Al-Adaa`, Al-Qadhaa`, dan Al-I’aadah (1)

Bismillah wal-hamdu lillah, wash-shalaatu was-salaamu ‘ala Rasulillah . Amma ba’du.

  Dalam kesempatan ini, penulis akan melanjutkan pembahasan materi ushul fiqh pada kesempatan yang lalu masih seputar hukum wadh’i. Berdasarkan pemaparan yang telah dijelaskan sebelumnya, hukum wadh’i memiliki banyak jenis, dan In Syaa Allah artikel kali ini akan membahas Al-Adaa`, Al-Qadhaa`, dan Al-I’aadah.

Secara umum, tiga sifat ini (al-adaa`, al-qadha`, dan al-i’adah) merupakan sifat dari pelaksanaan suatu ibadah yang waktu pelaksanaannya ditetapkan oleh syari’at, baik berupa wajib maupun sunnah.

Definisi Al-Adaa`

    Secara etimologi, kata al-adaa’ dalam bahasa Arab merupakan bentuk mashdar dari kata kerja `addaa-yu`addiy yang artinya menyampaikan atau menunaikan[1]. Dalam kamus lain disebutkan artinya menyampaikan suatu hal kepada hal lain atau sampainya suatu hal karena kemauannya sendiri[2].

Adapun secara terminologi, beberapa ulama ushul fiqih mengartikan al-adaa` sebagai pelaksanaan ibadah sesuai pada waktunya yang telah ditetapkan oleh syari’at[3], seperti melaksanakan shalat maghrib pada waktu antara terbenamnya matahari dan hilangnya mega merah dari ufuk.

Definisi lain diungkapkan oleh Imam Asy-Syinqithi[4], bahwa al-adaa` ialah menunaikan suatu ibadah sesuai waktunya yang telah ditetapkan oleh syari’at berdasarkan maslahat yang ada padanya[5]. Jadi, al-adaa` adalah perbuatan (ibadah) yang dilakukan terlebih dahulu sesuai waktunya yang telah ditetapkan oleh syari’at.    

Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat di simpulkan dan di perjelas pengecualian-pengecualiannya untuk memudahkan, yaitu sebagai berikut:

Kata “dilakukan terlebih dahulu” di kecualikan darinya al-i’aadah karena al-i’aadah dilakukan pada kesempatan selanjutnya karena tidak bisa dilakukan di awal terlebih dahulu.

Kata “sesuai waktunya” di kecualikan darinya 2 hal,yaitu:

1. Al-qadha’  karena ia dilakukan di luar waktu yang telah ditetapkan.

 2. Ibadah yang tidak terikat oleh waktu, seperti iman dan amar ma’ruf nahi munkar, karena ia tidak bisa disifati baik oleh al-adaa`, al-qadha`, maupun al-i’adah.

Kata “secara syari’at” di kecualikan darinya perbuatan yang terikat oleh waktu secara akal, seperti melunasi hutang pada waktu penagihannya.

Definisi Al-Qadha`

  Adapun kata al-qadha` secara bahasa artinya menghukumi atau menyelesaikan, yang di ambil dari kata kerja qadhaa-yaqdhii. Dapat diartikan pula mengosongkan, menyelesaikan, atau terlewat[6].

Kemudian secara istilah, al-qadha` adalah pelaksanaan suatu ibadah setelah lewat waktunya yang telah ditetapkan syari’at, dalam definisi lain terdapat tambahan secara mutlak. Definisi lain yang disebutkan oleh ulama di antaranya suatu perbuatan yang dilakukan setelah waktu yang ditetapkan untuk mengejar ketertinggalannya dari suatu kewajiban.

Jika kita melihat definisinya secara dzhahir, dapat di simpulkan bahwa yang termasuk al-qadha adalah tiap shalat fardhu, shalat sunnah, dan puasa wajib maupun sunnah, yang dilaksanakan setelah habis waktunya, karena adanya udzur ataupun tanpa udzur. Udzur ini mencakup yang bisa dilaksanakan pada waktu itu, misalnya qadha-nya seorang musafir atau orang sakit dalam puasa, dan udzur yang tidak bisa dilaksanakan pada waktu itu, seperti qadha-nya orang yang haid atau nifas, dan orang yang pingsan atau mabuk.

Sebagai penjelas definisi ini, akan dipaparkan pengecualian-pengecualian dari tiap bagiannya.

Kalimat “suatu ibadah yang dilakukan setelah lewat waktunya yang telah ditetapkan syari’at” dikecualikan darinya al-adaa` dan al-i’aadah, karena keduanya masih dilaksanakan pada waktunya yang  telah ditetapkan oleh syari’at.

Kata “secara mutlak” yang dimaksud adalah bahwa qadha dilakukan pada tiap ibadah jika terlewat dari waktunya, baik karena ada udzur maupun tanpa udzur, baik udzur yang sebenarnya mampu dilaksanakan maupun udzur yang memang tidak bisa dilaksanakan pada waktu itu.

Contoh dari qadha` adalah seseorang yang melaksanakan shalat subuh setelah terbit matahari karena ketiduran, karena terdapat hadits bahwa Rasulullah ﷺ bersabda ketika beliau tertidur dan terlambat shalat subuh,

«مَنْ نَسِيَ الصَّلَاةَ فَلْيُصَلِّهَا إِذَا ذَكَرَهَا»

“Barangsiapa yang lupa menunaikan shalat, maka hendaklah ia shalat setelah mengingatnya.”[7]

Antara Al-Adaa` dan Al-Qadha

Imam Az-Zarkasyi[8] berkata dalam kitabnya Al-Bahr Al-Muhiith bahwasanya tidak ada perbedaan antara penamaan al-adaa` dan al-qadha`. Perbedaan yang ada hanyalah dalam istilah saja, maka sah-sah saja jika kita katakan al-adaa` adalah al-qadha` dan al-qadha` adalah al-adaa`.

Korelasi keduanya berkaitan dengan hukum berniat dengannya dalam ibadah. Menurut beliau, seseorang boleh berniat dengan niat al-adaa` ketika melaksanakan suatu qadha`.

Kemudian disebutkan pula bahwa lafazh al-adaa` dan al-qadha` bisa berkumpul dalam ibadah yang sama seperti dalam shalat fardhu. Hal ini karena shalat dapat dilaksanakan dengan cara adaa` (pada waktunya) dan qadha` (jika telah habis waktunya).

Begitu pula lafazh adaa` bisa terpisah dari qadha. Misalnya dalam shalat Jum’at. Shalat Jum’at dilaksanakan secara adaa` pada waktunya, dan tidak bisa di qadha` jika terlewat waktunya, karena akan menjadi shalat dzuhur.

Lafazh qadha` juga kadang terpisah dari lafazh adaa`. Misalnya dalam puasanya wanita haid, karena melaksanakan puasa secara adaa` baginya hukumnya adalah “haram”, adapun hukum melaksanakan puasa secara qadha` baginya adalah “wajib”[9].

Definisi Al-I’aadah

  Secara bahasa, al-i’aadah merupakan bentuk mashdar dari kata kerja a’aada-yu’iidu yang artinya mengulangi sesuatu untuk kedua kalinya[10], dikatakan pula bagi seseorang yang mengulangi shalatnya dan perkataannya:

أعاد الصلاة والحديث.

Sedangkan secara istilah, beberapa ulama menyebutkan bahwa al-i’aadah merupakan bagian dari al-`adaa, yaitu korelasi antara keduanya adalah seputar lafadz umum dan khusus, karena definisi al-adaa` menurut mereka adalah suatu perbuatan yang dilakukan secara mutlak pada waktunya, baik dilakukan pertama kali maupun kedua kalinya. Sehingga setiap al-i’aadah merupakan al-adaa`, tapi tidak semua al-adaa` adalah al-i’aadah.

Kemudian ada perselisihan di kalangan ulama ushul fiqh, apakah al-i’aadah adalah pengulangan suatu ibadah karena adanya hal yang merusak ibadah tersebut, ataukah mencakup pula pengulangan suatu ibadah meskipun ibadah tersebut telah sempurna?

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa al-i’aadah adalah perbuatan yang dilakukan pada kali kedua, baik karena adanya hal yang merusak ibadah tersebut maupun dilakukan meski ibadah itu telah sempurna. Contoh dari ibadah yang harus di ulang karena rusak adalah seseorang yang melakukan shalat dan meninggalkan rukun ataupun syaratnya, seperti tidak takbiratul ihram dan tidak menutup aurat. Adapun contoh pengulangan suatu ibadah meskipun telah sempurna adalah seseorang yang telah shalat fardhu secara munfarid (sendiri) lalu shalat fardhu lagi bersama jama’ah[11].

Dalam catatan kaki kitab Raudhatun Nazhir, Ibnu Badran[12]menyebutkan tambahan pada definisinya, yaitu setelah Ibnu Qudamah[13] menyebutkan definisi al-i’aadah adalah melakukan sesuatu untuk kedua kalinya, terdapat tambahan bahwa beberapa ulama mempersempit definisi ini dengan meyebutkan bahwa al-i’aadah adalah pelaksanaan suatu ibadah yang telah ditetapkan waktunya oleh syari’at untuk kedua kalinya, karena ada kekurangan pada kali pertamanya. Disebutkan bahwa kekurangan ini bisa terjadi seperti dalam kondisi yang telah dijabarkan di atas, yaitu kekurangan dalam syarat atau rukun ibadah, atau kekurangan karena ingin mendapat suatu keutamaan, seperti dalam shalat berjamaah.

Di antara perbedaan antara al-qadha` dan al-i’aadah adalah bahwa al-i’aadah ini meskipun dilakukan pada kali kedua, akan tetapi masih dalam waktu yang ditetapkan oleh syari’at, sehingga berbeda dengan qadha dalam definisinya.

Demikian bagian pertama pembahasan definisi al-adaa`, al-qadha`,danal-i’aadah. In Syaa Allahpembahasan berikutnya masih seputar lanjutan dari pembahasan yang sama.

Wallahu a’lam bish-shawaab.

Penulis: Zaky Hanifah

Pembimbing: Ustaz Khalid Saifullah, Lc., M.A.



[1] Lisanul ‘Arab (14/26).

[2] Maqayiis Al-Lughah (1/74)

[3] Al-Bahr Al-Muhiith (2/40)

[4] Beliau adalah Muhammad Al-Amin bin Muhamad Al-Mukhtar bin Abdul Qadir Al-Jankiy Asy-Syinqithy. Dilahirkan pada tahun 1325 H di Mauritania dan pernah menjadi qadhi di sana. Beliau termasuk pengajar awal di Universitas Islam Madinah, dan wafat pada tahun 1393 H di Makkah setelah melaksanakan haji. Di antara kitab beliau yang terkenal adalah Adhwa`ul Bayaan dalam ilmu tafsir. Beliau bermadzhab Maliki.

[5] Mudzakkirah fii Ushul Al-Fiqh (1/56).

[6] Ash-Shihhah (6/2464).

[7] HR. Muslim No. 680 (1/471) dalam Bab Meng-qadha Shalat-Shalat yang Terlewat.

[8] Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Bahadir bin Abdullah Az-Zarkasyi, digelari Badr ad-Diin. Seorang ulama fiqih dan ushul fiqh bermadzhab Syafi’i. Lahir di Kairo tahun 745 H dan wafat di Mesir tahun 794 H. Di antara kitabnya yang terkenal adalah Al-Burhan fii ‘Uluumil Qur’an dalam ilmu Ulumul Qur’an dan Al-Bahr Al-Muhiith dalam Ushul Fiqh.

[9] Al-Mudzakkirah (1/56).

[10] Al-Mishbah Al-Muniir (2/436).

[11] Al-Bahr Al-Muhiith (2/41).

[12] Beliau adalah Abdyl Qadir bin Ahmad bin Musthafa bin Abdirrahim bin Muhammad Badran, seorang ahli fikih bermadzhab Hanbali dan ahli bahasa serta sejarah. Lahir pada tahun 1280 H di Damaskus, dan wafat di sana pula pada tahun 1346 H. Di antara karyanya yang terkenal adalah kitab Nuzhatun Nazhir Syarh Raudhatin Nazhir.

[13] Beliau adalah Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Qudamah Al-Maqdisiy, yang bergelar Muwaffaq ad-Diin. Beliau merupakan ulama besar dalam madzhab Hanbali yang dilahirkan pada tahun 541 H di kota Jamma’in di Nablus (bagian dari Palestina sekarang) dan wafat pada tahun 620 H di Damaskus. Di antara karya beliau yang terkenal adalah Al-Mughni dalam ilmu fiqih.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *