بسم الله الرحمان الرحيم

Setelah mengetahui definisi Akhlak secara etimologi dan terminologi, serta mengetahui bahwa akhlak seorang mukmin memiliki cakupan yang luas, maka kali ini kita memasuki cakupan akhlak pertama dan yang paling utama dari seorang mukmin, yaitu akhlak kepada penciptanya.

Akhlak kepada Allah Ta’ala merupakan akhlak yang paling utama serta paling krusial dalam cakupan akhlak seorang mukmin, karena tanpa akhlak kepada penciptanya seseorang tidak akan bisa disebut berakhlak kepada sesamanya. Lalu, apakah yang dimaksud dengan akhlak kepada Allah Ta’ala dan bagaimana cara penerapannya?

Seperti kita semua ketahui bahwa perintah untuk meninggalkan akhlak yang buruk dan  memiliki akhlak yang baik datang dari Rabb kita, dan diserukan pula oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla:

{ وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ }

Artinya: “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad)benar-benar berbudi pekerti yang luhur”[1]

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa kita diperintahkan untuk berakhlak baik, dikarenakan Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam berakhlak baik, dan sesungguhnya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah seorang uswatun hasanah (suri tauladan). Atau yang disebutkan pula dalam hadis Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

 عن أبي ذر الغفاري قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :1

Artinya: ” Dari Abi Dzar Al-Ghifari berkata: telah berkata Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam: Pergaulilah manusia dengan akhlak mulia”[2]

            Yang pertama, akhlak kepada Allah Ta’ala adalah dengan beribadah kepada-Nya, karena inilah tujuan kita sebagai manusia diciptakan, Allah Ta’ala berfirman:

{ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ}

Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaku”[3]

Termasuk di dalamnya menjauhi apa yang Allah Ta’ala larang dan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya.

Yang kedua adalah dengan mentauhidkan Allah Azza wa Jalla, istiqomah serta penuh keikhlasan dalam menjalaninya, dan tidak menyekutukanNya dalam uluhiyyah, rububiyyah, dan asma’ wa sifat.

Yang ketiga adalah dengan mengagungkan nama-nama dan sifat-sifat Allah Yang Maha Mulia. Diantara bentuk mengagungkan-Nya adalah dengan mengimani dan tidak meragukan nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya dengan  meyakini bahwa Allah Ta’ala itu Maha Pemberi Rezeki, maka hidup seorang hamba yang meyakini hal itu penuh dengan rasa tenang, mengetahui bahwa sedikit atau banyaknya dari apapun yang ia dapat merupakan rezeki dari Allah Jalla Jalaluhu. Akan berbeda keadaannya saat seseorang tidak meyakini hal tersebut, maka ia akan merasa kesempitan dan kesusahan jika apa yang ia dapatkan tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Lebih jauh lagi, ia akan mengeluh dan mulai meragukan ketetapan Allah Ta’ala, dari sinilah bermula buruknya akhlak seorang hamba kepada pencipta-Nya, yaitu dari minimnya ilmu seorang hamba akan keluasan rahmat dan hebatnya kehendak Rabbul ‘aalamin.

Bentuk kedua dari pengagungan nama-nama Allah adalah dengan berdoa kepada-Nya dengan menyebut nama-nama Allah sesuai dengan doa yang dipanjatkan, misalnya saat kita berdoa meminta ampunan maka nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling tepat untuk kita sebut adalah Yaa Ghafuur (Wahai Maha Pengampun). Memuji-Nya dengan nama-nama-Nya juga merupakan bentuk pengagungan kita terhadap nama-nama tersebut.

Dan diantara adab kita terhadap nama atau lafadz jalalah (Allah) maupun Rasulullah adalah dengan tidak menghinakannya dengan meletakkan sesuatu berisikan nama atau lafadz Allah ditempat yang hina.

Ibnu Hajar menukil sebuah hadis dalam kitabnya yang berjudul “Bulughul maraam”:

عن أنس ابن مالك رضي الله عنه قال:2

“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk kakus (WC) beliau menanggalkan cincinnya”

Dijelaskan oleh Imam As-Shan’ani dalam Subulussalam bahwa penyebab Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam  menanggalkan cincinnya adalah karena terdapat lafadz Allah dan Rasulullah di cincin beliau. Faidah yang dapat kita ambil adalah: wajibnya menjaga lafadz Allah Ta’ala dari tempat-tempat yang hina. Begitu pula hendaknya kita tidak meletakkan sesuatu yang terkandung lafadz Allah Azza wa Jalla di dalamnya di sembarang tempat, di tempat-tempat yang biasa dilewati kaki, atau ditempat biasa diletakkan kaki, dan lain-lain. Terlebih lagi dalam memperlakukan kitab yang berisi Kalamullah: Alqur’an.

Dan yang terakhir: karena Allah melalui lisan rasul-Nya telah memerintahkan kita untuk berakhlak baik, maka termasuk bentuk penjagaan akhlak kita kepada-Nya adalah dengan menjaga akhlak kita kepada makhluk-Nya. Kepada siapa pun yang mengenal kita  atau pun tidak mengenal kita, yang dekat atau tidak dekat hubungan kekerabatannya dengan kita, kewajiban berakhlak baik ini masih tetap berlaku. InsyaaAllah akan datang penjelasan tentang bagaimana menjaga akhlak kepada sesama pada pembahasan yang akan datang.

Wallaahu ta’aala a’lam bis-showab, wa billahi taufiq wal hidayah

Penulis: Rohmah Romadhan

Pembimbing: Ustadz Khairul Ahsan, Lc.

Referensi:

  • Fatwa Syaikh Bin Baz (binbaz.org.sa)
  • Al-Akhlak Al-Islamiyyah wa Ususuha
  • Subulussalam
  • Bulughul Maram
  • Tazkiyyatun Nafs

[1] Al-Qalam:4

[2] H.R. Tirmidzi no. 1987 dari Abu Dzar, beliau berkata: hadis ini hasan shahih.

[3] Adh-dhaariyat:56

  1. وخالق الناس بخلق حسن []
  2. كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا دخل الخلاء وضع خاتمه []
Kategori: Akhlak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *