Alhamdulillah. Segala pujian milik Allah ﷻ yang telah menurunkan kitab yang mulia bagi para hamba-Nya, yang menjadi petunjuk bagi manusia hingga berada di jalan yang lurus.

Shalawat dan salam kepada sayyidil mursalin, pemimpin orang-orang yang bertakwa, Nabi Muhammad ﷺ yang telah menunaikan amanahnya dan yang telah menjelaskan kepada para manusia mengenai kitab yang mulia.

Pada kesempatan ini kita masih membahas sebab-sebab terjadinya khilaf di kalangan ulama. Sebelumnya kita telah membahas 4 sebab khilaf yang disebutkan dalam kitab Asbaab Ikhtilaf Al-Fuqahaa fi Al-Furuu’ Al-Fiqhiyyah. Berikut adalah sebab kelima:

3.5. Ikhtilaf fiima Sakata As-Syar’u ‘anhu wa lam Yarid Nash bihukmihi[1]

Segala permasalahan fiqih furu’ yang tidak ditegaskan hukumnya secara tekstual, maka cara mengetahuinya ialah dengan metode ijtihad. Dan segala sesuatu yang diperoleh dari metode ijtihad maka kemungkinan terjadinya khilaf tidaklah terelakkan. Hal ini disebabkan karena bertingkatnya pemahaman para mujtahid, perbedaan cara pandang, dan juga kemampuan mereka dalam menimbang suatu permasalahan.

Ijtihad dalam perkara yang tidak memiliki dalil khusus atasnya dapat menggunakan dalil qiyas atau dalil umum yang berasal dari nash syar’i seperti maslahah mursalah[2] dan kaidah-kaidah umum, atau menetapkan dengan dalil ‘aqli[3] yang mu’tabar[4] seperti istishabul hal[5], baraa`ah ashliyah[6] dan semisalnya.

Salah satu contoh perbedaan pendapat para ulama yang disebabkan oleh ketiadaan dalil khusus ialah mengusap khuf yang berlubang:

Terdapat sekelompok ulama yang berpendapat bolehnya mengusap khuf yang berlubang (robek) meskipun dalam keadaan berlubang yang parah.

Imam Malik berpendapat bolehnya mengusap khuf yang berlubang jika lubangnya kecil.

Imam Abu Hanifah membatasi ukuran lubang maksimal tiga jari.

Imam Syafi’i berpendapat bahwa tidak boleh mengusap khuf jika di bagian depan khuf terdapat lubang yang membuat kaki menjadi terlihat meskipun lubang tersebut kecil.

Mengusap Khuf yang Berlubang
Boleh Tidak Boleh
Mutlak Jika lubangnya kecil (Imam Malik) Jika lubangnya kurang dari tiga jari (Imam Abu Hanifah) Mutlak (Imam Syafi’i)

Ibnu Rusyd berkata dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid bahwa sebab ikhtilaf ulama dalam masalah ini ialah perbedaan mereka dalam memandang perubahan tujuan dari mencuci ke mengusap. Seperti yang kita ketahui bahwa hukum asal mengenai tata cara berwudhu adalah mencuci anggota-anggota wudhu dengan air. Namun, terdapat hukum lain pada bagian membasuh kaki yakni mengusap khuf.

Mengapa perubahan tata cara tersebut terjadi?  Apakah dikarenakan mawdhi’u as-satr[7]yakni yang ditutupi oleh khuf berupa kaki atau dikarenakan mawdhi’u al-masyaqqah yakni kesulitan dalam melepas khuf?

Maka para ulama yang berpendapat bahwa inti dari permasalahan ini adalah mengenai tempat yang ditutupi, maka tidak membolehkan membasuh khuf yang berlubang. Sebab, jika tersingkap bagian dari kaki yang seharusnya ditutupi oleh khuf maka tujuan mengusap berpindah ke mencuci[8].

Sedangkan bagi yang berpendapat bahwa alasannya ialah masyaqqah atau kesulitan di dalamnya maka lubang yang terdapat pada khuf tidaklah dianggap suatu permasalahan selama wujudnya masih dinamakan khuf.

Bersuci untuk Bagian Kaki Pendapat Pertama Pendapat Kedua
Hukum asal Mencuci kaki Mencuci kaki
Jika menggunakan khuf Mengusap khuf (karena kaki tertutup khuf) Mengusap khuf (karena kesulitan jika harus melepasnya setiap bersuci)
Jika menggunakan khuf berlubang Mencuci kaki (karena kaki menjadi terlihat melalui lubang = tidak tertutup khuf) Mengusap khuf (karena kesulitan dalam melepaskan khuf masih ada meskipun khuf yang dipakai berlubang)

Ulama yang membedakan antara lubang yang kecil atau lubang yang besar dikarenakan khuf para sahabat baik dari muhajirin maupun anshar tidak terlepas dari lubang seperti halnya khuf manusia pada umumnya. Hal ini tentu akan menyulitkan sebagian orang jika khuf yang dikenakan haruslah khuf yang terbebas dari lubang.

Ibnu Rusyd berkata mengenai masalah ini[9]: ini adalah permasalahan yang maskuutun ‘anha[10]. Dapat disimpulkan bahwa hukum suatu masalah telah ditetapkan oleh Allah ﷻ dan oleh Nabi-Nya ﷺ, terlebih dalam masalah yang sering terjadi di masyarakat, niscaya beliau telah menjelaskannya karena Allah ﷻ berfirman:

﴿بالبينات و الزبر و أنزلنا إليك الذي لتبين للناس…﴾[11]

Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran agar kamu menerangkan kepada umat manusia…”

Referensi:

‘Abdul Wahhab ‘Abdu As-Salaam. Atsaru Al-Lughah fi Ikhtilaafi Al-Mujtahidiin.

Abu Al-Hajjaj Yusuf bin Daunas Al-Fandlawy. Tadziibi Al-Masaalikfi Nushrati Madzhab Al-Imaam Maalik.

Ahmad bin ‘Abdil Halim Ibnu Taimiyah. Raf’u Al-Malaam ‘an Al-Aimmati Al-A’laam. Riyadh: Ar-Riaasah Al-‘Ammah li Diraasat Al-Buhuuts Al-‘Ilmiyyah.

Dr. Musthafa Sa’iid Al-Khan. Atsar Al-Khilaaf fi Al-Qawaa’id Al-Ushuuliyyah fi Al-Ikhtilaaf Al-Fuqahaa`.

Jamaalu Ad-Diin Abi Muhammad ‘Abdurrahiim bin Al-Hasan. At-Tamhiid fi Takhriij Al-Furuu’ ‘ala Al-Ushuul. Beirut: Al-Muassasah Ar-Risaalah.

Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd Al-Hafiid. Bidaayatu Al-Mujtahid wa Nihaayatu Al-Muqtashid.

Saalim bin ‘Ali bin Muhammad Ats-Tsaqafy. Asbaab Ikhtilaaf Al-Fuqahaa`.

Syaikh ‘Ali Al-Khafiif. Asbaab Ikhtilaaf Al-Fuqahaa`.


[1] Ikhtilaf dalam Perkara yang Tidak Memiliki Nash Khusus

[2] Sesuatu yang syari’at/ ijma’ tidak menetapkan hukum atasnya tetapi hal tersebut penting untuk diketahui hukumnya demi kemaslahatan umum. Untuk lebih jelas bisa merujuk ke artikel Ushul Fiqih

[3] Dalil yang menggunakan rasionalitas berfikir. Dalil terbagi dua yakni dalil naqli dan dalil aqli. Dalil naqli didahulukan dibandingkan dalil ‘aqli.

[4] Yang dianggap

[5] Eksistensi hukum suatu masalah pada masa lalu tetaplah berlaku pada masa kini maupun yang akan datangdengan syarat tidak ada perubahan dalam masalah tersebut. Untuk lebih jelas bisa merujuk ke artikel Ushul Fiqih

[6] Terkadang disamakan dengan Istishabul Hal. Untuk lebih jelas bisa merujuk ke artikel Ushul Fiqih

[7] Tempat yang ditutupi

[8] Hukum asal dari bersuci untuk bagian kaki yakni mencucinya. Adapun jika kaki ditutupi oleh khuf maka bersuci untuk bagian kaki adalah dengan mengusap khuf (bagian atasnya/depannya). Pendapat lain mengatakan jika kaki ditutupi khuf, dikarenakan kesulitan yang ada jika bersuci harus melepas khuf terlebih dahulu, maka bersuci untuk bagian kaki ialah dengan mengusap khuf. Perbedaan dalam hal ini ialah sebab perubahan bersuci yang semula dengan mencuci menjadi mengusap. Apakah hal ini dikarenakan kaki yang tertutup khuf atau karena kaki yang tertutup khuf menyulitkan untuk dilepas setiap kali bersuci?

Penulis : Millati Aulia Hasanah

Pembimbing : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., MA.

[9] Bidayatul Mujtahid (1/20)

[10] Tidak memiliki dalil berupa nash khusus atasnya.

[11] Q.S. An-Nahl: 44

Kategori: Fiqih

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *