بسم الله الرحمن الرحيم

Bagian 2: Adab Kepada Guru

Menjaga akhlak kepada pengajar merupakan adab yang kian terkikis di kalangan penuntut ilmu akhir-akhir ini. Sudah sering kita temukan kekurangajaran peserta didik kepada pendidiknya. Khususnya yang banyak terjadi di negeri ini. Padahal ulama-ulama kita pada zaman dahulu sangat memuliakan guru mereka. Mereka sungguh-sungguh menyadari bahwa guru merekalah yang menjadi wasilah sampainya ilmu kepada mereka. Ibnul Mubarak berkata:

تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين

“Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun.”

Kebanyakan pelajar karena sudah merasa pintar dalam cabang ilmu lain, malah menyepelekan soal adab. Tidak hanya pada guru, bahkan kepada keluarga, orangtua, dan orang-orang di sekitar. Padahal, tidaklah sempurna ilmu seseorang kecuali telah sempurna pula adabnya.

Adab seseorang adalah tanda kesuksesannya. Sebaliknya, kurangnya adab seseorang adalah kerusakan dan kebinasaannya. Adab juga merupakan salah satu syarat untuk meraih ilmu. Berkata Syaikh Shalih Al-‘Utsaimin, “Dengan memperhatikan adab maka akan mudah meraih ilmu. Sedikit perhatian pada adab, maka ilmu akan disia-siakan.” Faktor dicabutnya keberkahan ilmu adalah karena tidak memiliki adab. Maka jelas sudah bahwa masalah adab dalam menuntut ilmu adalah masalah yang sangat penting.

Tanpa mereka, guru atau siapapun yang mengajarkan ilmu kepada kita, tidak akan sampai suatu ilmu kepada kita. Karena itulah, diwajibkan atas setiap penuntut ilmu untuk menghormati dan memuliakan guru, pengajar, dan orang yang lebih berilmu.

Yang harus diperhatikan dalam menjaga kehormatan pengajar kita adalah:

  • Selalu menjaga adab saat duduk dan berbicara dengan mereka.
  • Bertanya dan mendengarkan mereka dengan baik. Tidak banyak bertanya sesuatu yang membingungkan mereka dengan tujuan untuk menguji keilmuan mereka.
  • Senantiasa tawadhu’ di hadapan mereka. Salah satu bentuk penjagaannya adalah dengan tidak mendahului mereka saat berjalan atau berbicara.
  • Tidak menyakiti hati mereka, baik dengan perkataan maupun perbuatan. Hal-hal kecil seperti mendahului mereka dalam berbicara dan berjalan saja mendapat perhatian ulama-ulama kita dalam menjaga adab kepada gurunya. Sedang keadaan peserta didik kita di jaman sekarang justru berbanding terbalik. Mereka menjadikan guru sebagai bahan olok-olokan dan tertawaan. Allaahu yahdiihim.
  • Sabar atas sikap guru kita. Bagaimanapun mereka adalah manusia yang tentunya tidak akan pernah luput dari kesalahan. Maka bersabarlah atas setiap perilaku mereka yang mungkin kurang berkenan di hati kita.

Ada dua kesabaran dalam menuntut ilmu. Yang pertama adalah sabar dalam memahami ilmu. Termasuk di dalamnya adalah sabar dalam majelis dan sabar dalam menghadapi gurunya. Yang kedua, sabar dalam mengajar dan memahamkan ilmu kepada orang lain. Dengan kesabaran, kita bisa keluar dari kebodohan. Dan kita akan bisa merasakan kenikmatan menuntut ilmu.

Tugas pengajar amatlah berat. Menyampaikan ilmu kepada murid-muridnya dengan berbagai karakter yang harus mereka hadapi. Maka jangan menambah beban mereka dengan buruknya perlakuan kita kepada mereka.

Jika ada orangtua biologis, maka guru atau pengajar dapat disebut sebagai orangtua ideologis. Mereka juga tempat penghormatan kita. Orangtua biologis menjadi wasilah Allah dalam memberikan kehidupan kepada kita. Sedangkan orangtua ideologis menjadi wasilah Allah dalam mengeluarkan dan mengentas kita dari kejahilan. Pahamilah bahwa apa yang mereka sampaikan kepada kita adalah sesuatu yang agung, yaitu ilmu. 

Wallaahu Ta’ala A’lam bis Shawab.

Penulis: Rohmah Romadhan

Pembimbing: Ustadz Khairul Ahsan, Lc.

Referensi:

  • Mukhtashar Hilyah Thalibul ‘Ilm. Muhammad bin Fahad bin Ibrahim. Riyadh: Muqorror Jami’ah Islamiyyah.
  • Jami’ Bayanil ‘Ilm wa Fadhlihi. Yusuf bin Abdil-barr. Riyadh: Daar Ibnul Jauzi.
  • Tadribur Rawi. Jalaluddin Abdur Rahman Abi Bakr As-Suyuthui. Kairo: Daarul Ittiba’
  • Khulashah Ta’dhimil ‘Ilm. Shalih bin Abdillah bin Hamad Al-‘Ushaimi. Riyadh: Muqorror Jami’ah Islamiyyah.
  • Jami’ AlAkhlakur Rawi wa Adaabus Sami’. Abu Bakar bin Ahmad bin Ali Al-Khatib Al-Baghdadi. Beirut: Muassasah Risalah.

Kategori: Akhlak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *