III. Periode Kebangkitan Ilmu Fikih

Periode ini dimulai pada abad kedua Hijriyah. Pada periode ini kekuasaan Daulah Umawiyah mengalami kemunduran, sedangkan perkembangan Daulah Abbasiyah tumbuh secara pesat dan perlahan mengambil alih tahta kekuasaan Daulah Islamiyah. Ulama-ulama pada periode ini mewarisi keilmuan yang berasal dari para sahabat Nabi ﷺ dan tabi’in, termasuk ilmu Fikih.

Sebelumnya, telah dibahas mengenai pengumpulan lembaran-lembaran Alquran di zaman Khulafaa` Ar-Raasyidiin dan sunnah Nabi ﷺ. Alquran sudah terlebih dahulu dikumpulkan dalam lembaran-lembaran, ini dilakukan pada zaman pemerintahan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Adapun hadis-hadis Nabi ﷺ, meskipun belum dibukukan, akan tetapi periwayatannya telah tersebar di seluruh pelosok negara Islam melalui hafalan-hafalan para penuntut ilmu di zaman tersebut.

Ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang amat pesat di zaman ini. Dimana sunnah Nabi ﷺ mengalami pembukuan. Tak hanya itu, pada periode ini Ilmu Kritik Sanad dan Perawi Hadis (Jarh wa Ta’dil) dan Musthalah Hadits menjadi cabang ilmu tersendiri. Hal ini menunjukkan bahwa para ulama memiliki perhatian yang amat besar dalam keabsahan suatu hadis. Mereka memberi pemisah yang jelas antara hadis shahih dan dha’if, menjelaskan alasan mengapa hadis tersebut berstatus dha’if, dan menyebarkan pengetahuan tersebut dalam bentuk lisan di khutbah-khutbah mereka, maupun dalam bentuk tulisan. Berkata Ibnu Al-Atsiir, “Sesungguhnya orang yang bersungguh-sungguh akan malas, ketajaman akal akan memudar, ingatan akan menghilang, akan tetapi tulisan akan abadi dan tidak akan pergi.[1]

Kesadaran akan literasi membawa semangat para ulama untuk membukukan dan membakukan berbagai disiplin ilmu dan melakukan segmentasi antar suatu keilmuan dan lainnya. Mereka juga membentuk cabang ilmu yang berkaitan dengan bahasa Arab dikarenakan perluasan kekuasan Islam dan kebutuhan orang-orang A’jam[2] akan ilmu tersebut seperti ilmu Nahwu, ilmu tentang kebudayaan Arab, dan sya’ir.

Bahkan para ulama juga melakukan penerjemahan buku-buku asing ke bahasa Arab. Hal ini membuat Daulah Islamiyah menguasai banyak pengetahuan dan menjadi terdepan dalam penguasaan setiap cabang ilmu.

Pembukuan ilmu Fikih juga terjadi di periode ini. Awalnya ilmu Fikih tergabung dalam ilmu Hadis dan pendapat para sahabat serta tabi’in seperti halnya kitab Muwatha’ karya Imam Malik. Di sana terkumpul hadis-hadis beserta membahas permasalahan Fikih dan perkataan para salaf shalih mengenai permasalahan tersebut. Perhatian utama terhadap pembukuan pada periode ini ialah setiap pembahasan didukung oleh dalil tersendiri karena tujuan dari pembukuan ilmu Fikih ialah membagi dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang benar tanpa fanatisme pada golongan tertentu (ta’ashub).

Perkembangan ilmu pengetahuan yang teramat pesat pada periode ini tak lepas oleh faktor-faktor pendukung; internal maupun eksternal. Salah satu faktor pendukung yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan ilmu pengetahuan di periode ini ialah dukungan pemerintah Islam dan perhatian mereka dalam perkembangan ilmu pengetahuan, terlebih ilmu agama.

Selain itu, salah satu faktor pendukung pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan di periode ini ialah para ulama diberi keleluasaan dalam mengkaji ilmu pengetahuan sehingga memunculkan banyak ahli yang memiliki spesialisasi di setiap bidang ilmu. Hal ini juga memberi kebebasan bagi setiap individu untuk memilih pendapat dan hukum mana yang sesuai dengan pribadi masing-masing.

Banyaknya ahlu al-‘ilm pada periode ini memunculkan banyak ijtihad. Setiap ulama memiliki ijtihad tersendiri dalam permasalahan tertentu, hal ini mendorong tumbuh kembang mazhab di periode ini turut bertambah secara signifikan. Keanekaragaman mazhab membuat banyak perbedaan pandangan yang akhirnya menimbulkan perdebatan. Sebelumnya, perselisihan sudah terjadi di zaman para sahabat karena perbedaan pandangan mereka, juga terjadi di zaman setelah mereka, dan telah disinggung sebelumnya mengenai perbedaan yang besar antara madrasah ilmu Hadis dan madrasah ilmu Fikih.

Perdebatan pada periode ini banyak yang terkosentrasi pada substansi suatu permasalahan, hubungan antara Alquran dan sunnah, apakah perbuatan sahabat merupakan hujjah  atau bukan, dan seputar pembahasan yang mendukung ilmu Fikih khususnya dalam mengambil kesimpulan hukum (istinbath ahkam). Debat bahkan memiliki forum tersendiri dan menjadi sebuah prestise pada periode ini. Debat dilangsungkan di lingkungan pengajaran, di rumah, di masjid-masjid bahkan di musim haji[3] ketika para manusia berkumpul. Tak hanya itu, perdebatan juga dilangsungkan melalui tulisan sehingga banyak karya yang membantah suatu pernyataan dengan pernyataan lain. Salah satu contohnya ialah kitab Al-Umm karya Imam Syafi’i.

Meluasnya daerah kekuasaan Islam juga turut andil dalam perkembangan ilmu pengetahuan, terkhususnya ilmu Fikih. Daerah-daerah yang baru ditaklukan memiliki peradaban dan budaya yang tidak diketahui oleh kaum muslimin sebelumnya. Sehingga ketika Islam memasuki wilayah tersebut, bertambahlah permasalahan yang belum pernah dibahas, terlebih permasalahan Fikih. Perluasan wilayah menyebabkan perluasan spektrum pembahasan, terlebih untuk Fikih mu’amalah yang sifatnya lebih fleksibel akan menyesuaikan dengan keadaan masyarakat dimanapun berada. Fatwa pada permasalahan tertentu yang sesuai dengan keadaan penduduknya sangat dibutuhkan, hal ini membuat ijtihad ulama semakin beranekaragam.

Perluasan wilayah juga membuat Islam terafiliasi dengan ilmu pengetahuan lain seperti ilmu kedokteran, ilmu kimia, ilmu kebudayaan, ilmu filsafat, dan sebagainya.

Empat mazhab besar yang kita kenal sekarang juga merupakan buah dari periode ini; Mazhab Hanafi yang diprakarsai oleh Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsaabit, Mazhab Malik oleh Imam Malik bin Anas, Mazhab Syafi’i oleh Imam Syafi’i Muhammad bin Idris, Mazhab Hanbali oleh Imam Ahmad bin Hanbal.

Berikut adalah paparan singkat mengenai mazhab-mazhab tersebut:

  1. Mazhab Hanafi

Adalah mazhab paling awal di antara keempat mazhab lainnya. Didirikan oleh Nu’man bin Tsabit bin Zuta bin Mahan At-Taymi yang dikenal dengan Abu HAnifah. Mazhab ini tumbuh di Kufah, tempat kelahiran Imam Abu Hanifah, yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru Irak. Para pengikut mazhab ini juga disebut Ahli Ra`yi, karena keberadaan hadis di wilayah Irak relatif sedikit, hal ini menyebabkan mereka lebih banyak menggunakan analogi (qiyas). Disebutkan dalam kitab Thabaqaat Lilhanafiyyah[4], bahwa mazhab ini tersebar hingga ke negara-negara yang jauh; penjuru Baghdad dan Mesir, negara-negara Persia dan Roma hingga India dan China.

Al-Fairuzabadi[5] menyebutkan bahwa pengikut mazhab Hanafi yang menjadi pondasi mazhab ini berjumlah 40 orang, diantaranya: Abu Yusuf, Abu Ja’far Ath-Thahawy, Zufar, dan Asad bin Amr yang merupakan orang pertama yang membukukan buku-buku mazhab ini.

  1. Mazhab Maliki

Disebut juga mazhab ahli hadis. Didirikan oleh Imam Malik bin Anas bin Malik bin Amr Al-Asbahi. Mazhab ini memiliki ciri khas dalam sumber pengambilan hukum yakni perbuatan ahli Madinah.[6] Ulama masyhur dalam mazhab ini ialah Abdurrahman bin Al-Qasim, Abu Muhammad Abdullah bin Wahab, dan Ibnu Abdil Bar.

Mazhab ini tumbuh di Madinah, tempat kelahiran Imam Malik. Kemudian menyebar di Hijaz, terutama di Bashrah dan Mesir serta beberapa negara di Afrika, juga sampai ke Andalus, Maghrib, bahkan Sudan.

  1. Mazhab Syafi’i

Dinisbatkan kepada Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i yang memiliki keistimewaan dalam ketajaman pemahaman serta menggabungkan metode kedua aliran fikih sebelumnya (Mazhab Hanafi dan Mazhab Maliki) hal tersebut sebelumnya tak pernah dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu[7]. Awalnya Imam Syafi’I menempuh mazhab yang sama seperti Mazhab Malik, namun setelah beliau melakukan perjalanan ke Irak dan bertemu dengan para ulama Mazhab Hanafi beliau mempelajari metode pengambilan hukum mazhab tersebut.

Awal kemunculan mazhab ini ialah di Hijaz, di Irak, dan berakhir di Mesir, kemudian meluas ke Irak, Baghdad, Syam, bahkan Hijaz dan beberapa wilayah di Afrika.

Para ulama masyhur dari mazhab ini ialah Imam An-Nawawy, Izzuddiin bin Abdus Salaam, Al-Buwaythy, Al-Muzny, Al-Mawaaridy, dan Ibnu Hajar Al-‘Asqolaany.

  1. Mazhab Hanbali

Didirikan oleh Ahmad bin Muhammad bin Hanbal yang juga dikenal sebagai Abu Abdillah. Mazhab ini tumbuh di Baghdad kemudian menyebar ke negara-negara lainnya, namun mazhab ini memiliki paling sedikit pengikut dibandingkan dengan mazhab lainnya. Salah satu penyebabnya ialah mazhab ini memiliki aturan yang sangat ketat dalam pengambilan hukum yakni dengan menggunakan hadis dan meminimalisir penggunaan ijtihad atau qiyas kecuali di kondisi yang amat darurat. Selama masih ada nash atau riwayat para sahabat dan tabi’in yang dapat dijadikan pijakan dalam mengeluarkan fatwa, maka ruang ijtihad semakin sempit. Akan tetapi mazhab ini menjadi mazhab utama di negara Saudi hingga sekarang.

Para ulama masyhur dari mazhab ini ialah Ibnu Hamid, Al-Qadhi Abu Ya’la, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, Abu Al-Khattab, Ibnu Al-Jawzy, dan Ibnu Taimiyah.

 

Penulis : Millati Aulia Hasanah

Pembimbing : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., MA.

 

Sumber Referensi:

  • Taarikh Al-Fiqh Al-Islaamiy. Umar Sulaiman Al-Asyqor. Kuwait: Maktabah Al-Fallah
  • Taarikh At-Tasyri’ Al-Islamiy wa Taarikh An-Nizhom Al-Qadhaiyyah fi Al-Islam. Ahmad Tsalby. Kairo: Maktabah An-Nuhdhoh Al-Mishriyyah
  • Taarikh At-Tasyri’ Al-Islamiy At-Tasyri’ wa Al-Fiqh. Syaikh Manna’ Al-Qaththan. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif li An-Nasyri wa At-Tawzi’
  • Taarikh Al-Fiqh Al-Islaamiy. Syaikh Muhammad ‘Ali As-Saayis. Beirut: Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah
  • Al-Fikru As-Saamiy fi Taarikh Al-Fiqh Al-Islamiy. Syaikh Muhammad bin Al-Hasan.
  • Nazhrotun ‘Aamatun fii Nasyati Al-Madzaahib Al-Fiqhiyyah Al-‘Arba’ah. Ahmad Taymour Pasha. Beirut: Daar Al-Qaadiry.

 

 

 

[1] Jaami’ Al-Ushuul hal.40

[2] Selain orang Arab

[3] Taarikh Al-Fiqh Al-Islaamiy hal. 96

Perlu diperhatikan bahwa ini adalah tindakan tercela karena debat adalah kegiatan terlarang saat haji.

[4] Al-Mirqaatu Al-Wafiyyah fi Thabaqaat Al-Hanafiyyah

[5] Muhammad bin Ya’qub bin Muhammad Al-Fairuzabadi

[6] Al-Madinah Al-Munawwaroh

[7] Telah dipaparkan sebelumnya bahwa kaum muslimin terbagi menjadi dua arus fikih utama yaitu ahli ra`yu dan ahli hadis. Dimana keduanya terdapat jurang perbedaan yang besar dan tak jarang memunculkan persaingan tidak sehat antar kedua kubu. Jurang perbedaan ini dijembatani oleh Imam Syafi’i dan mazhabnya yang menggabungkan metode ahli ra’yu dan ahli hadis.

Kategori: Fiqih

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *