Alhamdulillah. Kita memuji Allah ﷻ atas segala kuasa dan ciptaan-Nya, Ia-lah yang mengatur semesta beserta isinya, yang memberikan makhluk ciptaan-Nya dengan takdir sebaik-baiknya.

Shalawat dan salam kepada utusan-Nya yang mulia ﷺ, penutup para nabi dan rasul-Nya, yang telah menjelaskan Al-Qur`an kepada umat manusia dengan penuh hikmah dan memberikan teladan yang dapat diikuti dan ditiru selama hidupnya.

Beberapa artikel yang lalu kita telah membahas mengenai sebab-sebab khilaf di kalangan ulama. Telah berlalu lima sebab dari tujuh sebab yang telah disebutkan secara umum pada artikel sebelumnya. Berikut adalah sebab keenam dan sebab terakhir dari pembahasan ini:

3.6. Ikhtilaaf bisababi Ta’aarudh Al-Adillah[1]

Ta’arudh adillah ialah bertemunya dua dalil yang saling bertentangan satu sama lain atau konsekuensi satu dalil menyelisihi konsekuensi dalil lainnya. Pertentangan ini berdasarkan pandangan dari seorang mujtahid, bukan berdasarkan dalilnya itu sendiri. Karena pada asalnya dalil berupa nash tidaklah saling menyelisihi satu sama lain.

Untuk perkara yang sekilas terlihat dalil-dalil yang saling bertentangan di dalamnya, maka kita harus meninjau hal-hal yang tersembunyi dari pandangan seorang mujtahid. Bisa jadi di antara kedua dalil tersebut salah satunya memiliki sanad yang lemah sehingga lemah pula pendalilannya akan tetapi mujtahid tersebut luput darinya. Juga terdapat kemungkinan bahwa dalil tersebut mansukh[2] dan mujtahid tersebut belum mengetahuinya kemudian menetapkan bahwa kedua dalil tersebut ta’arudh.

Ta’arudh bisa terjadi antar dalil-dalil naqli seperti Al-Qur`an, Sunnah, dan Ijma’. Atau antar dalil-dalil aqli seperti qiyas, istishab al-haal, maslahah mursalah, atau antar dalil naqli dan dalil aqli. Jika seorang mujtahid berpendapat bahwa kedua dalil saling bertentangan, kita wajib untuk menolak pendapat tersebut dan menganalisanya terlebih dahulu karena pada hakikatnya tidak ada pertentangan di antara dalil-dalil yang ada.

Para ulama berselisih pendapat mengenai metode penyelesaian ta’arudh. Jumhur ulama berpendapat bahwa metode pertama ialah dengan menggabungkan kedua dalil tersebut jika memungkinkan untuk digabungkan. Seperti mengkhususkan yang umum, taqyiid lilmutlaq, bayaan lilmujmal, dan semisalnya.

Jika tidak memungkinkan untuk digabungkan, maka menggunakan metode tarjiih yakni menguatkan salah satu dari kedua dalil yang saling bertentangan. Penguatan ini bisa ditinjau dari segi sanad atau dari segi matan. Maka yang memiliki sanad mutawaatir didahulukan dibandingkan yang bersanad ahaad., hadits shahih didahulukan dari hadits hasan dan dalil-dalil berupa larangan didahulukan dibanding dalil berupa perintah.

Dan jika tidak memungkinkan untuk digabungkan, tidak pula memungkinkan untuk tarjiih maka menggunakan metode naskh dengan syarat mengetahui dalil yang lebih awal dan dalil yang terakhir kemunculannya. Maka dihukumi bahwa dalil yang terbaru sebagai naasikh (yang menghapuskan) dan dalil yang lebih dulu ada sebagai mansukh (yang dihapuskan).

Apabila seluruh metode di atas tidak bisa dilakukan; tidak bisa digabungkan, tidak pula di-tarjih dan tidak di-naskh, maka tawaqquf (tidak memberikan hukum apapun) atau takhyiir (memilih salah satu).

Sedangkan Hanafiyyah[3]berpendapat bahwa metode pertama yang dilakukan jika mendapati dua dalil yang bertentangan ialah naskh jika diketahui mana dalil yang lebih dulu dan dalil yang terbaru, kemudian jika tidak memungkinkan maka menggunakan metode tarjih, jika tidak memungkinkan maka menempuh metode jama’, jika tidak memungkinkan seluruhnya maka tidak memberikan hukum apapun.

Perbedaan urutan metode ini menyebabkan banyak khilaf dalam permasalahan fiqih furu’. Di antaranya:

Ikhtilaf dari kalangan fuqaha` (ahli fiqih) bagi seseorang yang datang ke masjid dan ia telah melaksanakan sholat Sunnah dua rakaat sebelum subuh di rumahnya. Apakah ketika memasuki masjid ia sholat lagi (sholat tahiyatul masjid) atau tidak?

Imam Syafi’i berpendapat bahwa ia melakukan sholat lagi yakni sholat tahiyatul masjid atau sholat Sunnah mutlak.

Adapun Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ia tidak diperkenankan sholat lagi.

Sebab perbedaan pendapat ini didasari oleh sabda Nabi ﷺ yang merupakan dalil umum:

و إذا جاء أحدكم المسجد فليركع ركعتين

Jika kamu mendatangi masjid maka sholatlah dua rakaat”

Dengan sabda Nabi ﷺ yang juga merupakan dalil umum:

لا صلاة بعد الفجر إلا ركعتي الصبح

Tidak ada sholat setelah fajr kecuali dua rakaat sebelum subuh”

3.7. Khilaaf bisababi Al-Musthalahaat wa Al-Mabaadi` Al-Fiqhiyyah[4]

Para ulama memiliki istilah dengan definisi yang berbeda-beda. Imam Abu Hanifah misalnya, beliau membedakan antara istilah fardhu dan wajib. Beliau juga memiliki definisi khusus untuk bathil yang berbeda dengan definisi fasid.

Jika suatu perintah ditetapkan dengan dalil qath’i seperti Al-Qur`an atau Sunnah mutawatir disebut fardhu misalnya sholat lima waktu, adapun jika ditetapkan dengan dalil zhanni seperti khabar ahad, qiyas, dan sebagainya maka disebut wajib misalnya adalah sholat witir.

Perbedaan istilah-istilah ini berdampak ke perbedaan pendapat dalam permasalahan fiqih furu’[5].

Jika seseorang berkata: ath-thalaq waajibun ‘alayya (talak wajib atasku) maka talak tersebut telah jatuh kepada istrinya berdasarkan dalil ‘urf yakni kebiasaan penggunaan kata tersebut dalam masyarakat. Dalil ‘urf merupakan dalil zhanni oleh karena itu menggunakan istilah waajib.

Adapun jika seseorang berkata: ath-thalaq fardhun ‘alayya (talak wajib atasku) maka talak tersebut tidak sah dikarenkan dalil ‘urf merupakan dalil zhanni sehingga istilah yang harusnya digunakan adalah waajib bukan fardhu.

Poin-poin yang telah kita sebutkan di atas merupakan beberapa sebab-sebab pokok perbedaan para ulama dalam permasalahan fiqih furu’. Sebab-sebab tersebut tidaklah terbatas pada jumlah tertentu, terlebih dalam pembahasan ini saja, dikarenakan zaman yang terus berkembang dan permasalahan-permasalahan fiqih kontemporer akan terus ada.

Jika kita menelisik pembahasan mengenai sebab-sebab khilaf dan mendalaminya, kita akan mendapati bahwa para ulama fiqih tidaklah berbeda pendapat dikarenakan dorongan hawa nafsu mereka; seperti ingin menjadi berbeda, ingin membuat pemikiran baru atau taklid buta terhadap mazhab tertentu, akan tetapi perbedaan ini lahir dari cara pandang yang berbeda dan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan hukum yang berbeda pula.

Perbedaan pendapat di kalangan para ulama dalam permasalahan fiqih furu’ seperti yang disepakati oleh para fuqaha: tak dapat terelakkan. Dikarenakan nash-nash asli (Al-Qur`an dan Sunnah) umumnya membawa banyak makna, juga nash-nash yang ada tidak menjelaskan secara rinci mengenai hukum setiap permasalahan, dan dikarenakan nash terbatas sedangkan permasalahan-permasalahan yang ada tidaklah terbatas, maka tak pelak menempuh metode qiyas, dan meneliti alasan dari sebuah hukum, meninjau tujuan ditetapkannya sebuah syari’at dan menerapkannya dalam permasalahan-permasalahan fiqih kontemporer adalah suatu keharusan.

Dalam hal ini para ulama memiliki pendapat dan pemahaman yang beragam, mereka memiliki pandangan sendiri mengenai yang paling kuat dari seluruh kemungkinan yang menyebabkan perbedaan penetapan hukum dalam suatu masalah. Namun, mereka semua menginginkan kebenaran dan menggali kebenaran tersebut. Dan kapanpun terdapat ijtihad dalam suatu hukum maka pasti akan berbeda kesimpulan-kesimpulannya (dari ijtihad tersebut).

Semoga kita semua diberikan hati yang lapang, kesabaran, dan keikhlasan untuk menemukan dan menerima kebenaran. Aamiin ya mujiib as-saailiin.

Penulis : Millati Aulia Hasanah

Pembimbing : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., MA.

Referensi:

‘Abdul Wahhab ‘Abdu As-Salaam. Atsaru Al-Lughah fi Ikhtilaafi Al-Mujtahidiin.

Abu Al-Hajjaj Yusuf bin Daunas Al-Fandlawy. Tadziibi Al-Masaalikfi Nushrati Madzhab Al-Imaam Maalik.

Ahmad bin ‘Abdil Halim Ibnu Taimiyah. Raf’u Al-Malaam ‘an Al-Aimmati Al-A’laam. Riyadh: Ar-Riaasah Al-‘Ammah li Diraasat Al-Buhuuts Al-‘Ilmiyyah.

Dr. Musthafa Sa’iid Al-Khan. Atsar Al-Khilaaf fi Al-Qawaa’id Al-Ushuuliyyah fi Al-Ikhtilaaf Al-Fuqahaa`.

Jamaalu Ad-Diin Abi Muhammad ‘Abdurrahiim bin Al-Hasan. At-Tamhiid fi Takhriij Al-Furuu’ ‘ala Al-Ushuul. Beirut: Al-Muassasah Ar-Risaalah.

Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd Al-Hafiid. Bidaayatu Al-Mujtahid wa Nihaayatu Al-Muqtashid.

Saalim bin ‘Ali bin Muhammad Ats-Tsaqafy. Asbaab Ikhtilaaf Al-Fuqahaa`.

Syaikh ‘Ali Al-Khafiif. Asbaab Ikhtilaaf Al-Fuqahaa`.


[1] Ikhtilaf Disebabkan Ta’arudh antar Dalil

[2] Dihapuskan dan diganti dengan yang lain (naasikh)

[3] Pengikut mazhab Imam Abu Hanifah

[4] Ikhtilaf dalam Istilah Fiqih dan Ushul

[5] At-Tamhid fi Takhriiji Al-Furuu’ ‘ala Al-Ushuul hal.58

Kategori: Fiqih

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *