Ash-Shihhah

Bismillah, wash-shalaatu was-salaamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.

Pada kesempatan kali ini, artikel akan membahas lanjutan dari jenis-jenis hukum wadh’i, yaitu ash-shihhah dan al-buthlaan. Keduanya termasuk dalam hukum wadh’i karena syari’at meletakkannya pada setiap ibadah maupun akad, sehingga hukum syar’i terbangun di atasnya. Artikel ini akan mengupas seputar ash-shihhah terlebih dahulu.

Definisi Ash-Shihhah dan Perbuatan yang Dianggap Sah

Secara etimologi, kata ash-shihhah artinya hilangnya penyakit dan bebasnya sesuatu dari segala aib dan keraguan[1], antonim dari penyakit[2]. Lafazh ash-shihhah merupakan mashdar, sedangkan subyek atau sifatnya disebut ash-shahiih atau dalam Bahasa Indonesia sering disebut “sah”.

Adapun dalam syari’at, ash-shihhah terdapat dalam konteks ibadah ataupun akad mu’amalah. Jika ditinjau dari segi ibadah, ulama ushul fiqh berbeda pendapat dalam definisinya. Ulama mutakallim (Malikiyyah, Syafi’iyyah, dan Hanabilah) berpendapat bahwa ash-shihhah merupakan pengibaratan tentang ibadah yang sesuai dengan perintah syari’at, baik itu mengharuskan qadha (mengganti) ataupun tidak. Sedangkan ulama fuqaha` (Hanafiyyah) berpendapat bahwa ash-shihhah adalah pengibaratan tentang ibadah yang jika dilakukan menggugurkan kewajiban qadha`.

Sebagai contoh, ketika seseorang shalat dan berprasangka bahwa ia telah bersuci, kemudian setelah shalat ia ingat bahwa ia belum bersuci. Maka menurut ulama mutakallim shalatnya tetap sah karena shalat tersebut dilaksanakan sesuai perintah syari`at dan kondisi yang syar`i, walaupun wajib baginya mengganti shalatnya. Tetapi menurut ulama fuqaha` shalatnya tidak sah karena ia tidak menggugurkan kewajiban qadha shalatnya.

Adapun jika ditinjau dari segi akad mu`amalah, maka akad yang shahih adalah akad yang membuahkan hasil yang menjadi tujuan antara kedua belah pihak. Seperti berpindahnya kepemilikan barang dari penjual ke pembeli dan perpindahan uang dari pembeli ke penjual[3].

Terdapat definisi lain yang disebutkan oleh Al Juwainiy[4] tentang ash-shahiih, yaitu sesuatu yang berkaitan dengan terlaksananya dan teranggapnya suatu perbuatan[5]. Perbuatan tersebut berupa ibadah maupun akad (mu’amalah). Berdasarkan definisi ini, dapat disimpulkan bahwa perbuatan disebut shahih (sah) ditunjukkan dengan dua hal:

  1. Terlaksana (النفوذ)

Secara bahasa, an-nufuudz artinya melewati atau melampaui[6]. Adapun secara istilahnya, yaitu suatu tindakan yang tidak bisa dibatalkan oleh pelakunya[7].

An-nufuudz merupakan sifat dari akad. Maka suatu akad yang telah terlaksana secara sah, terpenuhi sebab dan syaratnya serta tidak terdapat penghalang, salah satu dari kedua pihak tidak bisa membatalkan akad tersebut. Misalnya pada akad jual beli, sewa menyewa, akad nikah, dan lain sebagainya.

  • Dianggap secara syari’at (الاعتداد)

Ini merupakan sifat dari ibadah dan akad sekaligus, yaitu bahwa seluruh ibadah dan akad menjadi sah apabila dianggap oleh syari`at. Syari`at menganggap sah suatu ibadah atau akad jika ia memenuhi sebab-sebabnya, syarat-syaratnya, dan terbebas dari segala penghalang.

Misal dari ibadah yang dianggap sah secara syari`at adalah orang yang shalatnya memenuhi seluruh syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, dan tidak terdapat penghalang apapun dari shalat, maka shalatnya dianggap sah. Lalu suatu akad jual beli yang memenuhi seluruh syarat dan rukunnya, serta tidak terdapat penghalang dalam pelaksanaannya, maka akad tersebut sah, karena ia terlaksana dan dianggap oleh syari’at.

Buah dari Sahnya Ibadah dan Akad

Apabila suatu ibadah atau akad telah dihukumi sah, maka ia memiliki buah bagi pelakunya. Dalam ibadah yang dihukumi sah, ia akan membebaskan seorang mukallaf dari tanggungannya berupa hukum taklif dan gugurnya perintah hukum tersebut atasnya.

Adapun dalam akad yang dihukumi sah, ia akan membuahkan hasil sesuai tujuan dari akad tersebut. Maka dari itu, buah dari sahnya akad tidak hanya satu, akan tetapi sesuai dengan tujuan dan konteks masing-masing akad[8]. Berbeda halnya dengan ibadah yang hanya memiliki satu buah saja, yaitu bebasnya seorang mukallaf dari taklif dan gugurnya perintah dari syari`at, karena tujuan semua ibadah bermuara pada hal tersebut.

Contoh bahwa buah dari sahnya akad tidak hanya satu akan tetapi sesuai tujuan akad tersebut adalah, jika akad jual beli sah maka akan memindahkan kepemilikan barang dari penjual ke pembeli, dan kepemilikan uang dari pembeli ke penjual; akad sewa menyewa yang sah akan membolehkan pemanfaatan barang sewaan kepada penyewa dan orang yang menyewakan barang berhak mendapat uang sewa; akad nikah yang sah akan membolehkan hal-hal yang sebelumnya haram sebagai lawan jenis yang bukan mahram.

Ash-Shihhah (Sah) dan Al-Qabuul (Diterima)

Beberapa ulama menyamakan kedua istilah ini, yaitu bahwa ash-shihhah adalah sinonim dari al-qabuul, yang artinya setiap perbuatan yang sah pasti diterima[9]. Sedangkan beberapa ulama lain membedakan kedua istilah ini, lalu mendefinisikannya sebagai setiap perbuatan—baik ibadah ataupun mu’amalah—yang maqbul (diterima) pasti sah, sedangkan tidak setiap perbuatan yang sah pasti diterima. Mereka berdalil dengan beberapa hadits, di antaranya:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

”Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.”[10]

إذَا أَبَقَ الْعَبْدُ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاةٌ حَتَّى يَرْجِعَ إلَى مَوَالِيهِ

“Jika seorang budak kabur, maka shalatnya tidak diterima sampai ia kembali kepada tuannya.”[11]

مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاةٌ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا

“Barangsiapa yang meminum khamr maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari.”[12]

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa suatu perbuatan yang diterima adalah yang mendatangkan pahala. Sedangkan suatu perbuatan terkadang sah akan tetapi tidak berpahala walaupun dilakukan[13].

Akan tetapi terkadang suatu perbuatan dapat dikatakan tidak diterima sekaligus tidak sah, seperti dalam firman Allah,

إن الذين كفروا وماتوا وهم كفار فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوْ افْتَدَى بِهِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati dalam kekafiran, tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi.”[14]

Dan juga dalam beberapa hadits berikut,

لا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاةً بِغَيْرِ طُهُورٍ، وَلا صَدَقَةً مِنْ غُلُولٍ

“Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci dan sedekah dari pencurian.”[15]

لا تُقْبَلُ صَلاةُ حَائِضٍ إلاَّ بِخِمَارٍ

“Allah tidak menerima shalat wanita yang telah haid (balig) kecuali dengan khimar (penutup aurat).”[16]

Ibnu Al-‘Iraqiy[17]menjelaskan bahwa suatu perbuatan yang sah akan tetapi tidak diterima (tidak berpahala) adalah perbuatan yang berkaitan dengan maksiat, seperti minum khamr atau mendatangi dukun, karena maksiat tersebut dapat menghapuskan pahala dari ibadahnya. Adapun redaksi yang menunjukkan bahwa suatu perbuatan tidak sah sekaligus tidak diterima—seperti shalat tanpa bersuci sebelumnya—perbuatan itu tidak diterima karena ia tidak memenuhi syarat, yaitu bersuci misalnya. Hal itu karena jika syarat tidak ada, maka hal yang disyaratkan pun tidak ada[18].

Penutup

Demikian penjelasan singkat mengenai jenis hukum wadh’i yang lainnya, yaitu ash-shihhah. Pembahasan mengenai al-buthlaan yang menrupakan antonim dari ash-shihhal akan dibahas pada artikel selanjutnya, in sya Allahu Ta’ala.

Wallahu yahdii lil haqqi.

Penulis: Zaky Hanifa

Pembimbing: Ustadz Khalid Saifullah, Lc., M.A.

Referensi:

  • Al-Qurthubiy, Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr bin Farh. 1384 H. Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an. Daar al-Kutub al-Mishriyyah, Kairo. Cetakan ke-2.
  • Aalu Taimiyyah (Abdussalam, Abdul Halim, dan Ahmad bin Taimiyyah). Al-Muswaddah fii Ushul Al-Fiqh. Daar al-Kitaab al-‘Arabiy.
  • Al-Amidiy, Sayyiduddin Ali bin Abi Ali. Al Ihkam fi Ushul al Ahkam. Al Maktab Al Islamiy, Beirut-Lebanon.
  • Al-Farabi, Abu Nashr Isma’il bin Hamad. 1407 H. Ash Shihah Taaj al Lughah wa Shihah al ‘Arabiyyah. Daar al ‘Ilm lil Malayiin: Beirut. Cetakan ke-4.
  • Al-Farahidiy, Al-Khalil bin Ahmad bin ‘Amr bin Tamim. Kitab Al-‘Ain. Dar wa Maktabah Al Hilal.
  • Al-Fauzan, Abdullah bin Shalih. 1434 H. Syarhul Waraqat fi Ushulil Fiqh. Maktabah Dar Al Minhaj: Riyadh-KSA. Cetakan ke-4.
  • Al-Futuhiy, Abu Al Baqa’ Muhammad bin Ahmad. 1418 H. Mukhtashar At Tahrir Syarh Al Kaukab Al Munir. Maktabah Al Ubaikan. Cetakan ke-2.
  • Al-Isnawiy, Abdurrahim bin Al-Hasan bin Ali. 1400 H. At-Tamhid fi Takhrij Al-Furu’ ‘ala Al-Ushul. Mu`assasah Ar-Risalah, Beirut. Cetakan ke-1.
  • Al-Juwaini, Abu Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah. Al Waraqat.
  • Al-Mardawiy, ‘Alaa`Uddin Abu Al-Hasan Ali bin Sulaiman. 1421 H. At-Tahbiir Syarh At-Tahriir fi Ushul Al-Fiqh. Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh. Cetakan ke-1.
  • Al-Qazwiniy, Abul Husain Ahmad bin Faris. 1399 H. Maqayis Al Lughah. Dar Al Fikr.
  • Ath-Thufiy, Sulaiman bin Abdil Qawiyy bin Al Karim. 1407 H. Syarh Mukhtashar Ar-Raudhah. Mu’assasah Ar Risalah, Beirut. Cetakan ke-1.
  • Ibnu Al-Liham, ‘Alaa`uddin Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Abbas. 1420 H. Al-Qawa’id wa Al-Fawa`id Al-Ushuliyyah wa Ma Yatba’uha min Al-Ahkam Al-Far’iyyah. Al-Maktabah Al-‘Ashriyyah.
  • Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram bin Ali. 1414 H. Lisan al ‘Arab. Dar Shadir: Beirut. Cetakan ke-3.

[1] Al-‘Ain (3/14), Al-Maqayiis (3/281)

[2] As-Shihhah (1/381)

[3] Definisi syar’i dari ash-shihah beserta contohnya dinukil dari Al-Ihkam (1/130)

[4] Abu al Ma’aliy Abdul Malik bin Abdillah bin Yusuf bin Muhammad al Juwainiy, namanya dinisbatkan ke Kota Juwain di Naisabur. Lahir tahun 419 H. Penulis kitab Al Waraqat. Digelari Imam al Haramain.

[5] Al-Waraqaat, hlm. 8

[6] Al-‘Ain (8/190)

[7] At-Tahbiir (3/1106), Mukhtashar At-Tahriir (1/474)

[8] Lihat: Syarhul Waraqat, hlm. 39

[9] Al-Kaukab, Al-Wadhih

[10] HR. Muslim no. 125

[11] HR. Muslim no. 4049

[12] HR. Tirmidzi no. 1862

[13] Al-Muswaddah, hlm. 52

[14] QS. Ali-‘Imran: 91

[15] HR. An-Nasa`i no. 139 dan Ibnu Majah no. 273

[16] HR. Ahmad no. 25167

[17] Beliau adalah Abu Zur’ah Ahmad bin Al-Hafizh Al-Kabir Abu Al-Fadhl Abdurrahim Al-Iraqiy bin Al-Husain, yang terkenal dengan sebutan Ibnu Al-‘Iraqiy. Lahir tahun 762 H dan tinggal di Mesir. Salah satu ulama bermadzhab Syafi’I di Mesir dan wafat tahun 826 H.

[18] At-Tahbiir (3/1104)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *