الحمد لله رب العالمين، الصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد

Sebelum kita membahas bagaimana tata cara bersuci dari najis. Kita terlebih dahulu akan membahas hal-hal apa saja yang termasuk najis dalam syari’at:

  1.  Kotoran Manusia

Baik itu berupa buang air besar maupun buang air kecil. Para ulama bersepakat bahwa keduanya merupakan najis. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

إذا وطئ أحدكم بنعله الأذى فإن التراب له طهور

Jika salah seorang di antara kalian menginjak kotoran dengan sandalnya, sesungguhnya tanah itu dapat menyucikannya.”[1]

Hadits ini menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan najis. Juga berdasarkan keumuman hadits-hadits yang memerintahkan untuk untuk beristinja`. Mengenai pembahasan istinja`, akan dibahas di artikel selanjutnya insyaallah.

Adapun  mengenai status najis pada air seni manusia, berdasarkan dalil hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik, bahwasanya ada seorang Arab Badui yang buang air kecil di masjid, beberapa orang berdiri (untuk mengusirnya), kemudian Nabi ﷺ bersabda,

“دَعُوهُ وَلاَ تُزْرِمُوهُ” قَالَ فَلَمَّا فَرَغَ دَعَا بِدَلْوٍ مِنْ مَاءٍ، فَصَبَّهُ عَلَيْهِ.

“Biarkan saja dia, jangan diganggu.” Ketika orang Arab Badui tersebut selesai, Nabi ﷺ menyeru agar menyiramkan seember air pada tempat yang dikencingi tadi.

  • Madzi dan Wadi

Madzi adalah air yang keluar dari kemaluan, warnanya bening dan konsistensinya seperti cairan yang lengket. Ia keluar disebabkan oleh syahwat yang muncul ketika memikirkan atau membayangkan jima’. Keluarnya tidak memancar dan juga tidak menyebabkan rasa lemas (tidak seperti air mani yang umumnya menyebabkan tubuh menjadi lemas) dan terkadang air ini keluar tanpa disadari.

Madzi terjadi pada laki-laki dan juga pada wanita.[2] Namun lebih banyak terjadi pada wanita. Madzi dihukumi najis menurut kesepakatan para ulama. Oleh karena itu, Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencuci kemaluan dari madzi.

Sesuai dengan riwayat yang terdapat dalam shahihain bahwa Nabi ﷺ berkata kepada seseorang yang bertanya tentang madzi:

“يَغْسِلُ ذَكَرَهُ، وَيَتَوَضَّأُ

Cucilah kemaluannya, kemudian berwudhulah”[3]

Adapun wadi adalah cairan putih kental yang keluar dari kemaluan seseorang setelah buang air kecil atau mungkin setelah melakukan pekerjaan yang berat. Wadi dihukumi najis menurut kesepakatan para ulama.

Di antara dalil yang menunjukkan demikian ialah hadits riwayat Ibnu ‘Abbas:

المني و الودي والمذي أما المني فهو الذي منه الغسل و أما الودي والمذي فقال اغسل ذكرك أو مذاكيرك وتوضأ وضوءك للصلاة

“Mani, wadi, dan madzi, adapun mani maka harus mandi karena mengeluarkannya. Adapun wadi dan madzi, maka ia berkata, Hendaklah mencuci dzakarmu atau kemaluanmu dicuci dan berwudhu’lah sebagaimana wudhumu untuk shalat”[4]

  • Darah Haid

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Asma` binti Abu Bakr bahwa seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah salah seorang dari kami terkena darah haid di bajunya, apa yang harus dia lakukan?” Beliau menjawab, “

“تَحُتُّهُ، ثُمَّ تَقْرُصُهُ بِالْمَاءِ، ثُمَّ تَنْضِحُهُ، ثُمَّ تُصَلِّي فِيهِ”

“Hendaklah mengeriknya dengan air, kemudian mencucinya kemudian membilasnya, lalu ia (boleh) shalat dengannya.”[5]

  • Kotoran Binatang[6]

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan ‘Abdullah bin Mas’ud:

أراد النبي ﷺ أن يتبرز فقال ائتني بثلاثة أحجار فوجدت له حجرين وروثة  فأمسك الحجرين و طرح الروثة وقال هي رجز

“Bahwa Nabi hendak buang air besar, lalu berkata, ‘Bawakan untukku tiga buah batu!’ Kemudian aku memberikan beliau dua batu dan kotoran hewan. Beliau mengambil dua buah batu itu dan melemparkan kotoran hewan itu, lalu berkata, “la najis.”[7]

Dalam riwayat dari Ibnu Khuzaimah dijelaskan bahwa kotoran hewan tersebut adalah kotoran keledai.

  • Air Liur Anjing

Nabi ﷺ bersabda:

طهور إناء أحدكم إذا ولغ فيه الكلب أن يغسله سبع مرات أولاهن بالتراب

“Bersihkan bejana seorang di antara kamu yang dijilat anjing dengan mencucinya tujuh kali, (cucian) yang pertama dicampur dengan debu.”[8]

  • Daging Babi

Dihukumi najis sesuai kesepakatan para ulama. Ini jelas terdapat dalam firman-Nya ﷻ 

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi — karena sesungguhnya semua itu kotor — atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

  • Bangkai

Segala sesuatu yang mati tanpa melalui proses penyembelihan yang syar’i maka dihukumi najis berdasarkan ijma’ para ulama[9]. Dasar hukumnya ialah sabda Nabi ﷺ :

إذا دبغ الإهاب فقد طهر

“Apabila kulit bangkai disamak maka ia menjadi suci.”[10]

Yang dimaksud kata al-ihabialah, kulit bangkai yang belum disamak. Pengecualian beberapa bangkai yang tidak najis:

  • Bangkai Ikan dan Belalang. Hal ini didasarkan pada riwayat Ibnu Umar :

رسول الله ﷺ قال :أحلت لنا ميتتان ودمان : أما الميتتان فالحوت والجراد وأما الدمان فالكبد والطحال

Rasulullah bersabda, “Telah dihalalkan bagi kami bangkai dan dua darah: adapun yang dimaksud dua bangkai ialah bangkai ikan dan belalang. Adapun dua (macam) darah, ialah hati dan limpa”[11]

  • Bangkai yang Darahnya Tidak Mengalir.

Misalnya lalat, semut, lebah dan yang semisalnya, hal ini merujuk kepada riwayat:

رسول الله ﷺ قال : إذا وقع الذباب في إناء أحدكم فاليغمسه كله ثم ليطرحه فإن في إحدى جناحيه داء وفي الآخر شفاء

Rasulullah bersabda, “Apabila lalat jatuh ke dalam bejana seorang di antara kamu hendaklah ia mencelupkannya, kemudian buanglah: karena sesungguhnya pada salah satu dari kedua sayapnya terdapat penyakit dan pada yang lain terdapat penawar”[12]

  • Tulang Bangkai, Tanduk, Kuku, Rambut dan Bulunya.

Semua itu suci, kembali kepada hukum asal, yaitu suci. Ini berdasarkan pada riwayat Imam Bukhari secara mu’allaq (Fathul Bari 1:342) [13] di mana ia berkata:

Az-Zuhri berkata tentang tulang bangkai, misalnya bangkai gajah dan semisalnya, “Aku mendapati sejumlah ulama salaf memakai sisir yang terbuat dari tulang bangkai dan memakai minyak rambut yang tersimpan padanya, dan mereka menganggap tidak apa-apa.”

  • Potongan Tubuh Hewan yang Masih Hidup

Misalnya seekor kambing yang ditabrak mobil dan menyebabkan bagian kakinya terlepas dari tubuhnya. Potongan kaki kambing ini dihukumi sebagai bangkai yang najis. Berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

ما قُطِع من البهيمة وهي حيةٌ فهو مَيْتٌ

“Bagian yang terpotong (terpisah) dari hewan yang masih hidup adalah bangkai”[14]

  • Daging Hewan yang Haram Dimakan

Daging ini dihukumi najis berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik:

إن الله ورسوله ينهَيانِكم عن لحومِ الحُمُر الأهلية؛ فإنها رجس

”Ketika hari perang Khabar, Rasulullah memerintahkan Abu Thalhah untuk menyeru “sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah melarang kamu makan daging keledai, karena hal tersebut najis (kotor)”[15]

Tata cara bersuci dari najis ialah mencuci bagian yang terkena najis tersebut hingga zatnya hilang.

THAHARAH HUKMIYYAH

Seperti yang telah disebutkan pada artikel sebelumnya bahwa thaharah hukmiyyah ialah bersuci dari hadats. Dan juga telah disebutkan bahwa bersuci dari hadats bisa dilakukan dengan mandi, wudhu, atau tayamum sebagai pengganti keduanya.

Pada jenis bersuci ini, kita akan membagi pembahasan menjadi tiga bagian secara umum:

  1. Bab Wudhu
  2. Bab Mandi
  3. Bab Tayamum

Hukum asal wudhu dan mandi adalah dengan menggunakan air. Namun dalam kondisi tertentu yang membuat seseorang tidak bisa bersuci menggunakan air, maka akan dibahas dalam bab Tayamum.

Dikarenakan asal bersuci ialah dengan menggunakan air, maka terlebih dahulu kita akan membahas mengenai air; jenis-jenis air, air yang bisa digunakan untuk bersuci, dan sebagainya.

Pembahasan mengenai air memiliki bab tersendiri, namun pada artikel setelah ini insyaallah akan dibahas secara umum.

Penulis : Millati Aulia Hasanah

Pembimbing : Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, Lc., MA.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Malik Kamal bin As-Sayyid Salim. Shohih Fiqhu As-Sunnah wa Adillatuhu wa Tawdhihu Madzahibi Al-Aimmah. Mesir: Daar At-Taufiq li At-Turats.

Al-Fiqhu Al-Muyassar fi Dhoui Al-Kitab wa As-Sunnah

As-Sayyid Sabiq. Fiqhu As-Sunnah. Al-Fathu lil ‘Ilami Al-‘Araby.

Muhammad bin Abu Bakar bin Qayyim Al-Jauzy. I’lamul Muwaqi’in. Beirut: Daar Al-Kitab Al-‘Arabi.

Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Asy-Syarhu Al-Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’. Saudi Arabia: Daar Ibnu Al-Jauzy.

Mustafa Bagha, Mustafa Sa’id, Ali. Al-Fiqh al-Manhaji ‘Ala Mazhab al-Imam asy-Syafi’i.

Al-Hafizh Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani. Bulugh al-Maram Min Adillah al-Ahkam.

Syaikh Muhammad Naashir as-Sa’di. Manhajus Saalikiin.

Qaadhi Abu Syujaa’. Matan Ghoyatu at-Taqriib .

Al-Alamah ‘Abdul Ghani al-Maqdisi. Tanbih al-Afham Syarh ‘Umdah al-Ahkam.


[1] H. R. Abu Daud no.385

[2] Fathu Al-Baari (6025), Syarhu Muslim li An-Nawawi (1/599)

[3] Muttafaqun ‘Alaihi, H.R

[4] Sunan Al-Baihaqy (1/115)

[5] Muttafaq ‘alaihi, H.R. Bukhari 227, Muslim 291

[6] Ialah binatang yang dagingnya tidak halal untuk dimakan

[7] H.R. Bukhari 156, Tirmidzi 17

[8] H.R. Muslim 279

[9] Pengecualian dalam hal ini ialah bangkai ikan dan belalang. Hukum bangkai keduanya adalah suci berdasarkan hadits yang menyebutkan bahwa bangkai kedua hewan ini halal. Juga yang termasuk pengecualian adalah hewan yang darahnya tidak mengalir seperti semut, lebah, dsb. Dan yang tidak termasuk bangkai adalah rambut, kuku dan tanduk hewan yang menjadi bangkai.

[10] H.R. Muslim 366

[11] H. R. Ibnu Majah 3218

[12] H. R. Bukhari 3320

[13] Fathu Al-Baari (1/332)

[14] H.R. Tirmidzi 1480

[15] H.R. Muslim 1940

Kategori: Fiqih

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *