Mukadimah

Beliau mengawali kitabnya dengan basmalah, amma ba`du; Alhamdulillah bi jami`iI mahamidi…

Ini adalah mukadimah dari Al-Imam Ibnu Rusyd, kita bisa lihat disini, bahwa mukadimah yang beliau tulis sangat pendek dan tidak menyebutkan khutbatul  hajah. Beliau hanya memulai dengan basmalah dan shonaallah sehingga itu sudah mewakili basmalah dan pujian kepada Allah.

 Rasulullah bersabda:

((كل   أمر ذي بال لا يبدؤ فيه ببسم الله فهو   أجذم))

Artinya: “Setiap perkara penting yang tidak didahului dengan basmallah maka ia terputus.”

Riwayat hadits ini lemah ditinjau dari segi sanadnya, namun para ulama meneladani Al-Quranul Karim. Alquran diawali dengan bismillah dan surah Al-Fatihah yang di dalamnya terkandung pujian kepada Allah ﷻ.

Kita langsung masuk pada pernyataan Ibnu Rusyd: ”Tujuanku menyusun kitab ini untuk mendata  dan membukukan ilmu, ini untuk mengulang sendiri .”

Ini merupakan suatu pelajaran penting bagi kita, ketika kita menulis sesuatu hendaknya tujuan utama menulis itu untuk kepentingan diri sendiri, menyusun dan merapikan memori hati kita. Seringkali kita mempelajari suatu ilmu, namun ilmu tersebut di hati kita tidak sistematik. Kita akan menyadari saat kita mulai menulis. Betapa banyak orang yang bisa bicara panjang lebar, kesana-kemari, tetapi ketika diminta untuk menyusun maklumat yang dia sampaikan tadi dalam sebuah tulisan baku, dia tidak bisa. Kenapa? Karena bahasa lisan itu seringkali bersifat spontanitas, sedangkan bahasa tulisan itu sistematis, harus diawali dari garis besar atau bagian terpenting, mukadimah dan berurutan.

Dapat kita ketahui bahwa Ibnu Rusyd ini berada ditengah keluarga para ulama. Kakek, Ayah, Ibu dan keluarga beliau terkenal dengan ulama. Kakek beliau merupakan tokoh sentral dalam Madzhab Maliki ketika zamannya. Sehingga, dapat dikatakan bahwa Ibnu Rusyd Al-Jadd berhasil merapikan Madzhab Maliki menjadi sistematis dan metodelogi, penulisan beliau begitu indah. 

Jika kita lihat kembali kepada kitab Al-Bai’ Wa Tahshil Libni Rusyd Al-Jadd dan juga salah satu kitab Kakeknya yang berjudul Al-Muqoddimah Al-Mumahdat, kitab ini menyusun dan merapikan masalah-masalah fikih dengan menyebutkan pondasi dari setiap masalah bagaikan sebuah kaidah. Bahkan sebagian ulama mengatakan Ibnu Rusyd Al-Hafidz hanya menyusun ulang, lalu mengembangkan kitab kakeknya ini. Sehingga tidak aneh bila cucunya menyusun kembali dan membuat sebuah kitab yang indah; yaitu kitab Bidayatul Mujtahid Wa Nihayatul Muqtashid

Dilihat dari judulnya saja ada kemiripan antara cucu dan kakeknya. Kakeknya menulis dengan judul Al-Muqoddimah yang artinya mukadimah dalam semua masalah, dan Al-Mumahdat adalah sebuah kata pengantar, sehingga hal ini serupa dengan kitab Bidayatul Mujtahid. Beliau seakan-akan mengajak kita untuk memulai dalam langkah-langkah menjadi mujtahid. Namun demikian, beliau juga memberikan pesan kepada kita Wa Nihayatul Muqtashid. Bahwa ketika kita nanti sudah belajar fikih melalui berbagai tahapan-tahapan seorang mujtahid, maka kesimpulannya berada di titik nol, dimana kita mulai. Yaitu kembali kepada kaidah, ushul, dan kepada apa yang di tulis Kakeknya di Al-Muqoddimah Al-Mumahdat atau yang disebut Ushulul MasaiI.

Kembali kepada pelajaran yang dapat kita ambil dalam mukadimah ini secara de facto, bahwa masa-masa yang paling bagus untuk belajar adalah saat mengajar. Karena ketika ingin mengajarkan ilmu  kepada orang, hal yang pertama adalah harus faham dan betul-betul menguasai,  kemudian memiliki metodologi agar ilmu itu sampai kepada yang lain, harus bisa merangkumkan ilmu tersebut sehingga metode menjadikan bahasa lisan kedalam bahasa tulisan adalah metode yang cocok untuk mudzakaroh (mengulang/mengingat kembali).

Selanjutnya, yang akan dimuat dalam kitab ini adalah masalah-masalah hukum yang disepakati ataupun yang diperselisihkan para ulama, masing-masing dengan dalilnya. Ada satu hal penting disini, bahwa masalah-masalah hukum dalam Islam itu harus dibangun di atas dalil, jika dalil itu mujma’; yakni yang disepakati para ulama, sekedar klaim saja, itu tidak cukup.  Karena ijma` pasti ada dalil yang mendasari, tidak mungkin pula para ulama bersepakat dalam suatu masalah kalo tidak didasari oleh dalil dalam ranah bersepakat dan dalam masalah yang bersifat abstrak atau ilmiah, demikian kesepakatan yang lain. Jika kita ingin membangun persatuan umat Islam, harus dibangun diatas persatuan agama yang wadhih (jelas) dan bersumber dengan dalil. Adapun pendapat yang berasal dari kelompok, perorangan, atau madzhab, pendapat tersebut tidak akan mungkin menyatukan umat. 

Faktanya yang terjadi adalah, dalam satu madzhab saja terdapat khilaf. Namun perbedaaan eksternal dan internal suatu madzhab tidaklah berujung perpecahan selama masing-masing dari kita menjadikan dalil-dalil itu menjadi sumber utama dan kata final dalam setiap perbedaan, bila tidak dalil maka tidak ada opsi lain. Sebagaimana firman Allah:

وَمَا  كَانَ  لمُؤْمِن ولَا  مُؤْمِنة  إذا قضَى الّلَُه  وَرسُولهُ  أمْرا  أنْ  يكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ  وَمَنْ  يعْصِ  الي لّلََه وَرسُولهُ  فَقَدْ  ضَلّ  ضَلََل   مُبينا

Artinya: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzab: 36)

فإِن تَنازعْتمْ فِ شَيْ ء فَردُّوهُ إلََى الّلَِه والرسُول (59) (سورة النساء)

Artinya: “…Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (AlQur’an) dan Rasul (sunnahnya)…”

Dengan mengembalikan masalah yang terjadi perbedaan kepada Allah dan Rasul-Nya; yakni kepada Alquran dan Sunnah, maka tanazu’ (perbedaan pendapat) itu bisa diakhiri dengan dikembalikan kepada dalil, bukan kepada pemahaman. 

Namun perlu dibedakan, sering kali kita salah persepsi dengan menganggap diri kita sedang berpegang teguh dengan dalil. Padahal yang terjadi adalah, kita sedang berpegang teguh dengan madlulud dalil/pemahaman dalil. 

Contohnya, yang harus kita fahami adalah kedewasaan dalam bersikap saat perbedaan pendapat. Ketika Nabiselesai dari perang Khondaq, Beliau bersabda kepada para sahabat agar meletakkan senjata sebagai tanda untuk mengakhiri perang, karena Beliau mengira orang Quraisy telah pulang ke Makkah dan perang telah berakhir. Belum sempat meletakkan senjatanya, malaikat jibril datang dan bertanya kepada Nabi: “Apakah Engkau sudah meletakkan perisai perang, bahkan kami para malaikat belum meletakkan perisai senjata kami?”, maka segeralah Nabi ﷺ memerintahkan para Sahabat dengan bersabda:

لا يصلين أحد منكم العصر إلا فِ بني قريظة

Artinya: “Janganlah ada satupun yang shalat `Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah” [HR. Bukhâri, al-Fath, 15/293, no. 4119]

Dapat kita amati dari hadis di atas terdapat taukid tsaqilah pada kata لا يصلين, yang artinya ada penekanan bahwa janganlah sekali-kali kalian semua sholat Ashar kecuali di Bani Quraidzah. Namun, kenyataannya di tengah jalan sebelum tiba di Bani Quroidzah matahari sesaat lagi terbenam. Disini lah terjadi perbedaan pemahaman terhadap dalil. Bagaimana mengaplikasikan dalil itu, apakah secara tekstual bahwa apapun yang terjadi sholatnya tetap harus di Bani Quroidzah, walaupun matahari telah terbenam. Sehingga sebagian Sahabat tetap berpegang teguh pada pendiriannya untuk tetap sholat ketika sudah sampai di Bani Quraidzah, namun sebagian yang lain berfikir bahwa berusaha menyelami bukan hanya berpegangan pada redaksi hadisnya, akan tetapi mereka menyelami substansi dari hadis; yakni bersubstansi pada sholatnya atau bergegasnya, sehingga  ditujukan pada makna bergegas, maka termasuk dari bab mubalaghoh. Pada akhirnya kelompok kedua berpendapat bahwa ini hanya sebatas mubalaghoh saja, untuk memberi penekanan agar segera sampai meskipun sholat Ashar tidak di Bani Quroidzhah. Sehingga mereka tidak melanjutkan perjalanan dan berhenti terlebih dahulu sehingga sholat ashar diwaktunya kemudian melanjutkan perjalanan ke Bani Quroidzah. Kedua pemahaman ini benar, dan Nabi tidak mencela salah satunya.  

Ini menjadi suatu pelajaran bagi kita, bahwa pemahaman kedua kelompok ini; yang tekstual dan kontekstual itu ternyata berbeda dengan hadis. Dan Nabi tidak menyalahkan dan menganggap di antara keduanya membangkang terhadap hadisnya. Dan juga, dari salah satu mereka tidak ada yang mengatakan bahwa “Kalian menentang dalil karena Nabi jelas-jelas mengajarkan bahwa sholat Ashar itu sebelum matahari terbenam”. Masing-masing telah berusaha memahami dalil yang ada sesuai dengan kapasitas. Masing-masing memiliki nalar, kemampuan menganalisa, dan kecenderungan berbeda-beda dalam memahami dalil, sehingga yang terjadi bukan pertentangan antara dua dalil namun terjadi perbedaan pemahaman dalil. Bila kita memahami demikian, maka perbedaan pendapat itu ringan, tidak perlu saling tahdzir, tidak perlu saling membenci. Karena sejauh apapun perbedaan antara dua kelompok ini, terdapat efek dan berakibat fatal. Ada yang sholat Ashar setelah matahari terbenam, ada yang berusaha mengambil substansi dari hadis tersebut. Karena itu, disini mu`allim rahimahullah ta`ala mengatakan; bahwa ijma` (kesepakatan umat) itu harus dengan dalil, sampai pun dalam masalah khilaf. Maka yang menjadi standar itu bukan siapa yang berpendapat atau siapa yang men-tarjih, akan tetapi apa dalilnya. 

Sekali lagi ditekankan, bahwa kita harus bisa membedakan pemahaman representasi  dari dalil itu sendiri. Ini yang seringkali terjadi pada tholabul ilmi. Sehingga dengan mudahnya diantara Ahlu Sunnah mengklaim sampai mengkafirkan; murtad karena dianggap menentang dalil. Padahal dua-duanya seperti contoh tadi; sedang berusaha mengamalkan satu dalil. Ini perlu dibedakan, tentang pemahaman kita terhadap dalil dengan dalil itu sendiri. Ini (pembahasan) masih satu dalilnya, belum lagi bila terdapat dua dalil yang berbeda. Satu dalil saja dapat mengakibatkan banyak perbedaan, apalagi dua dalil.

Kemudian beliau juga memberikan catatan pada rahasia atau kata kunci terjadinya khilaf. Disini lah kita mendapat manfaat belajar khilaf dan madzahib para ulama, sampai–sampai ulama mengatakan :

“الفقه معرفة الْخلَاف”

Artinya: “Fikih adalah mengenal khilaf”

Yang dinamakan ilmu fikih itu adalah menguasai perbedaan. Selama kita belum menguasai perbedaan pendapat ulama, cara berdalil para ulama, maka kita tidak akan bisa membandingkan perbedaan tersebut. Ada sebuah ungkapan: “Siapapun yang belum menguasai dan memahami khilaf para ulama, maka hidungnya itu belum mencium baunya fikih.” Aromanya saja belum pernah mencium, apalagi belajar fikih. 

Oleh karena itu, jangan tergesa-gesa ingin segera selesai, mengapa? Karena di dalamnya bukan hanya terdapat tiga pendapat, lima pendapat kemudian yang rojih “A”, bukan demikian. Akan tetapi, kita harus mengetahui mengapa yang rojih itu rojih, dan marjuh kenapa marjuh. Kita juga harus mengetahui mengapa imam fulan berpendapat A dengan dalil yang sama, sedangkan yang lain tidak berpendapat A. Contohnya dalam satu dalil yang sama, yakni tentang merujuk dalam hibah; seseorang diberikan sebuah hp, setelah hp itu diterima kemudian si pemberi menarik kembali hp tersebut atau tidak jadi dihibahkan. Imam ahmad berpendapat bahwa rujuk hibah itu haram hukumnya, dasarnya adalah sabda Nabi ﷺ:

“Seorang muslim itu tidak layak mendapatkan perumpamaan yang buruk”

Dan ada riwayat:           

“الذي يعود فِي هيبته  كالكلب يرجع فيِ قيئه”

Artinya: Orang yang menarik kembali hibahnya seperti anjing yang muntah kemudian memakan kembali muntahannya. (Muttafaqun `alaih)

Seorang yang menarik kembali hibahnya itu seperti halnya anjing yang muntah kemudian ia memakan lagi muntahnya, sehingga imam ahmad mengatakan: ”Ini adalah perumpamaan yang sangat buruk”, yakni diserupakan dengan anjing, ia muntah kemudian ia memakan muntahnya kembali, sehingga beliau berpendapat bahwa ini merupakan dalil yang tegas dan dzohir bahwa rujuk dalam hibah itu hukumnya haram. Namun Imam Syafi`i berpaling, justru hadis ini (menunjukkan) rujuk dalam hibah itu halal, mengapa? Karena anjing itu tidak ada halal dan haramnya (ketika ingin melakukan sesuatu). Nabi menggambarkan memang ini buruk, tapi maksud beliau adalah rujuknya itu bagaikan anjing yang memakan muntahnya dan anjing halal memakan muntahnya, karena dia tidak memiliki syari`at alias bebas dan boleh berarti. Orang yang merujuk hibahnya itu memang jelek, tetapi tidak semua yang jelek itu haram. Karena kalau kita istinbat dari hadist ini bahwa merujuk dalam hibah itu haram berarti berkonotasi anjing itu haram; memakan muntahnya sendiri, padahal anjing tidak ada akal dan syari`at. Imam Syafi`i memahami bahwa tidak semua yang tercela itu haram, ini hanya menggambarkan buruk. Dalam satu hadis saja kita bisa menyelami cara berfikir Imam Ahmad dan cara Imam Syafi’i dalam menganalisa hadis yang sama. Terdapat pelajaran penting untuk kita, bahwa dengan sering membaca dan sering mempelajari masalah khilaf kita akan terbiasa menganalogi, seperti cara para ulama dalam menganalogi suatu masalah.

 Jadi, Muallif akan memberikan catatan untuk menggaris bawahi kata kunci permasalahanpermasalah yang terjadi khilaf. Sehingga, dengan memahami masalah yang disepakati, masalah yang terjadi khilaf, dan metodelogi para ulama dalam ber-istinbath dan menganalisa suatu dalil, itu akan menjadi pondasi dan qowaid yang berguna bagi kita. Untuk kemudian secara bertahap melatih skill dalam diri kita,mengasah kecerdasan intelektual dan nalar kita sehingga kita memiliki ketajaman dalam ber-istinbath dan cara menganalisa yang berstruktur sesuai dengan ulama. 

Kita selama ini selalu mengklaim bahwa kita ini salafy, dengan agamanya berdasarkan Ahlu Sunnah. Dan yang membedakan antara salafy dan non salafy adalah, bukan alqurannya atau pun hadisnya. Dapat kita lihat, seperti Asy`ari, Mu`tazilah, Khawarij, semuanya berdalil dengan alquran dan sunnah, yang membedakan adalah metodelogi dalam memahami alquran dan sunnah. Sehingga salah besar dalam belajar adalah, yang penting hafal alquran atau yang penting hafal. Ini merupakan kesalahan besar yang sering terjadi, (bukan sekedar) yang penting dalilnya jelas, tetapi bagaimana cara berfikir kita. Salafy Ahlu Sunnah Wal Jama`ah itu selalu menekankan kepada metodologi yang sesuai dengan metodologi yang digariskan oleh para ulama, meskipun hasilnya berbeda. Dalam artian, untuk menentukkan Ahlu Sunnah atau tidak yang lebih penting adalah bagaimana dia menganalisa manhajnya, yang diartikan sebagai cara berfikir atau alur. Hasil itu bukanlah hal yang penting. Contohnya adalah Abdullah Bin Abbas radhiyallahu `anhu, siapa dari kita yang meragukan bahwa beliau adalah salafy? Walau demikian, Abdullah Bin Abbas menyelisihi sahabat Ali Bin Abi Thalib dalam menyikapi Ahlul Bid’ah yang paling bid’ah; yaitu Rafidhoh. Ali Bin Abi Thalib mengambil ijtihad bahwa Rafidhoh itu di zaman beliau dibakar hidup-hidup, karena mereka telah mengklaim Ali sebagai tuhan mereka. Tetapi Abdullah Bin Abbas marah dan menentang pendapat Ali Bin Abi Thalib dengan berdalil tidak boleh menyiksa atau menghukumi dengan menggunakan api kecuali Allah, sedangkan Ali membunuh mereka dengan cara dibakar, dengan mengutarakan alasannya dalam sebuah syair:

Ketika aku melihat bahwa ini adalah kejadian yang sangat mungkar

Maka aku akan segera kobarkan apiku 

Dan aku perintahkan untuk segera membakar mereka

Mereka mengatakan sebuah pendapat yang tidak pernah dikatakan oleh manusia; yakni menganggap manusia sebagai tuhan, bahkan ini merupakan perkataan yang lebih buruk dari perkataan Fir’aun karena hal itu merupakan sesuatu yang diluar nalar. Ali tidak pernah, bahkan membantah anggapan bahwa dirinya tuhan, namun mereka tetap mengatakan bahwa Ali adalah tuhan.

Dari perbedaan di antara mereka, tidak ada satupun saling mengklaim bahwa Ibnu Abbas membela Ahlu Bid’ah, dan tidak ada yang mengklaim bahwa Ali tidak menggunakan cara yang tidak sesuai sunnah. Mengapa bisa demikian? Karena mereka telah memahami cara befikir masing-masing, memberikan udzur, dan saling memahami sabda Nabi ﷺ:

“Seorang itu jika sudah berusaha atau berijtihad untuk mendapatkan suatu kebenaran dan kesimpulannya itu benar maka dia mendapat dua pahala, namun bila ternyata kesimpulannya itu salah maka dia mendapat satu pahala.”

Hasil akhir itu banyak dihinggapi dengan keterbatasan mendata, kondisi yang terjadi saat kita menganalisa, serta keterbatasan waktu dan nalar. Oleh karena itu, melihat dari kesamaan metodelogi seorang yang fakih tidak dilihat dari kebenaran hasilnya, akan tetapi dilihat dari kebenaran metodeloginya dalam beristinbath.

Kemudian Beliau membahas lebih jauh, kenapa dalam fikih harus fokus untuk membahas masalah-masalah yang lebih besar? Karena dalam masalah besar dapat diambil acuan atau pedoman dalam berfikir, sebagai tolak ukur dalam menganalisa dan pijakan dalam berijtihad. Karena ada berbagai masalah yang maskut dan tidak dijelaskan secara tekstual dalam alquran dan hadis, apalagi masalah kontemporer. Maka metode yang benar adalah memanfaatkan kasus-kasus yang klasik, yang dijelaskan dalam alquran dan sunnah untuk dijadikan sebagai acuan dalam menyikapinya. Kalau kita ingin memiliki skill dan kemampuan besar untuk berijtihad dalam masalah kontemporer, maka kita harus menguasai masalah-masalah yang klasik, karena itu bagaikan cermin atau cetakan. Masalahmasalah yang klasik dan manshus dan ulama sudah tuntas dalam mengkajinya, inilah yang menjadi acuan kita. Contoh sederhana adalah ketika Nabi ﷺ menjelaskan tentang hukum khamar, yakni:

 “Setiap yang memabukkan itu khamar dan setiap yang memabukkan itu haram”

Disini Nabi menggunakan kata-kata “كل” atau “setiap”, walaupun di sini terdapat sababul wurud-nya ketika Nabi ditanya tentang minuman yang dibuat seperti dibuat dari kayu, kantong kulit, Beliau ditanya manakah yang boleh diminum? Nabi menjawab: ”Buatlah rendaman atau nabdz dan janganlah kalian minum yang memabukkan”.

Jika kita kaji bersama, bahwa Imam Abu Hanifah yang memiliki metodelogi dalam menganalisa dalil, beliau mengatakan hadis ini harus difahami berdasarkan history hadist ini; yaitu saat itu mereka membuat minuman dari anggur dan kurma yang direndam selama berhari-hari sampai difermentasi kemudian diminum dan memabukkan, ataupun perasan yang dituang dalam bejana kemudian ditutup rapat dan didiamkan sekian hari lalu diminum dan memabukkan. Sehingga Abu Hanifah berpendapat bahwa sebab wurud dari minuman yang memabukkan ini adalah terbuat dari anggur dan kurma, maka hadis ini tidak bisa difahami secara umum, dan hanya berlaku pada anggur dan kurma. Adapun minuman yang lain maka tidak bisa disamakan dengan anggur dan kurma. Minuman lain jika hanya mencicipi saja tidak apa-apa, bahkan minum segelas lalu memabukkan pun demikian, karena itu tidak bisa disebut khamar. Sehingga disini terdapat perbedaan metodelogi, apakah al-ibroh bi khususis sabab atau bi umumil lafdz. Beliau berpendapat bahwa al-ibroh bi khususi sabab la bi umumi lafdz. Ulama yang lain memiliki metode yang berbeda; yakni al-ibroh bi umumil lafdzi la bi khususis sabab, sehingga acuan dalam penilaian suatu hukum itu adalah redaksi hadis, bukan kisah yang mengawali munculnya hadis tersebut. Sehingga disini mengawali satu kesimpulan hukum yang berbeda, tidak ada satupun yang mengklaim bahwa Abu Hanifah itu Ahlul Bid’ah. Di sisi lain, meskipun tidak mengharamkan rendaman selain anggur dan kurma, seperti halnya air tebu bila diminum segelas mabuk namun jika diminum tidak memabukkan, Jumhur (sebagian besar ulama) mengatakan: “Selama itu memabukkan bila minum segelas, maka minum sedikit juga haram.” Hal ini menunjukkan perbedaan kesimpulan bahkan antara halal dan haram namun tidak ada yang membid`ahkan Abu Hanifah, karena masih menggunakan metodelogi Ahlu Sunnah Wal Jama`ah. Di sinilah mengapa kita belajar fikih itu terus bertele-tele dan panjang, karena kita mempelajari metodelogi para ulama.

Adapun contoh masalah kontemporer adalah uang giral yang ada di zaman sekarang, yang kemudian berubah menjadi uang elektronik, bagaimana para ulama terdahulu menilai uang dinar dan uang dirham itu sebagai alat transaksi yang berlaku padanya hukum riba, apakah acuan riba itu karena fisiknya? Perlu dipahami ketika para ulama menyimpulkan dari hadis, riba emas dibayar dengan emas dan riba perak dibayar dengan perak  kecuali sama ukuran dan timbangannya apakah riba dilihat dari fisiknya? Yakni ketika emas batangan ditukar dengan emas perhiasan seperti kisah Mudzolah Bin Ubay yakin ketika beliau dalam suatu peperangan menemukan kalung emas yang didalamnya terdapat permata. Kemudian ingin dijual dengan dinar senilai 12 dinar, ketika sudah dijual-belikan, kalung emas tadi dilepas, yang permata dipisahkan dengan emas, maka kandungan emas tersebut jika disatukan lebih dari 12 dinar, kemudian Nabi ﷺ bersabda bahwa itu riba. Tidak boleh ditukar dengan dinar sampai dipisahkan kandungan emasnya dari kandungan permatanya. Ini sebagai bukti kongkrit bahwa berlakunya hukum riba bukan hanya pada fisiknya, namun juga berlaku pada fungsinya; yakni sebagai alat transaksi. Sehingga disini, saat kita memahami masalah-masalah tentang berlakunya hukum riba dalam mendapatkan perak, kita dapat menyimpulkan hukum dalam masalah kontemporer, yaitu alat transaksi yang ada di zaman sekarang berupa uang giral atau elektronik. Ketika uang giral itu telah sah sebagai alat transaksi standar nilai sebagaimana dinar dan dirham, maka para ulama bersepakat uang giral walaupun bahan bakunya terbuat dari kertas dan uang elektronik yang bahan bakunya tidak ada dan hanya ada di komputer, selama itu sah dan diakui secara luas, ditetapkan oleh Negara sebagai alat transaksi yang sah oleh standar nilai yang sah, maka itu berlaku sebagaimana uang dinar. Karena ternyata terbukti, setelah dianalisa para ulama bersepakat bahwa hukum riba itu bukan pada fisiknya, namun juga pada fungsinya sebagai alat transaksi.

Beliau mengatakan: ”Masalah-masalah yang mayoritas akan saya angkat adalah masalah yang manshus ataupun masalah-masalah yang serupa dengan masalah yang khusus. Yaitu masalah-masalah yang telah terjadi ijma’, atau yang telah terjadi khilaf dan khilafnya itu sangat masyhur.” Mengapa demikian? Karena Imam Ibnu Rusyd tidak ingin mengkaji semua masalah dan tidak ingin melatih kita menjadi seorang mujtahid, beliau ingin mengasah pola pikir kita dan memberikan soft skill pada kita agar kita bersikap yang tepat sesuai dengan yang dicontohkan oleh para ulama dalam setiap masalah yang baru. Jadi, faidah dari belajar fikih itu bukan sekedar mengetahui perkara yang rojih dari tidak rojih, masalah yang sudah selesai. Justru faidah fikih itu adalah kemampuan kita untuk memberikan hukum dan memahami masalah-masalah kontemporer. Percayalah bahwa kita tidak akan mendapatkan metode baru atau kesimpulan baru, yang ada hanya kita memilih dari pendapat yang sudah ada.

Faedah terbesarnya adalah, karena terbiasa menganalisa kita mampu memiliki kacamata dengan mikroskop, sehingga kita bisa melihat acuan-acuan hukum yang tersembunyi. Karena bisa jadi, suatu masalah itu kulitnya, tidak isinya, sekilas dipandang itu bagus, namun bila diamati dengan cara pandang ulama kita akan menemukan tujuan-tujuan dan substansi yang tersurat maupun tersirat.

Ini adalah catatan materi yang disampaikan oleh Ustadz Dr Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A. dalam kelas Fiqh yang diadakan setiap Rabu Sore di Kampus STDI Imam Syafi`i. Materi yang disampaikan merupakan pembahasan dari muqoddimah kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid karya syaikh Ibnu Rusyd Al-Hafid

Disampaikan oleh: Dr Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A.

Ditulis ulang oleh: Vionita Dharma S dan Zaenab


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *