Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb yang telah memberikan banyak hikmah dari kejadian-kejadian di masa silam sehingga dengannya umat Islam dapat mempelajari dan memetik pelajaran berharga. “Sungguh pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi mereka yang memiliki akal.”(Yusuf: 111)

Syaikh Manna’ Al-Qaththan berkata bahwa Fikih Islam tak terbatas pada kumpulan hukum-hukum cabang (far’iyyah) mengenai ibadah atau pergaulan (muamalah) saja, namun lebih dari itu. Secara umum ia merupakan prinsip hidup yang sempurna dan menyeluruh, meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Baik dari segi akidah, ibadah, kehidupan bermasyarakat, ekonomi, perundang-undangan, dan politik. Fikih Islam merupakan sebuah puncak emas karena ia seperti sebuah bangunan yang kokoh. Ia mengatur kesejahteraan sosial dan berbagai macam bentuk hubungan bermasyarakat terlebih hubungan antar kaum muslimin dengan detail dan terperinci.[1]

Hal ini menempatkan pembelajaran mengenai sejarah Fikih Islam memiliki urgensi yang sangat agung, karena dengan mengetahui sejarah perkembangannya, kita akan melihat bahwa ilmu Fikih bukanlah ilmu baru (ilmu yang ada setelah wafatnya Rasulullah ﷺ ), akan tetapi ilmu ini ada sejak diterapkannya syari’at Islam. Ilmu ini menunjukkan bahwa hukum-hukum Islam bersifat statis dan dinamis pada saat yang bersamaan. Statis dalam perkara-perkara yang tidak bisa diubah, dan dinamis karena fleksibilitas dan relevansinya dalam keadaan apapun, kapanpun, dan dimanapun.

Untuk mengkaji sejarah mengenai Fikih Islam secara sistematis, maka kami akan membaginya berdasarkan periodisasinya:

  • Periode penetapan syari’at di zaman Rasulullah ﷺ
  • Periode pembangunan pondasi Ilmu Fikih pada zaman sahabat, mencakup kebijakan hukum pada Daulah Umawiyyah, dan pembicaraan seputar pengajaran di Hijaz dan ‘Iraq
  • Periode kebangkitan Ilmu Fikih, pembangunan pondasi mazhab, pembukuan Ilmu Hadits dan Ilmu Fikih
  • Periode taqlid dan penutupan pintu ijtihad setelah terbentuknya mazhab-mazhab Fikih
  • Periode kembalinya Ilmu Fikih, pergerakan pembaharuan atas realita peribadatan yang berlangsung di tengah masyarakat sekarang, dan dibukanya kembali pintu ijtihad.

 

  1. Periode Penetapan Syari’at (Zaman Rasulullah ﷺ)

Jika kita mengkaji sejarah mengenai perkembangan Ilmu Fikih ini, maka kita akan menjumpai bahwa ilmu Fikih tumbuh dan berkembang seiring dengan penetapan syari’at Islam. Sumber utama hukum yang terdapat dalam masalah Fikih ialah ayat-ayat Alquran dan sunnah nabawiyah. Yang dengan keduanya, maka para sahabat menarik kesimpulan hukum (­istinbath ahkam). Pendapat para sahabat Nabi ﷺ akan penetapan hukum tertentu terjadi baik di zaman Nabi ﷺ maupun setelah wafatnya beliau. Dan ini adalah warisan yang tak ternilai harganya dalam bidang ilmu Fikih. Karena dengannya, para ulama dapat mempelajari dan menggunakan kerangka berpikir yang benar ketika akan mengambil kesimpulan hukum (istinbath ahkam).

 

Periode pertama ini dimulai dari diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, di periode ini Allah ﷻ menurunkan risalah penutup kepada penutup para nabi dan rasul. Risalah ini mengandung seluruh pengajaran mengenai akidah, akhlak, dan hukum-hukum yang dibutuhkan oleh para manusia dalam menjalani kehidupan di dunia maupun bekal di akhirat kelak. Risalah ini menyentuh seluruh lapisan masyarakat: individu, keluarga, maupun lingkungan sosial. Karena itu risalah ini ialah risalah yang begitu sempurna.

 

Selain diturunkannya Alquran, hadis-hadis Nabi yang juga merupakan sumber utama hukum dalam Islam, juga datang dari zaman ini. Alquran bersama dengan hadis Nabi ialah sumber utama penetapan hukum yang menjadi tonggak dan pondasi agama ini.

 

Pengkajian hukum pada zaman Rasulullah ﷺ tidaklah seperti pengkajian yang dilakukan oleh para ulama sekarang. Kita bisa melihat penjelasan ulama sekarang mengenai hukum ibadah tertentu dengan menjelaskan hakikat dari ibadah tersebut, syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, tata caranya, dan memisahkan setiap hukum dengan dalil-dalil tersendiri.

 

Sedangkan pada zaman Rasulullah ﷺ, ketika beliau berwudhu misalnya, para sahabat melihat secara langsung bagaimana tata cara wudhu, dan para sahabat menyimpulkan sendiri tanpa penjelasan dari Nabi ﷺ mengenai definisi maupun istilah dari ibadah tersebut maupun rukun-rukunnya. Begitupun dengan shalat, para sahabat shalat berdasarkan apa yang mereka saksikan langsung dari shalatnya Nabi ﷺ. Hal ini berlaku pula dalam ibadah lainnya. Dan sedikit sekali para sahabat yang bertanya mengenai hal ini (rukun, syarat, dsb) kepada Nabi ﷺ.

 

Dengan ini, maka terbukalah pintu ijtihad bagi para sahabat dalam memahami hukum-hukum syari’at. Salah satu contohnya ialah ketika Nabi ﷺ memerintahkan para sahabat untuk shalat Ashar di pemukiman Bani Quraizhah dalam peristiwa perang Khandaq. Dalam perjalanan mereka tibalah waktu Ashar dan mereka belum sampai ke tempat tujuan. Maka beberapa sahabat melakukan ijtihad untuk shalat Ashar pada waktunya dan memahami perkataan Nabi bahwa itu adalah seruan agar mereka segera sampai ke pemukiman Bani Quraizhah. Para sahabat yang lain berpendapat bahwa itu adalah perintah dan berijtihad untuk tidak shalat Ashar sebelum tiba di tempat yang dituju. Perbedaan pendapat ini terjadi karena sebagian berpandangan kontekstual dan sebagian lagi berpandangan konseptual. Namun Rasulullah ﷺ tidak menyalahkan pendapat manapun dari kedua ijtihad tersebut. Ini adalah salah satu bentuk pengajaran beliau ﷺ kepada para sahabatnya untuk berijtihad dan latihan bagi mereka dalam penarikan kesimpulan hukum (istinbath ahkam)

 

Selain itu, penetapan hukum-hukum juga dilakukan secara bertahap. Perintah shalat misalnya, ditetapkan sebelum hijrah yakni setelah peristiwa Isra’ Mi’raj. Kemudian pada tahun pertama hijriyah, ditetapkan hukum dalam permasalahan azan dan jihad, pada tahun kedua disyari’atkan puasa dan sholat ‘id, dan seterusnya. Bertahapnya penetapan hukum juga terjadi pada permasalahan tertentu. Pengharaman khamr misalnya. Pada awalnya turun ayat yang mencela tentang khamr, lalu turun perintah untuk menjauhi khamr ketika akan sholat, hingga ditetapkan bahwa khamr dihukumi haram secara mutlak.

 

Demikianlah periode penetapan syari’at di masa Rasulullah ﷺ. Alquran dan sunah menjadi sumber utama penetapan hukum pada masa itu. Namun, Rasulullah ﷺ membiarkan para sahabatnya melakukan ijtihad dan melatih mereka untuk berijtihad dalam penetapan hukum yang tidak dirinci dalam AlQuran dan sunah.

 

Sumber Referensi:

  • Taarikh Al-Fiqh Al-Islaamiy. ‘Umar Sulaiman Al-Asyqor. Kuwait: Maktabah Al-Fallah
  • Taarikh At-Tasyri’ Al-Islamiy wa Taarikh An-Nizhom Al-Qadhaiyyah fi Al-Islam. Ahmad Tsalby. Kairo: Maktabah An-Nuhdhoh Al-Mishriyyah
  • Taarikh At-Tasyri’ Al-Islamiy At-Tasyri’ wa Al-Fiqh. Syaikh Manna’ Al-Qaththan. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif li An-Nasyri wa At-Tawzi’
  • Taarikh Al-Fiqh Al-Islaamiy. Syaikh Muhammad ‘Ali As-Saayis. Beirut: Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah
  • Al-Fikru As-Saamiy fi Taarikh Al-Fiqh Al-Islamiy. Syaikh Muhammad bin Al-Hasan.

 

 

Penulis : Millati Aulia Hasanah

Pembimbing : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., MA.

 

[1] Taarikh At-Tasyri’ Al-Islamiy: 9

Kategori: Fiqih

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *