Pada kesempatan kali ini, penulis in sya Allah akan membahas sekilas penjelasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan pokok bahasa Arab, yang merupakan modal dalam memahami dalil-dalil baik berupa ayat-ayat Al-Qur`an, hadits-hadits Nabi Muhammad—shallallahu `alaihi wa sallam—, maupun dalil-dalil lainnya yang semuanya berbahasa Arab. Oleh karena itu, perkenalan terhadap beberapa pembahasan dalam Bahasa Arab sangat penting dalam rangka menyimpulkan (istinbaath) suatu hukum syar’i. Salah satu pokok bahasan dalam bahasa Arab yang penting untuk dibahas adalah pembahasan tentang hakikat dan majaz.

Definisi Hakikat

                Kata hakikat dalam bahasa Arab adalah ­al-haqiiqatu, dalam wazan[1] al-fa’iilatu yang diambil dari kata kerja haqqa-yahiqqu atau haqqa-yahuqqu, antonim dari kata bathil[2], artinya menjadi benar, tetap, dan wajib[3]. Allah Ta’ala berfirman,

وَلكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذابِ عَلَى الْكافِرِينَ

tetapi ketetapan adzab pasti berlaku terhadap orang-orang kafir.”[4]

Lafazh haqqa dalam ayat ini artinya wajib dan tetap. Disebutkan pula bahwa makna al-haqiiqatu adalah sesuatu yang menunjukkan bahwa suatu perkara benar dan wajib[5].

                Huruf ta’ di akhir kata fungsinya mengubah kata dari bentuk adjektiva (kata sifat) menjadi nomina (kata benda). Karena kata yang memiliki pola al-fa’iilu dapat menjadi bentuk isim fa’il (subjek) sehingga makna al-haqiiqatu adalah ats-tsabitu (yang tetap), maupun menjadi bentuk isim maf’ul (objek) sehingga makna al-haqiiqatu adalah al-mutsbatu (yang ditetapkan).

                Adapun definisi hakikat ditinjau dari terminologinya adalah suatu lafazh yang digunakan sesuai makna aslinya[6]. Kemudian beberapa ulama` menambahkan definisi ini dengan frasa “dalam ungkapan komunikasi (at-takhathub)[7], karena jika suatu lafazh digunakan pula selain saat komunikasi, dia dinamakan majas dan bukan hakikat, walaupun lafazh tersebut digunakan sesuai makna aslinya[8].

                Beberapa ahli ushul fiqh juga mendefinisikan hakikat dengan definisi lain, di antaranya suatu lafadz yang digunakan sesuai makna aslinya pada awalnya saja[9], dan juga bahwa hakikat adalah setiap kata yang dimaksudkan dengannya dzat yang sesuai makna asli dari orang yang menggunakan kata tersebut, yang mana makna tersebut tidak disandarkan kepada makna selainnya[10].

Pembagian dan Macam-Macam Hakikat

                Secara umum, menurut ahli ushul fiqh, hakikat terbagi menjadi dua macam, hakikat lughawiyyah dan hakikat isthilahiyyah. Kemudian hakikat lughawiyyah terbagi menjadi dua, sebagaimana hakikat isthilahiyyah juga terbagi menjadi dua. Berikut penjelasannya secara ringkas.

  1. Hakikat Lughawiyyah

Definisinya adalah suatu lafazh yang digunakan pada awalnya sesuai makna aslinya secara bahasa[11]. Kemudian hakikat lughawiyyah dibagi menjadi dua jenis :

  1. Hakikat Lughawiyyah Wadh’iyyah

                Definisinya seperti definisi hakikat lughawiyyah secara umum, yaitu lafazh yang digunakan sesuai makna aslinya ditinjau dari asal bahasanya. Contoh dari hakikat ini adalah kata singa yang diartikan sebagai hewan buas yang berani dan sebagai raja hutan, dan kata manusia diartikan sebagai hewan yang dapat berbicara[12].

  • Hakikat Lughawiyyah ‘Urfiyyah

                Adalah suatu lafazh yang digunakan sesuai maknanya, dan disesuaikan dengan kebiasaan penggunaannya dalam bahasa. Jenis ini terbagi menjadi dua macam[13] :

  • Jika suatu kata pada awalnya digunakan dalam istilah yang umum, kemudian dikhususkan dengan cakupan nominanya sendiri oleh kebiasaan penggunaan ahli bahasa.

Contohnya adalah pengkhususan penggunaan lafadz ad-dabbah pada hewan yang berkaki empat saja (sesuai kebiasaan), padahal jika dilihat dari makna aslinya secara bahasa, ad-dabbah adalah seluruh hewan yang dapat berjalan.

  • Jika suatu kata telah memiliki makna secara bahasa, tetapi makna yang terkenal secara kebiasaan adalah makna majas[14] yang tidak sesuai dengan hakikat bahasanya.

Contohnya adalah penggunaan lafazh al-ghaa`ith yang secara bahasa pada asalnya berarti tempat yang rendah di atas bumi, kemudian secara ‘urf (kebiasaan) yang terkenal memiliki arti kotoran yang keluar dari tubuh manusia. Sampai-sampai lafadz ini tidak diketahui artinya kecuali makna baru yang terkenal karena kebiasaan penggunaan ini.

  • Hakikat Ishthilahiyyah

                Adalah suatu lafadz yang digunakan sesuai makna aslinya secara istilahnya. Sebagaimana penulis paparkan sebelumnya, bahwa hakikat ishthilahiyyah terbagi menjadi dua :             

  1. Hakikat Syar’iyyah

        Yaitu suatu lafadz yang digunakan pada awalnya sesuai makna aslinya secara syari’at[15]. Contohnya adalah lafadz shalat yang diartikan sebagai sekumpulan perbuatan dan perkataan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

  • Hakikat Ghairu Syar’iyyah

        Yaitu suatu lafadz yang digunakan sesuai makna aslinya, akan tetapi jika ditinjau dari pengetahuan dan buatan orang yang mengartikan hakikat tersebut dan disesuaikan artinya dengan kebiasaan orang tersebut dan kelompoknya. Seperti ahli filsafat dan kalam mengartikan suatu istilah dari kata yang sama akan tetapi berbeda maknanya dengan istilah ahli fiqih. Begitu pula para dokter memiliki istilah khusus yang berbeda dari istilah orang-orang selainnya[16].

                      Para ulama sepakat atas penetapan adanya hakikat lughawiyyah wadh’iyyah maupun ‘urfiyyah. Akan tetapi mereka berbeda pendapat dalam penetapan hakikat syar’iyyah. Perbedaan ini terjadi karena sebagian mengartikan hakikat syar’iyyah sebagai suatu lafadz yang diletakkan sesuai makna aslinya oleh ahli syari’at, bukan oleh pemberi syari’at, yaitu Allah dan Rasul-Nya.

                      Jumhur ulama’ menetapkan adanya hakikat syar’iyyah, karena setiap lafadz dalam syari’at memiliki definisinya masih-masing berdasarkan apa yang telah Allah dan Rasulullah tetapkan, dan bahwa perbedaan ini ditinjau dari segi syari’at dan bukan dari segi bahasa.

                      Adapun orang-orang Mu’tazilah berpendapat bahwa disebut hakikat syar’iyyah ditinjau dari orang yang mendefiniskannya, sehingga mereka selain menetapkan hakikat syar’iyyah—yang  dilakukan sesuai perbuatannya, seperti shalat, zakat—mereka juga menetapkan hakikat diniyyah, yaitu yang disandarkan sesuai pelakunya—apakah ia mukmin, kafir, atau fasik—meskipun keduanya (hakikat syar’iyyah dan diniyyah) berada pada pokok yang sama, yaitu hakikat ‘urfiyyah syar’iyyah (hakikat syar’iyyah sesuai kebiasaan).

Faidah Mengetahui Pembagian Hakikat

                      Setelah mengetahui bahwa hakikat secara umum terbagi menjadi dua, dan secara rinci menjadi empat, kita dapat membawa setiap kata dalam bahasa Arab berupa dalil maupun yang lainnya kepada hakikatnya yang sesuai dengan penggunaannya. Jika konteks peletakannya dalam suatu kalimat merujuk kepada penggunaannya menurut ahli bahasa, maka kita membawa hakikat ini pada hakikat lughawiyyah wadh’iyyah. Apabila suatu kata digunakan pada konteks syari’at maka kita membawa hakikat ini kepada hakikat syar’iyyah, dan seterusnya.

Mengetahui pembagian hakikat ini penting supaya kita tidak salah kaprah dalam memahami dan meletakkan suatu hakikat, khususnya dalam dalil, dan supaya kita mengetahui kapan kita harus membawanya pada hakikat lughawiyyah, kepada hakikat syar’iyyah, maupun ‘urfiyyah.

Definisi Majas

Kata majas dalam bahasa Indonesia merupakan serapan dari kata al-majaazu dalam bahasa Arab yang diambil dari kata al-jawaazu, dari kata kerja jaaza-yajuuzu, artinya meniti atau berjalan di atasnya[17]. Kata al-majaazu sendiri memiliki wazan al-maf’alu yang menunjukkan mashdar dan bisa pula menunjukkan keterangan nama tempat[18], artinya secara bahasa ialah jalan yang dipangkas dari salah satu sisinya, atau dapat pula berarti antonim dari kata al-haqiiqatu[19]

Jika ditinjau dari terminologinya, majas adalah suatu lafazh yang digunakan tidak sesuai pada makna aslinya karena ada suatu sebab serta indikasi[20]. Definisi lain dari majas adalah suatu lafadz yang digunakan tidak sesuai dengan makna aslinya sejak awalnya, dengan penggunaan yang benar atau sesuai[21]. “Penggunaan yang benar” yang dimaksud di sini adalah untuk mengeluarkan kata yang tidak perlu dari jenis tersebut, seperti kata “bumi” dikeluarkan dari kata “langit”[22].

Majas sendiri digunakan untuk menunjukkan perpindahan makna suatu lafadz dari hakikat ke makna yang selainnya. Perpindahan makna ini bisa berasal dari hakikat lughawiyyah, ‘urfiyyah, maupun syar’iyyah[23]. Maka dari itu, definisi majas yang lebih mencakup adalah suatu lafadz yang sengaja digunakan tidak sesuai dengan makna aslinya sejak awal, digunakan secara istilah, dan dalam konteks komunikasi, dan tidak diartikan sesuai makna aslinya karena adanya hubungan antara makna hakikatnya dan makna majasnya[24].

Syarat Penggunaan Majas dan Jenis-Jenis Majas Dari beberapa definisi yang telah disebutkan di atas dapat kita simpulkan bahwa pada asalnya, kita dilarang membawa makna suatu kata keluar dari hakikatnya kepada makna majas kecuali jika memenuhi syarat-syarat berikut :

  1. Adanya indikasi (al-qariinah)

      Indikasi yang dimaksud adalah adanya bukti yang jelas bahwa kita tidak bisa membawa makna suatu lafadz kepada makna hakikatnya, sehingga kita harus membawanya kepada makna majas.

Contoh dari syarat ini adalah jika dikatakan,

رأيت أسدا يخطب على المنبر

Yang artinya “aku melihat ‘singa’ berbicara di atas podium.” Kita tidak bisa mengartikan kata “singa” di sini sesuai hakikatnya, yaitu seekor hewan buas, karena tidak kita dapati ada seekor hewan buas mampu berbicara di atas podium. Maka kata “singa” di sini dibawa kepada makna majas, yaitu seseorang yang berani bagaikan singa.

  • Adanya hubungan (al-‘alaaqah/at-ta’alluq)

      Hubungan yang dimaksud adalah hubungan atau keterkaitan antara makna hakikat dan majas. Hubungan ini dapat berupa dua hal :

  • Berupa kemiripan atau kesesuaian makna majas suatu lafadz dengan makna hakikatnya (al-musyaabahah), baik dalam bentuknya, sifatnya yang tampak, maupun karena secara mayoritas suatu hakikat dimaknai dengan majasnya[25]. Majas yang memiliki al-`alaaqah ini dalam ilmu balaghah disebut isti`aarah. Contohnya adalah kata “singa” yang digunakan dalam makna manusia yang berani, karena keduanya memiliki persamaan dalam sifatnya yang tampak, yaitu keberanian.
  • Tidak memiliki kemiripan antara makna hakikat dan majasnya, akan tetapi tetap memiliki suatu keterkaitan yang bukan berupa kemiripan. Majas ini jika terletak pada kata disebut majaz mursal, dan jika berupa penyandaran suatu perbuatan disebut majaz ‘aqliy.
  • Majaz Mursal

          Jika majas yang tidak memiliki kemiripan terletak pada suatu kata, maka disebut majaz mursal. Majaz mursal memiliki empat jenis[26] :

  1. Majaz biz-Ziyaadah

Disebut biz-ziyadah karena ia memiliki tambahan. Contohnya adalah dalam firman Allah,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.”[27]

Disebutkan bahwa huruf “kaaf” dalam kata (كمثله) merupakan tambahan untuk menguatkan peniadaan dzat yang semisal Allah. Kita tidak membawa maknanya kepada makna hakikat karena jika huruf “kaaf” kita artikan sesuai hakikatnya—yaitu “seperti”—maka makna ayat tersebut akan menjadi, “Tidak ada yang sama dengan dzat yang seperti Allah”. Sehingga ayat ini tidak sesuai dengan maksud dan tujuannya yaitu meniadakan dzat yang semisal Allah, karena ia justru menetapkan dzat yang semisal Allah.

  • Majaz bin-Nuqshaan

Disebut bin-nuqshan karena ia mengurangi suatu makna hakikat. Contohnya dalam firman Allah,

وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ

“Dan tanyalah negeri…”[28]

Terdapat kata yang dikurangi atau dibuang, yaitu kata “penduduk” sebelum kata “negeri”, karena yang dimaksud oleh ayat tersebut adalah bertanya kepada penduduk negeri, bukan bertanya kepada negeri. Karena bertanya kepada negeri yang merupakan kumpulan rumah dan bangunan adalah sesuatu yang mustahil.

  • Majaz bin-Naql

Yaitu jika terjadi perpindahan makna suatu kata dari hakikat ke majasnya. Contohnya kata al-ghaa’ith yang secara hakikat artinya tempat yang rendah di atas permukaan bumi, kemudian makna hakikatnya dipindah kepada makna majas, sehingga artinya adalah kotoran yang keluar dari tubuh manusia. Hubungan antara makna hakikat dan majasnya adalah hubungan penyertaan (al-mujaawirah), karena manusia pada zaman dahulu mencari tempat yang rendah untuk membuang hajatnya supaya tidak terlihat oleh orang lain.

  • Majaz bil-Isti`aarah

Yaitu ketika makna majas meminjam makna hakikat dari suatu lafadz. Contohnya dalam firman Allah,

جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ

“…dinding rumah yang ingin roboh…”[29]

Kata “ingin” digunakan untuk menyifati dinding, padahal kata “ingin” merupakan perbuatan makhluk hidup, sedangkan dinding bukan makhluk hidup. Kata “ingin roboh” dipinjam dari kata “hampir roboh” sehingga bermakna hampir roboh.

  • Majaz `Aqliy

          Jika majas berupa penyandaran suatu perbuatan kepada selain subyeknya, maka disebut majaz ‘aqliy atau majaz bil-isnad. Contohnya dalam perkataan,

أنبت المطر العشب

Yang artinya, “hujan menumbuhkan rerumputan.” Sekilas tampak bahwa perkataan ini menunjukkan hakikat, padahal kalimat ini adalah majas karena menyandarkan perbuatan menumbuhkan rerumputan kepada hujan, karena yang mampu menumbuhkan rerumputan sebenarnya adalah Allah Ta’ala.

Apakah Terdapat Majas dalam Dalil Syar’i ?

Para ulama berbeda pendapat mengenai masalah apakah terdapat majas dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—? Secara umum, terdapat dua pendapat dalam masalah ini[30] :

  1. Pendapat bahwa tidak ada majas dalam dalil syar`i. Pendapat ini merupakan pendapat Daud Azh-Zhahiriy dan anak beliau yang bernama Abu Bakr. Dinisbatkan pula kepada Ibnu Khuwaiz Mandad Al-Malikiy, Ibnu Al-Qash Asy-Syafi`i, Ibnu Taimiyyah, lalu Ibnu Qayyim. Pendapat ini disandarkan kepada realita para ahli bid`ah yang menggunakan majas sebagai sarana meniadakan sifat-sifat Allah dan menakwilkan perkara-perkara yang ghaib.
  2. Pendapat bahwa terdapat majas dalam dalil syar`i sebagaimana terdapat majas dalam perkataan orang Arab. Pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama’. Pendapat ini dikuatkan pula oleh Ibnu Hazm, Asy-Syaukaniy, dan Al-Amidiy. Mereka berdalil dengan dalil yang banyak, di antaranya firman Allah,

أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ

“…atau kembali dari tempat buang air…”[31]

Lafazh al-ghaa`ith tidak digunakan sesuai hakikatnya, karena hakikat dari lafazh ini adalah tempat tenang yang rendah di atas permukaan bumi yang digunakan untuk membuang hajat, sebagai bentuk menutupi diri. Makna ini jika digunakan dalam mengartikan ayat ini tentu tidak sesuai dengan tujuan dan maksudnya, karena sekadar mendatangi tempat buang hajat bukan merupakan hadas yang mewajibkan bersuci. Maka dari itu, makna al-ghaa`ith dalam ayat ini dibawa kepada makna majas, yaitu kotoran yang keluar dari tubuh manusia.

             Syaikh Shalih Al-Fauzan mencoba menggabungkan dua pendapat ini, yaitu dengan merincinya, bahwa majas terdapat dalam dalil syar`i termasuk Al-Qur’an kecuali dalam ayat-ayat sifat Allah. Menurut beliau pendapat inilah yang dipilih oleh Imam Asy-Syafi`i—meskipun beliau tidak meyebutnya sebagai majas[32]—dan Al-Khathib Al-Bagdadiy, dan sepertinya inilah maksud dari Ahlussunnah wal Jama’ah bahwa terdapat majas dalam dalil syar`i. Alasan beliau karena mungkin menetapkan sifat Allah sesuai hakikatnya yang layak dengan keagungan Allah dan meniadakan majas padanya. Serta mungkin menetapkan majas dalam dalil-dalil selain sifat Allah.

Penutup

             Meskipun pembahasan hakikat dan majas merupakan pembahasan dalam ilmu bahasa (ilmu bayan dalam balaghah), akan tetapi para ahli ilmu ushul fiqh menyebutkan pembahasan ini karena pembahasan tentang indikasi tiap lafazh (dalaalah al-alfazh) merupakan pembahasan penting dalam ilmu ushul fiqh. Sedangkan indikasi tiap lafazh dapat berupa hakikat maupun majas, maka mempelajari hakikat dan majas penting dan diperlukan.

             Setelah mengetahui secara ringkas mengenai hakikat dan majas, diharapkan kita mengetahui apa yang dimaksud oleh dalil syar`i, apakah hakikat ataukah majas, sehingga kita bisa membawa maknanya sesuai makna yang tepat.

             Wallahu waliyyut taufiq wal hidayah.

Penulis: Zaky Hanifah

Pembimbing: Ustaz Khalid Saifullah, Lc., M.A.

Referensi :

  • Al-Amidiy, Sayyiduddin Ali bin Abi Ali. Al Ihkam fi Ushul al Ahkam. Al Maktab Al Islamiy, Beirut-Lebanon.
  • Al-Ashfahaniy, Muhammad bin Abdirrahman Syamsuddin. 1406 H. Bayan al Mukhtashar Syarh Mukhtashar Ibni Hajib. Dar al-Madaniy, KSA. Cetakan ke-1.
  • Al-Fairuz`abadiy, Majduddin Abu Thahir Muhammad bin Ya’qub. 1426 H. Al Qamus Al Muhith. Mu’assasah ar Risalah lith Thiba’ah wan Nasyr wat Tauzi’, Beirut. Cetakan ke-8.
  • Al Farabi, Abu Nashr Isma’il bin Hamad. 1407 H. Ash Shihah Taaj al Lughah wa Shihah al ‘Arabiyyah. Daar al ‘Ilm lil Malayiin: Beirut. Cetakan ke-4.
  • Al Farahidiy, Al-Khalil bin Ahmad bin ‘Amr bin Tamim. Kitab Al-‘Ain. Dar wa Maktabah Al Hilal.
  • Al Fauzan, Abdullah bin Shalih. 1434 H. Syarhul Waraqat fi Ushulil Fiqh. Maktabah Dar Al Minhaj: Riyadh-KSA. Cetakan ke-4.
  • Al Qazwiniy, Abul Husain Ahmad bin Faris. 1399 H. Mu’jam Maqayis Al Lughah. Dar Al Fikr.
  • Al ‘Utsaimin, Muhammad bin Shalih. 1426 H. Al-Ushul min ‘Ilmil Ushul. Dar Ibnul Jauzy: Riyadh-KSA.
  • Ar-Razi, Muhammad bin Umar bin Al-Hasan. 1418 H. Al Mahshul. Mu’assasah Ar Risalah, Beirut. Cetakan ke-3.
  • Asy-Syafi’I, Muhammad bin Idris bin Al-‘Abbas. 1358 H. Ar-Risalah. Maktabah Al-Halabiy, Mesir.
  • Asy Syaukaniy, Muhammad bin Ali bin Muhammad. 1419 H. Irsyad Al Fuhul Ila Tahqiq Al Haq Min Ilmi Al Ushul. Dar Al Kitab Al Arabi.
  • Ath-Thufiy, Sulaiman bin Abdil Qawiyy bin Al Karim. 1407 H. Syarh Mukhtashar ar-Raudhah. Mu’assasah Ar Risalah, Beirut. Cetakan ke-1.
  • Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram bin Ali. 1414 H. Lisan al ‘Arab. Dar Shadir: Beirut. Cetakan ke-3.

[1] Timbangan atau pola suatu kata dalam Bahasa Arab.

[2] Al ‘Ain (3/6), Ash-Shihah (4/1460).

[3] Lisanul ‘Arab (10/49)

[4] QS. Az-Zumar: 71

[5] Al ‘Ain (3/6), Lisanul ‘Arab (10/52)

[6] Irsyadul Fuhul (1/62), Al Ushul, hlm. 19

[7] Al Ihkam (1/28)

[8] Irsyadul Fuhul (1/63)

[9] Syarh Mukhtashar ar Raudhah (1/488)

[10] Al Mahshul (1/291)

[11] Al Ihkam (1/27), Syarh Mukhtashar ar Raudhah (1/488)

[12] Al Ihkam (1/27)

[13] Ibid

[14] Makna tidak asli dan tidak sesuai hakikat. Definisinya akan dibahas pada poin selanjutnya.

[15] Syarh Mukhtashar (1/488)

[16] Syarh Mukhtashar (1/489)

[17] Ash Shihah (3/870), Maqayis al Lughah (1/494), Lisanul ‘Arab (5/326)

[18] Al ‘Ain (6/165)

[19] Al Qamus (1/506)

[20] Irsyadul Fuhul (1/63)

[21] Bayan al Mukhtashar (1/186)

[22] Irsyadul Fuhul (1/63).

[23] Al Ihkam (1/28)

[24] Ibid

[25] Lihat perincian beserta contohnya dalam Al Ihkam (1/28) dan Irsyadul Fuhul (1/68)

[26] Syarhul Waraqat, hlm. 61

[27] QS. Asy-Syura: 11

[28] QS. Yusuf: 82

[29] QS. Al-Kahfi: 77

[30] Syarhul Waraqat, hlm. 63

[31] QS. Al-Ma`idah: 6

[32] Ar-Risalah (1/50)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *