بسم الله الرحمان الرحيم

Bagian Terakhir: Penuntut Ilmu Abadi

Sampailah kita pada bagian terakhir pembahasan materi “Akhlak Dalam Menuntut Ilmu”. Melihat sub-judulnya, sepertinya mengerikan sekali, ya. Membawa-bawa kata abadi. Yang dimaksudkan abadi di sini adalah selama hayat dikandung badan. Selama masih hidup. Selama masih menghela nafas. Seperti telah disampaikan pada artikel pertama, bahwa setiap muslim wajib menuntut ilmu. Maka sampai kapanpun juga, seorang muslim tetaplah penuntut ilmu.

Sebagai seorang penuntut ilmu, maka wajib juga baginya untuk menyampaikan ilmunya. Seperti sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari Abdullah bin ‘Amr:

((بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً))

 “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”[1]

Juga, kembali menukil doa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam di artikel sebelumnya, dari Zaid bin Tsabit:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا، فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ، فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْه وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ

“Semoga Allah mencerahkan (menjadikan bercahaya) wajah orang yang mendengar perkataanku (haditsku) kemudian ia menghafalnya dan menyampaikannya (kepada orang lain). Betapa banyak orang yang menyandang ilmu tetapi tidak memahaminya, dan betapa banyak orang yang memiliki ilmu menyampaikan kepada orang yang lebih bisa memahami ilmu tersebut.”[2]

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذۡ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهُۥ لِلنَّاسِ وَلَا تَكۡتُمُونَهُ… ١٨٧

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,”[3]

Dan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dari Abu Hurairah:

((مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ عَلِمَهُ ثُمَّ كَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ القِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ))

“Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu yang dia mengetahuinya, namun dia menyembunyikannya, maka dia akan diberi tali kekang dari neraka pada hari kiamat”[4]

Terdapat jelas sekali larangan menyembunyikan ilmu dan kewajiban untuk menyampaikannya. Menyembunyikan ilmu menyelisihi perjanjian ulama dengan Allah Subhanahu wa ta’ala. Imam Adz-Dzahabi memasukkan perbuatan menyembunyikan ilmu dalam kitabnya Al-Kabair dalam urutan dosa besar ke 38. Karena pelakunya akan mendapat laknat Allah.

Menyembunyikan ilmu adalah sifat ahli kitab, yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sebagaimana mereka telah menyembunyikan kebenaran akan diutusnya seorang Nabi terakhir, Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Jika menyampaikan ilmu adalah kewajiban, maka tentu dalam menyampaikan ilmu juga ada tata caranya. Yang paling penting adalah, konsisten dalam menyampaikan al-haq. Menyadari bahwa dalam menyampaikan ilmu kita mengemban amanah ilmiyyah. Maka jujur dalam menyampaikan ilmu adalah suatu kewajiban. Bagaimanapun konsekuensinya, kebenaran tetap harus disampaikan.

Kemudian, menyadari kapasitas diri dalam menjawab pertanyaan. Tidak terburu-buru menjawab pertanyaan kecuali setelah memahami soal dari sang penanya. Dan tidak boleh ragu mengatakan “tidak tahu” pada perkara yang memang belum diketahui. Umar bin Khattab radhiallaahu ‘anhu berkata, “Ilmu itu ada tiga, segala sesuatu yang bersumber dari Al-qur’an, segala sesuatu yang bersumber dari sunnah Nabi, dan perkataan ‘aku tidak tahu’”. Berkata “aku tidak tahu” bukanlah kebodohan. Ucapan itu justru merupakan tanda keilmuan. Ilmu untuk senantiasa menjaga sang penanya dari jatuhnya ia kepada kesesatan karena jawaban yang didasari oleh rasa gengsi, bukan pengetahuan.

Senantiasa sabar dalam menyampaikan ilmu. Seperti telah disebutkan bahwa sabar dalam menuntut ilmu itu ada dua macam. Salah satunya adalah ketika menyampaikan ilmu. Yakni sabar dalam memahamkan ilmu kepada orang lain.

Demikianlah, pembahasan tentang keutamaan-keutamaan penuntut ilmu, insyaaAllah akan berlanjut dalam artikel setelah ini.

Wallaahu Ta’ala a’lam bis shawab.

Penulis: Rohmah Romadhan

Pembimbing: Ustadz Khairul Ahsan, Lc.

Referensi:

  • Mukhtashar Hilyah Thalibul ‘Ilm. Muhammad bin Fahad bin Ibrahim. Riyadh: Muqorror Jami’ah Islamiyyah.
  • Khulashah Ta’dhimil ‘Ilm. Shalih bin Abdillah bin Hamad Al-‘Ushaimi. Riyadh: Muqorror Jami’ah Islamiyyah.
  • Jami’ Bayanil ‘Ilm wa Fadhlihi. Yusuf bin Abdil-barr. Riyadh: Daar Ibnul Jauzi.
  • Shahih Bukhari. Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Al-Bukhari. Mesir: Daarul Ilmiyyah.
  • Sunan Abu Daud. Abu Daud Sulaiman bin Asy’ats. Beirut: Maktabah Al-‘Ashriyyah
  • Sunan Tirmidzy. Muhammad bin Isa At-Tirmidzy. Beirut: Daarul Gharbi Al-Islami.
  • Al-Kabair. Syamsuddin Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad Adz-Dzahabi. Beirut: Daarun Nudwah Al-Jadiidah.

[1] H.R. Bukhari no. 3461 dan Tirmidzy no. 2669

[2] H.R. Abi Daud no. 3660

[3] Ali Imran:187

[4] H. R Tirmidzy no. 2649. Dishahihkan oleh Albani

Kategori: Akhlak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *