Pada artikel sebelumnya yang berjudul “Hukum Taklif”, penulis telah membahas sekilas tentang taklif. Pada kesempatan kali ini, penulis akan mengkhususkan pembahasan pada taklif beserta cabang-cabang pembahasannya.

Definisi Taklif

                Kata at-taklif dalam Bahasa Arab diambil dari kata al-kulfah, yang artinya sesuatu yang dijadikan beban atau kesulitan[1], dan diartikan pula sebagai sesuatu yang ditanggung sebagai perwakilan seseorang atau haknya[2]. Sedangkan jika ditinjau dari bentuknya, lafazh at-taklif merupakan mashdar dari kata kerja kallafa-yukallifu yang artinya perintah atas sesuatu yang berat bagi seseorang[3].

                Adapun secara terminologi, at-taklif adalah arahan berupa perintah dan larangan[4]. Dalam definisi lain dikatakan bahwa at-taklif adalah keinginan mukallif (pelaku taklif) atas mukallaf (obyek taklif) agar melakukan sesuatu yang menjadi beban baginya[5]. At-taklif diartikan pula sebagai perintah melakukan ketaatan dan larangan melakukan kemaksiatan, karenanya at-taklif disertai dengan motivasi (agar dilakukan) dan ancaman (agar tidak dilanggar), maka dari itu kisah-kisah, nasehat, dan ‘ibrah yang terdapat dalam Al-Qur’an semakin kuat karena adanya at-targhiib (motivasi) dan at-tarhiib (ancaman)[6]. Menurut Al Baqilaniy[7], at-taklif adalah perintah atas sesuatu yang mengandung beban atau larangan dari sesuatu yang terdapat beban jika tidak dilakukan. Beliau juga menganggap mandub dan makruh termasuk taklif[8].

                Jadi, dapat disimpulkan bahwa taklif adalah pembebanan suatu hukum syar`i kepada obyek taklif (mukallaf), baik berupa perintah maupun larangan.

Siapa Itu Mukallaf ?

                Jika dilihat dari bentuk katanya, mukallaf adalah isim maf’ul (bentuk obyek) dari kata kerja kallafa-yukallifu. Jadi, arti mukallaf adalah yang diberi taklif (beban) berupa hukum syar’i. Untuk menjadi mukallaf, beberapa ahli ilmu ushul fiqh menyebutkan beberapa syarat[9] :

  1. Hidup

Seorang mukallaf haruslah dalam keadaan hidup, maka dari itu seorang mayyit bukanlah termasuk mukallaf, karena ketika kehidupan seseorang terputus, terputus pula seluruh beban-beban kewajibannya lalu berpindah kepada ahli warisnya. Maka dari itu, apabila jenazah seseorang terkena najis, pendapat yang rajih adalah najis tersebut tidak perlu dihilangkan. Begitu pula seorang wanita yang meninggal dalam masa ‘iddah ataupun dalam keadaan ihram, boleh diberikan wewangian ketika memandikannya. Akan tetapi ada beberapa pengecualian yang terdapat dalilnya, seperti bahwa seorang jenazah laki-laki tetap tidak boleh dikafani dengan sutera, begitu pula ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa seseorang yang meninggal dalam keadaan berihram tetap wajib meninggalkan larangan-larangan ihram.

  • Termasuk Golongan Jin dan Manusia, atau Malaikat

Para ulama’ sepakat bahwa taklif hanya untuk jin, manusia, dan malaikat. Oleh karena itu, binatang dan benda mati tidak dibebani hukum taklif.

  • Telah Mencapai Akil Balig

Keadaan balig adalah jika seorang laki-laki atau perempuan tela berumur lima belas tahun, atau telah mengeluarkan mani (mimpi basah bagi laki-laki), atau telah bersenggama, atau telah tumbuh rambut di sekitar kemaluannya. Dan bagi perempuan ditandai dengan keluarnya darah haid atau telah hamil. Hal ini didasari pada hadits,

«رفع القلم عن ثلاثة» وذكر منهم: «وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ»

“Pena diangkat (kewajiban tidak diberlakukan) terhadap tiga (golongan),” lalu beliau menyebutkan di antaranya, “dan terhadap anak kecil hingga balig.”[10]

Seseorang yang telah mencapai masa balig akan terkena hukum taklif, sedangkan bayi maupun anak-anak belum terkena hukum taklif, karena mereka belum memahami tujuan dan maksud dari suatu hukum. Adapun perintah mengambil zakat dari harta seseorang yang belum balig maksudnya adalah sekadar mengambil sebagian dari hartanya dan perintah itu untuk walinya, bukan perintah yang ditujukan kepada anak tersebut.

Adapun redaksi dalil yang menunjukkan wajibnya shalat bagi anak-anak yang telah berumur sepuluh tahun dan perintah memukulnya jika ia enggan shalat, adalah perintah yang menunjukkan pengajaran untuk pembiasaan, tetapi jika anak tersebut meninggalkan shalat maka ia tidak berdosa dan tidak dihukum sebagaimana seorang akil balig yang meninggalkan shalat[11].

  • Berakal atau Sadar

Orang yang tidak berakal (orang gila) bukan termasuk mukallaf, jadi ia tidak dapat dibebani suatu hukum syar’i karena ia tidak memahami hukum tersebut. Orang yang kehilangan akalnya karena mabuk atau pingsan misalnya, juga bukan termasuk mukallaf, akan tetapi jika ia telah sadar / siuman, maka ia menjadi mukallaf. Hal ini dianalogikan pula jika orang gila telah sadar dari kegilaannya. Dalilnya adalah pada hadits yang telah disebutkan,

«رفع القلم عن ثلاثة» وذكر منهم: «المجنون حتى يفيق»

“Pena diangkat (kewajiban tidak diberlakukan) terhadap tiga (golongan),” lalu beliau menyebutkan, di antaranya “dan terhadap orang gila hingga sadar (sembuh).”[12]

Disebutkan bahwa standar akal yang menjadikan seseorang mukallaf adalah ketika ia mampu membedakan mana manfaat dan mana mudharat, dan boleh pula dikatakan ketika ia mengetahui sesuatu yang bukan merupakan ilmu dharuriy. [13]

  • Pemahaman atau Pengetahuan dari Suatu Hukum

Yang dimaksud dari pemahaman di sini adalah seseorang disebut mukallaf jika ia benar-benar mengetahui suatu hukum agar ia bisa melakukan atau meninggalkannya secara keseluruhan. Oleh karena itu, orang yang tertidur ataupun lupa bukan mukallaf sampai ia bangun dari tidurnya atau ia ingat. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

“dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.”[14]

Tujuan dari diutusnya Rasul-Rasul adalah untuk mengajarkan syari’at kepada manusia. Akan tetapi jika pengetahuan ini tidak berlaku pada ilmu dharuriy[15], seperti kewajiban masuk Islam, kewajiban shalat, dan zakat, maka tidak ada udzur tidak mengetahui suatu ilmu yang sifatnya dharuriy (wajib diketahui).

  • Mampu untuk Melakukan Suatu Hukum

Orang yang lemah atau tidak mampu melakukan suatu hukum tidak dibebani taklif seperti orang yang mampu, akan tetapi ia mendapat keringanan (rukhshah). Allah Ta’ala berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seorang di luar batas kemampuannya.”[16]

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan apa yang diberikan oleh Allah kepadanya.”[17]

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu.”[18]

  • Memiliki Pilihan

Pilihan yang dimaksudkan di sini adalah pilihan untuk melakukan atau meninggalkan, sehingga artinya ia tidak dalam kondisi terpaksa. Kasus ini mebutuhkan perincian:

  1. Apabila paksaan tersebut tidak menyisakan kuasa apapun untuk menolaknya, maka ia tidak terkena beban taklif. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ

“kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).”[19]

  • Apabila seseorang masih memiliki kuasa untuk menolak, maka ia tetap terkena beban taklif walaupun ia dipaksa, karena ia masih dapat berpikir dengan jernih untuk melakukan atau meninggakannya[20].

Syarat-syarat yang telah disebutkan di atas merupakan syarat umum, ada pula beberapa syarat khusus yang disesuaikan sesuai jenis ibadah. Misalnya seseorang yang berjihad atau shalat Jum’at haruslah orang yang merdeka bukan budak, akan tetapi ia bukan merupakan syarat untuk shalat dan zakat.

Perbuatan yang Menjadi Sasaran Taklif

                Dalam pembahasan ilmu ushul fiqih disebut al-mukallaf bihi. Perbuatan ini dapat berwujud melakukan sesuatu ataupun meninggalkan sesuatu. Perbuatan ini memiliki beberapa syarat :

  1. Perbuatan Tersebut Diketahui

Maksudnya adalah perbuatan tersebut diketahui hakikatnya, baik perintahnya, hukumnya, maupun dalil-dalilnya. Perbuatan ini setidaknya diketahui secara jelas oleh ulama fiqh dan tidak oleh seluruh mukallaf, tetapi mereka mengetahuinya secara global beserta dalilnya. Syarat ini berbeda dengan yang telah disebutkan sebelumnya pada syarat mukallaf, karena dalam hal ini ditinjau dari perbuatannya, bukan dari tiap individu yang melakukannya.

  • Perbuatan Tersebut Belum Ada

Yang dimaksudkan belum ada di sini adalah bahwa perbuatan tersebut belum terwujud saat diperintahkan, karena perintah adalah permintaan mewujudkan sesuatu, dan perbuatan yang telah ada tidak akan diperintahkan lagi. Adapun larangan, maka bisa jadi memang belum ada saat larangan itu terjadi maupun setelah larangan itu, seperti melarang seseorang dari berzina, dan bisa jadi larangan tersebut ada setelah perbuatan itu terjadi, seperti larangan peminum khamr dari meminum khamr.

  • Perbuatan Tersebut Mungkin untuk Dilakukan

Artinya perbuatan tersebut bukan perbuatan yang mustahil untuk dilakukan secara logis dan kebiasaan, seperti perintah untuk menggabungkan dua hal yang berlawanan. Terdapat perbedaan ulama dalam masalah ini yaitu bahwa taklif atas sesuatu yang mustahil mungkin dan boleh dilakukan, akan tetapi pendapat yang rajih adalah bahwa taklif atas sesuatu yang mustahil tidak boleh dan tidak diterima.

Penghalang-Penghalang Taklif

                Terkadang seorang mukallaf dapat gugur dari taklif karena sebab-sebab tertentu, baik itu berupa sebab yang datang disengaja maupun tiba-tiba.

                Secara umum, penghalang taklif adalah kebalikan dari syarat-syarat taklif, sehingga ketika ia tidak memenuhi syarat taklif, maka ia terhalang dari taklif tersebut. Di antara peghalang-penghalang taklif yang paling penting adalah:

  1. Gila

Yaitu hilangnya akal yang merupakan asas dari pemberian taklif dan syarat dari ditujukannya suatu khithab (arahan atau petunjuk dari pelaku taklif—Allah dan Rasul-Nya—pent.). Dalil bahwa orang yang gila bukan mukallaf adalah hadits,

«رفع القلم عن ثلاثة» وذكر منهم: «المجنون حتى يفيق»

“Pena diangkat (kewajiban tidak diberlakukan) terhadap tiga (golongan),” lalu beliau menyebutkan, di antaranya “dan terhadap orang gila hingga sadar (sembuh).”[21]

Perkataan orang gila tidak dianggap karena termasuk kesia-siaan menurut kesepakatan ulama, sehingga tidak memiliki pengaruh apapun dalam hukum syar’i, sehingga ketika ada orang gila melakukan jual beli maka akad itu tidak dianggap sah.

Adapun perbuatannya, jika itu berkaitan dengan ibadah maka tidak dianggap, akan tetapi jika berkaitan dengan hukum mu’amalah seperti jika ia merusak sesuatu milik orang lain maka ia terkena denda atas hartanya yang dibebankan kepada wali/ahli warisnya karena denda bukanlah syarat taklif.

Jika orang gila tersebut meninggalkan sesuatu yang menjadi hak Allah (misalnya ibadah), maka menurut jumhur ulama’ orang tersebut tidak diwajibkan mengganti kewajiban yang ia tinggalkan sampai ia sadar dari kegilaannya, kecuali jika ibadah tersebut belum habis waktunya saat ia sadar dari kegilaannya.

  • Lupa

Yaitu lalai dan terlewatnya hati dan pikiran dari sesuatu perbuatan yang awalnya ia ketahui. Tidak termasuknya ia dalam taklif ditunjukkan dalam hadits,

«إن الله وضع عن أمتي الخطأ والنسيان»

“Sesungguhnya Allah telah memaafkan dari umatku kekeliruan dan kealpaan.”[22]

Perbuatan dan perkataan orang yang lupa tidak dianggap, akan tetapi para ulama berbeda pebdapat mengenai apabila seseorang yang lupa lalu melakukan pembatal ibadah, apakah ibadahnya batal? Pendapat yang rajih adalah ibadahnya batal, karena pembatal suatu ibadah menjadikan ibadahnya batal sehingga tidak disyaratkan padanya taklif, dan bahwa hukum sah atau batalnya suatu ibadah merupakan bagian dari hukum wadh’i dan bukan hukum taklif.

Kelupaan di sini juga harus disertai bukti dan indikasi, sehingga sekadar dakwaan bahwa seseorang lupa tanpa adanya bukti penguat tidak dianggap.

  • Bodoh atau Tidak Tahu

Artinya tidak adanya ilmu akan suatu hukum sehingga ia tidak dapat membayangkannya. Udzur ketidaktahuan ini memiliki beberapa tingkatan, di antaranya ada yang dapat mengangkat taklif, dan ada pula yang tidak mengangkat taklif. Secara umum ada empat jenis:

  1. Tidak tahu akan dzat Allah dan mengingkari-Nya, baik ilmu-Nya maupun kekuasaan-Nya. Maka dakwaan semacam ini tidak diterima setelah diutusnya sekuruh Rasul, karena tugas Rasul adalah mengajarkan manusia peribadahan kepada Allah semata. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

“dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.”[23]

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (104) أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

“Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah perlu kami beri tahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?’ (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya.”[24]

Ayat ini menjelaskan bahwa sangkaan orang-orang kafir itu tidak menyelamatkan mereka dari adzab Allah.

  • Tidak tahu suatu perkara dalam agama yang sifatnya dharuriy yang seorang muslim wajib mengetahuinya. Contohnya adalah seseorang yang tidak tahu kewajiban shalat, zakat, larangan zina dan riba. Alasan atau sangkaan ini juga tidak diterima, karena hal itu muncul dari kelalaiannya atau bisa jadi ia berbohong jika ia tidak mengetahuinya, padahal sebenarnya ia mengetahuinya.
  • Tidak tahu suatu hukum yang sifatnya nazhariy, merupakan bentuk ijtihad, atau hukum tersebut diperselisihkan, sehingga orang yang tidak mengetahui masalah ini, alasan ketidaktahuannya dapat diterima dan perbuatan yang dilakukannya tanpa ilmu tersebut tetap diterima. Akan tetapi ia harus mencari tahu kebenaran hukumnya, setelah itu ia wajib mengikutinya dan mendasarkan perbuatannya pada ilmu tersebut.
  • Tidak tahunya seseorang yang baru masuk Islam atau muslim yang tinggal sebagai minoritas sehingga ia tidak tahu beberapa hukum syar’i. udzur ini dapat diterima dan mengangkat taklif. Tetapi ia wajib belajar dan mencari tahu kebenarannya, setelah ia mengetahuinya, wajib baginya mengamalkannya.
  • Tidur

Beberapa ulama ushul fiqh menganggap tidur termasuk penghalang taklif. Dalilnya adalah sabda Rasulullah,

«رفع القلم عن ثلاثة» وذكر منهم: «النائم حتى يستيقظ»

“Pena diangkat (kewajiban tidak diberlakukan) terhadap tiga (golongan),” lalu beliau menyebutkan, di antaranya “dan dari orang tidur hingga bangun).”[25]

Seseorang yang ketiduran sehingga ia melewatkan kewajiban shalat lalu ia shalat di luar waktunya misalnya, ia tidak berdosa, akan tetapi ia tetap dikenai kewajiban untuk meng-qadha-nya setelah terbangun. Karena tidur adalah udzur sehigga ia tidak berdosa, dan bukannya menghilangkan taklif. Rasulullah bersabda,

«إنه ليس في النوم تفريط، إنما التفريط في اليقظة، فإذا نسي أحدكم صلاة أو نام عنها فليصلها إذا ذكرها»

“Sesungguhnya dalam tidur tidak ada kecerobohan. Kecerobohan itu tidak lain ada pada orang yang sadar (tidak tidur), maka apabila salah seorang di antara kalian lupa atau tertidur dari shalat maka hendaklah ia mengerjakannya pada saat ia ingat.”[26]

Seseorang yang tidur perkatannya tidak dianggap, akan tetapi perbuatannya tetap dianggap meskipun bukan sebagai hukum taklif. Seperti jika misalnya seseorang yag tidur merusak barang milik orang lain, maka wajib atasnya denda, karena denda merupakan kewajiban dari hartanya dan bukan kewajiban taklifnya.

  • Pingsan

Yaitu seseorang terkena penyakit sehingga ia tidak sadarkan diri. Orang yang pingsan bahkan lebih berat daripada orang yang tidur, karena seseorang yang tidur setelah terbangun ia dalam keadaan sehat, sedangkan orang yang pigsan tidak.

Ulama berbeda pendapat apakah orang yang pingsan dikiaskan seperti orang yang tidur sehingga setelah sadar ia wajib meng-qadha kewajibannya yang terlewat? Akan tetapi yang rajih adalah bahwa ia tidak wajib meng-qadhanya dan hukumnya tidak dikiaskan kepada orang yang tidur, karena orang yang tidur ketika meninggalkan taklif ada unsur kelalaian padanya, adapun orang yang pingsan tidak, karena itu terjadi di luar kehendaknya.

  • Mabuk

Orang mabuk ialah orang yang tertutup sebagian akalnya atau seluruh akalnya setelah terkena pengaruh khamr atau semacamnya., sehingga tidak mampu mebedakan benar atau salahnya suatu hal. Para ulama berbeda pendapat apakah orang yang mabuk termasuk mukallaf ataukah tidak, akan tetapi yang rajih adalah bahwa orang yag mabuk tidak dikenai hukum taklif berupa perintah atau larangan ketika ia mabuk, akan tetapi beberapa perbuatan maupun perkataanya dapat dianggap[27], dan dapat dihukum seakan ia sadar apabila hal itu menyangkut hak sesama manusia, terlebih jika ia mabuk dengan sengaja.

          Akan tetapi jika mabuknya tidak sampai menghilangkan kesadarannya secara penuh, maka ia tetap dianggap sebagai mukallaf.

  • Terpaksa

Telah disebutkan sebelumnya bahwa keterpaksaan yang dapat mengangkat taklif adalah keterpaksaan yang benar-benar tidak menyisakan kuasa apapun untuk menolaknya, adapun keterpaksaan yang masih menyisakan kehendak bagi seseorang untuk memilih meninggalkan atau melakukannya, maka tidak keluar dari taklif.

Penutup

                Demikian pembahasan ringkas mengenai taklif yang dapat penulis sampaikan pada artikel kali ini. Semoga setelah mengetahui definisi taklif, syarat-syarat, dan penghalang-penghalagnya dapat menjadikan kita semakin giat dan lebih perhatian dalam menunaikan hak Allah dan kewajiban kita sebagai seorang mukallaf.

                Wallahu a’lam bil muraad wash shawaab.

Penulis: Zaky Hanifah

Pembimbing: Ustaz Khalid Saifullah, Lc., M.A.

Maraji’ :

  • Al Baqilaniy, Abu Bakr Muhammad At-Thayyib. Al-Inshaf Fi Ma Yajibu I’tiqaduhu wa La Yajuzu Al-Jahlu Bihi.
  • Al Farabi, Abu Nashr Isma’il bin Hamad. 1407 H. Ash Shihah Taaj al Lughah wa Shihah al ‘Arabiyyah. Daar al ‘Ilm lil Malayiin: Beirut. Cetakan ke-4.
  • Al Farahidiy, Al-Khalil bin Ahmad bin ‘Amr bin Tamim. Kitab Al-‘Ain. Dar wa Maktabah Al Hilal.
  • Al Fuyumiy, Ahmad bin Muhammad bin Ali. Al Mishbah Al Munir fi Gharib asy Syarh al Kabir. Maktabah al ‘Ilmiyyah: Beirut.
  • Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram bin Ali. 1414 H. Lisan al ‘Arab. Dar Shadir: Beirut. Cetakan ke-3.
  • Al Fairuz`abadiy, Majduddin Muhammad bin Ya’qub. 1426 H. Al-Qamus Al-Muhith. Mu’assasah Ar-Risalah li Ath-Thiba’ah wa An-Nasyr wa At-Tauzi’, Beirut. Cetakan ke-8.
  • An-Nasa`I, Ahmad bin Syu’aib bin Ali. 1406 H. Al Mujtaba min As-Sunan: As-Sunan Ash-Shugra. Maktab Al-Mathbu’at Al-Islamiyyah, Aleppo-Suriah. Cetakan ke-2.
  • Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwiniy. Sunan Ibni Majah. Dar Ihya` Al-Kutub Al-‘Arabiyyah, Aleppo-Suriah.
  • Ibnu Qudamah, Abu Muhammad Muwaffaq ad Diin Abdullah bin Ahmad bin Muhammad. 1436 H. Raudhatun Nadhir wa Jannatul Munazhir. Dar al ‘Alamiyyah: Kairo-Mesir. Cetakan ke-1.
  • Az Zarkasyi, Abu ‘Abdillah Badruddin Muhammad bin ‘Abdillah bin Bahadir. 1414 H. Al Bahr Al Muhith fi Ushul al Fiqh. Dar Al Kutuby. Cetakan ke-1.
  • Asy-Syafi’I, Muhammad bin Idris. 1410 H. Al-Umm. Beirut: Dar Al-‘Arabiyyah.
  • Abu Ya’la, Muhammad bin Al-Husain Ibnu Al-Farra`. 1410 H. Al-‘Uddah fi Ushul Al-Fiqh. Riyadh-KSA.
  • Al-Mauridiy, Abu Al-Husain Ali bin Muhammad. 1986 M. Adab Ad-Dunya wa Ad-Diin. Dar Maktabah Al-Hayah.
  • As-Salmiy, ‘Iyadh bin Namiy bin ‘Iwadh. 1426 H. Ushul Al-Fiqh alladzi La Yasa’u Al-Faqiha Jahluhu. Riyadh: Dar At-Tadmuriyyah.
  • Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistaniy. Sunan Abi Dawud. Beirut: Al MAktabah Al-‘Ashriyyah.
  •  

[1] Al-Mishbah Al-Munir (2/537).

[2] Al-‘Ain (5/372), Ash-Shihah (4/1424), Lisanul ‘Arab (9/307), Al-Qamus (1/850).

[3] As-Shihah (4/1424), Al-Qamus (1/850).

[4] Raudhatun Nazhir (1/152).

[5] Az-Zarkasyi menukilnya dari kitab Ushul Fiqh karangan Ibnu Suraqah, kitab ini tidak sampai kepada kita sekarang, namun Az-Zarkasyi sering menyebutkannya dalam kitab beliau Al-Bahr Al Muhith.

[6] Adab Ad-Dunya wa Ad-Diin, hlm. 87

[7] Al Qadhi Abu Bakr bin Ath-Thayyib Al-Baqilaniy (338-403 H) adalah seorang ulama Ushul Fiqh terkemuka dari Baghdad yang berakidah Asy’ariyyah. Penulis kitab Al-Inshaf.

[8] Al-Inshaf.

[9] Dinukil dari Al-Bahr Al-Muhith (2/66) beserta beberapa tambahan

[10]  HR. Abu Dawud No. 4401 dalam Sunan Abi Dawud (4/140)

[11] Lihat: Al-Umm (1/102)

[12] HR. Ibnu Majah No. 2041 dalam Sunan Ibni Majah (1/658)

[13] Lihat: Al-‘Uddah (1/83)

[14] QS. Al-Isra`: 15

[15] Penulis telah membahas definisinya pada artikel sebelumnya yang berjudul “Al-‘Ilmu dan Al-Jahlu”.

[16] QS. Al-Baqarah: 286

[17] QS. Ath-Thalaq: 7

[18] QS. Al-Hajj: 78

[19] QS. An-Nahl: 106

[20] Lihat: Raudhatun Nazhir (1/159)

[21] HR. Ibnu Majah No. 2041 dalam Sunan Ibni Majah (1/658)

[22] HR. Ibnu Majah No. 2045 dalam Sunan Ibni Majah (1/659).

[23] QS. Al-Isra`: 17

[24] QS. Al-Kahfi: 103-105

[25] HR. Ibnu Majah No. 2041 dalam Sunan Ibni Majah (1/658)

[26] HR. Ibnu Majah No. 177 dalam Sunan Ibni Majah (1/244) dan HR. An-Nasa`I No. 615 dalam As-Sunan Ash-Shugra (1/294).

[27] Seperti jika ia mentalak dalam keadaan mabuk, beberapa ulama menganggap talaknya sah.

At-Taklif

                Pada artikel sebelumnya yang berjudul “Hukum Taklif”, penulis telah membahas sekilas tentang taklif. Pada kesempatan kali ini, penulis akan mengkhususkan pembahasan pada taklif beserta cabang-cabang pembahasannya.

Definisi Taklif

                Kata at-taklif dalam Bahasa Arab diambil dari kata al-kulfah, yang artinya sesuatu yang dijadikan beban atau kesulitan[1], dan diartikan pula sebagai sesuatu yang ditanggung sebagai perwakilan seseorang atau haknya[2]. Sedangkan jika ditinjau dari bentuknya, lafazh at-taklif merupakan mashdar dari kata kerja kallafa-yukallifu yang artinya perintah atas sesuatu yang berat bagi seseorang[3].

                Adapun secara terminologi, at-taklif adalah arahan berupa perintah dan larangan[4]. Dalam definisi lain dikatakan bahwa at-taklif adalah keinginan mukallif (pelaku taklif) atas mukallaf (obyek taklif) agar melakukan sesuatu yang menjadi beban baginya[5]. At-taklif diartikan pula sebagai perintah melakukan ketaatan dan larangan melakukan kemaksiatan, karenanya at-taklif disertai dengan motivasi (agar dilakukan) dan ancaman (agar tidak dilanggar), maka dari itu kisah-kisah, nasehat, dan ‘ibrah yang terdapat dalam Al-Qur’an semakin kuat karena adanya at-targhiib (motivasi) dan at-tarhiib (ancaman)[6]. Menurut Al Baqilaniy[7], at-taklif adalah perintah atas sesuatu yang mengandung beban atau larangan dari sesuatu yang terdapat beban jika tidak dilakukan. Beliau juga menganggap mandub dan makruh termasuk taklif[8].

                Jadi, dapat disimpulkan bahwa taklif adalah pembebanan suatu hukum syar`i kepada obyek taklif (mukallaf), baik berupa perintah maupun larangan.

Siapa Itu Mukallaf ?

                Jika dilihat dari bentuk katanya, mukallaf adalah isim maf’ul (bentuk obyek) dari kata kerja kallafa-yukallifu. Jadi, arti mukallaf adalah yang diberi taklif (beban) berupa hukum syar’i. Untuk menjadi mukallaf, beberapa ahli ilmu ushul fiqh menyebutkan beberapa syarat[9] :

  1. Hidup

Seorang mukallaf haruslah dalam keadaan hidup, maka dari itu seorang mayyit bukanlah termasuk mukallaf, karena ketika kehidupan seseorang terputus, terputus pula seluruh beban-beban kewajibannya lalu berpindah kepada ahli warisnya. Maka dari itu, apabila jenazah seseorang terkena najis, pendapat yang rajih adalah najis tersebut tidak perlu dihilangkan. Begitu pula seorang wanita yang meninggal dalam masa ‘iddah ataupun dalam keadaan ihram, boleh diberikan wewangian ketika memandikannya. Akan tetapi ada beberapa pengecualian yang terdapat dalilnya, seperti bahwa seorang jenazah laki-laki tetap tidak boleh dikafani dengan sutera, begitu pula ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa seseorang yang meninggal dalam keadaan berihram tetap wajib meninggalkan larangan-larangan ihram.

  • Termasuk Golongan Jin dan Manusia, atau Malaikat

Para ulama’ sepakat bahwa taklif hanya untuk jin, manusia, dan malaikat. Oleh karena itu, binatang dan benda mati tidak dibebani hukum taklif.

  • Telah Mencapai Akil Balig

Keadaan balig adalah jika seorang laki-laki atau perempuan tela berumur lima belas tahun, atau telah mengeluarkan mani (mimpi basah bagi laki-laki), atau telah bersenggama, atau telah tumbuh rambut di sekitar kemaluannya. Dan bagi perempuan ditandai dengan keluarnya darah haid atau telah hamil. Hal ini didasari pada hadits,

«رفع القلم عن ثلاثة» وذكر منهم: «وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ»

“Pena diangkat (kewajiban tidak diberlakukan) terhadap tiga (golongan),” lalu beliau menyebutkan di antaranya, “dan terhadap anak kecil hingga balig.”[10]

Seseorang yang telah mencapai masa balig akan terkena hukum taklif, sedangkan bayi maupun anak-anak belum terkena hukum taklif, karena mereka belum memahami tujuan dan maksud dari suatu hukum. Adapun perintah mengambil zakat dari harta seseorang yang belum balig maksudnya adalah sekadar mengambil sebagian dari hartanya dan perintah itu untuk walinya, bukan perintah yang ditujukan kepada anak tersebut.

Adapun redaksi dalil yang menunjukkan wajibnya shalat bagi anak-anak yang telah berumur sepuluh tahun dan perintah memukulnya jika ia enggan shalat, adalah perintah yang menunjukkan pengajaran untuk pembiasaan, tetapi jika anak tersebut meninggalkan shalat maka ia tidak berdosa dan tidak dihukum sebagaimana seorang akil balig yang meninggalkan shalat[11].

  • Berakal atau Sadar

Orang yang tidak berakal (orang gila) bukan termasuk mukallaf, jadi ia tidak dapat dibebani suatu hukum syar’i karena ia tidak memahami hukum tersebut. Orang yang kehilangan akalnya karena mabuk atau pingsan misalnya, juga bukan termasuk mukallaf, akan tetapi jika ia telah sadar / siuman, maka ia menjadi mukallaf. Hal ini dianalogikan pula jika orang gila telah sadar dari kegilaannya. Dalilnya adalah pada hadits yang telah disebutkan,

«رفع القلم عن ثلاثة» وذكر منهم: «المجنون حتى يفيق»

“Pena diangkat (kewajiban tidak diberlakukan) terhadap tiga (golongan),” lalu beliau menyebutkan, di antaranya “dan terhadap orang gila hingga sadar (sembuh).”[12]

Disebutkan bahwa standar akal yang menjadikan seseorang mukallaf adalah ketika ia mampu membedakan mana manfaat dan mana mudharat, dan boleh pula dikatakan ketika ia mengetahui sesuatu yang bukan merupakan ilmu dharuriy. [13]

  • Pemahaman atau Pengetahuan dari Suatu Hukum

Yang dimaksud dari pemahaman di sini adalah seseorang disebut mukallaf jika ia benar-benar mengetahui suatu hukum agar ia bisa melakukan atau meninggalkannya secara keseluruhan. Oleh karena itu, orang yang tertidur ataupun lupa bukan mukallaf sampai ia bangun dari tidurnya atau ia ingat. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

“dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.”[14]

Tujuan dari diutusnya Rasul-Rasul adalah untuk mengajarkan syari’at kepada manusia. Akan tetapi jika pengetahuan ini tidak berlaku pada ilmu dharuriy[15], seperti kewajiban masuk Islam, kewajiban shalat, dan zakat, maka tidak ada udzur tidak mengetahui suatu ilmu yang sifatnya dharuriy (wajib diketahui).

  • Mampu untuk Melakukan Suatu Hukum

Orang yang lemah atau tidak mampu melakukan suatu hukum tidak dibebani taklif seperti orang yang mampu, akan tetapi ia mendapat keringanan (rukhshah). Allah Ta’ala berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seorang di luar batas kemampuannya.”[16]

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan apa yang diberikan oleh Allah kepadanya.”[17]

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu.”[18]

  • Memiliki Pilihan

Pilihan yang dimaksudkan di sini adalah pilihan untuk melakukan atau meninggalkan, sehingga artinya ia tidak dalam kondisi terpaksa. Kasus ini mebutuhkan perincian:

  1. Apabila paksaan tersebut tidak menyisakan kuasa apapun untuk menolaknya, maka ia tidak terkena beban taklif. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ

“kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa).”[19]

  • Apabila seseorang masih memiliki kuasa untuk menolak, maka ia tetap terkena beban taklif walaupun ia dipaksa, karena ia masih dapat berpikir dengan jernih untuk melakukan atau meninggakannya[20].

Syarat-syarat yang telah disebutkan di atas merupakan syarat umum, ada pula beberapa syarat khusus yang disesuaikan sesuai jenis ibadah. Misalnya seseorang yang berjihad atau shalat Jum’at haruslah orang yang merdeka bukan budak, akan tetapi ia bukan merupakan syarat untuk shalat dan zakat.

Perbuatan yang Menjadi Sasaran Taklif

                Dalam pembahasan ilmu ushul fiqih disebut al-mukallaf bihi. Perbuatan ini dapat berwujud melakukan sesuatu ataupun meninggalkan sesuatu. Perbuatan ini memiliki beberapa syarat :

  1. Perbuatan Tersebut Diketahui

Maksudnya adalah perbuatan tersebut diketahui hakikatnya, baik perintahnya, hukumnya, maupun dalil-dalilnya. Perbuatan ini setidaknya diketahui secara jelas oleh ulama fiqh dan tidak oleh seluruh mukallaf, tetapi mereka mengetahuinya secara global beserta dalilnya. Syarat ini berbeda dengan yang telah disebutkan sebelumnya pada syarat mukallaf, karena dalam hal ini ditinjau dari perbuatannya, bukan dari tiap individu yang melakukannya.

  • Perbuatan Tersebut Belum Ada

Yang dimaksudkan belum ada di sini adalah bahwa perbuatan tersebut belum terwujud saat diperintahkan, karena perintah adalah permintaan mewujudkan sesuatu, dan perbuatan yang telah ada tidak akan diperintahkan lagi. Adapun larangan, maka bisa jadi memang belum ada saat larangan itu terjadi maupun setelah larangan itu, seperti melarang seseorang dari berzina, dan bisa jadi larangan tersebut ada setelah perbuatan itu terjadi, seperti larangan peminum khamr dari meminum khamr.

  • Perbuatan Tersebut Mungkin untuk Dilakukan

Artinya perbuatan tersebut bukan perbuatan yang mustahil untuk dilakukan secara logis dan kebiasaan, seperti perintah untuk menggabungkan dua hal yang berlawanan. Terdapat perbedaan ulama dalam masalah ini yaitu bahwa taklif atas sesuatu yang mustahil mungkin dan boleh dilakukan, akan tetapi pendapat yang rajih adalah bahwa taklif atas sesuatu yang mustahil tidak boleh dan tidak diterima.

Penghalang-Penghalang Taklif

                Terkadang seorang mukallaf dapat gugur dari taklif karena sebab-sebab tertentu, baik itu berupa sebab yang datang disengaja maupun tiba-tiba.

                Secara umum, penghalang taklif adalah kebalikan dari syarat-syarat taklif, sehingga ketika ia tidak memenuhi syarat taklif, maka ia terhalang dari taklif tersebut. Di antara peghalang-penghalang taklif yang paling penting adalah:

  1. Gila

Yaitu hilangnya akal yang merupakan asas dari pemberian taklif dan syarat dari ditujukannya suatu khithab (arahan atau petunjuk dari pelaku taklif—Allah dan Rasul-Nya—pent.). Dalil bahwa orang yang gila bukan mukallaf adalah hadits,

«رفع القلم عن ثلاثة» وذكر منهم: «المجنون حتى يفيق»

“Pena diangkat (kewajiban tidak diberlakukan) terhadap tiga (golongan),” lalu beliau menyebutkan, di antaranya “dan terhadap orang gila hingga sadar (sembuh).”[21]

Perkataan orang gila tidak dianggap karena termasuk kesia-siaan menurut kesepakatan ulama, sehingga tidak memiliki pengaruh apapun dalam hukum syar’i, sehingga ketika ada orang gila melakukan jual beli maka akad itu tidak dianggap sah.

Adapun perbuatannya, jika itu berkaitan dengan ibadah maka tidak dianggap, akan tetapi jika berkaitan dengan hukum mu’amalah seperti jika ia merusak sesuatu milik orang lain maka ia terkena denda atas hartanya yang dibebankan kepada wali/ahli warisnya karena denda bukanlah syarat taklif.

Jika orang gila tersebut meninggalkan sesuatu yang menjadi hak Allah (misalnya ibadah), maka menurut jumhur ulama’ orang tersebut tidak diwajibkan mengganti kewajiban yang ia tinggalkan sampai ia sadar dari kegilaannya, kecuali jika ibadah tersebut belum habis waktunya saat ia sadar dari kegilaannya.

  • Lupa

Yaitu lalai dan terlewatnya hati dan pikiran dari sesuatu perbuatan yang awalnya ia ketahui. Tidak termasuknya ia dalam taklif ditunjukkan dalam hadits,

«إن الله وضع عن أمتي الخطأ والنسيان»

“Sesungguhnya Allah telah memaafkan dari umatku kekeliruan dan kealpaan.”[22]

Perbuatan dan perkataan orang yang lupa tidak dianggap, akan tetapi para ulama berbeda pebdapat mengenai apabila seseorang yang lupa lalu melakukan pembatal ibadah, apakah ibadahnya batal? Pendapat yang rajih adalah ibadahnya batal, karena pembatal suatu ibadah menjadikan ibadahnya batal sehingga tidak disyaratkan padanya taklif, dan bahwa hukum sah atau batalnya suatu ibadah merupakan bagian dari hukum wadh’i dan bukan hukum taklif.

Kelupaan di sini juga harus disertai bukti dan indikasi, sehingga sekadar dakwaan bahwa seseorang lupa tanpa adanya bukti penguat tidak dianggap.

  • Bodoh atau Tidak Tahu

Artinya tidak adanya ilmu akan suatu hukum sehingga ia tidak dapat membayangkannya. Udzur ketidaktahuan ini memiliki beberapa tingkatan, di antaranya ada yang dapat mengangkat taklif, dan ada pula yang tidak mengangkat taklif. Secara umum ada empat jenis:

  1. Tidak tahu akan dzat Allah dan mengingkari-Nya, baik ilmu-Nya maupun kekuasaan-Nya. Maka dakwaan semacam ini tidak diterima setelah diutusnya sekuruh Rasul, karena tugas Rasul adalah mengajarkan manusia peribadahan kepada Allah semata. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

“dan Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.”[23]

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (104) أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا

“Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah perlu kami beri tahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?’ (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya.”[24]

Ayat ini menjelaskan bahwa sangkaan orang-orang kafir itu tidak menyelamatkan mereka dari adzab Allah.

  • Tidak tahu suatu perkara dalam agama yang sifatnya dharuriy yang seorang muslim wajib mengetahuinya. Contohnya adalah seseorang yang tidak tahu kewajiban shalat, zakat, larangan zina dan riba. Alasan atau sangkaan ini juga tidak diterima, karena hal itu muncul dari kelalaiannya atau bisa jadi ia berbohong jika ia tidak mengetahuinya, padahal sebenarnya ia mengetahuinya.
  • Tidak tahu suatu hukum yang sifatnya nazhariy, merupakan bentuk ijtihad, atau hukum tersebut diperselisihkan, sehingga orang yang tidak mengetahui masalah ini, alasan ketidaktahuannya dapat diterima dan perbuatan yang dilakukannya tanpa ilmu tersebut tetap diterima. Akan tetapi ia harus mencari tahu kebenaran hukumnya, setelah itu ia wajib mengikutinya dan mendasarkan perbuatannya pada ilmu tersebut.
  • Tidak tahunya seseorang yang baru masuk Islam atau muslim yang tinggal sebagai minoritas sehingga ia tidak tahu beberapa hukum syar’i. udzur ini dapat diterima dan mengangkat taklif. Tetapi ia wajib belajar dan mencari tahu kebenarannya, setelah ia mengetahuinya, wajib baginya mengamalkannya.
  • Tidur

Beberapa ulama ushul fiqh menganggap tidur termasuk penghalang taklif. Dalilnya adalah sabda Rasulullah,

«رفع القلم عن ثلاثة» وذكر منهم: «النائم حتى يستيقظ»

“Pena diangkat (kewajiban tidak diberlakukan) terhadap tiga (golongan),” lalu beliau menyebutkan, di antaranya “dan dari orang tidur hingga bangun).”[25]

Seseorang yang ketiduran sehingga ia melewatkan kewajiban shalat lalu ia shalat di luar waktunya misalnya, ia tidak berdosa, akan tetapi ia tetap dikenai kewajiban untuk meng-qadha-nya setelah terbangun. Karena tidur adalah udzur sehigga ia tidak berdosa, dan bukannya menghilangkan taklif. Rasulullah bersabda,

«إنه ليس في النوم تفريط، إنما التفريط في اليقظة، فإذا نسي أحدكم صلاة أو نام عنها فليصلها إذا ذكرها»

“Sesungguhnya dalam tidur tidak ada kecerobohan. Kecerobohan itu tidak lain ada pada orang yang sadar (tidak tidur), maka apabila salah seorang di antara kalian lupa atau tertidur dari shalat maka hendaklah ia mengerjakannya pada saat ia ingat.”[26]

Seseorang yang tidur perkatannya tidak dianggap, akan tetapi perbuatannya tetap dianggap meskipun bukan sebagai hukum taklif. Seperti jika misalnya seseorang yag tidur merusak barang milik orang lain, maka wajib atasnya denda, karena denda merupakan kewajiban dari hartanya dan bukan kewajiban taklifnya.

  • Pingsan

Yaitu seseorang terkena penyakit sehingga ia tidak sadarkan diri. Orang yang pingsan bahkan lebih berat daripada orang yang tidur, karena seseorang yang tidur setelah terbangun ia dalam keadaan sehat, sedangkan orang yang pigsan tidak.

Ulama berbeda pendapat apakah orang yang pingsan dikiaskan seperti orang yang tidur sehingga setelah sadar ia wajib meng-qadha kewajibannya yang terlewat? Akan tetapi yang rajih adalah bahwa ia tidak wajib meng-qadhanya dan hukumnya tidak dikiaskan kepada orang yang tidur, karena orang yang tidur ketika meninggalkan taklif ada unsur kelalaian padanya, adapun orang yang pingsan tidak, karena itu terjadi di luar kehendaknya.

  • Mabuk

Orang mabuk ialah orang yang tertutup sebagian akalnya atau seluruh akalnya setelah terkena pengaruh khamr atau semacamnya., sehingga tidak mampu mebedakan benar atau salahnya suatu hal. Para ulama berbeda pendapat apakah orang yang mabuk termasuk mukallaf ataukah tidak, akan tetapi yang rajih adalah bahwa orang yag mabuk tidak dikenai hukum taklif berupa perintah atau larangan ketika ia mabuk, akan tetapi beberapa perbuatan maupun perkataanya dapat dianggap[27], dan dapat dihukum seakan ia sadar apabila hal itu menyangkut hak sesama manusia, terlebih jika ia mabuk dengan sengaja.

          Akan tetapi jika mabuknya tidak sampai menghilangkan kesadarannya secara penuh, maka ia tetap dianggap sebagai mukallaf.

  • Terpaksa

Telah disebutkan sebelumnya bahwa keterpaksaan yang dapat mengangkat taklif adalah keterpaksaan yang benar-benar tidak menyisakan kuasa apapun untuk menolaknya, adapun keterpaksaan yang masih menyisakan kehendak bagi seseorang untuk memilih meninggalkan atau melakukannya, maka tidak keluar dari taklif.

Penutup

                Demikian pembahasan ringkas mengenai taklif yang dapat penulis sampaikan pada artikel kali ini. Semoga setelah mengetahui definisi taklif, syarat-syarat, dan penghalang-penghalagnya dapat menjadikan kita semakin giat dan lebih perhatian dalam menunaikan hak Allah dan kewajiban kita sebagai seorang mukallaf.

                Wallahu a’lam bil muraad wash shawaab.

Penulis: Zaky Hanifah

Pembimbing: Ustaz Khalid Saifullah, Lc., M.A.

Maraji’ :

  • Al Baqilaniy, Abu Bakr Muhammad At-Thayyib. Al-Inshaf Fi Ma Yajibu I’tiqaduhu wa La Yajuzu Al-Jahlu Bihi.
  • Al Farabi, Abu Nashr Isma’il bin Hamad. 1407 H. Ash Shihah Taaj al Lughah wa Shihah al ‘Arabiyyah. Daar al ‘Ilm lil Malayiin: Beirut. Cetakan ke-4.
  • Al Farahidiy, Al-Khalil bin Ahmad bin ‘Amr bin Tamim. Kitab Al-‘Ain. Dar wa Maktabah Al Hilal.
  • Al Fuyumiy, Ahmad bin Muhammad bin Ali. Al Mishbah Al Munir fi Gharib asy Syarh al Kabir. Maktabah al ‘Ilmiyyah: Beirut.
  • Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram bin Ali. 1414 H. Lisan al ‘Arab. Dar Shadir: Beirut. Cetakan ke-3.
  • Al Fairuz`abadiy, Majduddin Muhammad bin Ya’qub. 1426 H. Al-Qamus Al-Muhith. Mu’assasah Ar-Risalah li Ath-Thiba’ah wa An-Nasyr wa At-Tauzi’, Beirut. Cetakan ke-8.
  • An-Nasa`I, Ahmad bin Syu’aib bin Ali. 1406 H. Al Mujtaba min As-Sunan: As-Sunan Ash-Shugra. Maktab Al-Mathbu’at Al-Islamiyyah, Aleppo-Suriah. Cetakan ke-2.
  • Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid Al-Qazwiniy. Sunan Ibni Majah. Dar Ihya` Al-Kutub Al-‘Arabiyyah, Aleppo-Suriah.
  • Ibnu Qudamah, Abu Muhammad Muwaffaq ad Diin Abdullah bin Ahmad bin Muhammad. 1436 H. Raudhatun Nadhir wa Jannatul Munazhir. Dar al ‘Alamiyyah: Kairo-Mesir. Cetakan ke-1.
  • Az Zarkasyi, Abu ‘Abdillah Badruddin Muhammad bin ‘Abdillah bin Bahadir. 1414 H. Al Bahr Al Muhith fi Ushul al Fiqh. Dar Al Kutuby. Cetakan ke-1.
  • Asy-Syafi’I, Muhammad bin Idris. 1410 H. Al-Umm. Beirut: Dar Al-‘Arabiyyah.
  • Abu Ya’la, Muhammad bin Al-Husain Ibnu Al-Farra`. 1410 H. Al-‘Uddah fi Ushul Al-Fiqh. Riyadh-KSA.
  • Al-Mauridiy, Abu Al-Husain Ali bin Muhammad. 1986 M. Adab Ad-Dunya wa Ad-Diin. Dar Maktabah Al-Hayah.
  • As-Salmiy, ‘Iyadh bin Namiy bin ‘Iwadh. 1426 H. Ushul Al-Fiqh alladzi La Yasa’u Al-Faqiha Jahluhu. Riyadh: Dar At-Tadmuriyyah.
  • Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy’ats As-Sijistaniy. Sunan Abi Dawud. Beirut: Al MAktabah Al-‘Ashriyyah.
  •  

[1] Al-Mishbah Al-Munir (2/537).

[2] Al-‘Ain (5/372), Ash-Shihah (4/1424), Lisanul ‘Arab (9/307), Al-Qamus (1/850).

[3] As-Shihah (4/1424), Al-Qamus (1/850).

[4] Raudhatun Nazhir (1/152).

[5] Az-Zarkasyi menukilnya dari kitab Ushul Fiqh karangan Ibnu Suraqah, kitab ini tidak sampai kepada kita sekarang, namun Az-Zarkasyi sering menyebutkannya dalam kitab beliau Al-Bahr Al Muhith.

[6] Adab Ad-Dunya wa Ad-Diin, hlm. 87

[7] Al Qadhi Abu Bakr bin Ath-Thayyib Al-Baqilaniy (338-403 H) adalah seorang ulama Ushul Fiqh terkemuka dari Baghdad yang berakidah Asy’ariyyah. Penulis kitab Al-Inshaf.

[8] Al-Inshaf.

[9] Dinukil dari Al-Bahr Al-Muhith (2/66) beserta beberapa tambahan

[10]  HR. Abu Dawud No. 4401 dalam Sunan Abi Dawud (4/140)

[11] Lihat: Al-Umm (1/102)

[12] HR. Ibnu Majah No. 2041 dalam Sunan Ibni Majah (1/658)

[13] Lihat: Al-‘Uddah (1/83)

[14] QS. Al-Isra`: 15

[15] Penulis telah membahas definisinya pada artikel sebelumnya yang berjudul “Al-‘Ilmu dan Al-Jahlu”.

[16] QS. Al-Baqarah: 286

[17] QS. Ath-Thalaq: 7

[18] QS. Al-Hajj: 78

[19] QS. An-Nahl: 106

[20] Lihat: Raudhatun Nazhir (1/159)

[21] HR. Ibnu Majah No. 2041 dalam Sunan Ibni Majah (1/658)

[22] HR. Ibnu Majah No. 2045 dalam Sunan Ibni Majah (1/659).

[23] QS. Al-Isra`: 17

[24] QS. Al-Kahfi: 103-105

[25] HR. Ibnu Majah No. 2041 dalam Sunan Ibni Majah (1/658)

[26] HR. Ibnu Majah No. 177 dalam Sunan Ibni Majah (1/244) dan HR. An-Nasa`I No. 615 dalam As-Sunan Ash-Shugra (1/294).

[27] Seperti jika ia mentalak dalam keadaan mabuk, beberapa ulama menganggap talaknya sah.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *