بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، الصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد…

Artikel ini adalah bagian ke-3 dari bab i’rab dan bina`, yaitu i’rab taqdiri.

Bag. III: I’rab Taqdiri (الإعراب التقديري)

              Pada dasarnya, suatu kata dii’rab menggunakan ‘alamat ‘asliyah (dhammah, fathah, kasrah, dan sukun). Namun di sebagian isim dan fi’il, ‘alamat tersebut tidak bisa dilafalkan. Inilah yang disebut dengan i’rab taqdiri.

  • I’rab Taqdiri Pada Isim

Terdapat 3 macam isim yang i’rabnya menggunakan i’rab taqdiri, yaitu; isim maqshur, isim manqus, serta isim yang diidhafahkan pada ya` mutakallim.

  1. Isim Maqshur(الاسم المقصور)

Yaitu isim yang huruf akhirnya adalah alif lazimah dan huruf sebelum alif berharakat fathah.

Contoh : الفَتَى، الأفْعَى، العَصَا

Harakat-harakat yang tidak terbaca pada akhir isim maqshur adalah dhammah, fathah dan kasrah.

Contoh :قَتَلَ الفَتَى الأَفْعَى بِالعَصَا

Kata (الفتى) pada contoh di atas berkedudukan sebagai fa’il yang marfu’ dengan dhammah, sedangkan (الأفعى) adalah maf’ul bih manshub dengan fathah dan (العصا) merupakan isim majrur yang berharakat akhir kasrah. Penyebab tidak dapat dibacanya harakat-harakat tersebut pada akhir setiap kata adalah ta’adzur (التعذر) yaitu karena alif maqshurah pada dasarnya memang tidak bisa menerima harakat.

  • Isim Manqus(الاسم المنقوص)

Yaitu isim yang huruf akhirnya adalah ya` lazimah dan huruf sebelum alif berharakat kasrah.

Contoh :القَاضِي، المَاشِي، الجَانِي

Harakat yang tidak dilafalkan pada akhir isim manqus adalah dhammah dan kasrah. Sedangkan jika isim manqhus berharakat fathah, maka ia dii’rab seperti biasa (i’rab dzahir/i’rab yang dapat dilafalkan).

Contoh : سَأَلَ القَاضِيْ المَاشِيَ عَنِ الجَانِيْ

Pada contoh di atas, kata (القاضي) berkedudukan sebagai fa’il yang marfu’ dengan dhammah, sedangkan (الماشي) adalah maf’ul bih yang berharakat akhir fathah, dan (الجاني) merupakan isim majrur yang berharakat kasrah.

Sebab tidak dapat dilafalkannya harakat dhammah dan kasrah pada dua kata di atas adalah tsiqal (الثقل) yaitu sulitnya melafalkan dhammah dan fathah pada  ya` yang huruf sebelumnya berharakat kasrah.

Nb: jika isim manqus yang berharakat akhir dhammah dan kasrah tidak berawalan dengan (ال), maka huruf ya` dihilangkan.

Contoh : ذَهَبَ مَاشٍ إِلَى قَاضٍ

  • Isim yang Diidhafahkan Pada Ya` Mutakallim(الاسم المضاف إلى ياء المتكلم)

Yaitu isim yang bersambung denga huruf ya` yang mengindikasikan kepemilikan.

Contoh : جَدِّيْ، أُستَاذِيْ، زُمَلاَئِيْ

Harakat-harakat yang tidak terbaca pada akhir isim yang diidhafahkan pada ya` mutakallim adalah dhammah, fathah dan kasrah.

Contoh : دَعَا جَدِّيْ أُستَاذِيْ مَعَ زُمَلاَئِيْ

Pada kalimat di atas, kata (جدي) adalah fa’il yang berharakat dhammah, kata (أستاذي) merupakan maf’ul bih yang berharakat fathah, dan (زملائي) merupakan isim majrur yang berharakat kasrah.

Sebab tidak dapat dilafalkannya harakat-harakat tersebut adalah munasabah (المناسبة), yaitu penyesuaian harakat dengan huruf ya`.

  • I’rab Taqdiri Pada Fi’il
  • Fi’il Mudhari’ Mu’tal Akhir bil Alif (فعل المضارع المعتل الآخر بالألف)

Contoh : يَخْشَى، يَسعَى، يَنْسَى

Harakat yang tidak dilafalkan pada akhir fi’il mudhari’ mu’tal akhir bil alif adalah dhammah dan fathah.

Contoh :لَنْ يَسْعَى الكَسُوْلُ، يَخْشَى الوَلَدُالثُّعْبَانَ

  • Fi’il Mudhari’ Mu’tal Akhir bil Wawu & Ya` (فعل المضارع المعتل الآخربالواو والياء)

Contoh : يَدعُو، يَنْمُو

Harakat yang tidak dilafalkan pada akhir fi’il mudhari’ mu’tal akhir bil wawu & ya` adalah dhammah.

Islah Lughah

Makna Yang sering digunakan Ishlah Lughah
Aku tidak menyangka لاَ أَظُنُّ لَمْ أَكُنْ أَظُنُّ
Ada tambahan lagi? هَلْ يُوجَدُ الزِّيَادَة؟ هَل مِنْ مَزِيْدٍ؟
Coba saja kalau mau جَرِّبْ إِذَا تُرِيْدُ ذُقْ إِنْ شِئْتَ

Penulis : Ainun Nur Hasanah

Pembimbing : Ust. Ahyat Habibi, Bcl.

Maraji’

  • Al-Lughah al-Arabiyyah (Al-Fashlu Ad-Diraasy Al-Awwal), Qism Ta’limi Zaad Al-Ilmiyyah.
  • At Tuhfatu As Saniyyah bi Syarhi Al Muqaddimati Al Ajurrumiyyah, Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid.
  • Taisiir Qawaa’id an-Nahwi lil Mubtadi`iin li Fadhilati as-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Musthafa Mahmud al-Azhari.
Kategori: Nahwu

1 Komentar

جد فطر بلقس · 20 November 2021 pada 12:33 PM

Apa i’rab dari الثلث ?

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *