• Definisi

Secara bahasa : Isim fa’il yang diambil dari kata At-Tawatur  yang berarti berturut-turut. Dikatakan تواتر المطر Tawaatara al-mathar yakni hujan itu turun secara berturut-turut.

Secara istilah: khabar yang diriwayatkan oleh banyak perawi, secara adat dan akal mustahil mereka bersepakat untuk membuat kebohongan atas hadits tersebut.

Penjelasan definisi ini adalah bahwasanya hadits mutawatir adalah hadits atau khabar yang diriwayatkan banyak perawi pada setiap thabaqat (tingkatan) sanadnya, yang secara akal dan adat menganggap mustahil perawi yang banyak tersebut bersekutu untuk berbuat bohong.

  • Syarat-Syarat Hadits Mutawatir

Terlihat jelas dari definisinya bahwa hadits mutawatir tidak akan terjadi kecuali dengan empat syarat:

  1. Diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang banyak. Terdapat perselisihan mengenai jumlah minimal banyaknya perawi. Ada yang mengatakan 4 perawi, 10 perawi, 20 perawi, 40 perawi, dan lain-lain. Akan tetapi yang rajih adalah tidak ada batas minimal. Yang terpenting jumlah perawinya di atas jumlah perawi hadits masyhur dan menunjukkan bahwa hadits yang disampaikan tidak memiliki keraguan terhadap kebenaran hadits tersebut.
  2. Banyaknya perawi dari awal sanad sampai akhir. Hal ini memungkinkan dalam satu tingkatan memiliki banyak perawi, tetapi pada tingkatan yang lain memiliki jumlah perawi yang lebih sedikit. Hal ini tidak mengapa, yang terpenting adalah adanya sejumlah perawi pada setiap tingkatannya. Semakin banyak perawinya, semakin kuat keshahihan hadits tersebut.
  3. Secara akal dan logika, mustahil adanya persekongkolan antara perawi untuk berbohong atau memanipulasi khabar.
  4. Khabar mereka disandarkan kepada panca indra, seperti perkataan mereka: kami telah mendengar, kami telah melihat, kami telah merasakan, atau yang semisalnya. Adapun jika disandarkan kepada akal, seperti perkataan bahwa ‘alam semesta adalah kejadian yang baru’. Maka perkataan tersebut tidak bisa disebut sebagai mutawatir.
  • Pembagian Hadits Mutawatir

Hadits mutawatir terbagi menjadi dua, yaitu lafdzi (mutawatir secara lafal) dan maknawi (mutawatir secara makna).

  1. Mutawatir Lafdzi

Mutawatir secara lafal adalah khabar yang mutawatir lafal dan makna haditsnya. Seperti hadits:

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

“Barang siapa yang berdusta atas namaku, maka bersiaplah menempati tempat tinggalnya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini diriwayatkan oleh lebih dari tujuh puluh sahabat.

 Dan juga hadits:

من بنى لله مسجدا بنى الله له بيتا في الجنة

“Barang siapa yang membangun masjid untuk Allah maka Allah akan membangun sebuah rumah baginya di Surga.”

Hadits ini diriwayatkan oleh kurang lebih 20 sahabat Radhiyallahu ‘anhum.

  • Mutawatir maknawi

Mutawatir secara makna adalah khabar yang mutawatir maknanya saja, tanpa lafalnya.

Hadits ini terdapat pada beberapa kejadian dan memiliki inti atau benang merah yang sama. Misalnya, ada seseorang yang mengabarkan bahwasanya Hamid telah memberi uang kepada Ahmad sebesar 200 ribu, kemudian ada orang lain yang mengabarkan bahwa Hamid memberi uang kepada Ahmad sebesar 500 ribu. Di sisi lain ada yang mengabarkan bahwa Hamid telah memberi uang kepada Ahmad sebesar satu juta rupiah. Dari gambaran ini, dapat dipahami bahwa pengkabaran mereka yang berbeda-beda dapat diambil garis persamaannya, yaitu Hamid telah memberikan sejumlah uang kepada Ahmad.

Diantara contoh hadits mutawatir maknawi adalah hadits tentang mengangkat kedua tangan ketika berdoa, hadits tentang mengusap sepasang khuff, dan hadits tentang telaga Rasul.

  • Keberadaan Hadits Mutawatir

Terdapat perbedaan pendapat akan keberadaan hadits mutawatir. Ibnu Hibban dan Al-Hazimi menyebutkan, pada asalnya hadits mutawatir itu tidak ada. Adapun Ibnu Sholah dan imam An-Nawawi mengatakan bahwasanya hadits mutawatir itu sangat sedikit dan jarang ditemukan. Ibnu Hajar pun menjawab bahwasanya yang mengatakan akan sedikitnya hadits mutawatir atau bahkan mengatakan bahwa hadits mutawatir itu tidak ada itu salah. Karena bisa jadi hal itu dikarenakan kurangnya menelaah pada banyaknya jalur periwayatan, keadaan-keadaan perawi, dan sifat-sifat mereka.

Pada intinya, hadits mutawatir itu banyak, walaupun jika dibandingkan dengan hadits ahad maka jumlahnya lebih sedikit.

  • Kitab-Kitab Populer Tentang Hadits Mutawatir

Para ulama telah memberikan  perhatian khusus untuk hadits mutawatir sehingga mereka menyusun kitab khusus yang membahas tentangnya. Diantaranya adalah:

  1. Al-Azhar Al-Mutanatsirah fi Al-Akhbar Al-Mutawatirah, karya imam Suyuthi. Kitab ini disusun perbab.
  2. Qathful Azhar, milik imam Suyuthi juga. Kitab ini adalah ringkasan dari kitab yang pertama.
  3. Nadzmu Al-Mutanatsir Min Al-Hadits Al-Mutawatir, karya Muhammad bin Ja’far Al-Kattani.
  4. ‘Aqdul Aali Al-Mutanatsirah fi Hifdzil Ahadits Al-Mutawatirah, karya Abu Faidh Muhammad bin Muhammad Al-Husaini.

Penulis: Iffa Nadiyatus Silmi Al-Ghoyamy

Pembimbing: Pembimbing : Ustadz Nur Kholis, Lc., M. Th.I

Referensi:

  • Taisir Mushthalahul Hadits, DR Mahmud Ath-Thahhan, Maktabah al Ma’arif, Riyadh, Cetakan ke-sebelas, 1431 H.
  • Dasar-Dasar Ilmu Hadits, DR. Mahmud Ath-Thahhan, Ummul Qura, Jakarta Timur, Cetakan kedua, 2017 M.
  • Mudzakirah milik penulis selama menempuh pendidikan di prodi ilmu hadits STDI Imam Syafi’I semester satu.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *