Manfaat Memahami Ilmu Tauhid

Segala puji bagi Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, yang menganugerahkan ilmu dan mengajarkan kebijaksanaan bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Shalawat serta salam semoga selalu terlimpah pada Rasulullah ﷺ, yang telah membimbing umatnya menuju jalan keselamatan di dunia dan akhirat, amma ba’du.

Pada artikel kali ini, akan secara khusus membahas berbagai manfaat mempelajari ilmu tauhid. Keutamaan dan manfaat ini patut kita ketahui agar semangat kita semakin bertambah untuk mempelajari berbagai perkara yang terkait dengan ilmu tauhid.  Siapa yang benar-benar berusaha untuk memahami tauhid, tentu Allah akan membukakan jalan baginya untuk meraih berbagai keutamaannya. Di antara berbagai keutamaan memahami tauhid secara benar adalah sebagai berikut;

  • Terjamin Baginya Surga

Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ شَهِدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ ، وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ ، أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ ، وَرُوحٌ مِنْهُ ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ ، أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنَ الْعَمَلِ

“Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya; begitu juga bersaksi bahwa ‘Isa adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, serta kalimat-Nya (yaitu Allah menciptakan Isa dengan kalimat ‘kun’, -pen) yang disampaikan pada Maryam dan ruh dari-Nya; juga bersaksi bahwa surga dan neraka benar adanya; maka Allah akan memasukkan-Nya ke dalam surga sesuai kadar amalnya.” [1]

Dari hadits di atas, jelas sekali bahwa setiap orang yang meninggal dalam keadaan baik tauhidnya, tanpa ternodai oleh kesyirikan, maka ia telah mendapat jaminan berupa surga dan segala kenikmatannya.

Keterjaminannya di surga ini bukan berarti ia boleh bersantai-santai tanpa beramal. Karena surga itu bertingkat-tingkat. Allah yang Maha Adil memberikan balasan sesuai dengan kadar amalan seseorang. Orang yang beramal sholeh tentu tidak sama kedudukannya dengan orang yang bertauhid namun enggan melakukan amalan lain. Seperti juga orang yang menghafal seluruh ayat dalam Al Quran dan konsisten mengamalkannya, tentu tidak sama kedudukannya dengan orang yang menghafal satu dua ayat saja.

Dalam sebuah hadits qudsi dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ, Allah Ta’ala berfirman,

  • Dapat Diampuni Seluruh Dosanya

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِى بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِى لاَ تُشْرِكُ بِى شَيْئًا لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan dosa sepenuh bumi kemudian engkau tidak berbuat syirik pada-Ku dengan sesuatu apa pun, maka Aku akan mendatangimu dengan ampunan sepenuh bumi itu pula.”[2]

Hadits ini menunjukkan betapa luasnya ampunan Allah selama seorang hamba memiliki tauhid yang benar dengan merealisasikan keikhlasan dalam mengesakan-Nya.

  • Terbebas dari Adzab Neraka

Rasulullah ﷺ bersabda,

يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ، ثُمَّ يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى: أَخْرِجُوْا مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ، فَيُخْرَجُوْنَ مِنْهَا قَد ِاسْوَدُّوا فَيُلْقَوْنَ فِي نَهْرِ الْحَيَاءِ -أَوِ الْحَيَاةِ، شَكَّ مَالِكٌ- فَيَنْبُتُوْنَ كَمَا تَنْبُتُ الْحَبَّةُ فِي جَانِبِ السَّيْلِ، أَلَمْ تَرَ أَنَّهَا تَخْرُجُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً؟

“Setelah penghuni Surga masuk ke Surga, dan penghuni Neraka masuk ke Neraka, maka setelah itu Allah Azza wa Jalla pun berfirman, ‘Keluarkan (dari Neraka) orang-orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi iman!’ Maka mereka pun dikeluarkan dari Neraka, hanya saja tubuh mereka sudah hitam legam (bagaikan arang). Lalu mereka dimasukkan ke sungai kehidupan, maka tubuh mereka tumbuh (berubah) sebagaimana tumbuhnya benih yang berada di pinggiran sungai. Tidakkah engkau perhatikan bahwa benih itu tumbuh berwarna kuning dengan perlahan?”[3]

Hadits ini menunjukkan keutamaan tauhid, dimana seseorang dibebaskan dari api neraka karena imannya kepada Allah. Hal ini hanya berlaku bagi para ahli tauhid, maka ahli tauhid tidak akan kekal di neraka meskipun memiliki dosa sebanyak apapun selain kesyirikan.

  • Mendapat Ketenangan dan Hidayah

Allah Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82).

Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan tentang penjelasan ayat ini, “Mereka adalah orang yang memurnikan ibadah hanya untuk Allah, tidak berbuat syirik pada-Nya. Mereka tidak berbuat syirik sedikit pun. Balasannya, mereka mendapatkan rasa aman pada hari kiamat dan mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat.”[4]

Seorang yang tidak mampu merealisasikan tauhid dalam kehidupannya, akan mengalami kekacauan hati ketika berhadapan dengan berbagai hal yang menyakitkan. Ia mencemaskan masa depan karena tidak yakin dengan pertolongan Allah, dan tenggelam dalam kesedihan masa lalu karena belum ridha kepada ketentuan Allah. Sementara orang yang tauhidnya baik, berbagai ujian kehidupan mungkin saja membuatnya bersedih, namun tak akan membuatnya tenggelam dan berburuk sangka kepada Allah. Ia juga tak cemas akan masa depan, karena ia yakin pada kasih sayang Rabb yang dia kenal.

Masih banyak keutamaan dan manfaat memahami ilmu tauhid lain yang tidak kami cantumkan. Mengingat keterbatasan ruang, maka kami pilih yang sekiranya dapat terasa manfaatnya dan besar keutamaannya bagi pembaca sekalian.

Semoga apa yang kami tulis dapat memotivasi para pembaca untuk bersemangat dalam menuntut ilmu terkhusus ilmu tauhid yang memiliki manfaat paling besar bagi kehidupan di dunia dan akhirat.

Billahit taufiq wal hidayah.

Penulis: Intan M. Nurwidyani

Pembimbing: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra,M.A.,

Referensi

  1. Al Qur’an Al Karim
  2. Mutiara Faidah Kitab Tauhid Syaikh Muhammad at Tamimi, Abu Isa Abdullah bin Salam
  3. Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama, tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Penerbit Dar Ibnul Jauzi
  4. Aplikasi Kutubuttis’ah
  5. https://almanhaj.or.id/3169-keutamaan-tauhid.html

[1] HR. Bukhari, no. 3435 dan Muslim, no. 28

[2] HR. Tirmidzi, no. 3540. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan

[3] HR. Al-Bukhari, no. 22

[4] Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 3:569

Kategori: Tauhid

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *