بسم الله الرحمن الرحيم

“Tidak ada seorang pun yang berbicara mengenai ilmu dan paling sedikit salahnya serta paling kuat mengambil hadits Nabi ﷺ dari Asy-Syafi’i. Dan aku tidak pernah melihat orang yang lebih fasih dan lebih memahami ilmu darinya.” – Imam Ahmad bin Hanbal (241 H)-

  • Nasab dan Kelahiran

Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ atau yang lebih dikenal dengan Imam Asy-Syafi’i adalah seorang ulama besar yang bergerak dalam bidang hadits dan fiqih. Beliau dilahirkan pada hari jum’at bulan Rajab tahun 150 Hijriyah. Adapun tempat kelahirannya terdapat beberapa perbedaan pendapat. Dikatakan bahwa beliau dilahirkan di Gaza, atau Atsqolan, atau Yaman dan ada juga yang mengatakan bahwa beliau dilahirkan di Mina.[1] Ibunya bernama Fatimah binti Abdillah Al-Azdiyah. Beliau menjadi yatim di usianya yang masih belia dan kemudian berada pada asuhan ibunya.

  • Mengenal Ilmu di Usia Muda

Telah disebutkan bahwa Imam Asy-Syafi’i dilahirkan di Gaza atau Atsqolan, akan tetapi beliau meninggalkan kota kelahirannya dan mulai tinggal di Makkah sejak usianya mencapai kurang lebih dua tahun.[2] Ayahnya meninggal tatkala beliau masih kecil. Sehingga beliau hanya berada dalam asuhan ibunya. Imam Asy-Syafi’i tumbuh ditempat dimana islam muncul dan wahyu diturunkan. Beliau tumbuh di lingkungan yang hampir seluruh penduduknya adalah muhaddits, faqih, atau para penuntut ilmu yang banyak mendiskusikan permasalahan agama serta mendengarkan hadits-hadits Nabi ﷺ. Tempat yang dihiasi oleh ka’bah yang dikelilingi oleh jutaan orang siang dan malam hingga akhir zaman. Hal-hal itulah yang membuat pandangan Imam Asy-Syafi’i terbuka dan mulai beradaptasi dengan lingkungannya serta terbiasa berada diantara ulama dan orang-orang shalih.

Ibunya berkeinginan untuk memanggil seorang guru yang akan mengajari imam Asy-Syafi’i membaca dan menulis sebagaimana anak-anak memulai tahap pembelajaran pada umumnya, akan tetapi tidak ada yang bisa diberikan ibunya sebagai imbalan karena keterbatasan ekonomi. Imam Asy-Syafi’i berkata: “Ketika itu aku dalam keadaan yatim dan berada dalam asuhan ibuku, dia tidak memiliki sesuatu yang akan diberikan kepada seorang guru sebagai upah. Dan ketika itu guruku merasa ridha dariku hanya dengan aku menggantikannya ketika beliau pergi.”[3]

Begitulah guru beliau membebaskannya dari upah yang mestinya ditunaikan. Hal tersebut juga dikarenakan bahwa guru beliau melihat adanya potensi yang sangat tinggi serta kecerdasan dan kecepatan menghafal yang ada pada Imam Asy-Syafi’i. Bahkan mungkin beliau merasa tidak banyak mengerahkan tenaga ketika memberikan pelajaran kepada Imam Asy-Syafi’i yang mengharuskan beliau mendapat upah.

Imam Asy-Syafi’i berkata: “Dahulu aku di madrasah anak-anak. Aku mendengar seorang guru mendiktekan ayat kepada seorang anak dan aku langsung menghafalnya. Aku sungguh menghafal semua yang telah disebutkan.”

Disebutkan dalam sebuah riwayat mengenai keistimewaan beliau. Imam Asy-Syafi’i berkata: “Aku telah menghafal Al-Quran ketika berumur 7 tahun, menghafal kitab Al-Muwatha’ ketika berumur 10 tahun dan ketika aku berumur 15 tahun aku telah diizinkan berfatwa.”

  • Pendidikan di luar Makkah

Pada usia 20 tahun, Imam Asy-Syafi’i mengadakan perjalanan ke luar Makkah dan mengambil ilmu dari para ulama di berbagai negeri. Diantara negeri-negeri yang beliau singgahi adalah Madinah, Yaman, Baghdad dan kemudian beliau kembali lagi ke Makkah.

  • Ushul Madzhab

Fiqh Asy-Syafi’i dibangun di atas asas yang tidak dilewatkan pula oleh para ashabul madzhab seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Malik yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Keduanya juga merupakan salah satu asas madzhab Hanafi dan Maliki.

Adapun asas yang dibangun diatasnya madzhab fiqih Asy-Syafi’I adalah: Al-Quran, As-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.

  • Guru-guru Imam Asy-Syafi’i

Berikut adalah beberapa diantara guru-guru Imam Asy-Syafi’i;

  1. Imam Malik (179 H)
  2. Sufyan bin Uyainah (198 H)
  3. Muslim bin Khalid Az-Zanji (179 H)
  4. Waki’ bin Al-Jarrah (197 H)
  5. Ibrahim bin Abi Yahya (184 H)
  6. Al-Majisyun (212 H)
  7. Murid-murid Imam Asy-Syafi’i
  8. Al-Humaidi (219 H)
  9. Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam (224 H)
  10. Ahmad bin Hanbal (241 H)
  11. Ishaq bin Rahuyah (238 H)
  12. Ishaq bin Bahlul
  13. Sulaiman bin Daud Al-Hasyimi
  14. Karya-karya Imam Asy-Syafi’i

Diantara karya-karya yang ditulis Imam Asy-Syafi’i adalah sebagai berikut:

  1. Ar-Riasalah
  2. Al-Umm
  3. Ikhtilaf Al-Hadits
  4. Pujian Ulama Terhadap Imam Asy-Syafi’i
  5. “Tidak ada seorang pun yang berbicara dengan pendapatnya –kemudian beliau menyebutkan Ats-Tsauri, Al-Auzai, Malik dan Abu Hanifah- melainkan Imam Asy-Syafi’i adalah yang paling besar ittiba’nya kepada Nabi ﷺ dan paling sedikit kesalahannya.” – Ishaq bin Rahuyah (238 H)-
  6. “Tidak ada seorang pun yang berbicara mengenai ilmu dan paling sedikit salahnya serta paling kuat mengambil hadits Nabi ﷺ dari Asy-Syafi’i. Dan aku tidak pernah melihat orang yang lebih fasih dan lebih memahami ilmu darinya.” – Imam Ahmad bin Hanbal (241 H)-
  7. “Apabila telah meninggal Asy-Syafi’i, maka telah meninggal orang yang paling utama pada zamannya.” – Sufyan bin Uyainah (198 H)
  8. Wafatnya Asy-Syafi’i

Imam Asy-Syafi’i wafat pada tahun 204 Hijriyah. Ar-Rabi’ bin Sulaiman (256 H) berkata: “Imam Asy-Syafi’i wafat pada malam jum’at. Beliau wafat di hari terakhir pada bulan rajab dan dimakamkan pada hari jumat.”[4]

 Ar-Rabi’ mengatakan: “Suatu hari kami duduk di majelis Asy-Syafi’i beberapa hari setelah wafatnya beliau. Kemudian seseorang datang kepada kami lalu memberi salam dan berkata: “Dimana bulan dan matahari halaqah ini?” maka kami menjawab, “Beliau telah wafat.”

Imam Asy-Syafi’i wafat ketika usia beliau menginjak 54 tahun. Wallahu A’lam.

Semoga Allah merahmati beliau, mengampuni dosa-dosanya dan memeberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Amin.

Penulis: Nurul Maftuhah

Pembimbing: Ustadz Hendry Waluyo Lensa, Lc., M.Hum.

  • Referensi
  • Adz-Dzahabi, 2004 M, Siyar A’lam Nubala, Lebanon : Baitul Afkar Ad-Dauliyah
  • Ibnu Abdil Baar, 1997 M, Al-Intiqa fi fadhaili Al-Aimmah Ats-Tsalasah Al-Fuqoha, Beirut:Daar Al-Basyair Al-Islamiyyah
  • Abdul Ghani Al-Qadr, 1996 M, Al-Imam Asy-Syafi’i Faqih As-Sunnah Al-Akbar, Damaskus: Daar Al-Qolam
  • Bakr Muhammad Ibrahim, 2007 M, Al-Imam Asy-Syafi’i Hayatuhu wa Fiqhuhu, Kairo: Markaz Ar-Rayah li An-Nasyri wa Al-I’lam
  • Ibnul Jauzi, 2012 M, Shifatu As-Safwah, Lebanon: Daar Al-Kitab Al-A’rabi
  • Yaqut Al-Hamawi Ar-Rumi, 1993 M, Mu’jam Al-Adiba Irsyad Al-Arib ila Ma’rifati Al-Adib, Lebanon: Daar Al-Garb Al-Islami
  • buletin-alilmu.net

[1] Abdul Ghani Ad-Daqri, Al-Imam Asy-Syafi’I Faqih As-Sunnah Al-Akbar, Daar Al-Qolam, Damaskus:1997. hal. 44

[2] Ibid. hal. 49

[3] Ibnul Jauzi, Sifatu As-Sofwah, Daar Al-Kitab Al-Arabiy, Lebanon: 2012, hal. 391

[4] Ibid. hal. 395

Kategori: Biografi

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *