Al-`Aziimah dan Ar-Rukhshah (1)

Bismillah, wash-shalaatu was-salaamu `ala Rasulillah , amma ba`du.

Setelah pada kesempatan sebelumnya artikel membahas lima dari hukum wadh`i, pada kesempatan kali ini pembahasan akan dilanjutkan pada jenis hukum wadh`i yang lainnya, yaitu al-`aziimah dan ar-rukhshah.

Para ulama berbeda pendapat tentang al-`aziimah dan ar-rukhshah, apakah ia termasuk dalam hukum wadh`i, atau merupakan pembagian tersendiri dan hukum tersendiri. Beberapa ulama juga menganggapnya sebagai bagian dari hukum taklif, karena al-`aziimah dan ar-rukhshah tidak menyifati sabab, syarth, maupun maani`, akan tetapi ia menyifati lima hukum taklif (wajib, sunnah, mubah, makruh, mahzhur). Pada artikel ini, penulis menggolongkannya dalam hukum wadh`i, karena mayoritas ulama menyebutkan al-`aziimah dan ar-rukhshah dalam hukum wadh`i.

Definisi Al-`aziimah

Al-`aziimah secara bahasa diambil dari kata al-`azmu, yang artinya tujuan yang pasti dan kuat, dan bersungguh-sungguh dalam suatu hal[1], atau suatu perbuatan yang mana hati bertekad untuk melakukannya[2]. Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Adam—`alaihissalam—,

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا

“Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya.”[3]

Begitu pula para rasul di antara mereka ada yang disebut sebagai ulul `azmi, yang menunjukkan kuatnya tekad mereka dalam membela kebenaran.

Sedangkan secara syar`i al-`aziimah memiliki beberapa definisi, dan perbedaan tersebut terjadi karena beberapa ulama ada yang menjadikan hukum taklif sifatnya terbatas pada al-`aziimah dan ar-rukhshah, sedangkan sebagian yang lainnya tidak. Ulama ushul fiqh yang membatasi hukum taklif pada keduanya berpendapat bahwa al-`aziimah adalah suatu hukum yang tetap dan sesuai dalil syar`i, serta tidak ada indikasi kuat yang memalingkannya dari hukum asalnya[4]. Atau dalam definisi lain al-`aziimah dalam hukum syar`i adalah sesuatu yang disyari`atkan sejak awal pada asalnya, dan tidak berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya insidental[5]. Bahkan Ar-Razi[6] menyebutkan definisi lain yang lebih umum, yaitu bolehnya melakukan sesuatu tanpa adanya udzur atau penghalang tertentu[7].

Adapun ulama ushul fiqh yang tidak membatasi hukum pada al-`aziimah dan ar-rukhshah, mereka menjelaskan bahwa al-`aziimah adalah  pengibaratan tentang hal-hal yang diwajibkan oleh Allah kepadanya, seperti shalat lima waktu[8]. Sehingga jika ditinjau dari definisi ini, maka hukum yang termasuk dalam al-`aziimah adalah hukum wajib saja, sedangkan sunnah dan makruh tidak termasuk dalam al-`aziimah maupun ar-rukhshah, karena itulah hukum taklif tidak terbatas pada dua hal ini saja.

Akan tetapi definisi yang lebih mencakup adalah definisi dari Al-Qarafiy[9] yang berkata tentang definisi al-`aziimah—mengomentari definisi dari Ar-Razi—bahwa al-`aziimah adalah perintah melakukan sesuatu tanpa ada udzur atau penghalang syar`i yang melarangnya. Karena jika kita bersandar pada definisi Ar-Razi—bolehnya melakukan sesuatu tanpa adanya udzur atau penghalang tertentu—maka kita akan mengatakan bahwa memakan makanan halal dan memakai baju adalah `aziimah, padahal bukan begitu. Maka dari itulah Al-Qarafiy menambahkan bahwa kebolehan melakukan itu pada perintah saja[10].

Definisi Ar-Rukhshah

Secara bahasa, ar-rukhshah artinya kemudahan dan keringanan[11], dapat pula diartikan lembut atau lunak[12]. Adapun secara istilah, ar-rukhshah merupakan antonim dari al-`aziimah. Ar-rukhshah ialah sifat dari suatu hukum yang menyelisihi dalil syar`i asalnya, karena ada insidental yang kuat dan memalingkannya dari hukum asalnya[13].

Disebutkan pula tentang definisi ar-rukhshah bahwa ia adalah suatu perbuatan yang boleh dilakukan padahal terdapat indikasi larangan padanya[14]. Ulama Hanabilah berkata tentang definisinya, yaitu suatu perbuatan yang boleh dilakukan karena ada udzur walaupun terdapat sebab yang mengharamkannya pada asalnya[15], akan tetapi definisi ini masih terlalu global karena rukhshah sendiri tidak hanya berupa pembolehan melakukan sesuatu, tetapi bisa juga berupa pembolehan meninggalkan sesuatu[16].

Terdapat definisi yang lebih lengkap dan mencakup, yaitu yang dikemukakan oleh Ibnu Hajib[17] bahwa ar-rukhshah adalah suatu hal yang disyariatkan karena adanya udzur, padahal hal tersebut asalnya haram jika tidak ada udzur tersebut[18].

Kedua lafazh ini—baik `aziimah maupun rukhshah—disebutkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadits,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ

“Sesungguhnya Allah menyukai jika rukhshah-rukhshah dari-Nya dilakukan, sebagaimana membenci jika maksiat-maksiat-Nya dilanggar.”[19]

Apakah `aziimah dan Rukhshah Sifat Untuk Perbuatan Atau Hukum?

Dari beberapa pendapat tentang definisi `aziimah dan rukhshah di atas, kita mengetahui bahwa para ulama ushul fiqh berbeda pendapat tentang statusnya: apakah `aziimah dan rukhshah merupakan sifat untuk perbuatan—sebagaimana yang dikatakan Ar-Razi—ataukah sifat bagi hukum? Dan apabila keduanya sifat bagi hukum, apakah hukum taklif atau hukum wadh`i?

Di antara ulama yang berpendapat bahwa `aziimah dan rukhshah adalah sifat bagi hukum wadh`i adalah Al-Amidiy[20], Al-Ghazali[21], Al-Baidhawiy[22], Al-Qarafiy, Ibnu Qudamah[23], Ibnu Hamdan[24], dan Ibnu Taimiyyah[25][26]. Adapun ulama yang berpendapat bahwa keduanya sifat bagi hukum taklif di antaranya Ibnu Sabkiy[27], Al-Isnawiy[28], dan beberapa ulama Syafi’iyyah. Termasuk hukum taklif karena di dalamnya terdapat unsur perintah melakukan atau meninggalkan sesuatu[29].

Pendapat yang lebih kuat—wallahu a’lam—adalah pendapat mayoritas ulama bahwa `aziimah dan rukhshah merupakan sifat dari hukum wadh`i. Di antara alasannya adalah[30]:

  • Bahwa rukhshah hakikatnya adalah syari`at yang meletakkannya sebagai sifat tertentu berupa sebab dalam keringanan suatu hukum, sedangkan `aziimah adalah pengibaratan kebiasaan yang menjadi sebab untuk melaksanakan hukum asal secara umum.
  • Bahwa pengibaratan safar, sakit, ataupun keadaan darurat merupakan sebab adanya rukhshah (keringanan) atau maani` (penghalang) dari taklif `aziimah. Jika kita dalami maknanya, dalam hal tersebut tidak ada permintaan (perintah/wajib atau larangan/haram) maupun takhyir (memilih melakukan atau meninggalkan, yaitu dalam sunnah dan makruh). Bahkan ini merupakan sifat hukum wadh`i.

Penutup

Demikian pada artikel kali ini yang dapat penulis bahas mengenai definisi al-`aziimah dan ar-rukhshah. Pembahasan tentang keduanya in sya Allah akan dilanjutkan pada artikel mendatang, yaitu mengenai jenis-jenis rukhshah.

Barakallahu fiikum.

Penulis: Zaky Hanifah

Pembimbing: Ustaz Khalid Saifullah, Lc., M.A.

Referensi :

  • Al-Amidiy, Sayyiduddin Ali bin Abi Ali. Al Ihkam fi Ushul al Ahkam. Al Maktab Al Islamiy, Beirut-Lebanon.
  • Al-Ashfahaniy, Muhammad bin Abdirrahman Syamsuddin. 1406 H. Bayan al Mukhtashar Syarh Mukhtashar Ibni Hajib. Dar al-Madaniy, KSA. Cetakan ke-1.
  • Al-Bukhari, Ala`uddin Abdul Aziz bin Ahmad bin Muhammad. Kasyful Asrar Syarh Ushul Al-Bazdawiy. Daar Al-Kitab Al-Islamiy.
  • Al-Farabi, Abu Nashr Isma’il bin Hamad. 1407 H. Ash Shihah Taaj al Lughah wa Shihah al ‘Arabiyyah. Daar al ‘Ilm lil Malayiin: Beirut. Cetakan ke-4.
  • Al-Farahidiy, Al-Khalil bin Ahmad bin ‘Amr bin Tamim. Kitab Al-‘Ain. Dar wa Maktabah Al Hilal.
  • Al-Futuhiy, Abu Al Baqa’ Muhammad bin Ahmad. 1418 H. Mukhtashar At Tahrir Syarh Al Kaukab Al Munir. Maktabah Al Ubaikan. Cetakan ke-2.
  • Al-Mardawiy, ‘Alaa`Uddin Abu Al-Hasan Ali bin Sulaiman. 1421 H. At-Tahbiir Syarh At-Tahriir fi Ushul Al-Fiqh. Maktabah Ar-Rusyd, Riyadh. Cetakan ke-1.
  • Al-Qazwiniy, Abul Husain Ahmad bin Faris. 1399 H. Maqayis Al Lughah. Dar Al Fikr.
  • Al-Qurafiy, Syihabuddin Ahmad bin Idris bin ‘Abdirrahman. 1393 H. Syarh Tanqiih Al-Fushuul. Syirkah at-Thiba’ah al-Fanniyyah al-Muttahidah. Cetakan ke-1.
  • An-Namlah, ‘Abdul Karim bin ‘Ali bin Muhammad. 1420 H. Al Muhadzdzab fi ‘Ilmi Ushul al Fiqh al Muqaran. Maktabah Ar Rusyd: Riyadh-KSA. Cetakan ke-1.
  • Ar-Razi, Muhammad bin Umar bin Al-Hasan. 1418 H. Al Mahshul. Mu’assasah Ar Risalah, Beirut. Cetakan ke-3.
  • As-Sarkhasiy, Muhammad bin Ahmad bin Abi Sahl. Ushul As-Sarkhasiy. Beirut: Daar al-Ma’rifah.
  • Ath-Thufiy, Sulaiman bin Abdil Qawiyy bin Al Karim. 1407 H. Syarh Mukhtashar Ar-Raudhah. Mu’assasah Ar Risalah, Beirut. Cetakan ke-1.
  • Az-Zarkasyi, Abu ‘Abdillah Badruddin Muhammad bin ‘Abdillah bin Bahadir. 1414 H. Al Bahr Al Muhith fi Ushul al Fiqh. Dar Al Kutuby. Cetakan ke-1.
  • Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram bin Ali. 1414 H. Lisan al ‘Arab. Dar Shadir: Beirut. Cetakan ke-3.

[1] Al-Qamus (1/1137)

[2] Al-‘Ain (1/363)

[3] QS. Thaha: 115

[4] Lihat: Al-Bahr (2/30), Mukhtashar At-Tahrir (1/476), Kasyful Asrar (2/398)

[5] Ushul As-Sarakhsiy (1/117)

[6] Beliau adalah Fakhruddin Abu Abdillah Muhammad bin Umar bin Al-Hasan bin Al-Husain bin Ali Ar-Razi. Salah seorang ulama ushul fiqh bermadzhab Syafi’i yang lahir di Rayy tahun 544 H dan wafat di Herat, Afghanistan tahun 606 H. Karyanya dalam ilmu ushul fiqh yang terkenal adalah kitab Al-Mahshul.

[7] Al-Mahshul (1/120)

[8] Lihat: Al-Mustashfa (1/78), Al-Ihkam (1/131)

[9] Beliau adalah Syihabuddin Abu Al-‘Abbas Ahmad bin Abu Al-‘Ala` Idris bin Abdirrahman Al-Qarafiy. Lahir pada tahun 626 H dan wafat tahum 684 H di Mesir. Penulis kitab Nafa`is Al-Ushul syarah kitab Al-Mahshul.

[10] Syarh Tanqiih Al-Fushul (1/87)

[11] Al-Mishbah (1/223)

[12] Al-‘Ain (4/184)

[13] Al-Bahr (2/32)

[14] Al-Mahshul (1/120)

[15] Lihat: Ushul Sarakhsiy, Al-Ihkam (1/131)

[16] Al-Ihkam (1/131)

[17] Beliau adalah Jamaluddin Abu-‘Amr Utsman bin Umar bin Abu Bakr, digelari Ibnu Al-Hajib. Lahir tahun 570 H di Mesir dan wafat tahun 646 H. Termasuk imam besar dalam madzhab Maliki.

[18] Bayan Al-Mukhtashar (1/410-411)

[19] HR. Ahmad no. 5866 (10/107)

[20] Beliau adalah Saifuddin Abu Alhasan Ali bin Abi Ali Al-Amidiy. Lahir pada tahun 551 H di Diyar Bakr (Turki). Merupakan seorang ulama fiqh yang bermadzhab Hanbali, lalu beralih ke Syafi’i. Wafat tahun 631 H di Damaskus.

[21] Beliau adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. Merupakan salah satu ulama besar pada abad 5 H. Lahir tahun 450 H dan wafat pada tahun 505 H di Thawus, kampung halamannya. Beliau bermadzhab Syafi’i.

[22] Beliau adalah Nashiruddin Abu Sa’id Abdullah bin Abi Al-Qasim Umar Al-Baidhawiy. Lahir sekitar awal abad 7 H dan wafat di Tabriz tahun 685 H. Beliau ulama fikih dan merupakan qadhi pada masanya. Bermadzhab Syafi’i

[23] Beliau adalah Muwaffaquddin Abdullah bin Ahmad bin Qudamah, seorang ulama fiqh bermadzhab Hanbali. Lahir tahun 541 H dan wafat tahun 620 H di Damaskus.

[24] Beliau adalah Najmuddin Ahmad bin Hamdan Al-Harraniy, seorang ulama fiqh dan qadhi Mesir bermadzhab Hanbali. Lahir tahun 603 H dan wafat tahun 695 H di Kairo.

[25] Beliau adalah Taqiyyuddin Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Taimiyyah, seorang ulama besar bermadzhab Hanbali yang dijuluki Syaikhul Islam. Lahir tahun 661 H dan wafat tahun 728 H di Damaskus.

[26] Lihat: Al-Mustashfa, Al-Ihkam, Al-Muswaddah, Al-Kaukab Al-Munir, Syarh Tanqih Al-Fushul

[27] Beliau adalah Tajuddin Abdul Wahhab bin Ali bin Abdil Kafi, seorang ulama fiqh dan qadhi Damaskus bermadzhab Syafi’i. Lahir tahun 727 H dan wafat tahun 771 H di Damaskus.

[28] Beliau adalah Jamaluddin Abdurrahim bin Alhasan bin Ali Al-Isnawiy, seorang ulama fiqh bermadzhab Syafi’i. Lahir tahun 704 H dan wafat pada tahun 772 H.

[29] Lihat: Jam’ul Jawami’, Kasyful Asrar, Mukhtashar ibni Hajib.

[30] Al-Muhadzdzab (1/453)


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *