Bagian Kedua

Tingkatan Pertama : Islam

Secara urutan keutamaan, maka kedudukan Islam di bawah Iman dan Ihsan. Sebab Islam barulah pintu gerbang memasuki jalan keselamatan. Sebagian orang memasukinya dengan terpaksa, tentu orang-orang tersebut tidaklah sama dengan orang yang masuk Islam dengan sukarela. Orang yang sukarela pun, tidak sama antara yang berhenti pada sekadar menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan dengan orang lain yang berusaha menuntut ilmu agar mendapatkan kelezatan iman, sehingga banyak melakukan amalan sunnah. Maka Islam adalah permulaan.

Sebagian manusia tentu ada yang berislam dalam tataran muslim saja. Dia belum sepenuhnya beriman, atau masih memiliki motif lain dalam keislamannya selain mengharapkan Wajah Allah.

Allah berfirman mengenai mereka dalam surat Al Hujurat ayat : 14

﴿قَالَتِ الْاَعْرَابُ اٰمَنَّا ۗ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰكِنْ قُوْلُوْٓا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِيْمَانُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۗوَاِنْ تُطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ اَعْمَالِكُمْ شَيْـًٔا ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk (Islam),’ karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amal perbuatanmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Demikian pula Rasulullah ﷺ  pernah bersabda yang artinya,

“Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya namun keimanannya belum masuk ke dalam hatinya..”[1]

Maksud beriman dengan lisannya adalah mengakui dirinya muslim dan tunduk pada syariat Allah secara lisan. Ini merupakan tingkatan yang pertama.

Tingkatan Kedua : Iman

Iman memiliki kedudukan yang lebih tinggi di atas kedudukan Islam. Iman lah yang membedakan antara muslim sejati dengan muslim yang sebatas pengakuan saja. Iman ini sifatnya lebih khusus daripada Islam. Setiap orang yang beriman sudah pasti muslim, namun tidak sebaliknya.

Iman secara bahasa yaitu at Tashdiq atau pembenaran. Adapun secara istilah, Iman adalah perkataan yang diucapkan dengan lisan, keyakinan yang sungguh-sungguh di hati, dan perbuatan dengan anggota badan. Iman dapat bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Seseorang yang hanya mengucapkan keyakinannya tanpa benar-benar meyakini, maka dia adalah munafik. Allah berfirman dalam surat Al Fath : 11

﴿يَقُوْلُوْنَ بِاَلْسِنَتِهِمْ مَّا لَيْسَ فِيْ قُلُوْبِهِمْۗ

“Mereka mengucapkan sesuatu dengan mulutnya apa yang tidak ada dalam hatinya.”

Sebagaimana telah dijelaskan di artikel Shttps://fahimna.net/2019/12/02/sudah-benar-mengenal-islam/  mengenai syarat seorang dianggap benar keislamannya, maka iman menjadi syarat utama, yaitu ketika seseorang telah bersyahadat secara lisan dengan keyakinan atas syahadatnya, lalu melakukan amalan shalih yang merupakan konsekuensi dari keyakinannya, maka saat itulah seorang muslim telah mencapai derajat keimanan.

Iman memiliki rukun dan cabang-cabang. Masalah ini akan dijelaskan pada artikel lain insyaallah.

Kata Iman dan Islam apabila disebutkan secara beriringan, maka memiliki arti yang berbeda. Islam memiliki arti amalan-amalan lahiriah (syahadat, sholat, zakat, dll) sementara iman merupakan akidah dan amalan hati (keyakinan). Namun apabila disebutkan secara terpisah, maka masing-masing kata telah mencakup kedua makna (amalan lahiriah dan amalan hati atau keyakinan).

(Bersambung..)

Penulis: Intan M. Nurwidyani

Pembimbing: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra,M.A.,


[1] H.R Abu Dawud, Ahmad, Tirmidzi. Dishahihkan Albani dalam Shohihul Jaami’ VI/308

Kategori: Tauhid

1 Komentar

Raudhatul Jamilah · 30 Juni 2021 pada 8:46 AM

MaasyaAllah…

Tulisan yg sangat bermanfaat, menguatkan, menambah keimanan dan cinta kita kepada sang pemilik hati Allah ‘azza wa jalla..semoga Allah selalu meneguhkan hqti kita dalam keimanan.

Barakallah fiiik..

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *