Bagian Ketiga

Tingkatan Ketiga : Ihsan

Ihsan merupakan tingkatan tertinggi dalam Islam. Barangsiapa telah mencapai derajat Ihsan, maka sempurnalah keislamannya.

Ihsan secara bahasa berarti kesempurnaan atas sesuatu. Diambil dari kata al Hasan, yang berarti keindahan. Ihsan terbagi menjadi tiga macam, yaitu Ihsan kepada Allah, Ihsan kepada sesama hamba Allah, dan ihsan dalam mengerjakan sesuatu. Namun pada pembahasan tingkatan keislaman ini, yang dimaksud adalah macam yang pertama; yaitu ihsan kepada Allah.

Ihsan kepada Allah ini memiliki dua tingkatan,

  1. Seseorang beribadah kepada Allah dalam keadaan seolah-olah dia dapat melihat Allah. Hal ini terjadi manakala keyakinan kepada Allah itu telah sempurna. Dan ini merupakan tingkatan tertinggi Ihsan, yang menjadi cita-cita setiap hamba yang jujur imannya kepada Allah.

Allah tidak dapat dilihat dengan mata kepala manusia saat di dunia. Namun keadaan ini bukanlah melihat dengan mata kepala, namun keadaan yang membuatnya seolah-olah dapat melihat Allah, sehingga dalam ibadahnya dia benar-benar ikhlas kepada Allah, dan memiliki keyakinan yang penuh bahwa ibadah yang dia lakukan benar-benar sedang ia persembahkan kepada Allah.

  • Seseorang beribadah kepada Allah dalam keadaan dia sadar bahwa Allah sedang menatapnya ketika melakukan ibadah tersebut. Perasaan ini membuahkan keseriusan dalam amal, berusaha memperbaiki berbagai sisi amalan sehingga ia tidak malu di hadapan penglihatan Allah terhadapnya. Ini merupakan derajat ihsan yang lebih rendah daripada derajat yang pertama. Derajat ini juga dikenal dengan sebutan al muroqobah yang berarti merasakan pengawasan Allah.

Seseorang tidak akan bisa mencapai derajat ihsan, kecuali seorang mukmin. Dan seorang mukmin tidak mungkin bisa mencapai derajat keimanan kecuali pasti dia juga seorang muslim.

Pengakuan atas keislaman masih dapat dicampuri ketidakyakinan atau bahkan kepalsuan. Sehingga seseorang yang mengaku muslim, mengandung dua kemungkinan yaitu muslim sejati atau muslim yang hakikatnya adalah munafik.

Sementara seorang mukmin juga terbagi keadaannya menjadi dua golongan, mukmin yang memiliki kekurangan dalam kadar keimanan (mukmin naqishul iman) dan mukmin yang telah sempurna keimanannya (mukmin kamilul iman).

Sebagaimana seorang yang mengklaim bahwa dia beragama Islam namun pada hakikatnya dia munafik dikarenakan tidak meyakini Islam sebagai sebuah kebenaran, dan keadaannya ini menghalangi ia dari sebutan mukmin, maka seorang mukmin yang kurang dalam kadar keimanannya tidak akan mampu menginjakkan kakinya pada derajat para muhsin.

Maka setiap muhsin pastilah mukmin kamilul iman, sebagaimana setiap mukmin pastilah seorang muslim sejati.

Demikian penjelasan mengenai tingkatan dalam islam, semoga penjelasan ini dapat memberikan petunjuk yang jelas mengenai keadaan diri pribadi kita serta jalan apa yang akan kita tempuh selanjutnya.

Billahit taufiq wal hidayah

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Penulis: Intan M. Nurwidyani

Pembimbing: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra,M.A.,

Rujukan :

  1. Arba’in Nawawi, Yahya bin Syarof An Nawawy
  2. Silsilatu Syarhil Rasa’il syarh Ushul Ats Tsalatsah, Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan
  3. Al Islam, Ahmad Abdul Ghofur Athor, Maktabah Al Mukarromah, 1980

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *