IV. Periode Taqlid

Berkata salah seorang penyair Andalusia[1]:

لكل شيء إذا ما تم نقصان# فلا يغر بطيب العيش إنسان

Segala hal akan mengalami kemunduran setelah mencapai puncak kemajuan.

Oleh karena itu, janganlah terbuai oleh kenikmatan dunia”

Pada periode ini, Daulah Islamiyah terpecah menjadi beberapa bagian dan berdiri beberapa negara dengan kepala negara tersendiri. Hal ini memicu perpecahan di tubuh umat Islam. Perlahan namun pasti, umat Islam melemah dan mengalami kerusakan karena gesekan antara negara satu dan lainnya. Tak hanya itu, perpecahan ini juga menimbulkan banyak fitnah dan kekacauan sehingga memudahkan musuh-musuh Islam untuk menyerang dan menjatuhkan kejayaan Islam.

Daulah Islamiyah tidak hanya tentang Daulah Umawiyah, Daulah Abasiyah, dan Turki Utsmaniy seperti yang masyhur dalam catatan sejarah. Namun lebih dari itu, pada periode ini muncul berbagai Daulah Islamiyah; Daulah Fathimiyah yang menguasai Mesir, Daulah Abbasiyah yang awalnya memiliki pusat kekuasaan di Damaskus lalu dipindahkan ke Baghdad, Daulah Saljuqiyah yang pernah menguasai Asia Tengah dan Timur Tengah, Daulah Ayyubiyah yang diprakarsai oleh Salahuddin Al-Ayyubi, Daulah Zankiyah yang beribukota di Halab, sekarang lebih dikenal dengan Aleppo.

Dengan kondisi politik dan sosial pada saat itu, dimana kekacauan timbul dari tubuh internal dan eksternal, memberikan dampak yang besar terhadap ilmu pengetahuan saat itu. Islam yang semula menjadi mercusuar yang menerangi seluruh penjuru dunia dengan ilmu pengetahuan mengalami degradasi secara signifikan. Sebelumnya telah dibahas mengenai iklim berijtihad yang subur dan semangat menuntut ilmu di kalangan umat Islam. Namun pada periode ini, justru banyak terjadi taqlid (mengikuti perkataan tanpa memiliki hujjah[2] atau mengikuti perkataan orang lain tanpa mengetahui dalilnya[3]). Para Muqollidun[4] madzhab bahkan tidak merujuk pada kitab-kitab utama madzhab, melainkan merujuk pada kitab-kitab karangan ulama kontemporer. Ketika dibawakan kepada mereka bukti pernyataan berupa Al-Qur`an dan Sunnah, mereka justru membantah dengan perkataan ilmuwan dan cendikiawan. Keadaan ini digambarkan dengan baik oleh Ibnu Al-‘Araby ketika menceritakan kemunduran yang menimpa Andalusia pada zamannya, “Beginilah keadaannya sekarang, matinya ilmu pengetahuan kecuali bagi segelintir orang. Hal ini terus berlangsung dimana ilmu pengetahuan meredup dan kebodohan merajalela…”

Syaikh Al-Asyqar menyebutkan[5] beberapa penyebab terjadinya kemerosotan ilmu pengetahuan pada periode ini ialah:

  1. Ghuluw (berlebihan) dalam mengagungkan para Imam Madzhab.
  2. Banyaknya karya tulis yang tidak berpijak pada Al-Qur`an, Sunnah, dan sumber yang terpercaya serta banyaknya karya yang tidak mengikuti metode penulisan ilmiah.
  3. Menyibukkan diri dengan ilmu-ilmu lain selain ilmu Diniyah.

Fenomena fanatisme ini tidak terjadi begitu saja, akan tetapi muncul secara bertahap. Pada periode sebelumnya, para pengikut madzhab sudah melakukan fanatisme terhadap beberapa imam madzhab dan mengikuti setiap perkataan mereka baik yang benar maupun yang lemah. Keadaan ini mendorong Imam Syafi’i untuk menunjukkan perbedaan pendapatnya dalam suatu permasalahan dengan pendapat gurunya (Imam Malik) secara terang-terangan. Ini dilakukan karena pada saat itu banyak ulama dari Andalus dan Mesir fanatik terhadap Imam Malik, padahal Imam Malik tidak meridhai hal tersebut.

Awalnya, para ulama di periode ini masih berijtihad tentang beberapa permasalahan di dalam madzhab, namun setelah Bangsa Tatar menyerbu pada tahun 656 Hijriyah, para ulama akhirnya meninggalkan ijtihad secara menyeluruh. Sehingga para ulama periode ini hanya mengumpulkan pendapat para ulama sebelumnya dan memisahkan pendapat yang kuat dan pendapat yang lemah. Mereka tidak mengemukakan pendapat mereka sendiri dalam suatu permasalahan. Mereka juga tidak menyusun karya tulis dan mencukupkan diri dengan karya-karya yang dibuat oleh para ulama sebelumnya.

Disebutkan dalam kitab Taarikh Al-Fiqh Al-Islaamiy bahwa upaya para ulama pada periode ini terbagi menjadi 3 macam:

  1. Pada periode keemasan Islam, para ulama banyak yang berijitihad bahkan untuk permasalahan yang belum terjadi pada saat itu. Para ulama periode ini memisahkan antara pendapat yang kuat dan pendapat yang lemah dari seluruh pendapat yang ada, meneliti sebab perbedaan pendapat, dan mempelajari pendapat-pendapat para ulama sebelumnya sehingga mengetahui sebab-sebab terjadinya kesimpulan hukum tersebut (ta’lil ahkam). Mereka menyusun dasar-dasar pengambilan hukum dari setiap madzhab dan mempelajari perbedaan pandangan mereka.
  2. Dengan banyaknya pendapat dari para ulama sebelumnya, maka para ulama pada periode ini melakukan validasi terhadap riwayat-riwayat yang ada. Validasi ini dilakukan dari dua sisi: dari segi riwayat hadits atau riwayat perkataan para imam madzhab dan dari segi riwayat periwayat, apakah riwayatnya bisa dipercaya, apakah riwayatnya benar atau mungkin terjadi kesalahpahaman baik dari segi hafalan maupun penulisan.
  3. Memperluas ideologi madzhab dengan memperbanyak kitab-kitab dari ulama madzhab yang memiliki keluasan ilmu, zuhud, dan wara’. Sehingga manfaat dan pengetahuan yang ada dapat sampai ke masyarakat luas. Mereka juga menyusun karangan yang mencakup permasalahan yang diperselisihkan para ulama madzhab. Karangan ini terdiri dari perkataan para ulama madzhab terhadap permasalahan tertentu beserta dalil-dalilnya, dan mereka menambahkan pandangan pribadi mengenai pendapat yang paling kuat.

Forum debat masih ada pada periode ini. Namun seperti judul pada sub-bab, yakni periode taklid, forum debat pada periode ini tidak lagi untuk mendiskusikan hukum dalam suatu permasalahan, akan tetapi forum ini digunakan untuk menunjukkan kehebatan dari setiap madzhab. Mereka berlomba-lomba untuk menunjukkan keunggulan madzhab yang mereka anut dan menjatuhkan madzhab lainnya. Forum debat yang sebelumnya bertujuan mencari kebenaran dan berbagi pandangan menjadi forum untuk adu argumentasi, tidak peduli mana yang benar dan mana yang salah.

Syaikh Abu Hamid berkata sebagaimana yang diriwayatkan Abu Hayyan At-Tauhiidy: “Jangan berpegang pada pendapat yang aku lontarkan di forum debat. Karena pendapat yang aku lontarkan di sana ialah pendapat yang penuh muslihat untuk mengalahkan lawan.”[6]

Akan tetapi, pada periode dimana fanatik buta merajalela, terdapat beberapa ulama yang menyusun kitab-kitab Fiqh yang sesuai dengan metode yang ditempuh oleh para ulama terdahulu. Karya-karya ini sangat penting dan bermanfaat untuk generasi selanjutnya terutama para penuntut ilmu yang ingin mendalami ilmu Fiqh. Diantaranya: Al-Muhalla karangan Imam Abu Muhammad Ali bin Ahmad Al-Andalusy yang dikenal dengan nama Ibnu Hazm, Al-Mughny karya Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Qudamah yang masyhur dengan Ibnu Qudamah, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzzab yang disusun oleh Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawiy yang dikenal dengan Imam Nawawiy.

Kitab-kitab ini memiliki sumbangsih yang amat besar bagi ilmu pengetahuan yakni memberi pandangan mengenai perbedaan pendapat ulama atau disebut Al-Fiqh Al-Muqoronah (Fiqh Perbandingan) serta pembahasan ilmu Fiqh secara umum dan menyeluruh dengan meniadakan fanatik terhadap madzhab atau imam tertentu. Pendapat yang dikuatkan dalam kitab-kitab ini merupakan pendapat yang memiliki dalil dan hujjah. Kitab-kitab ini seakan sebuah nasehat tersirat mengenai keadaan pada saat itu, untuk memberikan pandangan yang adil terhadap setiap pendapat yang dikemukakan dan menjadikan Al-Qur`an dan Sunnah sebagai indikator kebenaran serta menafikan fanatisme golongan maupun pribadi.

Pengkajian terhadap pendapat-pendapat para ulama dan membatasi diri untuk tidak mengemukakan pendapat baru menjadikan para ulama periode ini mengulas dengan teliti dalil-dalil yang ada. Hal ini membawa pengaruh yang kuat terhadap segmentasi ilmu baru dalam bidang ilmu Fiqh, yakni Kaidah Fiqh (Al-Qowa’id Al-Fiqhiyyah). Kaidah-kaidah ini muncul dari hasil deduksi terhadap dalil-dalil yang ada. Beberapa karya mengenai Kaidah Fiqh: Takhrij Al-Furu’ ‘ala Al-Ushul karya Abu Zaid Ad-Dabusi, Al-Asybah wa An-Nazhaa`ir karya Imam As-Suyuthi.

Selain itu, periode ini juga menghasilkan kitab-kitab kumpulan fatwa. Seperti yang diketahui, tidak semua orang dianugerahi kemampuan untuk berfatwa. Ini tak hanya terjadi pada zaman sekarang, namun pada zaman Nabi ﷺ berlaku demikian. Untuk itu, kita diperintahkan oleh Allah ﷻ untuk bertanya ke ahlinya:

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون[7]

Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kamu tidak mengetahui”

Beberapa kitab tentang fatwa: Al-Fataawa karya Syaikh Islam Ibnu Taimiyah. Kitab ini sangat populer dan sudah dicetak berjuta eksemplar. Selain itu ada kitab Al-Fataawa Az-Ziinah karya Ibnu Najim Al-Hanafi dan kitab Al-Haawy li Al-Fataawi karya Imam As-Suyuthi.

Demikianlah keadaan umat Islam dan perkembangan ilmu Fiqh pada periode ini. Jika kita mendalami sejarah kejayaan Islam dan membandingkannya dengan saat ini, sungguh kita akan mengalami kesedihan dan merasakan bahwa kemerosotan ini merupakan hal yang memilukan. Sungguh, di setiap ketetapan Allah ﷻ terdapat hikmah dan pelajaran yang amat berharga.

لمثل هذا يذوب القلب من كمد # إن كان في القلب إسلام و إيمان

Hati akan merasa pilu menyaksikan hal tersebut, jika memang di dalam hati tersisa keislaman dan keimanan”[8]

Penulis : Millati Aulia Hasanah

Pembimbing : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., MA.

Sumber Referensi:

  • Taarikh Al-Fiqh Al-Islaamiy. Dr. ‘Umar Sulaiman Al-Asyqor. Kuwait: Maktabah Al-Fallah
  • Taarikh At-Tasyri’ Al-Islamiy wa Taarikh An-Nizhom Al-Qadhaiyyah fi Al-Islam. Dr. Ahmad Tsalby. Kairo: Maktabah An-Nuhdhoh Al-Mishriyyah
  • Taarikh At-Tasyri’ Al-Islamiy At-Tasyri’ wa Al-Fiqh. Syaikh Manna’ Al-Qaththan. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif li An-Nasyri wa At-Tawzi’
  • Taarikh Al-Fiqh Al-Islaamiy. Syaikh Muhammad ‘Ali As-Saayis. Beirut: Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah
  • Al-Fikru As-Saamiy fi Taarikh Al-Fiqh Al-Islamiy. Syaikh Muhammad bin Al-Hasan.
  • Al-Mausu’ah Al-‘Aalamiyyah li Asy-Syi’ri Al-‘Araby (www.adab.com)

[1] Abu Al-Baqaa` Ar-Rindy dalam salah satu syairnya yang berjudul Likulli Syai`in Idza Ma Tamma  (Ritsaa’ Al-Andalus). Sya’ir ini ditulis atas kesedihannya terhadap runtuhnya kekuasaan Andalus.

[2] Hujjah adalah dalil atau dasar yang kuat

[3] Mudzakkirah Ushul Fiqh hal. 3

[4] Muqollidun adalah orang-orang yang bertaqlid

[5] Taarikh Al-Fiqh Al-Islamiy hal. 148

[6] Taarikh Al-Fiqh Al-Islamiy hal. 133

[7] An-Nahl: 43

[8] Abu Al-Baqaa` Ar-Rindy dalam bait terakhir sya’irnya yang berjudul Likulli Syai`in Idza Ma Tamma

Kategori: Fiqih

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *