قال المؤلف حفظه الله :

“إنّ الطرق التي منها تلقيت الأحكام عن النبي عليه الصلاة والسلام بالجنس ثلاثة : إمّا لفظ وإمّا فعل وإمّا إقرار”

Bahwa metode dalam men-talaqqi hukum dari Nabi ﷺ ada 3 jenisnya, yaitu:  perkataan yang khosh (khusus) dari Nabi ﷺ, ada hadits yang bersifat fi’ly atau praktek, karena semua perbuatan Nabi ﷺ hukum asalanya dijadikan uswah oleh umatnya, sebagaimana disebutkan dalam ayat :

{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ}

Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” QS. Al-Ahzab : 21

Adapun khushusiyyah (kekhususan), maka itu tidak sejalan dengan hukum asal. Tidak boleh kita mengklaim bahwa setiap yang dilakukan Nabi itu hanya khosh untuknya saja, sampai ada dalil yang membuktikan bahwa hukum itu merupakan perbuatan khushusiyah. Nabi juga menegaskan :

عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي

Artinya : “Hendaknya kalian mengamalkan Sunnahku dan Sunnah Khulafa’ Ar-Rasyidin setelahku”

Suatu hari ada tiga orang yang datang kepada keluarga Nabi untuk bertanya tentang perihal ibadah Nabi ketika di dalam rumah. Setelah mendapatkan keterangan dari istri-istri beliau, mereka berusaha ber-ijtihad dan mengambil suatu kesimpulan hukum dan berkata : ”Tidak pantas bagi kita untuk membandingkan diri kita dengan Nabi.” Beliau sudah mendapatkan jaminan untuk diampuni dosa-dosanya yang telah lalu atau yang akan datang, mereka mengatakan seperti ini karena menganggap ibadah Nabi terlalu sedikit. Orang pertama berkata bahwa dia akan qiyamullail (sholat malam) terus menerus dan tidak tidur, orang kedua akan puasa terus menerus dan tidak berbuka, dan yang ketiga tidak akan menikah. Mendengar informasi tentang ketiga sahabat tersebut maka beliau memanggil mereka dan berkata : ”Apakah kalian yang berkata ini dan itu? Ketahuilah, Aku adalah orang yang paling takut dan bertakwa diantara kalian, Aku qiyamullail dan juga tidur, aku berpuasa dan berbuka, dan aku menikahi wanita.

))فمن رغب عن سنّتي فليس منّي((

Artinya : Barangsiapa yang membenci Sunnahku maka dia bukan dari golonganku.

Ini merupakan hardikan keras kepada orang yang masih merasa ada peluang dalam menemukan metodelogi beribadah yang lebih sempurna dari Nabi ﷺ.

Dan cara ketiga untuk memahami hukum adalah iqrar; yakni dengan restu atau peretujuan beliau. Nabi melihat sesuatu dan diam, maka diamnya itu menunjukkan bahwa perbuatan itu halal dan dibenarkan. Nabi tidak mungkin mendiamkan sebuah kesalahan karena beliau lah yang mewajibkan kita untuk mengingkari suatu kemungkaran.

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده …الحديث

Artinya: “Barangsiapa melihat kemungkaran, maka hendaknya dia merubahnya dengan tangannya…”

Sumber hukum dalam Islam adalah seluruh yang diajarkan Nabi, baik secara muballigh (langsung), seperti yang disampaikan dalam Al-Quran atau dari Hadits Qudsi, Al-Quran redaksinya dari Allah ﷻ maknanya dari Nabi, Hadist Qudsi redaksinya dari Nabi namun maknanya dari Allah. Selebihnya maka redaksinya dari Nabi dan semua merupakan wahyu, hal ini disepakati oleh para ulama.

ثم قال حفظه الله :

وأمّا ما سكت عنه الشارع من الأحكام، فقال الجمهور : انّ طريق الوقوف عليه هو القياس

Adapun masalah-masalah yang tidak ditemukan dalil khusus, baik dalam lafadz, fi’liy, taqririy, Jumhur Ulama berpendapat : Maka cara yang digunakan pada masalah-masalah yang tidak dijelaskan tekstual; tidak pernah terjadi pada zaman Nabi, yaitu dengan qiyas. Qiyas adalah menganalogikan, menyamakan masalah kontemporer dengan masalah yang sudah terjadi di zaman Nabi. Mengapa harus dengan qiyas?

ثم قال حفظه الله :

وقال أهل الظاهر : القياس في الشرع باطل، وما سكت عنه الشارع فلا حكم له، ودليل العقل يشهد بثبوته؛ وذلك أنّ الوقائع بين أشخاص الأناسي غير متناهية، والنصوص والأفعال والإقرارات متناهية، ومحال أن يقابل ما لا يتناهى بما يتناهى

            Pendapat Ahlu Dzahir menurut mereka qiyas adalah bathil, beramal dengannya sama saja mengikuti hawa nafsu. Akibatnya semua masalah yang tidak tekstual maka tidak ada hukumnya. Beliau (Ibnu Rusyd) merasa perlu menukil hal ini karena beliau hidup setelah zaman Imam Ibnu Hazm, yang keduanya tinggal di Andalusia. Di zaman beliau pengaruh madzhab Dzahiry itu sangat kuat. Dari sini beliau merasa perlu untuk mengangkat bahwa dalil qiyas itu diperlukan, sehingga syariat itu tetap bisa diamalkan di sendi-sendi kehidupan; zaman. Menurut beliau logika manusia menuntut adanya pengakuan terhadap qiyas. Karena kasus manusia tidak ada batasannya, contoh : makan, dengan bermacam-macam cara makan dan pengolahan, dll. Padahal redaksi Al-Quran dan Hadits, praktek, restu dari Nabi itu terbatas, seperti hadits dalam Shohih Bukhari jumlahnya hanya sebatas kurang lebih 8.000 hadits dengan sejumlah pengulangan. Jika dalil dalam hadits itu hanya terbatas segitu saja sedangkan tindakan manusia itu tidak terbatas, terus terjadi pembaharuan dan inovasi, maka tidak cukup. Akan banyak kasus-kasus yang tidak bisa diketahui hukumnya. Ini merupakan klaim yang sangat besar, para ulama juga mengklaim demikian.

Dalam firman-Nya juga disebutkan bahwa Al-Quran menjelaskan segala sesuatu. Bahkan Salman Al-Farisi mengatakan : ”Sungguh telah meninggalkan kita, tidaklah ada seeokor burung yang mengepakkan sayap di langit kecuali Nabi sudah mengajarkan ilmu kepada kita.” Sehingga klaim Ahlu Dzahir itu sangat buruk, karena betentangan dengan dalil, meskipun klaim tersebut terdapat di beberapa kitab. Memberikan pengajaran pada kita, bahwa belajar itu harus di bawah bimbingan orang-orang terdahulu yang telah terlebih dahulu mengenyam pembelajaran, agar kita tidak tersesat. Imam Ibnu Taimiyyah dan Imam Ibnu Qayyim telah dengan panjang lebar menjelaskan klaim ini, menyatakan bahwa dalil-dalil ini tidak akan cukup untuk menghukumi berbagai masalah kontemporer jika tidak didukung dengan qiyas.

Pada kitab  I’lam Al-Muwaqqi’in jilid satu, disana beliau menyebutkan berbagai alasan orang yang ekstrim dalam menentang qiyas. Sebagaimana disisi lain beliau juga menyebutkan dalil mereka. Dan tentu beliau mendudukkan masalah ini secara profesional, bahwa qiyas itu dibutuhkan senagai hujjah, tetapi qiyas tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya nash. Qiyas hanya bisa dilakukan jika ada ashl (dalil asal) dan `illah, dengan cara menyamakan, menyerupakan, melakukan perlakuan; antara masalah kontemporer dan masalah terdahulu disamakan karena ada kesamaan ‘illah. Jika tanpa ada ashl maka tidak mungkin ada qiyas, sehingga mengamalkan qiyas itu tidak berdiri sendiri, namun di bawah naungan dalil. Ada maqis ‘alaih (masalah yang sudah dijelaskan sebelumnya), `illah al-ashl (illah atau sebab ditetapkannya hukum asal tersebut), hukum baru, yang kemudian disamakan hukum keduanya.

Contoh : membunuh orang tua tidak ada nashnya (dalil larangannya), Allah menyebutkan dalam firman-Nya :

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya : Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. QS. Al-Isra’ :23

Ayat ini menjelaskan bahwa mengatakan “ah” ketika diperintah oleh orang tua haram hukumnya. Alasannya adalah menyakiti hati orang tua. Maka perbuatan lain yang menimbulkan efek yang sama, seperti memaki, memukul, apalagi membunuh lebih layak dikatakan sebagai perbuatan yang haram. Walaupun tidak ada teksnya, namun tindakan tersebut sangat menyakitkan hati mereka. Menurut penjelasan Ibnu Taimiyyah, salah satu prinsip besar dalam Islam adalah adil, dan diantara implementasi adil tadi adalah menyamakan dua hal yangs serupa dan membedakan dua hal yang berbeda. Ini disebut qiyas awlawiy (dikiaskan karena lebih berhak diberikan hukum seperti hukum asal atau yang disebutkan dalam dalil)

Adapun contoh lain mengqiyaskan minuman yang memabukkan, yaitu adalah khamr dan haram hukumnya. Secara de facto yang namanya mabuk karena minuman khamr badannya semakin kuat, nafsunya menggebu-gebu. Di zaman sekarang ada minuman yang serupa, dihisap, disuntikkan, berupa pil yang dikonsumsi disertai menjadikannya lemas, apakah kondisi lemas tadi dapat disamakan dengan mabuk, sehingga hukum ekstasi disamakan dengan khamr? Sebagian orang mengatakan hukumnya beda. Ini terjadi karena dia tidak memahami alasan yang benar tentang pengharamannya. Nabi telah menegaskan tentang alasannya;

كل مسكر خمر وكل خمر حرم

”Setiap yang memabukkan itu khamr dan setiap khamr itu haram”

“السكر” dari bahasa arab diartikan fasad al-‘aql,yakni merusak akal, sehingga dia tidak ingat apa yang diucapkan dan diperbuatnya. Masalah yang menjadikannya kuat atau lemas itu tidak bisa menjadi acuan dalam penetapan hukum haram. Yang menjadi acuannya adalah rusaknya akal, Allah ﷻ ketika memberikan suatu perintah atau larangan menuju kepada akal manusia. Sehingga substansi antara khamr dan ekstasi sama-sama merusak akal. Dan para ulama memberikan fatwa bahwa ekstasi dalam bentuk pil, dihisap, disuntikkan sama saja merusak akal, maka hukumnya haram seperti haramnya khamr.

Sejatinya kita memahami bahwa berdalil dengan qiyas tidak keluar dari berdalil dengan nash. Nash itu sudah mencukupi segala aspek kehidupan manusia, hanya saja kurangnya memahami kandungan Al-Quran.

 Imam Syafi’i menjelaskan dalam kitabnya yang berjudul Ar-Risalah, bahwa qiyas itu bagaikan tayammum dalam berwudhu. Qiyas itu diperlukan karena kondisi darurat. Darurat itu karena tidak adanya dalil atau keterbatasan kita dalam memahami dalil? Jawabannya yang kedua. Sehingga butuhnya kita kepada qiyas karena keterbatasan dalam memahami dalil.

Imam Abu Dawud Ad-Dzahiriy hidup di Kufah, dan dengan lantang mengatakan bahwa qiyas itu tidak bisa dijadikan hujjah. Beliau berfatwa di Iraq, dan tidak ada satupun ulama yang kemudian mengatakan beliau tidak layak berfatwa. Beliau tidak kesusahan dalam memahami dalil dan menyikapi masalah yang ada.

Thalibul ‘ilm semakin banyak menghafal, membaca, dan memahami dalil maka semakin kecil kebutuhannya terhadap qiyas. Semakin kita kekurangan dalil maka semakin besar kebutuhan kita tehadap qiyas.

Imam Syafi’i dalam periodenya terdapat dua aliran, yaitu Ahlu Ra’yi dibawah kepemimpinan Imam Abu Hanifah dan ada aliran Ahlu Hadits di daerah Hijaz. Secara de facto Ahlu Hadits tidak pernah kekurangan hadits dalam berhujjah, berbeda dengan Ahlu Kufah yang terbatas dalam kesediaan dalil. Para perowi hadits di Kufah sangat sedikit, sehingga para ulama di Kufah mencari jalan, mengapa adanya keterbatasan tersebut? Karena di Kufah banyak ahlu bid’ah. Berbeda di Hijaz, mereka mudah dalam menemukan dalil yang relevan dari Al-Quran dan Sunnah. Imam Ibnu Taimiyyah telah mengkaji semua masalah yang diklaim bertentangan antara qiyas dan dalil, tidak lebih dari tiga kondisi; nashnya dho’if (lemah), qiyasnya fasid (salah/tidak sah). Jika dalil dan qiyasnya benar maka pasti akan sejalan.

كم من عائب قولا صحيحا أفاته الفهم سقيم

Betapa banyak orang yang mati-matian mencela suatu yang benar padahal biangnya bukan pertanyaan itu yang salah, namun kita yang gagal paham.

ثم قال حفظه الله :

وأصناف الألفاظ التي تتلقى منها الأحكام من السمع أربعة : ثلاثة متفق عليها ، ورابع مختلف فيه

Adapun redaksi-redaksi dalil yang darinya disimpulkan hukum secara tekstual ada empat model, tiga pertama disepakati dan satunya diperselisihkan. Model pertama adalah :

  • Dalil yang bersifat umum dan maksudnya umum, contoh :  

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” QS. Al-Baqarah : 208

  • Dalil yang bersifat khusus dan maksudnya khusus, contoh : dalil yang menyebutkan nama orang, dalil tentang hewan-hewan yang diharamkan. Seperti hadits tentang haramnya “anjing”, maka lafadz “anjing” itu khusus, tidak dikatakan “anjing” dalam kondisi muqoyyad, tidak boleh dimaknai seperti “anjing laut”.
  • Dalil yang redaksinya bersifat umum namun maknanya khusus, contoh :

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ

Artinya : Dan dirikanlah shalat.” QS. Al-Baqarah : 43

Maksud sholat disini adalah sholat lima waktu saja yang diwajibkan, mengapa demikian? Karena ada dalil yang mengkhususkannya.

Disampaikan oleh: Dr Muhammad Arifin Badri, Lc., M.A.

Ditulis ulang oleh: Vionita Dharma S dan Zaenab


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *