Puji syukur kepada Allah ta’ala yang melimpahkan taufik serta hidayah-Nya kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Pada pembahasan sebelumnya kita mengetahui tentang 3 sosok perempuan hebat yang turut andil dalam pengasuhan Rasulullah ﷺ, setelahmya pengasuhan tersebut jatuh kepada kakek dan pamannya.

Tahun kedua setelah Halimah mengembalikan Nabi ﷺ kepada Aminah, sang Ibunda Nabi wafat. Saat itu Rasulullah ﷺ berusia 6 tahun, keduanya pergi ke Madinah untuk menziarahi makam Abdullah, ayahnya. Disebutkan oleh para ahli sejarah, setelah mengunjungi kuburan. ayah Nabi ﷺ, mereka beranjak pulang. Dan ketika sampai di tempat bernama Abwa’ (235 km dari Mekah) inilah Aminah meninggal dunia.

Sesungguhnya ini adalah cobaan yang sangat besar. Bagaimana tidak, setelah beliau ﷺ dilahirkan tanpa figur seorang ayah, kini ketika beliau ﷺ masih sangat belia, ibunya juga berpulang kepada Allah. Bahkan Aminah meninggal dalam keadaan safar, yang mana tidak ditemani sanak keluarga yang bisa memberikan pertolongan.

Nabi ﷺ telah menjadi yatim piatu sejak masih anak-anak. Karena itulah, beliau sangat menyayangi anak-anak yatim, seperti diriwayatkan dalam sebuah hadits:

أَنَا وَ كَافِلُ اليَتِيمِ كَهَاتَينِ فِي الجَنَّةِ

“Aku bersama orang yang menanggung anak yatim seperti 2 jari[1] ini di surga (saling berdekatan).” [2]

Di Bawah Asuhan Abdul Muthallib

Setelah wafatnya sang ibu, pengasuhan Rasulullah ﷺ dilanjutkan oleh kakeknya, Abdul Muthallib. Ia sangat mencintai cucunya. Diriwayatkan, salah satu bentuk lebihnya kasih sayang Abdul Muthallib kepada Muhammad ﷺ adalah, Muhammad ﷺ menjadi satu-satunya di antara anak-anak dan cucu-cucunya yang lain, yang berkesempatan untuk duduk di permadani Abdul Muthallib. Jadi, Abdul Muthallib sering duduk di bawah naungan Ka’bah dan di sana ada sebuah tempat duduk dari permadani. Anak-anak (paman Nabi ﷺ) dan cucu-cucunya (sepupu Nabi ﷺ) yang lain tidak pernah berani duduk di sana, mereka hanya akan duduk di sekitarnya saja. Sehingga suatu hari ketika Rasulullah ﷺ duduk di atasnya, dengan serta merta mereka melarangnya. Namun Nabi ﷺ tetap duduk di sana dan hal itu dibiarkan saja oleh Abdul Muthallib, bahkan pernah ia sendiri yang mengendongnya untuk duduk bersampingan di atas permadani. Pernah dalam suatu waktu Abdul Muthallib membela Rasulullah dengan berkata, “Biarkan cucuku, sesungguhnya dia memiliki suatu kehebatan.”

Kecintaan ini kemungkinan disebabkan karena ayah Nabi ﷺ, Abdullah merupakan anak yang sangat dicintainya. Juga karena faktor di mana Nabi ﷺ hidup dalam keadaan yatim piatu.

Ketika Abdul Muthallib wafat, Rasulullah menangisinya hingga ke pemakaman. Lagi-lagi berita duka memukulnya. Setelah kehilangan ibu, kini ia kehilangan sang kakek yang merupakan benteng baginya; yang selalu memedulikannya. Sesosok yang memberikan dan mendeklarasikan namanya yang agung di hadapan dunia. Sulit sekali bagi kita membayangkannya, betapa sedihnya Rasulullah ﷺ harus merasa pedihnya kehilangan berkali-kali. Namun, begitulah para Nabi. Mereka diuji dengan  banyak cobaan.

الأَنبِيَاء ثُمَّ الصَالِحُونَ ثُمَّ الأَمثَلُ يُبتَلىَ العَبدُ عَلىَ حَسَبِ دِينِهِ

“Orang-orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian selanjutnya dan selanjutnya. Seorang hamba diuji berdasarkan agamanya.”[3]

Di Bawah Asuhan Abu Thalib

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abdul Muthallib meninggal dunia ketika ia berusia 82 tahun. Meninggalkan Rasulullah yang kala itu masih berusia 8 tahun lebih sepuluh hari.[4] Pengasuhan dilanjutkan oleh Abu Thalib dan hak ini diwasiatkan sendiri oleh Abdul Muthallib. Sebelum wafat ia meminta agar anaknya, Abu Thalib menjadi penerus untuk mengasuh Nabi Muhammad ﷺ. Alasannya adalah karena Abu Thalib dan Abdullah merupakan saudara satu ibu dan bapak. Sedangkan paman Nabi yang lainnya, lahir dari ibu yang berbeda dengan mereka berdua.

Keputusan ini adalah keputusan yang sangat tepat. Abu Thalib juga sangat mencintai Rasulullah ﷺ, seperti anaknya sendiri–bahkan kasih sayangnya melebihi kasih sayang kepada anak kandungnya. Tidak hanya Abu Thalib, istrinya, Fathimah binti Assad dan anak-anaknya juga sangat menyayangi Rasulullah ﷺ. Abu Thalib sering tidur di samping Nabi dan jika hendak bepergian selalu mengajaknya. Ketika ia pergi berdagang ke Syam, maka ia mengajak Nabi Muhammad ﷺ.

Dikisahkan bahwa Abu Thalib adalah seorang yang miskin dan memiliki banyak tanggungan, inilah sebabnya Rasulullah ikut bekerja mengembalakan kambing. Pengasuhan ini terus berlanjut sampai Rasullullah beranjak dewasa.

Penulis: Cut Hudzaifah Najwa Azalea

Pembimbing: Ustadz Sanusin Muhammad Yusuf, Lc., M.A

Rujukan:

Ar-Rahiqul Makhtum, Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri,Riyadh: Darussalam

Fiqhu As-Sirah, Muhammad Al-Ghazali,Mesir: Darul Kitab Al-Arabiy

Thabaqatul Kubra, Muhammad bin Sa’di bin Mani’ Az-Zuhri. Maktabah Al-Khaniji

Al-Bidayah wa An-Nihayah, Ismail bin Katsir Ad-Damasqi,Mesir: Mathba’ah As-Sa’adah

Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam.

Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Burhanuddin.

Sirah Nabawiyah. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar


[1] Beliau ﷺ mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.

[2] HR. Al-Bukhari, 5304

[3] HR. Ibnu Majah, 4023 dan At-Tirmidzi, 2398

[4] Talhiqu Fuhumi Al-Atsar, hal. 7 Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, I/69

Kategori: Siroh

1 Komentar

Trisia · 27 Juni 2021 pada 12:02 PM

Seorang nabi yang luar biasa maayaAllah, beliau nahi muhammad SAW adalah kekasih Allah. Aku sangat mengaguminya. Banyak hal yang dapat kita ambil dari tulisan ini yang membuat saya berpikir ” saya harus lebih kuat dalam berusaha, selalu sabar, selalu ikhlas dan menerima apapun keputusan Allah”
Terimakasih kak najwa, mungkin kita sudah sering membaca kisah maupun mendengar cerita ini, tapi penting untuk mengulang”nya agar selalu sabar dan mengecas energi baik. Terima kasih Selalu tebarkan kebaikan, insyaAllah Allah permudah jalan kak najwa.

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *