Pengantar Ilmu Musthalah Hadis

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله الذي والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة. أما بعد.

Sebagai seorang muslim kita diwajibkan untuk berpegang teguh pada dua landasan dasar yang dimiliki oleh umat Islam yaitu Alquran dan sunah. Bagaimana mungkin kita dapat berpegang teguh dengan keduanya jika kita tidak mempelajari keduanya dengan baik, demikian pula dalam berpegang teguh dengan sunah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam diperlukan pengetahuan apakah sunah/hadis tersebut shahih atau tidak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dan beberapa waktu seterusnya insya Allah kita akan mempelajari satu cabang ilmu, yaitu ilmu Musthalah Hadis.

Apa itu ilmu Musthalah Hadis?

Musthalah secara bahasa adalah diambil dari kata اِصطَلَحَ – يَصطَلِحَ  yang berarti istilah dengan makna مُطلَقُ الإِتِّفَاقِ (kesepakatan yang telah disepakati).

Adapun secara istilah adalah اتِّفَاقُ طَائِفَةٍ مَخصُوصَةٍ عَلَى أَمرٍ مَخصُوصٍ مَتَى أُطلِقَ انصَرَفَ إِلَيهِ   yakni kesepakatan suatu komunitas dalam menamai dan mengistilahkan sesuatu, sehingga ketika nama dan istilah tersebut diucapkan maka tertuju pada makna yang mereka sepakati.

Contohnya adalah istilah sunah menurut para ulama hadis, ulama ushul, dan ulama fikih memiliki definisi yang berbeda.

Menurut para ulama hadis, sunah adalah tapak tilas Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, baik berupa perkataan, perbuatan, persetujuan, atau sifat.

Ulama ushul fikih mendefinisikan sunah sebagai apa saja yang bersumber dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, baik berupa perkataan, perbuatan, atau persetujuan yang baik untuk menjadi dalil hukum syar’i.

Adapun sunah menurut para ahli fikih adalah apa-apa yang apabila dikerjakan maka akan mendapatkan pahala dan jika ditinggalkan tidak mendapatkan hukuman.

Hadis secara bahasa adalah الجَدِيدُ  yang berarti sesuatu yang baru.

Secara istilah, hadis adalah setiap yang datang dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berupa perkataan, perbuatan, persetujuan (taqrir), atau sifat.

Contoh perkataan adalah sabda beliau:

إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى

“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantungnya niatnya. . .” (HR. Bukhari-Muslim)

Contoh perbuatan Nabi صلى الله عليه وسلم adalah ketika Ibnu Abbas  selesai berwudhu beliau mengatakan :

هَكَذَا رَأَيتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَتَوَضَّأُ

“Seperti inilah aku melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berwudhu.”

Contoh persetujuan (taqrir) adalah seorang sahabat yang biasa membaca surat al-ikhlas dalam shalatnya, kemudian dipanggil oleh Rasulullah dan ditanya mengapa ia selalu membaca surat tersebut? Maka sahabat tersebut menjawab bahwa ia sangat mencintai surat tersebut. Lalu Rasulullah pun menjawab bahwa Allah juga senang dengan perbuatannya tersebut. Perbuatan yang mendapat persetujuan dari beliau itulah yang dinamakan taqrir.

Adapun sifat, maka dapat berupa ciri-ciri fisik Nabi Shallallahu alaihi wa sallam atau akhlak kepribadian beliau.

Berdasarkan pengertian diatas, maka ilmu Musthalah hadis adalah cabang ilmu yang dengannya kita mengetahui derajat suatu hadis, mengetahui keadaan sanad dan matan hadis yang berujung pada diterima atau tidaknya suatu hadis.

Dari sini dapat diketahui bahwa pokok bahasan ilmu Musthalah Hadis adalah sanad dan matan.

Apa itu sanad dan matan?

Sanad adalah rangkaian para perawi yang saling  menghubungkan sampai matan. Yakni deretan para perawi yang saling terhubung dari guru sampai dengan lafadz hadis tersebut.

Adapun matan adalah redaksi atau konten (isi) dari hadis tersebut.

Apa Faedah Mempelajari Ilmu Musthalah Hadis?

Dengan mempelajari ilmu ini, kita mendapatkan beberapa faedah, diantaranya adalah:

  1. Dapat membedakan antara hadis shahih, hasan, dhoif, ataupun palsu. Dengan begitu kita dapat mengetahui mana yang dapat dijadikan hujjah atau tidak.
  2. Menjaga hadis yang mulia dari pemalsuan atau kepentingan-kepentingan lain yang tidak semestinya. Seperti banyaknya oknum yang menggunakan serta memalsukan hadis demi kepentingan organisasi atau untuk mendukung keyakinannya.
  3. Mengenal ulama besar dari para perawi hadis baik dari kalangan sahabat Nabi, tabiin ataupun generasi setelah mereka.
  4. Selamat dari terjatuh dalam melakukan hal baru yang diada-adakan dalam agama, kesesatan, dan penyimpangan.

Apa adab-adab yang perlu dimiliki oleh penuntut ilmu hadis?

  1. Senantiasa memperbaiki niat dan mengkhilaskannya hanya untuk Allah dalam upayanya menuntut ilmu serta berhati-hati agar terhindar dari tujuan dunia yang lainnya. Sebagaimana hadis dari abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda:

 مَن تَعَلَّمَ عِلماً مِمَّا يَبتَغِي بِهِ وَجهَ اللهِ تعالى, لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ غَرَضاً مِنَ الدُّنيَا, لَم يَجِد عُرفَ الجَنَّةِ يَومَ القِيَامَةِ

“Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu (belajar agama) yang seharusnya diharapkan adalah wajah Allah, tetapi ia mempelajarinya hanyalah untuk mencari harta benda dunia, maka dia tidak akan mendapatkan wangi surga di hari kiamat” (HR Abu Dawud 3664, Ibnu Majah 252)

  1. Memohon kepada Allah agar senantiasa diberikan taufik dan kemudahan dalam mempelajarinya.
  2. Hendaknya mengerahkan seluruh upaya dan kemampuannya sehingga mendapatkan hasil yang maksimal. Sebagaimana hadis Abu Hurairah dari Rasulullah beliau bersabda:

(( احرِص عَلى مَا يَنفَعُكَ وَاستَعِن بِاللهِ وَلَا تَعجز ))

“Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan yang bermanfaat bagimu, dan mintalah pertolongan kepada Allah serta janganlah engkau merasa lemah” (Shahih Muslim 2/105)

Seperti yang telah diketahui bahwa keberhasilan tidak akan didapat dengan leha-leha, Yahya bin Abi Katsir berkata:

(( لَا يُنَالُ العِلمُ بِرَاحَةِ الجَسَدِ ))

“Ilmu itu tidak akan didapat dengan bersantai-santai”

  1. Mengamalkan apa yang telah diketahui, karena hal itu sangat membantu ingatan seseorang terhadap hadis yang telah ia pelajari.

Bisyr al-Hafi berkata:

“Wahai para ahlu hadis, tunaikan zakat kalian terhadap hadis. Amalkanlah dari setiap 200 hadis dengan 5 hadis”

  1. Hendaknya menjauhi sifat malu dan sombong dalam menuntut ilmu.

Para salaf mengatakan:

(( لَا يَنَالُ العِلمَ مُستَحيٍ وَمُستَكبِرٌ ))

“Orang yang pemalu tidak akan meraih ilmu, demikian pula orang yang sombong.”

Demikian yang dapat kita pelajari pada episode kali ini, selanjutnya insya Allah kita akan sedikit mengulas tentang sejarah perkembangan ilmu hadis dan beberapa karya tulis dalam bidangnya. Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis : Iffa Nadyatus Silmi Al-ghoyamy

Pembimbing : Ustadz Nur Kholis, Lc., M. Th.1

Refrensi:

  • Tadriburrawi Fi Syarhi Taqribin Nawawi, Jalaluddin as Suyuthi. Darul Aqidah, 1429 H.
  • Taisir Mushthalahul Hadis, DR. Mahmud ath-Thahhan, Maktabah al Ma’arif, Cetakan ke-sebelas, 1431 H.
  • Tadwin as-Sunnah an-Nabawiyah Nasy’atuhu wa Tathawwuruhu, DR. Muhammad bin Mathar az-Zahrani, Maktabah al-Minhaj, 1436H.

 


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *