Puji syukur kepada Allah yang melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya kepada kita semua. Shalawat dan salam senantiasa terhaturkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Setelah 6 materi sebelumnya kita membahas tentang latar belakang, maka pada pembahasan kali ini kita akan mulai masuk ke dalam kehidupan Rasulullah ﷺ. Bagaimana bisa, kita yang mengaku ummatnya, yang mengharapkan syafaatnya kelak namun justru tak kenal dengannya ﷺ sama sekali. Tak ingin tahu sama sekali tentang kehidupan beliau ﷺ. Maka dari itu, tidak pernah ada kata terlambat untuk mulai mengenal, tidak ada yang salah dari keterlambatan. Yang salah adalah, tidak pernah berniat untuk memulai.

Dikisahkan bahwa Rasulullah ﷺ lahir sekitar 50 hari setelah kejadian penyerangan Ka’bah yang dilakukan oleh Raja Abrahah dan pasukan bergajahnya. (Silakan baca Ada Apa dengan Tentara Bergajah?). Kita juga sudah tahu bahwa Rasulullah dilahirkan dalam keadaan yatim, yang mana ayahnya, Abdullah telah wafat saat beliau ﷺ masih berada di dalam kandungan. (Silakan baca Nasab dan Kelahirannya ﷺ).

Maka setelahnya kita akan membahas keadaan setelah Rasulullah dilahirkan. Dan pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang sosok wanita hebat yang mengukir sejarah pengasuhan Rasulullah ﷺ.

Tsuwaibah Al-Aslamiyah

Setelah dilahirkan, Rasulullah ﷺ disusui selama beberapa hari oleh ibunya, Aminah binti Wahhab. Ada yanng berpendapat selama 3 hari, 7 hari, dan 9 hari. Setelah itu Rasulullah disusui oleh Tsuwaibah Al-Aslamiyah, budak dari Abu Lahab. Abu Lahab (paman Nabi) merasa sangat gembira dengan berita kelahiran keponakannya. Oleh sebab itu ia memerintahkan budaknya untuk menyusui Rasulullah ﷺ. Ada yang meriwayatkan bahwa ketika menyusui Rasulullah ﷺ, Tsuwaibah sudah dimerdekakan. Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Urwah bin Zubair.[1]

Tsuwaibah dikenal sebagai wanita yang penyayang.  Selain Nabi ﷺ, Tsuwaibah juga menjadi ibu susu bagi Hamzah (paman Nabi)[2] dan Abu Salamah. Mengenai keislaman Tsuwaibah, apakah ia masuk islam atau tidak, Abu Nuaim berpendapat, “Kami tidak mengetahui kalau ada yang menyebutkan keislaman Tsuwaibah.” Akan tetapi, Rasulullah ﷺ sangat memuliakan Tsuwaibah. Beliau ﷺ  pernah menemuinya setelah menikah dengan khadijah. Tsuwaibah meninggal dunia setelah peperangan Khaibar.[3]

Halimah As-Sa’diyah

Setelah itu, Rasulullah ﷺ disusui oleh seorang perempuan yang berasal dari Thaif. Sudah menjadi tradisi bagi orang-orang Arab dahulu agar menyusui anak mereka kepada seorang wanita yang berasal dari pedesaan. Sebab faktor lingkungan dan pergaulan yang masih asri dan terjaga.

Pada musim kemarau, berangkatlah rombongan para wanita dari desa menuju Mekah. Di antara mereka ada Halimah As-Sa’diyah yang datang bersama suami dan anaknya. Mereka datang dengan menunggangi keledai. Pada saat itu tidak ada yang mau mengambil Muhammad kecil, sebab beliau adalah seorang yang yatim. Mereka khawatir nanti tidak akan mendapatkan upah.

Pada awalnya Halimah juga tidak mau mengambil Rasulullah ﷺ. Namun semua anak telah menemukan ibu susunya, hingga tinggallah Rasulullah ﷺ. Akhirnya, setelah berdiskusi dengan suaminya, ia mengambil Rasulullah ﷺ.

Halimah berkata, “Sebelumnya anak saya tidak bisa menyusu kepada saya, karena musim kering.” Sehingga, air susu untuk anaknya saja tidak tercukupi. Dan inilah permulaan keajaiban yang Allah berikan.  Ketika ia menggendong Muhammad, air susunya langsung berlimpah dan mampu menyusui keduanya sekaligus.

Selain itu, ini adalah cerita yang juga sangat masyhur, bahwa awalnya Halimah datang menunggangi keledai yang sangat kurus dan lemah sampai-sampai ia tertinggal rombongannya. Akan tetapi, ketika dalam perjalanan pulang, keledai itu menjadi sangat kuat dan cepat. Dan sesampainya di Thaif, ia mendapati keledainya menjadi sangat gemuk dan air susu Halimah pun menjadi berlimpah.

Inilah di antara keberkahan-keberkahan yang dirasakan oleh Halimah karena mengasuh Rasulullah. Ia sangat mencintai Rasulullah ﷺ dan merawatnya dengan sangat baik. Sampai dikisahkan bahwasanya ketika Aminah ingin mengambil kembali anaknya, ia terus menolaknya. Sampai akhirnya setelah empat tahun bersama, terpaksa Halimah mengembalikannya.

Para ulama berpendapat bahwasanya sebab Halimah mengembalikan Rasulullah ﷺ kepada Aminah adalah karena peristiwa pembelahan dada. Ia merasa khawatir, dan memutuskan untuk mengembalikan Nabi yang saat itu berusia 4 tahun kepada ibunya. Setelah berpisah, ia tidak banyak mengetahui tentang kabar Muhammad, sampai ketika Rasulullah berusia 40 tahun, terdengarlah berita kepada Halimah bahwa anak susunya telah menjadi Rasul. Diriwayatkan juga, setelah menikah dengan Khadijah, Halimah pernah beberapa kali bertemu dengan Nabi ﷺ

Halimah bernama lengkap Halimah As-Sa’diyah binti Abu Dzuaib As-Sa’diyyah. Tentang keislaman Halimah, diriwayatkan bahwa ia masuk islam setelah mendengar berita kenabian dan  kemudian berhijrah. Ia wafat di Madinah dan dimakamkan di Baqi’.

Ummu Aiman

Pernah disinggung pada akhir pembahasan Nasab dan Kelahirannya ﷺ, bahwa ketika wafat, Abdullah meninggalkan seorang budak yang dikenal degan nama Ummu Aiman. Ia memiliki nama asli Barakah binti Tsa’labah bin Amru bin Hizn bin Malik bin Salaman, dst. Ia dijuluki Ummu Aiman karena memiliki seorang anak laki-laki bernama Aiman dari perkawinan pertamanya dengan Ubaid bin Zaid Al-Khazraji.

Ummu Aiman lah yang pertama kali turut andil membantu pengasuhan Rasulullah ketika bersama Aminah. Nabi sangat menyayangi dan menghormati Ummu Aiman seperti ibu kandungnya sendiri. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ahmad bin Abi Khaisamah dari Sulaiman bin Abi Syaikh di dalam kitab Al-Isti’ba,

“Rasulullah menyebutkan: Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibu kandungku.”

Ketika Rasulullah diasuh oleh sang kakek, Ummu Aiman tetap ada di sisi beliau ﷺ, mengasuhnya dengan sepenuh cinta kasih, menjaganya dengan seluruh kemampuan diri, seakan menjadi figur pengganti ibu bagi Rasulullah ﷺ, sebagaimana Abdul Muthallib lah yang menggantikan figur sang ayah.

Ketika Rasulullah sudah dewasa dan menikah dengan Khadijah radhiyallahu ‘anha, beliau ﷺ memerdekakan Ummu Aiman dan kemudian menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah setelah suami pertamanya meninggal. Mereka kemudian dikaruniai anak bernama Usamah bin Zaid yang sangat dicintai Rasulullah. Ummu Aiman termasuk perempuan yang pertama kali hijrah. Bahkan ia mengikuti dua kali hijrah, ke Habasyah dan Madinah. Dikisahkan juga bahwa ia turut andil dalam medan peperangan, seperti pada perang Uhud yang menjadi relawan, menyediakan minuman dan mengobati korban perang. Begitu pula pada perang Khaibar. Sedangkan anak kandungnya, Aiman dicatat sebagai Syuhada dalam perang Hunain.

Ketika Rasulullah ﷺ wafat, Abu Bakar berkata kepada Umar radhiyallahu ‘anhu, “Pergilah bersama kami menemui Ummu Aiman, kita akan mengunjunginya sebagaimana Rasulullah ﷺ telah mengunjunginya.”[4]

Ummu Aiman juga salah satu perempuan yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah ﷺ. Di antara murid-muridnya adalah Anas bin Malik, Hanasy bin Abdillah As-Shan’ani dan Abu Yazid Al-Madini.

Rasulullah wafat lebih dulu daripada Ummu Aiman, dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Ummu Aiman menangis ketika Rasulullah wafat. Saat ditanya, “Kenapa kamu menangis?” maka ia menjawab, “Demi Allah, sungguh aku tahu ketika dia akan wafat, tapi sungguh aku menangis karena ini adalah pertanda wahyu terputus dari langit.”

Ummu Aiman wafat pada masa kekhilafahan Utsman bin Affan, tepatnya 20 hari setelah terbunuhnya Umar bin Khatthab.

Itulah ketiga wanita yang berperan dalam pengasuhan Rasulullah – selain ibudanya, Aminah. Betapa beruntungnya mereka, menjadi saksi, menjadi bagian penting dalam kehidupan Rasulullah ﷺ. Semoga Allah merahmati mereka, yang telah mengasuh Rasulullah ﷺ dengan penuh cinta.

Penulis: Cut Hudzaifah Najwa Azalea

Pembimbing: Ustadz Sanusin Muhammad Yusuf, Lc., M.A

Rujukan:

Ar-Rahiqul Makhtum, Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri,Riyadh: Darussalam

Fiqhu As-Sirah, Muhammad Al-Ghazali,Mesir: Darul Kitab Al-Arabiy

Thabaqatul Kubra, Muhammad bin Sa’di bin Mani’ Az-Zuhri. Maktabah Al-Khaniji

Al-Bidayah wa An-Nihayah, Ismail bin Katsir Ad-Damasqi,Mesir: Mathba’ah As-Sa’adah

Ar-Raudh Al-Unuf Syarhu Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Imam As-Suhaili. Asy-Syamilah

Mukhtashar Siratir-Rasul wa Sirati Ashabi Al-Asyrah, Abu Muhammad Abdul Ghaniy Abdul Wahid Al-Muqaddisiy, Riyadh.


[1] Ibnu Hajar Al-Asqalani, Al-Fath (9:145)

[2] Meskipun beliau adalah paman Nabi, akan tetapi umurnya sebaya dengan Nabi. Ada yang berpendapat Hamzah lebih dahulu lahir 2 tahun sebelum Nabi dan ada yang berpendapat 4 tahun sebelumnya.

[3] Fathul Bari, 9:145

[4] HR. Muslim, 2454 dan Ibnu Majah, 1635.

Kategori: Siroh

1 Komentar

Abu Hazmah · 5 Juli 2021 pada 4:45 AM

Barakallohufikum kisah yg menyentuh..

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *