(Ditinjau dari Segi Jalur Periwayatan)

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، الصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد…

Artikel kali ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya tentang pembagian khabar ahad ditinjau dari segi jalur periwayatan. Pada artikel sebelumnya telah dibahas tentang hadits aziz,  dan artikel kali ini akan membahas hadits masyhur.

c. Hadits Masyhur

  • Definisi

Secara bahasa, masyhur adalah isim maf’ul/bentuk objek dari kata (“شهرتُ الأمرَ” إذا اعلنتُهُ وأظهرتُهُ) “aku membuat suatu perkara menjadi dikenal jika aku mengumumkan dan menampakkannya”.

Dinamakan masyhur karena kepopuleran dan dikenalnya hadits tersebut di kalangan manusia.

Secara istilah, masyhur berarti hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang perawi atau lebih di setiap tingkatan sanadnya, namun jumlah perawi tersebut tidak mencapai perawi hadits mutawatir.

Atau hadis yang memiliki lebih dari dua jalur periwayatan, namun tidak mencapai derajat hadits mutawatir.

  • Contoh

Hadis yang berbunyi,

(( إِنَّ الله لا يَقبِضُ العِلمَ انْتِزَاعًا يَنتَزِعُهُ مِن صُدُورِ العُلَمَاءِ، وَلَكِن يَقبِضُ العِلمَ بِقَبضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَم يَبقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوْا فَأَفتَوْا بِغَيرِ عِلمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا ))[1]

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dalam sekejap dari dada ulama’, namun Ia mencabut ilmu dengan dicabutnya nyawa mereka. Hingga suatu saat tidak tersisa satupun ulama, lalu manusia mengambil ilmu dari orang-orang bodoh, kemudian mereka berfatwa tanpa didasari ilmu, sehingga mereka menjadi sesat dan menyesatkan.”

  • Istilah Lain Hadits Masyhur

Beberapa ulama menggunakan istilah hadits masyhur dengan hadits mustafidh.

Mustafidh secara bahasa adalah isim fa’il/bentuk subjek dari fi’il (استَفَاضَ) yang berasal dari kata (فَاضَ المَاءُ) air yang meluap.

Dinamakan dengan mustafidh karena hadits tersebut tersebar luas/dikenal.

Ulama berbeda pendapat tentang definisi hadits mustafidh secara istilah. Terdapat 3 pendapat ulama dalam hal tersebut, antara lain:

  1. Sama dengan hadits masyhur.
  2. Hadits masyhur lebih umum dari mustafidh, karena suatu hadits dikatakan mustafidh jika jumlah rawi dari awal hingga akhir sanadnya sama, dimana hal tersebut bukan syarat untuk hadits masyhur. Dengan kata lain, hadits masyhur merupakan hadits mustafidh, dan tidak semua hadis mustafidh termasuk masyhur.
  3. Hadits mustafidh lebih umum dari masyhur.
  4. Klasifikasi Hadis Masyhur

Terdapat 2 jenis hadits masyhur:

1. Masyhur istilahi

2. Masyhur ghairu istilahi.

  1. Masyhur Istilahi

Adalah hadits masyhur secara istilah seperti yang telah didefinisikan sebelumnya. Dinamakan juga sebagai hadits mustafidh. Hukum hadits ini terbagi menjadi 3 jenis, antara lain:

  • Shahih

Contohnya:1

  • Hasan

Contohnya:2

  • Dhaif

Contohnya:3

  • Masyhur Ghairu Istilahi

Yang dimaksud dengan masyhur ghairu istilahi adalah hadits-hadits yang populer di kalangan masyarakat umum dan tersebar luas tanpa syarat-syarat dan definisi tertentu (hadits populer/hadits yang terkenal).

Hukum hadits ini juga terbagi menjadi 3, yaitu:

  • Hadits yang memiliki satu jalur periwayatan saja (gharib)
  • Hadits yang memiliki jalur periwayatan/sanad lebih dari satu
  • Hadits yang tidak memiliki jalur periwayatan/sanad (hadits maudhu’/palsu)

Yang termasuk dalam klasifikasi hadits masyhur ghairu istilahi, di antaranya:

  1. Hadits yang populer di kalangan ahli hadits

Contohnya:

(( حديث أنس: أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَنَتَ شَهرًا بَعدَ الرُّكُوعِ يَدعُو عَلَى رِعلٍ وَذَكوَانَ ))

  1. Hadits yang populer di kalangan ahli hadits, ulama, dan orang-orang awam

Contohnya:

(( المُسلِمُ مَن سَلِمَ المُسلِمُونَ مِن لِسَانِهِ وَيَدِهِ ))

  1. Hadits yang populer di kalangan ahli fiqih

Contohnya:

(( أَبغَضُ الحَلاَلِ إِلَى اللهِ الطَّلَاقُ ))

  1. Hadits yang populer di kalangan ahli ushul fiqh

Contohnya:

(( رُفِعَ عَن أُمَّتِي الخَطَأُ وَالنِّسياَنُ وَمَا استُكرِهُوا عَلَيهِ ))

  • Hadits yang populer di kalangan ahli nahwu

Contohnya:

(( نِعمَ العَبدُ صُهَيبٌ، لَو لَم يَخَفِ اللهَ لَم يَعصِهِ ))

  • Hadits yang populer di kalangan umum

Contohnya:

(( العَجَلَةُ مِنَ الشَّيطَانِ ))

  • Hukum Hadits Masyhur

Dalam menghukumi hadits masyhur (baik masyhur istilahi maupun ghairu istilahi), kita tidak boleh langsung mengklaim keabsahannya hanya berdasarkan pada banyaknya jalur periwayatan masyhur yang melebihi gharib dan aziz. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, terdapat hadits masyhur yang shahih, hasan, dhaif, bahkan maudhu’. Namun, jika terdapat hadits masyhur yang shahih, maka ia menjadi lebih kuat dari sisi pendalilannya dibandingkan hadits gharib dan aziz.

  • Kitab-Kitab Populer tentang Hadits Masyhur

Kitab-kitab yang tersebar tentang hadits masyhur saat ini hanya merangkum hadits-hadits populer (masyhur ghairu istilahi), sedangkan untuk masyhur istilahi,  belum ada ulama yang menghimpun hadits-hadits tersebut secara khusus dalam suatu karangan.

Di antara kitab-kitab hadits masyhur ghairu istilahi :

  1. Al Maqashid Al Hasanah Fima Isytahara ‘Alal Alsinah, Karya As Sakhawi.
  2. Kasyfu Al Khafa’ Wa Muzil Al Ilbas Fima Isytahara Minal Hadist ‘Ala Alsinatinnas, karaya Al ‘Ajluni.
  3. Tamyiz At Thayyib Minal Khabits Fima Yaduru ‘Ala Alsinatinnas Minal Hadist, Karya Ibnu Daiba’ As Syaibani.
  4. Ad Durar Al Muntatsirah Fil Ahadist Al Musytahirah, karya Imam As Suyuthi.
  5. Al La’ali Al Mantsurah Fil hadist Al Masyhurah, karya Az Zarkasyi.

Penulis: Ainun Nur Hasanah

Pembimbing: Nandang Husni Azizi, S.Ag.

Maraji’:

  1. Taisir Musthalah Hadis, Dr. Mahmud Thohhan, Maktabah Al Ma’arif: Riyadh, Cet. 10, th 2004 M.
  2. At Ta’liqat Al Atsariyyah ‘Ala Mandzumatil Baiquniyyah, Ali bin Hasan Al Halabi, Dar Ibnul Jauzi.
  3. Mudzakirah penulis selama menjadi mahasiswi semester 1 di STDIIS.

[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Thabrani, Ahmad, dan Khatib Baghdadi.

Imam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab(العلم), Bab (كيف يقبض العلم), nomor 100, dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu.

Imam Muslim dalam Shahihnya, Kitab (العلم), Bab (رفع العلم وقبضه), nomor 13, dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu.

Imam Ahmad dalam Musnadnya, nomor 218, dari Ziyad bin Labid radhiyallahu ‘anhu.

Thabrani dalam Al Mu’jam Al Ausath, nomor 6403, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Khatib Baghdadi dalam Tarikhnya, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha.

  1. حديث “إنَّ الله لا يَقبِضُ العِلمَ انِتزَاعًا…” []
  2. حديث “طَلَبُ العِلمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسلِمٍ” []
  3. حديث “الأُذُنَانِ مِنَ الرَّأسِ” []

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *