Ada tiga landasan utama yang wajib dipahami oleh setiap orang yang mengaku dirinya muslim. Kewajiban ini berlaku baik bagi laki-laki maupun wanita. Disebut landasan atau al ashlu dalam bahasa Arab, karena aqidah Islam berdiri di atas pokok ini. Tiga landasan yang akan dibahas ini merupakan ushuluddin (pokok agama) Islam, yang membedakan agama kita dengan seluruh keyakinan lain yang ada di muka bumi.

Ada dua macam hukum wajib terkait mempelajari ilmu tauhid;

  1. Fardhu ‘Ain

Hukum fardhu ‘ain ini meliputi setiap kaum muslim, sejak menginjak usia baligh hingga wafatnya. Yang termasuk hal-hal yang wajib dipelajari adalah setiap bagian ilmu tauhid yang pokok. Seperti pemahaman seorang muslim bahwa Allah Maha Esa, keharaman mempersekutukan-Nya, macam-macam bentuk kesyirikan, apa itu iman dan bagaimana merealisasikannya, apa itu kufur dan hal-hal yang menjerumuskan ke dalam kekufuran. Termasuk di dalamnya adalah berbagai pembatal keislaman, syarat kalimat tauhid, dan pokok-pokok inti aqidah islam. Tidak ada alasan bagi seorangpun untuk tidak mengetahui dan mengamalkan kewajiban tauhid. Maka dari itu, seorang hamba tidak boleh melalaikan dari menuntut ilmu tauhid yang hukumnya fardhu ‘ain ini.

  • Fardhu Kifayah

Adapun ilmu tauhid yang terperinci dan mendalam, seperti mengetahui detail pembagian sifat-sifat Allah, cara membantah golongan yang keliru dalam menginterpretasikan nama dan sifat Allah, ataupun menghafal dalil-dalil tentang bertambah dan berkurangnya iman, mengetahui runtutan kejadian di hari kiamat, dan lain sebagainya. Mengetahui hal semacam itu, hukumnya fardhu kifayah. Jika telah ada seseorang yang mampu untuk memahami hal tersebut, maka gugurlah kewajiban kaum muslim selainnya.

Memahami landasan utama aqidah Islam termasuk dari kewajiban yang ‘ain, atau wajib dipahami setiap individu yang mengaku dirinya muslim. Adapun tiga landasan tersebut adalah pengenalan seorang hamba kepada Rabbnya, Rasul-Nya, dan agama Islam itu sendiri. Siapa yang hidupnya di dunia digunakan untuk mengenali tiga hal yang wajib kita pahami di atas, maka sungguh beruntung dia, meskipun dia bukan seorang yang banyak ilmunya. Sebaliknya, siapa yang di kehidupannya dia gunakan untuk mengumpulkan seluruh ilmu dan waktunya dia habiskan untuk meneliti segala sesuatu selain memahami tiga hal di atas, maka di sisi Allah dia tidak dianggap berilmu. Bahkan terancam akan menemui kengerian yang tak ia sangka-sangka sebagaimana dalam hadits Al Baraa` bin ‘Azib tentang adzab kubur.

Disebutkan di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa di dalam kubur nanti setiap orang yang mati akan ditanya mengenai tiga hal prinsip; siapa Rabbmu? Apa agamamu? Dan siapa Rasul yang diutus kepadamu?

“…Adapun orang beriman, maka Allah meneguhkannya dengan al qaul al tsabit (perkataan yang teguh). Sementara orang munafik atau yang ragu, dia akan berkata, ‘Hah.. Hah.. Aku tidak tahu. Aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu maka aku ikut mengatakannya (ketika di dunia).’ Maka ia dipukul dengan palu godam dari besi yang terdengar oleh seluruh makhluk kecuali manusia. Seandainya manusia dapat mendengarnya tentu akan jatuh pingsan.”[1]

Dari hadits di atas, kita mengetahui bahwa siapa yang selama di dunia memahami tiga hal yang akan di tanyakan di alam kubur nanti, maka ia akan diteguhkan oleh Allah dalam menjawabnya. Sementara jika kita lalai mempelajarinya selama di dunia, maka jadilah bagaikan orang yang hanya ikut-ikutan dan tidak mendapatkan pertolongan Allah dalam menghadapi fitnah kubur.

Ini yang menjadi dalil wajibnya kita mengenal Allah, Rasul, dan agama Islam. Sebagian orang mengatakan bahwa penetapan ushuluddin ini adalah buatan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Namun jika kita melihat dalil yang kita sebutkan di atas, maka tentunya kita akan tahu bahwa beliau hanya mensarikan ushuluddin ini dari dalil yang jelas.

Sekarang mari kita berfikir, jika kematian merupakan akhir dari kehidupan di dunia, dan alam barzakh merupakan awal dari kehidupan akhirat, tentunya kunci memasuki gerbang kehidupan akhirat dengan selamat hanya akan diberikan pada orang-orang yang lulus melewati ujian di alam barzakh. Tidak mungkin soal-soal ujian itu akan melenceng dari hal-hal yang paling inti dalam agama ini. Maka dari itu, layak kita sebut tiga pertanyaan tadi adalah inti atau asas agama Islam. Jika sesuatu itu menjadi asas, maka orang yang berusaha memahami Islam selain dari memahami asasnya akan keliru dan tidak akan sampai ke tujuan. Ibarat seorang yang memanjat pohon melalui rantingnya, bisa jadi ia akan patah di tengah jalan.

Maka mari kita mulai pembelajaran aqidah tauhid ini dari asasnya, yaitu mengenal Allah, rasul-Nya, dan agama Islam. Insyaallah pada artikel selanjutnya akan kami bahas mengenai pengenalan seorang hamba terhadap Rabbnya.

Billahit taufiq wal hidayah.

Penulis: Intan M. Nurwidyani

Pembimbing: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra,M.A.,

Referensi :

  1. Shahih Al Jami’, Muhammad Nashiruddin al Albani
  2. Hal-hal yang Wajib Diketahui Setiap Muslim, Ibrahim al Khuraishi

[1] HR. Bukhari no. 1369, Muslim no. 2871 dan hadits lengkapnya diriwayatkan oleh Ahmad 4/287, dll.

Kategori: Tauhid

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *