Bismillah, wash-shalaatu was-salaamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa man waalaahu. Amma ba’du.

Artikel sebelumnya telah membahas definisi wajib dan fardhu, lalu perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai keduanya. Pada kesempatan kali ini, penulis akan membahas lanjutan dari artikel sebelumnya, yaitu mengenai apa sisi perbedaan atau hasil dari perselisihan ulama mengenai definisi wajib dan fardhu.

Sisi Perbedaan Antara Wajib dan Fardhu Menurut Pendapat Kedua

Para ulama yang membedakan antara wajib dan fardhu berselisih dalam segi perbedaannya.

Pertama: Apabila suatu perintah dari syari’at ditetapkan dengan dalil qath’iy (baik berupa Al-Qur’an atau hadits mutawatir) maka disebut fardhu. Adapun jika ditetapkan oleh dalil zhanniy (misalnya dengan hadits ahad atau qiyas) maka disebut wajib.[1]

Contohnya shalat merupakan fardhu karena dalilnya qath’i:

﴿وأقيموا الصلاة﴾

“dan laksanakanlah shalat…”[2]

Sedangkan membaca Al-Fatihah dalam shalat merupakan wajib karena dalilnya zhanniy:

«لاَ صَلاَةَلِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الكِتَاب »

“Tidak (sah) shalat seseorang yang tidak membaca Al-Fatihah (nya) Al-Qur’an.”[3]

Kedua: Al-‘Askariy[4] membedakan keduanya dari segi bahasa. Fardhu adalah yang kewajibannya hanya dari Allah, sedangkan wajib dari Allah maupun selain Allah, baik Rasulullah, pemimpin, atau lainnya.[5]

Ketiga: Fardhu adalah yang ditetapkan dengan Al-Qur’an, sedangkan wajib yang ditetapkan oleh sunnah[6]. Ibnu Rajab[7] menisbatkan perkataan ini kepada beberapa ulama Hanbali.

Keempat: Fardhu adalah sesuatu yang disepakati kewajibannya, sedangkan wajib adalah sesuatu yang masih diperselisihkan kewajibannya. Pendapat ini dinukil dari Al-Isfarayiiniy dari seorang ulama Hanafiyyah.[8]

Pendapat yang Lebih Rajih

Dari pembahasan di atas, pendapat yang lebih rajih adalah wallahu a’lam pendapat mayoritas ulama, bahwa tidak ada perbedaan antara wajib dan fardhu. Asy-Syirazy[9] berkata—setelah membawakan pendapat yang membedakan antara wajib dan fardhu—. Dan ini adalah kesalahan, karena cara mengetahui makna suatu kata adalah dengan istilah syari’at, bahasa, dan penggunannya di antara orang-orang. Tidak ada satu pun perbedaan baik yang ditetapkan dengan dalil qath’iy maupun dalil yang membutuhkan ijtihad.”[10]

Al-Amidiy[11] juga berkata, “Bagaimana mungkin padahal syari’at menjadikan lafadz fardhu mutlak pula untuk wajib dalam firman Allah:

﴿فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ

Yang mana artinya “mewajibkan”. Dan pada asalnya lafadz ini dibawa kepada hakikatnya, bukan kepada makna tersiratnya untuk menghindari majas dan masuknya lafadz lain ke dalam maknanya. Di antara yang menguatkan bahwa fardhu bukanlah sesuatu yang ditetapkan dengan dalil qath’i adalah ijma’ seluruh umat bahwa lafadz fardhu juga dipakai dalam nama-nama shalat yang masih diperselisihkan ulama keabsahannya, yaitu jika dikatakan:

أدّ فرض الله تعالى

“Laksanakan ketetapan/kewajiban Allah.”

Dan pendapat yang mengkhususkan bahwa fardhu ditetapkan dengan dalil qath’i adalah pendapat yang mengada-ada, padahal fardhu secara bahasa maknanya ketetapan secara umum, baik itu dengan dalil qath’iy maupun zhanniy. Sehingga pengkhususannya pada suatu makna tertentu tanpa dalil tidak diterima. Dan dengan ini maka perbedaan yang ada adalah dalam perkara lafadz saja.[12]

Ar-Razi[13] juga berkata, “Dan pendapat yang menyebutkan perbedaan ini lemah, karena fardhu adalah suatu yang ditetapkan (secara umum) dan bukan dilihat apakah ia ditetapkan dengan keyakinan atau zhann. Seperti halnya wajib adalah sesuatu yang jatuh/harus (secara umum) bukan yang diharuskan dengan keyakinan ataukah zhann. Maka dari itu pengkhususan kepada salah satu dari dua makna ini (yakin atau zhann) hanyalah sesuatu yang mengada-ada.”[14]

Adapun Al-‘Utsaimin[15] berpendapat bahwa kedua pendapat ini lemah, seperti yang beliau sebutkan dalam syarah hadits arba’in ke-30, yaitu:

(إِنَّ اللهَ فَرَضَ فَرَائِضَ فَلا تُضَيِّعُوهَا، وَحَدَّ حُدُودَاً فَلا تَعْتَدُوهَا وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلا تَنْتَهِكُوهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلا تَبْحَثُوا عَنْهَا)

“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewajibkan beberapa perkara, maka janganlah kamu meninggalkannya. Dan telah menetapkan beberapa batas, maka janganlah kamu melampauinya. Dan telah mengharamkan beberapa perkara maka janganlah kamu melanggarnya. Dan Dia telah mendiamkan beberapa perkara sebagai rahmat bagimu bukan karena lupa, maka janganlah kamu membicarakannya.”[16]

Lalu setelah menyebutkan khilaf tentang wajib dan fardhu beliau berkata, “Dan kedua pendapat ini lemah. Yang benar adalah fardhu dan wajib maknanya sama, akan tetapi jika hal itu telah pasti maka disebut fardhu, adapun jika tingkatannya di bawah itu maka ia wajib. Dan ini adalah pendapat yang rajih dalam masalah ini.”[17] Seolah-olah beliau ingin menggabungkan kedua pendapat ini, akan tetapi beliau tidak menyebutkan maksud dari perkataan beliau “telah pasti”. Wallahu a’lam.

Penutup

Sampai di sini dahulu pembahasan mengenai perbedaan lafadz fardhu dan wajib. Pada artikel berikutnya penulis in sya Allah akan membahas pengaruh perbedaan pendapat ulama dalam masalah ini terhadap hal-hal yang berkaitan dengan hukum fiqh.

Wa billahi at-taufiiq wa as-sadaad.

Penulis: Zaky Hanifah

Pembimbing: Ustaz Khalid Saifullah, Lc., M.A.

Maraji’:

  • Abu Ya’la, Muhammad bin Al-Husain Ibnu Al-Farra`. 1410 H. Al-‘Uddah fi Ushul Al-Fiqh. Riyadh-KSA.
  • Ad-Dughaitsir, Abdul Aziz bin Sa’d. Al-Farqu Baina Al-Fardhi wa Al-Wajibi wa Atsaru Dzalika fi Al-Furu’.
  • Al-Amidiy, Sayyiduddin Ali bin Abi Ali. Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam. Beirut: Al-Maktab Al-Islamiy.
  • Al-Ashfahani, Abu Al-Qasim Al-Husain bin Muhammad Ar-Raghib. 1412 H. Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an. Beirut: Dar Al-Qalam. Cetakan ke-1.
  • Al-Farabi, Abu Nashr Ismail bin Hamad. 1407 H. Ash-Shihhah Taaj Al-Lughah wa Ash-Shihhah Al-‘Arabiyyah. Beirut: Dar Al-‘Ilmi li Al-Malayin. Cetakan ke-4.
  • Al-Fauzan, Abdullah bin Shalih. 1434 H. Syarh Al-Waraqaat fi Ushul Al-Fiqh. Riyadh: Dar Al Minhaj. Cetakan ke-4.
  • Al-Futuhiy, Abu Al-Baqa` Muhammad bin Ahmad. 1418 H. Mukhtashar At-Tahrir Syarh Al-Kaukab Al Munir. Maktabah Al Ubaikan.
  • Alu Taimiyyah (Abdussalam, Abdul Halim, dan Ahmad bin Taimiyyah). Al-Muswaddah fi Ushul Al-Fiqh. Dar Al-Kitab Al-‘Arabiy.
  • Ar-Raziy, Muhammad bin Umar bin Al-Hasan. 1418 H. Al-Mahshul. Beirut: Mu`assasah Ar-Risalah. Cetakan ke-3.
  • As-Sarkhasiy, Muhammad bin Ahmad bin Abi Sahl. Ushul As-Sarkhasiy. Beirut: Dar Al-Ma’rifah.
  • As-Subkiy, Abu Al-Hasan Alibin Abdul Kafi. 1416 H. Al-Ibhaj Syarh Al-Minhaj. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah: Beirut.
  • Asy-Syiraziy, Abu Ishaq Ibrahim bin Ali bin Yusuf. 1424 H. Al-Luma’ fi Ushul Al-Fiqh. Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah. Cetakan ke-2.
  • Az-Zarkasyi, Abu Abdillah Badruddin Muhammad bin Abdillah bin Bahadir. 1414 H. AlBahr Al-Muhiith fi Ushul Al-Fiqh. Dar Al-Kutubiy. Cetakan ke-1.
  • Ibnu Al-Liham, ‘Ala`uddin Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Abbas. 1420 H. Al-Qawa’id wa Al-Fawa`id Al-Ushuliyyah wa Ma Yatba’uha min Al-Ahkam Al-Far’iyyah. Al-Maktabah Al-‘Ashriyyah.
  • Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukarram bin Ali. 1414 H. Lisan Al-‘Arab. Beirut: Dar Shadir. Cetakan ke-3.
  • Ibnu Qudamah, Abu Muhammad Muwaffaquddin Abdullah bin Ahmad bin Muhammad. 1423 H. Raudhatun Nazhir wa Jannatul Munazhir. Riyadh: Mu`assasah Ar-Rayyan. Cetakan ke-2.
  • Ibnu Rajab, Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad As-Salamiy. 1422 H. Jaami’ Al-‘Uluum wa Al-Hikam. Beirut: Mu`assasah Ar-Risalah. Cetakan ke-7.

[1] Ushul As-Sarkhasiy (1/110).

[2] QS. Al-Baqarah: 43.

[3] HR. Bukhari no. 756 (1/151).

[4] Beliau adalah Abu Hilal Al-Hasan bin Abdillah bin Sahl bin Sa’id bin Yahya bin Mahran Al-Askariy. Seorang ulama bahasa dan sastrawan. Namanya Al-Askariy dinisbatkan ke tempat lahirnya yaitu Askar Mukarram di Kazakhstan. Lahir pada tahun 920 M dan wafat pada tahun 1005 M di Iran.

[5] Al-Bahr Al-Muhiith (1/243).

[6] Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam (2/153).

[7] Beliau adalah Al-Hafizh Zainuddin Abdurrahman bin Ahmad bin Abdirrahman bin Al-Hasan bin Muhammad bin Abi Al-Barakat Mas’ud As-Salamiy, seorang ulama bermazhab Hanbali. Lahir di Bagdad tahun 736 H dan wafat di Damaskus tahun 795 H. Di antara karya beliau yang terkenal adalah kitab Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam.

[8] Al Bahr Al-Muhiith (1/243).

[9] Beliau adalah Abu Ishaq Ibrahim bin Ali Asy-Syiraziy, seorang pembesar ulama Syafi’iyyah. Lahir di Fairuz Abadi di Persia pada tahun 393 H dan wafat di Bagdad tahun 476 H. Di antara karya beliau yang terkenal adalah Al-Muhadzdzab fi Al-Fiqh Asy-Syafi’i dan Al-Luma’ fi Ushul Al-Fiqh.

[10] Al-Luma’ (1/23).

[11] Beliau adalah Saifuddin Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Salim bin Muhammad Al-Amidiy, seorang ulama fikih dan ushul fikih yang mulanya bermadzhab Hanbali kemudian menjadi Syafi’i. Lahir di kota Amid di Diyar Bakr sehingga dinisbatkan padanya tahun 551 H dan wafat tahun 651 H di Damaskus.

[12] Al-Ihkam (1/99).

[13] Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Umar bin Al-Hasan bin Al-Husain bin Ali Ar-Raziy, seorang imam, mufassir, faqih bermadzhab Syafi’i. Beliau lahir di kota Ar-Ray tahun 544 H dan wafat tahun 604 H di Herat, Iran. Di antara karya beliau yang terkenal adalah kitab Mafaatih Al-Ghaib (Tafsir) dan Al-Mahshul (Ushul Fiqh).

[14]Al-Mahshul (1/98).

[15] Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Sulaiman bin Abdirrahman Al-‘Utsaimin, seorang ulama kontemporer dari Saudi Arabia. Lahir di Unaizah pada tahun 1925 M dan wafat tahun 2001 M di Jeddah. Hingga saat ini terdapat yayasan khusus yang menerbitkan karya beliau dan mengelola website khusus berisi ceramah-ceramah dan fatwa beliau.

[16] HR. Daruquthni no. 4396 (5/325).

[17] Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah (1/311).


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *