Disebutkan pada muqaddimah kitab Bidayatul Mujtahid, Imam Ibnu Rusyd mengatakan: ”Sebelum kita memasuki inti dari kitab ini yaitu pembahasan tentang AlFiqh secara umum dan masalah-masalah yang manthuq, (yaitu) yang disebutkan secara tekstual atau nash-nash syar’iyyah, atau masalah-masalah besar yang masyhur dikalangan ulama terjadi khilaf.” Beliau mengatakan : “Hendaknya kita terlebih dahulu menyebutkan “ath-thuruq”, yakni jamak dari “ath-thariqah“, bermakna cara atau metodologi yang dengannya kita bisa menyimpulkan hukum-hukum syar’i.”

Dari sikap Ibnu Rusyd, dimana beliau memulai kitabnya dengan menyebutkan muqaddimah, kaidah-kaidah ‘ammah (umum), sehingga dengannya kita bisa mengikuti cara berfikir para fuqoha’ (ahli fiqh) dengan memahami thuruqul istinbath (metodologi pengambilan keputusan hukum Islam). Beliau disini menyebutkan metode istinbath yang paling umum sebelum kita membahas masalah-masalah yang terperinci, karena sia-sia kita belajar khilaf dan aqwal (pendapat-pendapat) jika kita tidak memahami manahij Al-istidlal (metodologi pengambilan dalil). Betapa sering kita belajar fiqh kehilangan arah atau tidak punya arah sama sekali, karena kita tidak tahu bagaimana para fuqoha’ berdalil dan metode mereka dalam ber-istidlal.

Kemudian manahij ini dikenal dengan sebutan “Manhaj”. Selama ini kita sering mendengar sebutan “Manhaj” dan banyak orang mempeributkan dalam masalah ini. Jika ada seseorang mengatakan selain manhajnya tidak benar, itu berarti metodologi dia dalam berdalil yang salah, bukan hasilnya.

Jika dilihat dari hasilnya, sebagai contoh; misalnya dikalangan para sahabat Abdullah bin Abbas masyhur (dikenal) pendapat beliau menyelisihi para ulama; yakni para sahabat, seperti diperbolehkannya nikah mut’ah dan riba fadhl. Adapun sahabat-sahabat yang lain terjadi hal yang serupa seperti Abdullah bin mas’ud, diriwayatkan dari beliau; meminum nabidz selama tidak mabuk, walaupun nabidz itu bila diminum dengan jumlah yang banyak memabukkan, namun bila diminum dalam jumlah yang sedikit tidak apa-apa. Begitupun pendapat yang dituturkan dari keluarga Nafa’i, seperti Ibrahim bin Yazid An-Nafa’I pun sependapat dengan hal ini, begitu juga Imam Malik berpendapat.

Ataupun sebelumnya  Aisyah radhiyallahu ‘anha mengingkari  sesutu yang nyatanya dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadits, yaitu tentang adzab kubur berkaitan niyahah; keluarga si mayit niyahah atau meratapi kematian seseorang, maka dijelaskan dalam satu Hadits :

 الميت يعذب في قبره بما نيح عليه

Artinya : Mayit itu akan diadzab di kuburan dengan niyahah yang dilakukan oleh ahli warisnya.”

Namun Aisyah mengatakan bahwa itu tidak benar. Dan dia mengatakan, bahwa siapapun yang mengatakan bahwa Nabi pernah kencing berdiri (maka ia telah) berdusta.

Banyak khilaf dari kalangan para sahabat atau ulama namun tidak satupun dari mereka yang diragukan manhajnya, mengapa demikian? Karena ushul istidlal mereka sama, meskipun hasilnya berbeda. Sehingga istinbath bukan dijadikan acuan untuk menilai standar seseorang. Namun yang dijadikan acuan dalam kebenaran sebuah manhaj adalah manhaj talaqqi. Dengan melihat apakah dia mendahulukan ‘aql (akal) atau naql (dalil), walaupun nyatanya bertentangan dengan dalil. Atau apakah dia menolak dalil karena kurang bisa difahami secara logika, tidak sejalan dengan mimpi dan gurunya. Atau dia berdalil dengan Al-Qur’an dan Sunnah (dan) dalam kasus-kasus tertentu dia mentakwil, menganggap ada dalil yang lebih kuat dan lebih utama untuk diamalkan. Kalau alasan dia bertentangan dengan nalarnya, dan mendahulukan akalnya walaupun sejalan dengan pendapat yang rajih (pendapat yang kuat), maka dia salah dan menyimpang dari aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Masalah ru’yah; apakah Nabi ﷺ pernah secara langsung melihat Allah ﷻ dengan kasat mata ketika di dunia atau tidak pernah? Ini merupakan masalah aqidah di kalangan salaf, masyhur ada yang mengingkarinya, seperti Abdullah bin Abbas, (dan) Aisyah. Nabi hanya melihat cahaya karena terhalang cahaya, ketika nabi ditanya : ”Apakah engkau melihat Rabbmu secara langsung?” Beliau menjawab : ”Aku terhalang oleh cahaya mana mungkin aku bisa melihatnya.” Berdasarkan hadist ini, Aisyah menafikan (tidak menyetujui) bahwa Nabi pernah melihat Allah langsung ketika sadar semasa hidupnya, adapun yang lainnya mengatakan bahwa Nabi pernah melihat (langsung) ketika Isra’ Mi’raj. Disinilah terjadi khilaf, namun tak ada sikap saling memvonis keluar dari aqidah Ahlu Sunnah, mengapa demikian? Karena mereka disini menyelisihi bukan karena hawa nafsu atau logika, tetapi mereka memegang dalil yang menurut mereka lebih rojih, inilah aqidah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah.

Sehingga kalau kita mengkaji suatu masalah tanpa mengetahui metodologi, pendadilan, istinbath, dan tartibul adillah (urutan dalil-dalil) yang benar, maka walaupun pada akhirnya kita menemukan pendapat yang benar (kita) tetep salah, seperti dalam riwayat:

من قال في القران برأيهم فقد اخطأ فإن اصابه

 Artinya : Siapapun yang menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan nalar maka sungguh dia salah walaupun pendapatnya benar.“

Karena, benarnya itu bukan karena dia menempuh jalan yang benar, tetapi faktor kebetulan saja. Seperti halnya orang yang berkendaraan kemudian melawan arus sampai tujuan dan beranggapan  bahwa tak perlu mengikuti rambu-rambu lalu lintas, akan tetap sampai tujuan. Hal ini merupakan serapan faktor kebetulan saja, sehingga tidak bisa menjadi acuan, karenanya hal yang paling penting adalah manhajnya.

Maka seorang tholibul ‘ilm itu (hendaknya) memahami manhaj ‘amaly; yakni manhaj dalam menyimpulkan dalil, manhaj talaqqi; yakni manhaj dalam menggunakan dalil, dan manhaj al-‘amalu bid dalil; yakni manhaj dalam mengamalkan dalil. Salah satu contoh penting yang layak diungkapkan disini adalah Abdullah bin Mughoffal radhiyallahu ‘anhu;

Dan diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas beliau selama sekian tahun mengajarkan kepada murid-muridnya tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbunyi :

ومن يقتل مؤمنا متعمدا فجزاءه جهنم خالدا فيها

Artinya : ”Siapapun yang membunuh seorang mukmin secara sengaja, maka ia akan mendapatkan balasan Neraka Jahannam dan kekal di dalamnya selama-lamanya.”

Rasulullah ﷺ bersabda :

لا يزال الرجل في فسحة من دينه مالم يصب دما حرام

Artinya : ”Seseorang itu masih dalam kelapangan (diberikan ampunan) selama dia belum menumpahkan darah yang haram.”

Bertahun-tahun Abdullah bin Mughoffal dan Abdullah bin Abbas mengajarkan, bahwa pembunuh mukmin dengan sengaja tidak akan diterima taubatnya. Disini Allah menggunakan isim syarat “man” (siapa) dan menggunakan huruf “fa’jaza an (sebagai balasan). Hukum asalnya adalah, ketika persyaratan itu telah terpenuhi maka balasan itu juga harus dilakukan. Ini merupakan kaidah dasar.

            Ada sebuah cerita ketika Abdullah bin Mughoffal sedang shalat, kemudian tiba-tiba didatangi seorang wanita dan dia menangis tersedu-sedu, dia bertanya : ”Siapakah diantara kalian yang bernama Abdullah bin Mughoffal?” Dia (wanita ini) datang karena ada sebuah kasus yang terjadi pada dirinya, dan orang sekitarnya menganjurkan agar dia bertanya kepada Abdullah bin Mughoffal. Murid-murid Abdullah bin Mughoffal sedang menunggu gurunya (yang) sedang shalat, mereka bertanya: ”Apa masalahmu?” Dia menjawab : ”Ada seorang wanita berzina sampai hamil, kemudian melahirkan anaknya lalu membunuh anaknya tersebut, apakah masih ada taubat baginya?” Murid-murid Abdullah bin Mughofal yang selama ini didoktrin bahwa tidak ada taubat bagi pembunuh dan pasti akan disiksa, spontan menyampaikan apa yang selama ini mereka dengar dari gurunya, maka wanita ini mengira bahwa yang menjawab ini adalah Abdullah bin Mughoffal. Dia menangis semakin tersedu-sedu kemudian pergi. Abdullah bin Mughoffal yang sedang shalat mendengar tangisan wanita itu yang semakin keras dan jawaban murid-muridnya, (ia) menyegerakan shalatnya dan berkata : ”Hendaknya kalian panggil ulang wanita tersebut!” Dan dipanggil lah kembali wanita tersebut, dan Abdullah bin Mughoffal mengatakan : ”Kasusmu satu dari dua; yaitu jika Allah menghendaki, perkaramu itu ada dua kemungkinan. Jika Allah menghendaki maka Allah akan mengampuni dosamu, dan jika Dia menghendaki maka akan menyiksamu, karena Allah sudah berfirman, bahwa Dia mengampuni semua dosa.” Maka tersenyumlah wanita tersebut, dan mengusap air matanya kemudian pulang. Muridnya heran, gurunya ini plin-plan. Maka dia (Abdullah bin Mughoffal) menjelaskan kepada muridnya, bahwa ada dua metodologi yang harus difahami yang seringkali salah penerapan. Dalam kondisi normal seorang mufti atau guru memiliki tanggung jawab moral. Bukan sekedar menjelaskan hukum benar atau tidak benar, rojih atau marjuh. Namun seorang guru memiliki wewenang untuk preventif; yaitu tindakan mencegah bagaimana tindak  kemungkaran itu tidak terjadi. Dan berkewajiban untuk menumbuhkan tarhib; yaitu menumbuhkan kepada masyarakat agar tidak ceroboh dan meremehkan sebuah dosa. Namun bila bukan pada sebuah masalah pencegahan, dan masalah tersebut sudah terjadi, maka masalah itu secara gamblang sesuai madzhab yang rojih. Sehingga disini, seorang alim kadangkala menyampaikan sebuah dalil yang mujmal (global) dalam rangka preventif, bukan dalam rangka menyembunyikan ilmu. Ilmu itu tidak disampaikan secara mufashsholan atau terperinci.

Oleh karena itu, manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam menyampaikan nushus al-wahyi (teks-teks berupa wahyu) dan nushus al-wa’id; yaitu teks-teks berupa ancaman atau iming-iming sebuah pahala adalah sampaikan apa adanya, tidak perlu ditakwil dan ditafsir. Contoh sederhana, jika kita sedang memotivasi mahasiswi kita agar mereka shalat tepat pada waktunya, menutup aurat sehingga tidak terjadi pelecahan, kemudian diberi embel-embel “Pelecehan itu terjadi ditempat yang sepi tapi jika ditempat aman jarang terjadi” Lalu apa yang terjadi dengan mahasiswi? ya berarti aman. Bila diperintah ”Shalatlah tepat waktu; yakni diawal waktunya!” kemudian diberi tambahan “jika ikhlas berarti… jika tidak ikhlas…” maka sama saja meskipun shalat diawal maupun diakhir tetap mendapat siksa. Mungkinkah mahasiswi akan menjadi semangat? Apalagi disertai dengan syarat harus khusyuk, rukuknya harus begini, dengan demikian maka tidak akan ada yang mau mengerjakan hal tersebut. Karena tidak menumbuhkan semangat dan menghilangkan substansi targhib dan tarhib.

Nah, perkataan Abdullah bin Mughoffal; yakni pembunuh yang sengaja itu tidak diampuni dosanya, tidak sama dengan perkataan Khawarij bahwa murtakibul kabirah (pelaku dosa besar) itu kafir, mengapa demikian? Karena manhajnya berbeda, walaupun sekilas 2 perkataan itu sama; yakni sama-sama dihukum dan tidak diampuni, namun mengapa tidak ada satupun yang mengatakan bahwa Abdullah bin Mughoffal itu kafir? Karena beliau tidak menganggap itu kafir, hanya saja beliau menjalankan metode yang benar dengan bertujuan preventif dan membangkitkan motivasi. Disinilah seorang thalibul ilm harus bisa mengetahui tujuan menyampaikan konteks tersebut. Apakah untuk taklim, atau menyampaikan perkara itu sampai tuntas, atau dalam rangka mau’idzoh, itu yang pertama. Dan yang kedua adalah, apakah konteks pembicaraan itu sedang dalam kondisi preventif atau penyelesaian kasus yang sudah terjadi.

Dua pendapat yang sekilas sama, seperti Abdullah bin Abbas membolehkan mut’ah dengan syiah. Dan tidak ada satupun yang mengatakan bahwa Abdullah bin Abbas itu Syi’iy atau Rofidhiy karena membolehkan mut’ah, karena keduanya berbeda manhaj. Abdullah bin Abbas berkata seperti itu karena belum sampai kepadanya nasikh (terhapusnya hukum lama dengan adanya dalil baru). Ketika beliau dipanggil dan dimarahi oleh Ali bin Abi Thalib, maka beliau langsung menarik pendapat tentang bolehnya mut’ah. Begitu pula ketika beliau membolehkan riba fadhl, kemudian dipanggil oleh Sa’id Al-Khudry. Disampaikan kepadanya perihal apa yang telah didapat oleh beliau, perihal larangan menjual emas dengan emas secara non tunai atau mutafadhilan; menyelisihkan timbangannya. Maka Abdullah mengatakan: ”Engkau lebih mengetahui daripada aku tentang Sunnah Rasulullah ﷺ.” karena Abu Sa’id lebih tua dari pada Abdullah bin Abbas. Maka seorang thalibul ilm harus faham, bahwa yang namanya manhaj itu adalah manhaj dalam menyimpulkan, memahami, dan mengamalkan sebuah dalil.

Mu’tazilah adalah kelompok yang mengingkari hadits ahaad; tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah aqidah, dalam masalah hal yang ghaib, apa alasan mereka? Hal ghaib yang diyakini dan diamalkan hanya berdasarkan hadis ahaad bisa benar atau salah. Dalam ilmu Ushul Fiqh dan Musthalah Hadits membahas tentang, hal ini apakah hadits ahaad yufiidu al-qat’a, yufiidu al-yaqin, atau yufiidu adz-dzan. Jumhur ahlul ‘ilmy (sebagian besar ulama) mengatakan : Hadits ahaad itu yufiidu adz-dzan, namun dzan-nya itu rajih dan wajabal amalu bihi muthlaqon (wajib beramal dengannya secara mutlak), baik dalam urusan akidah, hukum, dan lainnya. Tetapi tidak ada satupunyang mengatakan bahwa hadits ahaad itu yufiidu adz-dzan kecuali Mu’tazilah. San hal ini dikarenakan beda thoriqoh (cara), Mu’tazilah mendahulukan akal mereka dan menanggap bahwa itu merupakan sesuatu yang qoth’i. Maka jika ada hadits yang bertentangan dengan nalar mereka, mereka akan tolak begitu saja. Tetapi Ahlu Sunnah berbeda, selama terbukti shohih, jalur sanadnya tsiqoh (kuat), tidak ada cacat pad sanad dan matan, maka Ahlu Sunnah sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taati).

Beliau juga menyebutkan tentang pembagian hukum syar’i; yakni ada hukum taklify dan hukum wadh’iy. Hukum taklify ada lima, yaitu : wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Sedangkan hukum wadhi’y ada banyak, yaitu : shihah, fasad, mani’, syarat, qadha’, adaa’, sebab, dll

Seorang thalibul ‘ilmi juga harus faham, ketika dia belajar tidak puas hanya mengetahui hukum taklify saja. Mengatakan bid’ah itu dholalah. Dholalah itu haram dan dosa. Kita sepakat dengan demikian, apakah seseorang yang melakukan suatu amalan itu dikatakan bid’ah kemudian batal sholatnya? Apa hukum talaffudz binniyah? Semua sepakat bid’ah dikalangan Salafy, namun realitanya betapa banyak kaum muslimin melakukan amalan ini. Qunut pun demikian, dan bagi mereka yang menganggap qunut itu sunnah dan kita tidak demikian, lalu bolehkah berjama’ah dibelakang mereka? Contoh lain, dalam madzhab Syafi’i memakan daging onta itu tidak membatalkan wudhu, dalam madzhab Hanbali menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu, kecuali apabila dengan syahwat, bolehkah berjama’ah di antara keduanya? Jjika kita tidak faham dengan hukum wadhi’y-nya maka celaka kita. Dan tidak akan bisa shalat berjama’ah dibelakang mereka, karena adanya pemahaman ini dan akibat dari tidak memahami hukum wadhi’y. Sebagaimana bila bersentuhan antara laki-laki dan perempuan itu haram dan berdosa, namun tidak membatalkan wudhu.

Dapat kita fahami bahwa antara hukum taklify dan hukum wadhi’y itu seringkali tidak sejalan. Kadang kita juga tahu bahwa makan dan minum dalam shalat itu haram hukumnya, sebagaimana shalat diawali dengan takbiratul ihram. Maka dengan ini, semula perbuatan yang dihalalakan menjadi haram. Ada sebuah kasus ketika seseorang lupa menggosok giginya setelah makan sate, kemudian dia shalat dan terdapat sisa makanan digiginya. Maka dia ragu, apakah shalatnya batal atau tidak, kita akan bodoh kembali bilamana dihadapkan masalah yang menggunakan hukum wadhi’y.

Jangan merasa puas ketika kita belajar halal dan haram saja. Itu hanya separuh dari kajian yang harus kita pelajari hukum wadhi’y-nya. Solusi problem solving masyarakat lebih sering diselesaikan dengan penggunaan hukum wadh’iy dibandingkan dengan hukum taklify. Sehingga seseorang thalibul ilmi yang hanya menguasai hukum taklify saja, seperti halnya bengkel yang bisa membongkar namun tidak bisa memasang kembali. Oleh karena itu sekarang terjadi carut-marut dalam fatwa. Harus menjadi perhatian bagi thalibul ilmi bila sedang belajar fiqih. Diharapakan juga dapat memberikan solusi yang aplikatif terhadap masalah-masalah hukum yang terjadi ditengah masyarakat.

Jika kita perhatikan disini; penulis dalam mengangkat masalah-masalah hukum di kitab ini, kita dapati beliau menjelaskan perihal haram, halal, shihah, dan fasad. Sering beliau mengatakan “فإن خالف” (jika ada yang meneyelisihi…), ini merupakan salah satu kelebihan Bidayah Al-Mujtahid, berbeda dengan kitab lain yang hanya ditemukan tentang halal haramnya saja. Sehingga walaupun kita sudah mengkhatamkan suatu kitab, namun seakan-akan ketika terjun ke masyarakat kita tidak mengerti sama sekali, dan penulis disini mengajak untuk memahami kaidah-kaidah besar. Kemudian, setelah belajar tidak sama seperti semula, namun adanya kemampuan untuk meng-ilhaq. Sehingga masalah-masalah yang maskut, atau yang tidak disebutkan dalam teks Al-Qur’an dan Sunnah, baik sudah dikaji atau belum oleh para ulama, bisa kita analogikan dengan masalah-masalah yang kita kaji sebelumnya. Diantara faidahnya adalah kita bisa memahami pandangan tentang sebuah dalil dari masing-masing ulama, yang dikenal dengan ushulul madzhab atau kaidah-kaidah madzhab. Seperti imam malik salah satu faidah berdalilnya adalah dengan masholih mursalah dan saddu adz-dzari’ah. Sedangkan imam syafi’i tidak mengakui bahwa saddu adz-dzari’ah sebagai dalil, karena Imam Syafi’I berpendapat bahwa saddu adz-dzaroi’ itu lebih kepada suudzon, sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Jika ditelusuri inti dari perbedaan keduanya adalah kembali pada ushulul madzhab.

Jika kita sudah faham asbabul ikhtilaf, maka kita akan dengan mudah mengetahui mana yang rojih dan marjuh, alur berfikir ulama. Disinilah letak al-fiqh; yaitu dimana kita menguasai metodelogi fiqh, pandangan ulama dalam suatu dalil. Dengan memahami ushul madzhab maka kita akan tahu meskipun kita tidak hafal.

Disampaikan oleh: Dr Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A.

Ditulis ulang oleh: Vionita Dharma S dan Zaenab


1 Komentar

Hendi Supriansyah Mahyudin · 6 April 2021 pada 10:27 AM

Bismillah,
Assalamualaikum wr wb,

Sungguh luar biasa tulisan yang di tulis di Website ini, Semoga terus istiqomah untuk menulis sehingga kami yang tak berkesempatan belajar dengan Ust Dr Arifin Badri Hafizahullah ta’la dapat mendapatkan secercah cahaya ilmu dari tulisan ini.

Ada satu pertanyaan penting dari saya mengenai kitab Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul muqtasid, sebagaimana yang kami baca dari pembahasan nya bahwasanya pendapat dari Imam Ahmad bin Hambal tak di masukkan oleh penulis kitab sebagai salah satu pendapat dari perbedaan pendapat yang ada. Kami mohon penjelasannya agar kami dapat tercerahkan.

Zadakumullah Ilman nafian, Barakallah fikum Wa Jazakumullah Khoiron🙏

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *