Jika seseorang ditanya tentang siapa ibunya, maka biasanya ia dapat dengan mudah menyebutkan namanya. Tak hanya nama, ia juga dengan mudah dapat menyebutkan sifat-sifatnya, kebaikannya, apa yang dia sukai dan dia benci. Maka akan sangat lucu bila seorang hamba tidak kenal siapa Rabb-nya. Padahal kedudukan Rabb bagi seorang hamba jauh lebih agung dan lebih dekat daripada kedudukan seorang ibu terhadap anaknya. Maka kecanggungan seseorang terhadap penyebutan nama Rabbnya, merupakan tanda bahwa ia tidak cukup baik dalam mengenal-Nya.

Salah satu efek dari pendidikan berbasis sekulerisme yang mungkin pernah dirasakan oleh sebagian kita, adalah keengganan seseorang untuk menyebut nama Rabb-nya. Sehingga sering kita baca di berbagai tulisan, juga sering kita dengar di berbagai media, seseorang yang mengaku dirinya Islam, namun enggan menyebut nama Allah. Alih-alih ia menggantinya dengan sebutan Tuhan. Mungkin tidak terlalu aneh jika ia bicara di komunitas yang mayoritasnya adalah kaum kuffar. Yang janggal adalah ketika ia bicara di hadapan muslim lainnya, namun rasanya berat menyebut nama Allah.

Ini menunjukkan berapa jauh jarak pengenalan orang tersebut dengan Allah. Andaikan dia mengenal Allah dengan cukup baik, tentu ia akan terbiasa menyebut nama-Nya. Dan jika ia telah memiliki hubungan manis dengan Rabb-nya, tentu ia akan bersemangat membawa nama-Nya dalam perbincangan dia dengan orang lain.

Mengenal Allah sesungguhnya merupakan gerbang yang mengantarkan kita pada seluruh amal kebaikan. Mengenal Allah juga merupakan kunci kedekatan hati dengan-Nya, dan kunci berbagai keahagiaan yang tidak akan kita temukan dengan selain-Nya.

Apa itu Rabb?

Rabb bermakna sesembahan, raja, sekaligus pengatur segala sesuatu. Jika kata ini diberi tambahan alif dan lam ma’rifah (ar Rabb), maka merupakan salah satu dari nama Allah yang mulia.[1]

Syaikh ‘Abdullah al Qor’awi menyebutkan, “Jika Anda ditanya, ‘Siapa Rabbmu?’ Maka jawablah, ‘Rabbku adalah Allah yang telah memeliharaku dan memelihara semua makhluk di alam semesta ini dengan berbagai nikmat-Nya. Dialah yang aku ibadahi dan tidak ada yang patut untuk diibadahi selain Dia semata.’”

Dalam bahasa Indonesia, Rabb diterjemahkan sebagai tuhan. Namun dalam etimologi bahasa Arab, Rabb berarti pemilik, pencipta, pengatur, dan penguasa. Misalnya, kata Rabb al Bait berarti pemilik rumah. Maka, jika disebut Rabbul ‘Alamin, dapat diartikan sebagai pencipta, pemilik, pengatur, dan penguasa alam semesta.

Nama “Allah” sendiri diambil dari kata al ilah yang berarti sesembahan atau yang diibadahi. Dalil bahwa Rabb atau tuhan satu-satunya yang layak diibadahi adalah Allah, terdapat dalam surat Al A’rof ayat 54 sebagai berikut,

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۗ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُه حَثِيْثًاۙ وَّالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍۢ بِاَمْرِه ۙاَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْاَمْرُۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْن

Artinya :

“Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.”

Ayat di atas dengan jelas menunjukkan bahwa hanya Allah lah yang menciptakan segala sesuatu, dan karena itu segala bentuk peribadatan kepada selain Allah tidaklah diperbolehkan. Perintah untuk menyembah Allah dalam ayat di atas amatlah jelas tak terbantahkan.

Dengan menyatakan bahwa Allah adalah satu-satunya sesembahan, maka artinya Allah menjadi satu-satunya tujuan ibadah. Allah menjadi tempat bergantungnya hati, tempat meminta berbagai hajat, dan tempat meminta perlindungan dari segala yang ditakuti.

Bagaimana Cara Mengenal Allah?

Para ulama menjelaskan, untuk mengetahui hakikat sesuatu dapat melalui tiga cara;

  1. Melihat atau bertemu langsung
  2. Melihat yang semisalnya
  3. Berdasarkan informasi yang pasti kebenarannya

Cara pertama, yaitu melihat langsung, tentu tidak mungkin seorangpun bisa mengenal Allah dengan cara ini.

Allah berfirman dalam surat Al An’am ayat 103,

لَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَۚ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْر

Artinya :

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Mahahalus lagi Mahateliti.”

Maka tak ada seorangpun dari kalangan manusia di dunia ini yang pernah menjumpai Allah dan melihat-Nya secara langsung tanpa batasan. Bahkan menurut mayoritas ulama, Rasulullah tidaklah melihat Allah secara langsung ketika mi’raj, melainkan berjumpa dengan Allah dari balik tabir cahaya. [Mengenai permasalahan ini secara mendetail dapat dilihat di kitab Syarah Thahawiyah oleh Abu al Izz halaman 137]. Seorang muslim tidak akan bisa melihat Allah secara langsung kecuali di surga-Nya nanti dengan izin-Nya. Hal ini merupakan ujian keimanan kita kepada Allah ta’ala.

Cara kedua, melihat yang semisalnya, lebih mustahil bagi kita. Karena tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Allah. Tidak ada satu dzat pun di dunia ini yang bisa kita sandingkan dengan Allah, baik dari segi bentuk dan rupa maupun sifat dan perbuatan. Allah berfirman dalam surat Asy Syuraa ayat 11,

لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْر

Artinya :

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.”

Adapun cara ketiga, yaitu dengan menerima kabar yang benar, maka inilah satu-satunya cara yang paling bisa diraih untuk mengenal Allah. Allah telah menurunkan Al-Qur’an sebagai kabar yang jelas yang menyebutkan tentang diri-Nya. Allah juga memberikan izin kepada para rasul-Nya untuk menyampaikan kabar mengenai diri-Nya, baik dzat, nama, sifat, dan perbuatan-Nya.

Rasulullah bersabda yang artinya, “Aku wariskan kepada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan sesat selamanya sepeninggalku dengan keduanya; Al Qur’an dan sunnahku.”[2]

Demikian pembahasan tentang pentingnya mengenal Allah dan cara mengenal-Nya. Pada pertemuan selanjutnya insyaallah akan kita bahas mengenai cara mengenal Allah melalui cara ketiga, yaitu melalui wahyu dan ayat kauni, serta apa saja yang perlu kita pahami dalam mengenal Allah.

Billahit taufiq wal hidayah.

Penulis: Intan M. Nurwidyani

Pembimbing: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra,M.A.,

Referensi :

  1. Al Qur’an Al Karim
  2. Aplikasi al Bahits al Haditsi
  3. Hal-hal yang Wajib Diketahui Setiap Muslim, Ibrahim al Khuraishi

[1] Hal-hal yang Wajib Diketahui Setiap Muslim, Ibrahim bin Shalih Al Khuraishi, hal.26

[2] Shahih Al Jami’ no.2937, dikeluarkan oleh Al Bazzaar (8993) dan Al Hakim (319)

Kategori: Tauhid

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *