بسم الله الرحمن الرحيم

Dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak mampu dipisahkan dengan tata cara beretika, moral, adab, dan akhlak.  Karena pentingnya pembahasan mengenai akhlak, seluruh agama maupun orang yang tidak mempunyai agama menjadikan poin ini tetap penting untuk dibahas. Karena bagaimanapun juga tidak akan mungkin didapat sebuah ketenangan dan kenyamanan dalam bersosialisasi kecuali dari masyarakat yang berakhlak mulia.  Dan Islam telah mengatur hal ini secara terperinci, bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap di hadapan Penciptanya, kepada sesama, kepada yang tidak berakal seperti hewan dan alam, bahkan Islam tak luput membahas bagaimana harus bersikap kepada mahkluk Allah yang tidak kasat mata seperti  jin dan malaikat.

Tidak bisa kita pungkiri juga, seseorang bisa lebih diterima oleh masyarakat dengan akhlak yang baik meskipun kapasitas ilmu yang sedikit dibandingkan seorang yang berilmu tapi tidak berakhlak.

Bagaimana bisa seseorang itu diberi kedudukan jika dalam dirinya tidak memiliki akhlak dan ilmu tentang pentingnya amanah?

Bagaimana pula seseorang mampu menjalani kehidupan sosialnya ketika dia memiliki kelebihan dari sisi keberanian dalam melawan musuh dan orang-orang yang dzalim tapi tidak memiliki akhlak dan ilmu untuk bersikap adil, kasih sayang, penuh hikmah, dan berusaha membalas kejelekan dengan kebaikan?

Bagaimana kita bisa terus berdampingan dengan seseorang yang memiliki rasa egois tinggi dan tidak memiliki akhlak untuk mendahulukan saudaranya?

Oleh karena itu akhlak menjadi hal yang sangat krusial bagi kehidupan pribadi maupun bermasyarakat. Karena tatanan persatuan kehidupan manusia bisa dimulai dengan perbaikan pondasi akhlak. Dan dengan sebab ini pula musuh Islam tidak berdiam diri ketika mereka tahu bahwa keberhasilan kaum muslimin itu didasari oleh iman, ilmu, dan akhlak. Mereka bersusah payah  menggunakan berbagai cara menghancurkan segala sebab kebangkitan Islam kembali muncul dan membuat Islam lemah.  Kebenaran dan kebatilan akan selalu bertarung untuk bisa mengungguli satu sama lain. Salah satu makar kaum kafir dan kaum munafik untuk membendung kebangkitan Islam adalah dengan menyerang Islam atas nama kebebasan dan hak asasi manusia.

Diantaranya menyebarkan gaya hidup free sex kepada generasi muda Islam atas nama kebebasan berekspresi dan semacamnya. Mereka telah menanamkan benih-benih kemunduran moral terhadap umat Islam, khususnya pada kalangan anak muda dengan menyebarkan ideologi kebebasan lewat berbagai media. Contohnya adalah dengan memproduksi film-film yang menggerus keluhuran akhlak. Lewat film-film itu mereka menayangkan gambaran yang mengumbar aurat dan menjadikan seks bebas sebagai suatu hal yang biasa.

Juga terlihat akhir-akhir ini para musuh Islam berusaha sekali mengkampanyekan penyimpangan-penyimpangan dan penyakit sosial sebagai kebebasan yang harus dilindungi. Salah satu contohnya adalah kampanye kaum LGBT. LGBT adalah program barat untuk meruntuhkan nilai-nilai etika dan menghancurkan moralitas. mereka membebaskan para kaum Nabi Luth dengan alasan hak asasi manusia. Anehnya, di beberapa negeri muslim, ada segelintir orang yang mengatasnamakan aktifis HAM, dan mereka ikut membela kaum yang  menyimpang tersebut.

Tak lupa mereka berupaya pula untuk menjauhkan umat Islam dari al-Quran dan ulama. Pola untuk menjauhkan umat islam dari al-Quran banyak jenisnya. Salah satunya adalah dengan media hiburan. Anak muda disibukkan dengan berbagai macam game-game terbaru. Selain itu mereka dilenakan dengan musik-musik. Sehingga tidak ada waktu lagi untuk membaca dan menelaah Alquran. Media masa menyebarkan dan menguasai opini publik yang mendoktrin secara halus anak muda untuk menjauh dari nilai-nilai Islam.

Kebenaran dan kebatilan akan senantiasa berseberangan dan saling memusuhi satu sama lain. Dan ini adalah sunnatullah yang akan selalu ada di setiap zaman.

Semoga gambaran di atas sedikit menampar setiap dari kita untuk sadar bahwa zaman ini sudah sangat jauh dari masa kenabian, sedangkan fitnah semakin menyambar-nyambar. Sudah saatnya kaum muslimin mulai memperhatikan lagi pondasi-pondasi agama ini, mengokohkannya dan sigap dari makar-makar musuh Islam.  Nas-alullah as salamah wal ‘afiyah.

Wallahu a’lam bis showaab, wabillahit taufiq wal hidayah.

Penulis : Milla Hanifa

Pembimbing : Ustadz Khairul Ahsan, Lc.

 

Referensi:

  • “Al Akhlaq Al Islamiyyah wa Ususuhaa”, Abdurrahman Hasan Habnakah Al Maidani.

 

 

Kategori: Akhlak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *