V. Periode Pembaharuan

Periode ini dimulai dari pertengahan abad ketiga belas Hijriyah hingga saat ini. Sebelumnya Fiqih Islam mengalami pasang surut, dimana pada suatu zaman, perkembangan dan kemajuan Fiqih serta ilmu pengetahuan lainnya membawa Islam dalam masa kejayaan, untuk kemudian jatuh dalam keadaan terpuruk. Saat ini merupakan masa dimana bangkitnya kesadaran terhadap Islam dan secara khusus memiliki perhatian utama pada upaya pembaharuan ilmu Fiqih.

Pada periode ini, syari’at Islam mengalami hal yang belum pernah dialami di periode-periode sebelumnya yakni musuh-musuh Islam berhasil mengeleminasi syari’at Islam sebagai hukum suatu negara. Bahkan peradilan di negara Islam sendiri tidak menggunakan hukum Islam akan tetapi menggunakan hukum perundang-undangan dan penggunaan hukum Islam hanya diterapkan dalam perkara-perkara tertentu saja. Seperti yang dilakukan oleh Napoleon Bonaparte ketika menaklukkan Mesir pada tahun 1798 Masehi atau digantinya sistem khilafah di Turki pada tahun 1924 Masehi. Pada pertengahan abad keempat belas Hijriyah, seluruh negara Islam (kecuali Arab Saudi) tidak lagi menggunakan syari’at Islam sebagai hukum tata negara dan perundang-undangan melainkan diganti dengan undang-undang buatan manusia (qanun wadh’i).

Munculnya percetakan pada periode ini sangat membantu perkembangan ilmu Fiqih. Sebelumnya, kitab-kitab Fiqih yang ada sangat terbatas peredarannya. Namun kemudian ditemukan mesin percetakan dan dicetaklah kitab-kitab Fiqih secara masif yang secara tidak langsung menjaga ilmu-ilmu tersebut agar tidak menghilang dari masyarakat. Betapa banyak kitab-kitab Fiqih yang begitu berharga, ditulis oleh para ulama zaman dahulu yang dapat kita baca sekarang. Hal ini merupakan sisi positif yang muncul di periode ini.

Namun tentu saja, para muslimin yang memiliki ghirah[1] keislaman tak hanya berpangku tangan ketika mempelajari sejarah dan kejayaan peradaban Islam di masa silam. Mereka berupaya untuk kembali memperjuangkan kejayaan Islam dengan mengikuti langkah-langkah yang ditempuh oleh para ulama di zaman dulu. Apa rahasia di balik kejayaan Islam di masa silam? Tentu saja, ilmu pengetahuan yang diikuti dengan amalan yang benar dan dakwah yang penuh hikmah.

Ilmu pengetahuan adalah cahaya. Dan dengan cahaya ilmu pengetahuan, Islam menyinari seluruh penjuru dunia. Lantas ilmu pengetahuan apa yang mengukuhkan adigdaya Islam? Ialah ilmu mengenai syari’at-syari’at agama ini.

Telah berlalu pembahasan mengenai pendirian madrasah-madrasah pengajaran ilmu agama hingga melahirkan imam-imam besar dan para ulama masyhur. Tak hanya itu, banyak karya tulis yang dilahirkan di masa-masa tersebut yang bersumber dari ayat-ayat Al-Qur`an, hadits-hadits Nabi ﷺ, ijma’ qiyas, dan sumber-sumber lainnya. Para penulis pada zaman tersebut menggunakan tata bahasa yang mudah dipahami dan ungkapan yang jelas, sehingga bisa dimengerti oleh seluruh kalangan, baik orang-orang awam maupun para penuntut ilmu.

Lalu fitnah masuk ke tubuh umat Islam. Kaum muslimin mulai meninggalkan metode yang ditempuh para pendahulu dan membuat karya tulis berdasarkan sumber-sumber asing, tidak memperhatikan ilmu mengenai syari’at Islam, serta menggunakan tata bahasa yang sukar dipahami sehingga menimbulkan multi tafsir di kalangan pembacanya. Terlebih ideologi-ideologi asing yang disisipkan dalam karya tulis yang memuat ilmu pengetahuan Islam. Hal ini memalingkan umat muslim dari agama mereka sendiri, jauh dari metode yang benar dalam memahami ilmu agama ini, dan bahkan tersesat dalam pemikiran-pemikiran filsafat asing.

Melihat keterpurukan sedemikian rupa, para ulama di zaman ini berusaha kembali mengembangkan ilmu pengetahuan mengenai syari’at Islam. Mereka meniti kembali metode yang ditempuh para ulama zaman dulu, membangun madrasah-madrasah tempat pengajaran Islam bahkan mencapai jenjang perguruan tinggi, memperdalam pembahasan-pembahasan mengenai cabang-cabang ilmu agama seperti pendirian jurusan al-ahwal asy-syakhsiyah atau jurusan syari’ah secara umum seperti yang didapati di universitas-universitas Islam, dan memperbanyak karya tulis, baik berupa takhrij  atau tahqiq kitab-kitab terdahulu maupun pengkajian hukum yang relevan dengan keadaan saat ini.

Ketika daulah islamiyyah digempur oleh musuh-musuh Islam dari segala penjuru, baik dari segi politik maupun ilmu pengetahuan, dan melemahnya daulah Islamiyah saat itu, yakni Daulah ‘Utsmaniy, tersebarlah pemikiran filsuf barat dalam tubuh umat Islam dan berupaya menggantikan syari’at Islam dengan undang-undang yang dibuat manusia secara bertahap.

Awal pertentangan terhadap hukum Islam ialah penentangan hukum jinayah dan hudud. Hal ini mencakup hukum qishash, hukum had bagi pezina, hukuman bagi para pencuri, hukum cambuk bagi peminum khamr, dan sebagainya yang terjadi pada tahun 1840 Masehi. Hukum tersebut digantikan dengan undang-undang Perancis yang dinilai lebih adil dan manusiawi.

Adapun Mesir yang saat itu memisahkan diri dari Daulah ‘Utsmaniyyah, mereka menggunakan ketetapan perundang-undangan yang disusun oleh Isma’il Pasha yang merupakan hasil terjemahan dari undang-undang Perancis (Napoleonic Code). Peraturan ini ditetapkan untuk hukum-hukum muamalah di negara Mesir. Awalnya kaum muslimin saat itu menolak ketetapan tersebut, namun beberapa ulama Mesir saat itu berfatwa bahwa undang-undang tersebut sesuai dengan madzhab Maliki agar kaum muslimin saat itu menerima ketetapan tersebut. Tentu saja ini adalah klaim yang penuh kebohongan. Namun ketetapan tersebut telah tersebar di penjuru Mesir dan digunakan oleh kaum muslimin saat itu.

Terlebih keadaan Turki yang akhirnya ditaklukan oleh negara Barat. Turki yang saat itu merupakan dinasti terakhir kerajaan Islam akhirnya terpecah belah dan tentu saja syari’at Islam di sana tergantikan oleh undang-undang dari Barat, bahkan hingga saat ini.

Keadaan ini tidak membuat kaum muslimin tinggal diam. Maka terbentuklah pergerakan pembaharuan di negara-negara Islam yang berfokus akan pemurnian akidah Islam.

Beberapa pergerakan kaum muslimin dalam pengembalian kejayaan Islam:

  1. Pembentukan Majma’ Fuqaha[2]

Karena kebutuhan kaum muslimin akan adanya perkumpulan ahli Fiqih yang khusus mengkaji mengenai permasalahan Fiqih kontemporer, maka pada konferensi yang diadakan di Makkah pada tahun 1384 Masehi terbentuklah perkumpulan ini yang terdiri dari mujtahid-mujtahid berbagai negara. Perkumpulan ini diketuai oleh Syaikh Musthafa Az-Zarqaa.

  • Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah

Di Al-Azhar, telah dibentuk Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyyah (Lembaga Riset Islam) berdasarkan undang-undang nomor 103 tahun 1961 Masehi, dengan diketuai oleh Syaikh Al-Azhar. Lembaga ini mencakup: Lajnah Al-Qur`an wa As-Sunnah, Lajnah Al-Buhuts Al-Fiqhiyyah[3], Lajnah Ihya` At-Turats Al-Islamiy, Lajnah Ad-Diraasaat Al-Ijtima’iyyah.

Lajnah Al-Buhuts Al-Fiqhiyyah mengkaji dan menyusun keilmuan berdasarkan berbagai macam madzhab. Mereka memiliki divisi khusus yang mengkaji mengenai hukum dan peradilan dalam Islam. Setiap tahunnya mereka mengundang ulama dari seluruh negara untuk mendiskusikan hasil kajian ini. Konferensi pertama berlangsung pada tahun 1964 Masehi.

  • Masyaari’ Mausuu’ah Al-Fiqh Al-Islaamiy[4]

Ketika didirikannya Fakultas Syari’ah di Damaskus yang diketuai oleh Doktor Musthafa As-Sibaa’i, beliau mencanangkan berbagai macam kegiatan dan meminta bantuan dari ulama-ulama terpilih di Universitas Damaskus dan juga dari luar universitas tersebut. Hasil dari kegiatan ini berupa Ensiklopedia Fiqih Islam yang berada di bawah naungan fakultas tersebut, dan dikeluarkan dalam keputusan nomor 1711 pada tanggal 3 Mei 1956 Masehi.

  • Masyruu’ Al-Majlis Al-A’la li Asy-Syuuni Al-Islamiyyah[5]

Kerjasama yang terjalin antara negara Mesir dan Suriah pada tahun 1958 Masehi menyebabkan para ulama dari kedua negara tersebut ikut bekerjasamaan. Mereka saling bahu membahu dalam penyusunan Ensiklopedia Fiqih Islam. Republik Arab Bersatu kemudian memperbarui keputusan hukum dengan mengeluarkan surat izin nomor 1536 pada tahun 1959 Masehi. Ensiklopedia tersebut akhirnya diberi judul “Mausu’ah Jamaal ‘Abdu An-Naashir fi Al-Fiqhy Al-Islaamy”. Pada tahun 1400 Hijriyah atau 1980 Masehi, ensiklopedia ini sudah menerbitkan hingga 14 jilid.

  • Masyruu’ Wizaarah Al-Awqhaaf wa Asy-Syu`un Al-Islamiyah[6]

Pada tahun 1966-1967 Masehi, Kementrian Wakaf yang bertempat di Kuwait menganggarkan dana sebanyak 2.000 Dinar Kuwait untuk membuat Ensiklopedia Fiqih Islam. Pada tahun 1400 Hijriyah atau 1980 Masehi, mereka mengeluarkan cetakan pertama untuk jilid pertama.

Demikianlah sejarah singkat perkembangan ilmu Fiqih. Semoga dengan membaca dan mempelajari sejarah perkembangan Fiqih Islam, dapat mempermudah kita dalam memahami hukum Islam karena dengannya kita mengetahui latar belakang pembentukan hukum Islam. Selain itu, ketika kita mempelajari pergerakan dan pemikiran para ulama dalam permasalahan Fiqih serta kontribusi mereka dalam pengembangan ilmu pengetahuan ini, kita dapat tergerak mengikuti jejak-jejak mereka. Juga, kita dapat belajar dan berhati-hati agar tidak terjatuh dalam kesalahan-kesalahan yang dulu terjadi. Hal ini termasuk:

و دواني بالتي كانت هي الداء[7]

((Mengobati dengan obat yang dianggap sebagai penyakit))

Dan termasuk dalam:

عرفت الشر لا للشر[8]

((Mengetahui keburukan bukan bertujuan melakukan keburukan tersebut))

Tentu saja, harapan terbesar dari pemaparan ini ialah kaum muslimin mengkaji kembali faktor-faktor kebangkitan Islam melalui ilmu Fiqih dan mengembalikan kemuliaan yang telah memudar dari umat Islam sehingga menjadi kembali terdepan dalam ilmu pengetahuan.

Penulis : Millati Aulia Hasanah

Pembimbing : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., MA.

Referensi:

  • Dr. ‘Umar Sulaiman Al-Asyqor. Taarikh Al-Fiqh Al-Islaamiy. Kuwait: Maktabah Al-Fallah
  • Dr. Ahmad Tsalby. Taarikh At-Tasyri’ Al-Islamiy wa Taarikh An-Nizhom Al-Qadhaiyyah fi Al-Islam. Kairo: Maktabah An-Nuhdhoh Al-Mishriyyah
  • Syaikh Manna’ Al-Qaththan. Taarikh At-Tasyri’ Al-Islamiy At-Tasyri’ wa Al-Fiqh. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif li An-Nasyri wa At-Tawzi’
  • Syaikh Muhammad ‘Ali As-Saayis. Taarikh Al-Fiqh Al-Islaamiy. Beirut: Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah
  • Syaikh Muhammad bin Al-Hasan. Al-Fikru As-Saamiy fi Taarikh Al-Fiqh Al-Islamiy.
  • Al-Mausu’ah Al-‘Aalamiyyah li Asy-Syi’ri Al-‘Arobiy (www.adab.com)

[1] semangat

[2] Sebuah perkumpulan ilmiah yang terdiri dari ahli Fiqih

[3] Divisi khusus yang mengkaji permasalahan Fiqih

[4] Ensiklopedia Fiqih Islam

[5] Dewan tertinggi urusan keislaman di Mesir yang bertempat di Kairo

[6] Kementrian wakaf dan urusan keislaman yang berada di Kuwait

[7] Salah satu sya’ir Abu Nawas yang berjudul Da’ ‘Anka Al-Laumiy Fainna Al-Lauma Ighraau

[8] Abu Farras Al-Hamdaniy dalam salah satu sya’irnya yang berjudul ‘Aroftu Asy-Syarra Laa Lissyarri

Kategori: Fiqih

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *