بسم الله الرحمن الرحيم

            Tentu saja, anak adalah penyejuk mata sekaligus perhiasan dunia dari Allah Ta’ala untuk kedua orangtua. Sebagaimana yang telah Allah Ta’ala firmankan:

اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا

Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.”[1]

            Akan tetapi, di sisi lain Allah Ta’ala juga menegaskan bahwa anak juga merupakan fitnah (ujian dan cobaan) dunia yang akan menguji kesabaran setiap orangtua.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْم

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”[2]

Anak ibarat permata yang wajib kita pelihara. Maka wajiblah berhati-hati dalam mendidik anak. Janganlah terlena dan tertipu sehingga melanggar perintah Allah Azza wa Jalla dan menodai larangan-Nya. Jangan sampai anak menjadi penyebab turunnya murka dan bencana Allah Azza wa Jalla pada diri kita. Karena kesalahan orangtua dalam mendidik, dan tidak sedikit  orangtua yang tidak sabar menghadapi sikap anak-anaknya.

Terkadang seorang anak bersikap nakal dan menyebalkan. Belum lagi ketika sudah beranjak dewasa dan mulai bisa berbicara, berfikir, kemudian ingin menentukan jalan hidupnya sendiri. Ini adalah fase rentan seorang anak menyakiti hati kedua orangtuanya. Terutama ketika ia merasa orangtuanya berbeda pendapat dengannya. Atau karena merasa terlalu dikekang. Karena itulah, di dalam ayat di atas juga terdapat anjuran untuk bersabar kepada anak.

            Sikap sabar orangtua kepada anaknya dibutuhkan sejak anak masih bayi, kemudian melewati fase anak-anak, remaja, hingga dewasa. Bagaimanakah bersikap secara tepat kepada anak sesuai dengan usianya, insyaaAllah ada banyak sekali buku referensi yang lebih mumpuni dibandingkan terbatasnya artikel ini.

            Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebaik-baik uswah hasanah untuk kita sangat menyayangi dan suka bermain-main dengan anak kecil. Seperti ketika beliau bermain-main dengan cucunya, Hasan dan Husain.

            Seperti dalam sebuah riwayat yang artinya:   Al-Barra’ (ra-dhiyallaahu ‘anhu) berkata, “Aku melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan Hasan berada pada pundak beliau sambil bersabda: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya maka cintailah dia.'”[3]

            Karena fitrah anak kecil adalah bermain, dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memahami hal itu.

Kebanyakan orangtua merasa bahwa dirinyalah yang paling berhak atas anaknya, kemudian ia berlaku diktator dalam mendidik anak. Padahal anak hanyalah titipan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tugas orangtua adalah menjaga titipan Allah Ta’ala tersebut dengan sebaik-baiknya, mencontohkan hal-hal yang baik, kemudian mengarahkannya kepada kebaikan. Penting sekali mencontohkan akhlak yang baik kepada anak, karena anak kecil merekam apapun yang ia lihat untuk kemudian ia contoh.

Orang arab mengatakan bahwa adab dan akhlak adalah dari seorang ayah. Atau dikatakan dalam bahasa ibu kita “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Akan tumbuh seorang anak yang pemarah dan penuh dendam dari seorang ayah yang pemarah. Akan tumbuh seorang anak yang kurang percaya diri dan tidak peduli sekitar dari seorang ayah yang tidak mempedulikannya. Begitu seterusnya. Kemudian anak-anak itu akan memiliki anak lagi dan lingkaran ini tidak akan berhenti kecuali dengan adanya pengetahuan tentang sikap yang baik pada seorang anak.

Hak-hak yang harus orangtua tunaikan kepada anaknya adalah mendidiknya dengan baik. Dengan mengenalkan kepadanya siapa Rabb, Rasul, dan agamanya, memberi pemahaman aqidah yang lurus dan kuat, mengajarkan bagaimana beribadah dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntutan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan mengajarkan bagaimana bertingkah laku dengan penuh kemuliaan. Karena telah Allah firmankan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”[4]

Dan satu-satunya cara menjaga mereka dari api neraka adalah dengan memberi mereka pendidikan Islam. Pengajaran tauhid dan aqidah yang lurus. Agar kelak anak-anak yang shalih dan shalihah menjadi wasilah tidak terputusnya amal kedua orangtua. Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

 “Jika manusia meninggal, maka terputuslah amalannya, kecuali tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shalih yang mendo’akannya.”[5]

Kewajiban mendidik anak ini diutamakan untuk ibu, madrasah pertama untuk anak-anaknya. Dikatakan seperti itu karena ibulah yang paling sering menghabiskan waktu bersama anak-anaknya di rumah. Ibu juga orang pertama yang berinteraksi dengan anak-anaknya sejak kecil, bahkan sejak dalam kandungan. Yang demikian ini agar kelak anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan tidak lemah. Tidak terbawa arus sekulerisme dan kesesatan zaman yang semakin menjadi-jadi. Karena Allah Ta’ala berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

Artinya: Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.[6]

Allah telah menekankan kepada orangtua muslim agar jangan sampai mereka meninggalkan anak keturunan yang lemah. Dan membiarkan pendidikan anak-anaknya tidak terurus dengan baik. Maka kemudian keturunannya akan menjadi keturunan yang lemah. Lemah iman, lemah ilmu, lemah fisik, dan lain-lain.

Mendidik anak juga membutuhkan akhlak yang baik kepada mereka, yang tidak melewati koridor syari’at. Beberapa hal yang layak diperhatikan antara lain:

  • Mendasari kelahiran dan pertumbuhan anak-anak dengan nafkah yang berkah (halal dan baik).
  • Mengajarkan anak-anak sejak dini untuk mengenal Allah, Rasul, dan agamanya serta mengajarkan tauhid sedini mungkin.
  • Membiasakan anak-anak beribadah. Seperti shalat, mengaji, dan menghafalkan Al-Qur’an. Akan tetapi tidak menghukumi anak yang tidak sholat kecuali dengan hukuman yang telah disepakati syari’at. Yaitu memukulnya ketika mereka menolak ketika mereka telah mencapai usia sepuluh tahun.
  • Memberikan teladan yang baik seperti yang telah kita bahas sebelumnya.
  • Menciptakan suasana pendidikan yang baik di dalam rumah serta memperhatikan pergaulan anak di luar rumah.
  • Mengutamakan prinsip-prinsip musyawarah. Dengan begini orangtua tidak perlu memaksakan kehendaknya lagi, sekaligus terbantu untuk memahami apa yang anak-anaknya inginkan.
  • Bersikap lemah lembut dalam memberikan nasihat atau mengingatkan kesalahan-kesalahannya serta berhati-hati dan bijak dalam memilih hukuman untuk anak jika memang dibutuhkan. Hukuman yang baik adalah yang dapat mengembangkan anak agar menjadi lebih baik lagi. Bukan yang membuat anak penakut kemudian menjadi tidak percaya diri.
  • Dan yang tidak kalah penting dari poin-poin diatas adalah dengan mendoakan kebaikan anak-anak kepada Allah. Agar mereka selalu di dalam sebaik-baiknya pengawasan, yakni pengawasan Allah.

Merupakan kewajiban orangtua untuk menyayangi anaknya. Juga bagi setiap muslim untuk menyayangi yang lebih kecil.

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ وَعِنْدَهُ الأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِسًا، فَقَالَ الأَقْرَعُ: إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ: مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mencium Hasan bin Ali dan di samping beliau Aqra’ bin Haabis At-Tamimi sedang duduk. Berkatalah Aqra’: Sesungguhnya aku memiliki sepuluh anak dan aku tidak pernah mencium satu pun dari mereka. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kemudian memandangnya kemudian berkata: ‘Siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayangi’”[7]

Dari hadits diatas, kita tahu bahwa mencium anak kecil merupakan bentuk kasih sayang kepada mereka. Serta anjuran Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk saling menyayangi. Karena siapapun yang tidak memiliki sifat penyayang, tidak akan pernah disayangi. Selain itu sifat penyayang adalah sifat Allah Ta’ala. Sebagaimana telah Allah Ta’ala firmankan dalam banyak sekali ayat Al-Qur’an, diantaranya:

 “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah: 1)

“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Al-Fatihah: 3)

“Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Al-Ahzab: 43)

“Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (At-Taubah: 117)

“Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Al-Hajj: 65)

            Sifat penyayang juga merupakan sifat yang dicontohkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang kemudian diamalkan pula oleh para sahabat. Begitu juga dengan sifat sabar. Telah banyak sekali kita temukan ayat-ayat atau hadits yang menganjurkan untuk senantiasa bersabar.

Anak merupakan amanah dari Allah yang selayaknya disyukuri. Berapa banyak pasangan yang sudah lama menikah dan menantikan anak keturunan tetapi tak kunjung Allah amanahi. Maka sudah sepatutnya orangtua yang sudah Allah beri amanah berupa anak menjaganya dengan baik. Anak-anak yang kita keluhkan kenakalan dan tingkahnya, adalah anak-anak yang mereka harapkan.

            Sesungguhnya menjadi orangtua bukanlah pekerjaan yang mudah. Oleh karena itu balasannya adalah sesuatu yang ‘adzim, yakni surga dan pahala di sisi Allah Ta’ala. Jika saja pekerjaan ini mudah, maka balasannya tidak akan sebesar itu. Semoga Allah selalu menambah sifat penyayang dan menangguhkan kesabaran para orangtua yang sedang berjuang mendidik anaknya. Aamiin.

            Wallaahu Ta’ala a’lam bis-showab.

Penulis: Rohmah Romadhan

Pembimbing: Ustadz Khairul Ahsan, Lc.

Referensi:

  • Al-Akhlak Al-Islamiyyah wa Ususuha. Abdurrahman Hasan Al-Midani. Damaskus: Daarul Qolam.
  • Adabul Mufrad. Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif.
  • Shahih Bukhari. Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari. Mesir: Daarul Ilmiyyah.
  • Shahih Muslim. Muslim bin Hajjaj. Beirut: Daar Ihyaa’it Turots Al-Arabi
  • almanhaj.or.id

[1] Al-Kahfi: 46

[2] At-Taghabun: 14

[3] H.R Bukhari (3749) dan Muslim (58-59)

[4] At-Tahrim: 6

[5] H.R Bukhari 247, 6514 dan Muslim 1016, 1631.

[6] An-Nisa’: 9

[7] H.R. Bukhari 5997

Kategori: Akhlak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *