islam, maka hal-hal yang bukan merupakan syari’at Islam tidak masuk dalam pengertian ini.

Suatu petunjuk ini juga mengatur pebuatan hamba, maka hal-hal yang tidak mengatur perbuatan hamba, seperti fisik atau keyakinan mereka, tidak termasuk dalam hukum pada pengertian ini.

Petunjuk berupa keharusan dapat berupa permintaan untuk melakukan, yaitu berupa hal-hal yang sifatnya wajib dan sunnah, maupun permintaan untuk meninggalkan, yaitu hal-hal yang sifatnya haram dan makruh.

Adapun yang berupa kebebasan dalam memilih, yaitu hal-hal yang sifatnya boleh dilakukan. Lima hal di atas yang menjadi pokok pembahasan kita kali ini.

Wadh’I, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan sah atau tidaknya suatu perbuatan, syarat, penghalang, maupun pelaksanaan suatu perbuatan, karena hukum terbagi menjadi dua, yaitu hukum taklif (mencakup lima hal yang akan dibahas berikut ini) dan hukum wadh’i.

 

Apa Itu Taklif?

Kata taklif dalam Bahasa Arab diambil dari kata kallafa-yukallifu-kulfah, yang artinya beban atau kesulitan[5].  Dalam Bahasa Arab jika dikatakan,

كلفتك على شيء

Artinya “aku membebanimu sesuatu”, yaitu untuk melakukan atau meninggalkannya.

Allah Ta’ala berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak akan membebankan seorang hamba di luar batas kemampuannya.”[6]

Sedangkan jika ditinjau secara istilahnya taklif ialah arahan berupa perintah dan larangan[7]. Setelah mengetahui apa itu taklif, untuk selanjutnya kita akan mengenal mukallif, dalam bentuk isim fa’il atau subyek, artinya yang membebankan, jadi mukallif adalah Allah. Lalu mukallaf, dalam bentuk isim maf’ul atau obyek, artinya yang dibebani, yaitu bangsa manusia dan jin.

Apa Saja Macam-Macam Hukum Taklif?

Sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas, bahwa hukum dalam Islam diklasifikasi menjadi dua bagian, yaitu hukum taklif dan hukum wadh’i. yang akan kami bahas pada artikel kali ini adalah hukum taklif, yaitu hukum yang menuntut perbuatan suatu hal, meninggalkan suatu hal, atau kebebasan memilih melakukan atau meninggalkan suatu hal.

Hukum taklif memiliki lima bentuk, berikut kami paparkan secara ringkas beserta contohnya:

  1. Wajib

Secara Bahasa, wajib artinya yang jatuh dan harus. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا

“Kemudian apabila telah jatuh (mati), maka makanlah sebagiannya.”[8]

Sedangkan secara istilahnya, wajib adalah sesuatu yang syari’at minta untuk dilakukan dan sifatnya harus[9]. Kemudian apabila seorang hamba melakukannya, ia diberi pahala, dan jika ia meninggalkannya maka mendapat dosa.

Perbuatan wajib akan diberi pahala apabila seorang hamba berniat melakukan itu karena Allah Ta’ala, dan orang yang meninggalkan sesuatu yang wajib diancam dengan dosa, adapun apakah ia pasti mendapat dosa, tergantung pada kehendak Allah, karena Allah berhak untuk tidak memberinya dosa, meskipun perbuatannya dapat menimbulkan dosa.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena memprsekutukannya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain itu (syrik) bagi siapa yang Dia kehendaki.”[10]

Contoh dari perbuatan yang hukumnya wajib adalah shalat lima waktu, zakat, berbakti pada kedua orang tua, menyambung tali silaturrahim, menepati janji, dan jujur.

  1. Mandub

Kata mandub dalam Bahasa diambil dari kata nadb, yaitu ajakan melakukan sesuatu. Lafadz mandub merupakan sinonim dari kata sunnah, dan ini yang lebih terkenal dalam lisan kita. Selain itu, mandub juga disebut mustahabb atau nafilah. Sedangkan secara istilahnya, mandub atau sunnah artinya sesuatu yang diminta syari’at untuk dilakukan tetapi sifatnya tidak harus[11].

Al Juwainy[12] menyebutkan bahwa definisi mandub adalah yang diberi pahala jika dilakukan, dan tidak dihukum jika ditinggalkan.[13]

Mayoritas ahli ushul fikih menganggap bahwa mandub termasuk perintah, karena sesuatu yang hukumnya mandub adalah ketaatan, dan ketaatan adalah dengan mengikuti perintah Allah (dengan niat yang ikhlas), maka dari itu mandub termasuk perintah pada hakikatnya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” [14]

Perintah ini sifatnya umum, dan mencakup yang wajib dan mandub, karena di antara kebajikan yang diperintahkan Allah ada yang wajib dan ada pula yang mandub[15].

Contoh dari perbuatan yang hukumnya mandub adalah bersiwak, shalat sunnah rawatib, dan memakai parfum pada hari Jum’at.

  1. Mubah

Kata mubah dalam Bahasa Arab artinya yang diumumkan atau diperkenankan.

Sedangkan secara istilah, dapat diartikan sebagai sesuatu yang pada asalnya tidak berkaitan dengan perintah ataupun larangan.[16]

Adapun konsekuensi dari hukum mubah menurut mayoritas ulama ushul fikih adalah tidak diberi pahala jika dilakukan dan tidak diberi hukuman jika ditinggalkan. Jadi, sesuatu yang mubah hukum asalnya adalah boleh dilakukan.

Terkadang kita dapati lafadz mubah disamakan dengan lafadz halal, padahal makna halal lebih luas dari mubah[17], karena sesuatu yang halal bisa menjadi wajib, sunnah, dan mubah.

Di antara contoh perbuatan yang hukumnya mubah adalah mandi untuk mendinginkan badan, atau makan pada malam hari di bulan Ramadhan.

  1. Mahzhur

Dalam lisan kita, sering disebut juga haram. Secara Bahasa sendiri artinya adalah yang terlarang atau yang dihalangi. Allah menyebutkan dalam firman-Nya,

وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا

“Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.”[18]

Adapun secara istilah, dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang diminta oleh syari’at untuk ditinggalkan dan sifatnya harus[19]. Sehingga sesuatu yang haram mengandung konsekuensi orang yang meninggalkannya dengan niat karena Allah akan diberi pahala dan orang yang melakukannya diancam mendapat hukuman dan dosa sesuai kehendak Allah, yang mana jika Allah menghendaki Allah akan mengampuninya.

Secara Bahasa dan kebiasaan, lafadz haram adalah antonim halal. Seperti dalam firman Allah Ta’ala,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘Ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.”[20]

Akan tetapi yang masyhur dalam istilah para ahli ushul fikih bahwa haram adalah antonim wajib karena adanya pembagian hukum taklif ini.[21]

Di antara perbuatan yang haram adalah durhaka kepada kedua orang tua, menjulurkan pakaian melebihi mata kaki bagi lelaki, berkata dusta, menggunjing, dan lain-lain.

  1. Makruh

Lafadz makruh secara Bahasa berarti yang dibenci. Adapun secara istilah adalah sesuatu yang diminta oleh syari’at untuk ditinggalkan, tetapi sifatnya bukan suatu keharusan[22]. Konsekuensi dari hukum makruh ini adalah orang yang meninggalkannya karena Allah akan diberi pahala, akan tetapi orang yang melakukannya tidak berdosa.

Sebagai catatan, kata makruh sendiri memiliki tiga penyebutan di kalangan ulama:

  • Sesuatu yang dilarang untuk kehati-hatian atau disebut juga nahyu at tanzih atau karahah at tanzih.
  • Terkadang pula diartikan pula sebagai haram, dan inilah yang sering dimaksudkan oleh ulama-ulama terdahulu, seperti Imam Ahmad dan Imam Syafi’I, karena mereka-rahimahumullah– meyebutkan kata haram dengan makruh sebagai bentuk kehati-hatian dan peringatan agar tidak dilakukan. Seperti perkataan Imam Ahmad[23],

أكره المتعة و الصلاة في المقابر

“Dimakruhkan nikah mut’ah dan shalat di kuburan.” yang dimaksudkan dalam perkataan Imam Ahmad di sini bukan berarti hukum nikah mut’ah adalah makruh, bahkan yang beliau maksud adalah haram. Maka dari itu, apabila Imam Ahmad menyebutkan lafadz makruh tanpa dalil yang menunjukkan keluarnya dari hukum haram, maka yang dimaksudkan adalah bahwa hukum tersebut haram.

  • Makruh bisa berarti menyelisihi perkara yang lebih baik atau lebih utama. Inilah yang sering dilalaikan oleh beberapa ahli ushul fikih. Letak perbedaannya bahwa makruh adalah yang terdapat larangannya secara jelas, adapun sesuatu yang “menyelisihi yang lebih baik” tidak terdapat larangannya secara jelas. Seperti contohnya meninggalkan shalat rawatib zuhur, ini bukan perkara makruh, tetapi menyelisihi sesuatu yang lebih utama.[24]

Adapun contoh dari perbuatan makruh adalah menengok dalam shalat, atau memberi dan mengambil sesuatu dengan tangan kiri.

Penutup

Hidup seorang muslim tidak boleh lepas dari koridor hukum yang telah ditetapkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Oleh karena itu sebagai seorang mukallaf (yang dibebani hukum syar’i) kita harus memperhatikan seluruh perbuatan kita agar tidak terjerumus dalam hal-hal yang terlarang, sehingga hidup kita akan mencapai tujuan dari beribadah itu sendiri, yaitu memperoleh pahala untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Penjelasan di atas yang kami paparkan merupakan penjelasan ringkas mengenai hukum taklif beserta beberapa contoh-contohnya. Tentu saja kita tidak cukup mengetahui hukum sampai di sini saja, karena kita terus membutuhkan sumber-sumber dan referensi lain yang membahas tentang hukum secara lebih luas dan terperinci, maka dari itu penulis terus mengajak pembaca sekalian kepada menuntut dan mengkaji tiap disiplin ilmu.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis: Zaky Hanifah

Pembimbing: Ustadz Khalid Saifullah, Lc., M.A.

Referensi:

  • Adz Dzahabiy, Syamsuddin Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad bin ‘Utsman bin Qaimaz. 1427 H. Siyar A’lam an Nubala’. Dar al Hadits: Kairo-Mesir.
  • Al Amidiy, Abu al Hasan Sayyiduddin ‘Ali bin Abi ‘Ali bin Muhammad bin Salim ats Tsa’labiy. 1402 H. Al Ihkam fi Ushul al Ahkam. Al Maktab Al Islamiy: Beirut. Cetakan ke-2.
  • Al Fauzan, Abdullah bin Shalih. 1434 H. Syarhul Waraqat fi Ushulil Fikih. Maktabah Dar Al Minhaj: Riyadh-KSA. Cetakan ke-4.
  • Al ‘Utsaimin, Muhammad bin Shalih. 1426 Al-Ushul min ‘Ilmil Ushul. Dar Ibnul Jauzy: Riyadh-KSA.
  • An Namlah, ‘Abdul Karim bin ‘Ali bin Muhammad. 1420 H. Al Muhadzdzab fi ‘Ilmi Ushul al Fikih al Muqaran. Maktabah Ar Rusyd: Riyadh-KSA. Cetakan ke-1.
  • Az Zarkasyi, Abu ‘Abdillah Badruddin Muhammad bin ‘Abdillah bin Bahadir. 1414 H. Al Bahr Al Muhith fi Ushul al Fikih. Dar Al Kutuby. Cetakan ke-1.
  • Ibnu Qudamah, Abu Muhammad Muwaffaq ad Diin Abdullah bin Ahmad bin Muhammad. 1436 H. Raudhatun Nadhir wa Jannatul Munazhir. Dar al ‘Alamiyyah: Kairo-Mesir. Cetakan ke-1.

 

[1] Al Bahr al Muhith (1/156)

[2] Beliau adalah Majduddin Abu as Sa’adat al Mubarak bin Muhammad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdul Wahid Asy Syaibaniy Al Jazariy Al Maushily. Lahir tahun 544 H. Penulis kitab Jami’ al Ushul dan Gharib al Hadits.

[3] An Nihayah (1/419)

[4] Syarh al Waraqat, hlm. 24

[5] Al Bahr al Muhith (2/50)

[6] QS. Al Baqarah: 286

[7] Raudhatun Nadhir wa Jannatul Munazhir (1/152)

[8] QS. Al Hajj: 36

[9] Definisi Bahasa dan istilah dinukil dari Syarh al Waraqat, hlm. 28

[10] QS. An Nisa: 48

[11] Al Waraqat: 30

[12] Abu al Ma’aliy Abdul Malik bin Abdillah bin Yusuf bin Muhammad al Juwainiy, namanya dinisbatkan ke Kota Juwain di Naisabur. Lahir tahun 419 H. Penulis kitab Al Waraqat. Digelari Imam al Haramain.

[13] Al Waraqat, hlm. 8

[14] QS. An Nahl: 90

[15] Syarh Al Waraqat: 31

[16] Ibid

[17] Ibid: 33

[18] QS. Al Isra: 20

[19] Syarh al Waraqat, hlm. 34

[20] QS. An Nahl: 116

[21] Syarh al Waraqat: 35

[22] Ibid

[23] Ibid, hlm. 36

[24] Ibid: 37


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *