بسم الله الرحمن الرحيم

Barang siapa ingin memiliki ilmu seluas lautan dalam masalah fiqih hendaklah dia belajar kepada Abu Hanifah.” – Imam Asy-Syafi’i –

  • Nasab dan Kelahiran

Beliau bernama Nu’man bin Tsabit bin Al-Marzuban, merupakan anak keturunan dari Faris Al-Ahraar. Wahbi Sulaiman Ghowaji berkata dalam kitabnya Abu Hanifah An-Nu’man: “Terdapat perbedaan pendapat pada nama kakek beliau, dalam satu riwayat dikatakan bahwa kakeknya bernama Nu’man. Riwayat kedua mengatakan bahwa kakeknya bernama Al-Marzuban, dan riwayat yang lain mengatakan bahwa kakek beliau bernama Zutha bin Mah. Riwayat-riwayat tersebut telah digabungkan dengan penggabungan yang sangat baik. Beliau berkata: “Makna dari Al-Marzuban yaitu pemimpin, terdapat kemungkinan bahwa kakek beliau memiliki dua nama atau yang satu adalah nama dan yang lainnya adalah laqob (julukan). Sedangkan makna Zutha dalam bahasa arab berarti Nu’man, dan makna Mah berarti Al-Marzuban. [1]

Imam Abu Hanifah dilahirkan di Kufah pada tahun 80 Hijriyah yaitu pada masa khalifah Abdul Malik bin Marwan.

  • Antara Perniagaan dan Ilmu

Imam Abu Hanifah tumbuh besar di Kufah di tengah keluarga yang shalih, kaya dan terhormat. Ayahnya adalah seorang pengusaha sutra, beliau menjual sutra-sutra tersebut di toko miliknya di Kufah. Abu Hanifah kecil merupakan seorang anak yang cerdas, beliau sudah menghafal Al-qur’an ketika usianya masih belia. Namun pada saat itu beliau belum menghadiri majlis para ulama dan mendengarkan pelajaran dari mereka karena harus menemani ayahnya berdagang. Sampai tiba saatnya pertemuan antara Abu Hanifah dan Sya’bi, yang mana pertemuan itu merupakan sebuah pembuka kebaikan yang sangat besar bagi beliau. Pertemuan yang menjadi titik tolak beliau dari dunia perniagaan menuju dunia keilmuan.

Abu Muhammad Al-Haritsi meriwayatkan dari Abu Hanifah, beliau berkata: “Pada suatu hari aku berjalan dan bertemu dengan Asy-Sya’bi di tengah perjalanan, kemudian dia berkata kepadaku,

“Hendak kemana engkau?”

“Aku akan pergi ke pasar.”

“Yang aku tanyakan bukan kepergianmu ke pasar. Makhsudku, hendak menemui ulama siapa?”

“Aku jarang pergi ke majelis ulama”

“Jangan lakukan hal itu, engkau harus memperdalam ilmu dan mengikuti majelis-majelis para ulama, karena aku melihat kecerdasan dan potensi yang tinggi dalam dirimu.”

Kemudian beliau melanjutkan: “Perkataan Sya’bi membekas di hatiku, kemudian aku tidak lagi pergi ke pasar dan mulai mencari ilmu. Allah telah memberi manfaat kepadaku dengan perkataan Sya’bi.” [2]

  • Perjalanan mencari ilmu

Ketika umur Abu Hanifah mencapai enam belas tahun, beliau pergi bersama ayahnya untuk menunaikan ibadah haji serta menziarahi makam Rasululla  .صلى الله عليه وسلمBeliau berkata: “Aku berhaji bersama ayahku pada tahun 96 Hijriyah yaitu ketika usiaku mencapai enam belas tahun. Pada suatu hari, aku duduk bersama seorang laki-laki yang telah dikelilingi oleh banyak orang. Kemudian aku bertanya kepada ayahku, “Wahai ayah, siapakah orang tersebut?” Ayahku menjawab “Dia adalah Abdullah bin Al-Harits Az-Zubaidi, orang yang dahulu pernah menemani Rasulullah صلى الله عليه وسلم” Kemudian aku bertanya, “Untuk apa kita duduk bersamanya?” Ayahku menjawab, “Untuk mendengar hadits-hadits yang telah dia dengar dari Rasul صلى الله عليه وسلم.” Aku berkata kepada ayahku, “Izinkanlah aku maju ke hadapannya” Kemudian orang-orang memberikan jalan untukku sampai aku berada di hadapannya. Dan aku mendengar darinya: Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bersabda:1 Khathib Al-Baghdadi menyebutkan dalam kitabnya Tarikh Baghdad, bahwasanyasanad hadits tersebut lemah.

Ilmu yang pertama kali beliau pelajari adalah ilmu ushuluddin. Beliau datang ke Bashrah lebih dari dua puluh tujuh kali. Di sana beliau berdiskusi serta membantah syubhat-syubhat yang tersebar mengenai syariat. Beliau juga membantah kesesatan Jahm bin Shofwan hingga membuatnya terdiam. Hal itu terus berlanjut hingga beliau menjadi orang yang ‘Aalim dalam ilmu kalam dan ushuluddin hingga ilmu tersebut hanya seperti seujung jari baginya.

  • Metode Beliau dalam Menetapkan Hukum

Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa Imam Abu Hanifah telah menghafal Al-Quran ketika usianya masih belia. Beliau juga menghafal hadits-hadits Rasulullahصلى الله عليه وسلم . Beliau mendengarkan hadits-hadits tersebut dari para ulama Iraq dan Hijaz. Beliau juga banyak menghafal perkataan para sahabat, baik kesepakatan atau perselisihan mereka dalam suatu masalah.

Maka apakah asas yang dibangun oleh beliau di atas madzhabnya, yang telah tersebar di timur dan barat dan banyak diantara kaum muslimin yang beribadah kepada Allah diatas madzhab beliau?

Disebutkan dalam kitab Al-Intiqa bahwasanya Abu Hanifah berkata: “Aku menghukumi sesuatu dengan apa yang ada dalam Al-Quran, jika tidak aku dapati di dalamnya, maka dengan sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Jika tidak aku dapati dalam Al-Quran dan Sunnah, maka dengan perkataan sahabat. Aku mengambil perkataan siapa pun diantara mereka yang aku mau dan meninggalkan perkataan siapa pun diantara nereka yang aku mau. Jika perkara tersebut telah selesai atau telah datang kepada Ibrahim, Sya’bi, Ibnu Sirin, ‘Atha, Al-Hasan, Sa’id bin Musayyib dan mereka telah berijtihad, maka aku akan berijtihad sebagaimana mereka berijtihad. ”[3]

Hal tersebut menunjukan bahwa sandaran beliau dalam menetapkan hukum adalah Al-Quran, Sunnah Rasululla صلى الله عليه وسلم , Perkataan sahabat, Qiyas, Al-Istihsan kemudian Al-‘Urf.

  • Guru-guru Beliau

Di antara guru-guru beliau adalah :

  1. Ibrahim bin Yazid An-Nakha’i Al-Kufi. (Wafat 96 H)
  2. Ayyub Ash-Shiktiyaniy Al-Bashri. (Wafat 131 H)
  3. Rabi’ah bin Abi Abdirrahman Al-Madani. (Wafat 139 H)
  4. Salim bin Abdillah bin Umar bin Al-Khatthab. (Wafat 106 H)
  5. Sulaiman bin Yassar Al-Hilali Al-Madani. (Wafat 107 H)
  6. Abdurrahman bin Hurmuz Al-A’raj Al-Madani. (Wafat 117 H)
  7. ‘Atha bin Yasssar Al-Hilali Al-Madani. (Wafat 103 H)
  8. ‘Amr bin Dinar Al-Makki. (Wafat 126 H)
  9. Murid-murid Beliau

Tidak terhitung banyaknya muhadditsin ( ahli hadits) dan  fuqohaa ( ahli fiqih ) yang meriwayatkan dari beliau, diantaranya :

  1. Mughiroh bin Miqsam
  2. Syariik
  3. Hasan bin Shalih
  4. Abu Bakr bin ‘Iyaasy
  5. ‘Ali bin Mushir
  6. Hafsh bin Giyats
  7. Jarir bin Abdil Hamid
  8. Abdullah bin Mubarok (Wafat 181 H)
  9. Abu Muawiyah
  10. Waki’ bin Al-Jarrah (Wafat 197 H)
  • Pujian Para Ulama Terhadap Beliau
  •  “Aku belum pernah melihat orang seperti dia, Demi Allah, jika Abu Hanifah berpendapat bahwa sebuah alat terbuat dari emas, maka pasti dia sanggup mempertengahkan kebenaran atas perkataannya itu .” – Imam Malik –
  • “ Abu Hanifah berada dalam posisi keilmuan, wara’, zuhud dan mementingkan akhirat yang tidak dilihat oleh seorang pun. ” – Imam Ahmad bin Hanbal –
  • Barang siapa ingin memiliki ilmu seluas lautan dalam masalah fiqih hendaklah dia belajar kepada Abu Hanifah. ” – Imam Asy-Syafi’iy –
  • Wafat

Abu Hanifah wafat pada pertengahan bulan Syawwal tahun 150 hijriyah, yaitu ketika usia beliau mencapai 70 tahun. Wallahu A’lam.

Penulis: Nurul Maftuhah

Pembimbing: Ustadz Hendry Waluyo Lensa, Lc., M.Hum.

Refrensi :

  1. Ghowaji, Wahbi Sulaiman, 1993 M, Abu Hanifah An-Nu’man, Beirut : Darul Qolam.
  2. Adz-Dzahabi, 2004 M, Siyar A’lam Nubala, Lebanon : Baitul Afkar Ad-Dauliyah
  3. Ibnu Abdil Bar, 1997 M, , Al-Intiqa fi fadhaili Al-Aimmah Ats-Tsalasah Al-Fuqoha, Beirut :Daar Al-Basyair Al-Islamiyyah
  4. Adz-Dzahabi, 1239 H, Mahmud Al-Kalam Fi Sirotil Imam Abi Hanifah An-Nu’man, Maktabah Al-Madohir Salim

[1] Wahbi Sulaiman Ghowaji, Abu Hanifah An-Nu’man, Darul Qolam, Damaskus, 1993, hlm. 48.

[2] Ibid. hal. 49

[3] Imam Ibnu Abdil Barr, Al-Intiqa fi fadhaili Al-Aimmah Ats-Tsalasah Al-Fuqoha, Daar Al-Basyair Al-Islamiyyah, Beirut, 1997, hal. 82

  1. Barangsiapa mempelajari agama Allah, maka Allah akan mencukupkannya dari keluh kesah dan Allah akan memberinya rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka. []
Kategori: Biografi

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *