الحمد لله رب العالمين، الصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد

Air dengan berbagai macam penamaannya secara umum digolongkan menjadi dua jenis:

  1. Suci
  2. Najis
  1. Air yang suci atau disebut juga air mutlak ialah air yang tetap pada kondisi asalnya, seperti segala jenis air yang keluar dari bumi atau turun dari langit. Berdasarkan firman Allah ﷻ:

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ

“dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu”[1]

Yang termasuk jenis air ini yaitu air sungai, air dingin, air sumur, air laut[2].

Diperbolehkan untuk wudhu dan mandi menggunakan air ini, dan ini adalah kesepakatan para ulama. Termasuk di dalam jenis ini ialah air yang bercampur dengan sesuatu yang suci pula selama zat tersebut masih dalam bentuk air (masih dinamakan air). Berdasarkan hadits Nabi ﷺ kepada yang memandikan anaknya, Zaynab:

اغْسِلْنَهَا ثَلاثًا , أَوْ خَمْسًا , أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ – إنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكِ – بِمَاءٍ وَسِدْرٍ , وَاجْعَلْنَ فِي الأَخِيرَةِ كَافُورًا – أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ – فَإِذَا فَرَغْتُنَّ فَآذِنَّنِي ، فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ ، فَأَعْطَانَا حَقْوَهُ، وَقَالَ : أَشْعِرْنَهَا إياه – تَعْنِي إزَارَهُ

“Mandikanlah tiga kali, lima kali, atau lebih dari itu. Jika kamu pandang perlu pakailah air dan bidara, dan pada yang terakhir kali dengan kapur barus atau campuran dari kapur barus.” Ketika kami telah selesai, kami beritahukan beliau, lalu beliau memberikan kainnya pada kami seraya bersabda: “Bungkuslah ia dengan kain ini.”[3]

Adapun jika air tersebut bercampur dengan sesuatu yang suci hingga menjadikan zat tersebut tidak lagi dinamakan air seperti air teh atau air kopi, maka tidak dibolehkan untuk bersuci dengannya.

Juga tidak diperbolehkan bersuci dengan air yang merupakan saripati dari zat tertentu seperti air mawar, air perasan jeruk, dan sebagainya. Karena meskipun bentuknya adalah benda cair, namun air mawar pada hakikatnya bukanlah air. Ibnu Mundzir menyebutkan bahwa para ulama bersepakat bahwa wudhu tidak diperbolehkan dengan menggunakan air mawar dan sebagainya. Juga tidak diperbolehkan untuk bersuci kecuali dengan air mutlak yang dinamakan air.

  • Air yang tercampur dengan najis, disebut juga air najis. Indikasinya ialah terdapat perubahan dalam salah satu sifat air: perubahan pada baunya, warnanya, atau rasanya. Maka apabila terdapat air yang tercampur najis, dan najis tersebut mengubah salah satu dari ketiga sifat air di atas, hukum air tersebut adalah najis dan tidak diperbolehkan untuk bersuci dengan air tersebut.

WUDHU

Setelah kita membahas sesuatu yang digunakan untuk bersuci, selanjutnya kita membahas apa itu wudhu baik secara etimologi maupun terminologi, dalil, serta keutamaan-keutamaan wudhu.

  1. Etimologi

Wudhu secara bahasa berasal dari kata wadhu’ وَضُوء yang artinya kebersihan. Adapun (wudhu) merupakan kata yang merujuk pada aktivitas kebersihan itu sendiri: membersihkan. Sedangkan (wadhu) ialah sarana yang digunakan untuk membersihkan: air.

  • Terminologi Syari’ah

Wudhu ialah menggunakan air dengan membasuhkannya/mengusapkannya ke anggota-anggota wudhu (wajah, kedua tangan , kepala, dan kedua kaki) untuk mengangkat segala sesuatu yang dapat menghalangi dari sholat dan semisalnya.

  • Dalil

Syari’at wudhu terdapat dalam Al-Qur`an. Firman Allah ﷻ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,”[4]

Ayat ini menunjukkan tata cara dan anggota-anggota tubuh yang dibasuh ketika berwudhu.

Juga terdapat dalam hadits Nabi ﷺ:

مفتاح الصلاة الطهور وتحريمها التكبير وتحليلها التسليم

“Pembuka shalat adalah bersuci (wudhu), yang mengharamkan adalah takbir dan yang menghalalkan adalah salam”[5]

Syari’at wudhu juga merupakan ijma’ ulama yakni para ulama bersepakat bahwa sholat tidaklah sah tanpa bersuci terlebih dahulu.[6]

  • Keutamaan

Wudhu memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

  • Wudhu adalah bagian dari iman. Berdasarkan hadits riwayat Abu Malik Al-Asy’ari bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

الطَّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Kesucian itu separuh keimanan”[7]

  • Wudhu menghapuskan dosa-dosa:

Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إذَا تَوضَّأَ الْعبْدُ الْمُسْلِم، أَو الْمُؤْمِنُ فغَسلَ وجْههُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خطِيئةٍ نظر إِلَيْهَا بعينهِ مَعَ الْماءِ، أوْ مَعَ آخِر قَطْرِ الْماءِ، فَإِذَا غَسَل يديهِ خَرج مِنْ يديْهِ كُلُّ خَطِيْئَةٍ كانَ بطشتْهَا يداهُ مَعَ الْمَاءِ أَو مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْماءِ، فَإِذَا غسلَ رِجليْهِ خَرجَتْ كُلُّ خَطِيْئَةٍ مشَتْها رِجْلاُه مَعَ الْماءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ حَتَّى يخْرُج نقِياً مِنَ الذُّنُوبِ

“Jika seorang hamba membasuh mukanya, niscaya gugurlah segala dosa dari apa yang ia lihat  bersamaan dengan air yang jatuh,…”[8]

  • Wudhu mengangkat derajat hamba

Hadits diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

أَلا أَدُلُّكُمْ عَلى مَا يمْحُو اللَّهُ بِهِ الخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ قَالُوا: بَلى يَا رسولَ اللَّهِ. قَالَ: إِسْباغُ الْوُضُوءِ عَلى المَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الخطى إِلى المَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلاةِ بعْد الصَّلاةِ، فَذلِكُمُ الرِّباطُ، فَذلكُمُ الرِّباطُ

“Maukah kalian aku tunjukkan amalan yang dengannya Allah akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajat kalian? Para sahabat menjawab: “Mau wahai Rasulullah.” Beliau lantas bersabda: “Menyempurnakan wudhu walaupun terdapat kesusahan, memperbanyak langkah menuju ke masjid dan menunggu shalat yan lain setelah selesai melakukan atu shalat, maka itulah Ribaath (jihad fi sabilillah) bagi kalian.”[9]

  • Berwudhu merupakan salah satu jalan menuju surga

Ini ditunjukkan oleh hadits dari ‘Uqbah bin ‘Amir bahwa ia mendengar Nabi ﷺ bersabda:

ما من أحدٍ يتوضَّأُ فيُحسنُ الوضوءَ، ويُصلِّي رَكعتينِ، يُقبِلُ بقلبِه ووجهِه عليهما، إلَّا وجبتْ له الجَنَّةُ

“Tidaklah seseorang berwudhu kemudian membaguskan wudhunya lalu sholat dua rakaat kecuali pasti baginya surga”[10]

Penulis : Millati Aulia Hasanah

Pembimbing : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., MA.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Shohih Fiqhu As-Sunnah wa Adillatuhu wa Tawdhihu Madzahibi Al-Aimmah. Mesir: Daar At-Taufiq li At-Turats.

Al-Fiqhu Al-Muyassar fi Dhoui Al-Kitab wa As-Sunnah

As-Sayyid Sabiq. Fiqhu As-Sunnah. Al-Fathu lil ‘Ilami Al-‘Araby.

Muhammad bin Abu Bakar bin Qayyim Al-Jauzy. I’lamul Muwaqi’in. Beirut: Daar Al-Kitab Al-‘Arabi.

Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Asy-Syarhu Al-Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’. Saudi Arabia: Daar Ibnu Al-Jauzy.

Mustafa Bagha, Mustafa Sa’id, Ali. Al-Fiqh al-Manhaji ‘Ala Mazhab al-Imam asy-Syafi’i.

Al-Hafizh Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani. Bulugh al-Maram Min Adillah al-Ahkam.

Syaikh Muhammad Naashir as-Sa’di. Manhajus Saalikiin.

Qaadhi Abu Syujaa’. Matan Ghoyatu at-Taqriib .

Al-Alamah ‘Abdul Ghani al-Maqdisi. Tanbih al-Afham Syarh ‘Umdah al-Ahkam.


[1] Q.S. Al-Anfal 11

[2] Sabda Nabi ﷺ

[3] H.R. Bukhari 1253

[4] Q.S. Al-Maidah: 6

[5] H.R. Tirmidzi 3

[6] Al-Awsath (1/107)

[7] H.R. Muslim 223

[8] H.R. Muslim 244

[9] H.R. Muslim 251

[10] H.R. Muslim 234

Kategori: Fiqih

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *