(Ditinjau dari Segi Jalur Periwayatan)

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، الصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد…

Artikel kali ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya tentang pembagian khabar ahad ditinjau dari segi jalur periwayatan. Jika pada artikel sebelumnya telah dibahas tentang hadits gharib, maka artikel kali ini akan membahas hadits aziz.

b. Hadits Aziz

  • Definisi

Secara bahasa, aziz merupakan sifat musyabbahah[1] yang berasal dari fi’il/kata kerja (عَزَّ-يَعِزُّ), yang berarti sedikit atau jarang. Atau berasal dari fi’il (عَزَّ-يَعَزُّ) yang berarti kuat.

Dinamakan aziz karena jumlah hadits ini terhitung sedikit dan jarang atau karena kuatnya sanad hadits ini dengan adanya jalur periwayatan lain.

Secara istilah, aziz berarti hadits yang perawinya tidak kurang dari dua orang di setiap tingkatan sanadnya. Atau dengan kata lain, minimal terdapat satu tingkatan sanad yang memiliki dua orang perawi. Ini adalah definisi yang rajih menurut Ibnu Hajar.

Beberapa ulama juga mendefinisikan aziz sebagai hadits yang diriwayatkan oleh dua atau tiga orang perawi, tanpa mengklasifikasikan ciri-ciri aziz dan masyhur secara rinci.

  • Contoh

Diantara contoh hadits aziz adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dan di jalur lain Imam Bukhari juga meriwayatkannya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah ﷺ bersabda:

(( لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيهِ مِن وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجمَعِينَ ))[2]

“Tidaklah sempurna iman kalian hingga kalian lebih mencitaiku daripada ayah kalian, anak kalian, dan seluruh manusia di dunia.”

Terdapat dua orang tabi’in yang meriwayatkan hadits ini dari Anas, yaitu Qatadah dan Abdul Aziz bin Shuhaib.

Lalu di tingkatan tabi’ut tabi’in, dua orang meriwayatkan dari Qatadah; Syu’bah dan Sa’id. Dan dua orang meriwayatkan dari Abdul Aziz; Isma’il bin Ulayyah dan Abdul Warist. Kemudian rawi dari ke empat tabi’ut tabi’in tersebut berjumlah banyak.

  • Kitab-Kitab Populer tentang Hadits Aziz

Tidak ada kitab-kitab para ulama yang menghimpun hadits-hadits aziz secara khusus. Hal tersebut dikarenakan jumlahnya yang terhitung sangat sedikit serta kurangnya urgensi dalam pengumpulan hadits-hadits tersebut dalam suatu karya yang dibukukan.

Penulis: Ainun Nur Hasanah

Pembimbing: Nandang Husni Azizi, S.Ag.

Maraji’ :

  1. Taisir Musthalah Hadits, Dr. Mahmud Thohhan, Maktabah Al Ma’arif: Riyadh, Cet. 10, th 2004 M.
  2. At Ta’liqat Al Atsariyyah ‘Ala Mandzumatil Baiquniyyah, Ali bin Hasan Al Halabi, Dar Ibnul Jauzi.
  3. Mudzakirah penulis selama menjadi mahasiswi semester 1 di STDIIS.

[1] Lihat definisi hadits gharib di artikel “Khabar Ahad Ditinjau dari Sisi Jalur Periwayatan”

[2] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahihnya, Kitab (الإيمان), Bab (حب الرسول عن الإيمان), nomor 51 dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dan hadits nomor 14 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dengan tambahan lafadz1 di awal hadits serta tanpa lafadz2 di akhirnya.

Muslim juga meriwayatkan hadits ini dalam Shahihnya, Kitab (الإيمان), hadis nomor 69 dan 70, keduanya dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

  1. فوالذي نفسي بيده []
  2. والناس أجمعين []

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *