Mendalami Siroh Nabawiyah seperti mendalami biografi dan memorial sejarah Rasulullah . Membacanya dan mempelajarinya membawa kita menyelam ke masa-masa yang lalu, masa-masa yang tak mampu dilihat oleh mata dan dirasakan dengan kehadiran. Oleh sebab itu, karena kita tidak ada di sana maka sudah sepatutnya kita mengenalnya dan mendalaminya dari bacaan-bacaan yang ada, bacaan-bacaan yang dibuat untuk mengabadikan sejarah.

Mengetahui bagaimana keadaan dunia sebelum Islam datang,  bagaimana kelahiran Nabi Muhammad Yang Mulia; Nabi penutup yang membawa risalah Islam ini. Mengenal bagaimana perjuangan hebat beliau dan orang-orang pilihan yang terus menemani setiap langkah beliau dalam memenangkan agama ini. Mengetahui bagaimana Islam ini bermula, hingga pada hari ini kita menyaksikan puluhan juta orang di dunia, bahkan data terbaru menyebutkan bahwa populasi umat Islam di dunia saat ini berada di kisaran 1,5 milyar jiwa. Ini tentu jumlah yang sangat fantastis jika dibandingkan dengan saat dakwah Islam baru dimulai. Pemeluknya bisa dihitung jari.

Mempelajari sirah tentu bukan untuk tujuan menambah wawasan saja. Sejatinya, hati ini biasanya tergugah oleh cerita-cerita yang hebat, tersentuh oleh kisah-kisah perjuangan yang menoreh bekas di jiwa. Karena itu, semestinya mempelajari kisah perjuangan Rasulullah dalam memperjuangkan agama ini dapat memberi bekas di hati, menambah cinta terhadap beliau dan agama ini. Jika kita telah mencintai beliau maka selaras dengan itu hati ini juga mencintai syariat-syariat yang dibawa olehnya–yang tak lain adalah syariat yang datang dari Allah–dan imbasnya adalah hati akan terasa ringan untuk mengamalkan syariat tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Mengapa Kita Harus Membaca dan Mempelajari Sirah Nabi?

Pertama: Sirah Nabi  adalah sarana untuk mempelajari Islam lebih dalam.

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa agama ini bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Mempelajari Sirah Nabi membantu kita untuk memahami keduanya. Kita dapat mengetahui sebab dan latar belakang dari ayat-ayat Al-Quran dan Hadits, serta hukum-hukum takrir yang terjadi semasa hidup Rasulullah . Yang dimaksud dengan hukum takrir di sini adalah hukum yang tidak secara tekstual dijelaskan oleh Al-Quran dan Hadits namun dapat kita ketahui dari perbuatan Nabi yang membolehkannya atau tidak melarangnya ketika dilakukan oleh para sahabat.

Islam ini turun secara sempurna dalam kombinasi lengkap, kita tidak boleh mencukupkan diri hanya dengan mempelajari Al-Quran saja, kita juga perlu mendalami hadits-hadits Rasulullah dan segala kejadian yang terjadi semasa beliau hidup. Sebagaimana Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَ مَا آتَكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُم عَنهُ فَانتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.”[1]

Dan juga Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

مَن يُطِعِ اللهَ وَ رَسُولَهُ فَقَد أَطَاعَ اللهَ وَ مَن تَوَلَّى فَمَا أَرسَلنَاكَ عَلَيهِم حَفِيظًا

“Barangsiapa yang menaati Rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi penjaga bagi mereka.”[2]

Kedua: Mengenal Sosok Nabi Muhammad

Nabi kita, Rasulullah adalah figur terbaik. Memiliki peran terbesar dalam sejarah manusia. Jika tokoh-tokoh keren, ilmuwan hebat serta pebisnis sukses saja layak kita kenal dan baca kisah hidupnya, lalu bagaimana dengan Nabi Muhammad ? Tentulah beliau jauh lebih pantas untuk kita dalami kisah hidup dan perjuangannya terhadap agama Allah ini, bukan?

Maka dengan mempelajari Sirah Nabi kita dapat mengetahui segala aspek kehidupan beliau, mulai dari kelahiran hingga wafat. Mulai dari pengangkatan sebagai Nabi hingga masa Islam mulai berjaya. Mendalami akhlak beliau, yang disebut sebagai akhlak terbaik serta termulia.

Ketiga: Menimbulkan Kecintaan Kepada Nabi

Kadang, mencintai seseorang mendorong rasa penasaran di hati untuk mengetahui segala hal yang menyangkut dirinya. Namun, bisa pula yang terjadi adalah sebaliknya. Mengenal dan membaca kisah hidupnyalah yang membuat hati ini jatuh cinta. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, biasanya hati akan tergugah olehs kisah-kisah indah dan menoreh di hati. Seperti banyak terjadi di sekitar kita, jatuh cinta sebab tulisan dan kisah yang indah padahal tidak saling kenal dan belum pernah bertemu.

Sudah semestinya juga bagi kita, orang-orang beriman untuk mencintai Rasulullah , mendekatkan diri kepada sumber yang bisa menambahkan rasa cinta itu. Selaras dengan perintah beliau:

لا يؤمن أحدكم ختى أكون أحب إليه من ولده ووالده  والناس أجمعين

Salah seorang di antara kalian tidak beriman (dengan sempurna) sampai aku lebih dicintainya dari anak dan kedua orangtuanya serta seluruh manusia.”[3]

Dengan mempelajari sirah, seseorang akan semakin mengenal beliau dan semakin bertambah pula kecintaan kepadanya.

Penulis: Cut Hudzaifah Najwa Azalea

Referensi:

  • Al-Quran Al-Karim
  • Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, Pustaka Al-Kautsar.
  • Fiqhu As-Sirah An-Nabawiyyah, Syakh Al-Buthi, Daar Al-Fikri Al-Muashir
  • Kisahmuslim.com

[1] Surah Al-Hasyr, ayat 7

[2] Surah Al-An-Nisaa, ayat 80

[3] HR. Al-Bukhari dalam kitab Al-Iman, Bab Hubbur Rasul minal Imaan, No. 14

Kategori: Siroh

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *