Bismillah, wash-shalaatu was-salaamu ‘ala Rasulillah , wa ‘alaa `aalihi wa shahbihi wa man waalaahu. Amma ba’du.

Pada beberapa artikel yang lalu, pernah dijabarkan seputar hukum taklif,  bahwa hukum taklif ada lima jenis. Di antara jenis hukum taklif itu adalah hukum wajib. Maka di artikel ini, penulis akan membahas lafadz atau konteks apa saja dari dalil syari’at yang bisa menunjukkan bahwa suatu perbuatan hukumnya wajib.

Hal ini karena dalam syari’at, lafadz wajib ditunjukkan dalam konteks tertentu. Seorang mukallaf penting mengetahui permasalahan ini agar ia dapat membedakan mana perintah yang sifatnya wajib maupun yang bukan wajib.

Beberapa lafadz yang mengindikasikan bahwa suatu ibadah hukumnya wajib akan dijabarkan pada penjelasan berikut.

Pertama: Kata Kerja Yang Berbentuk Perintah (Fi’il Amr)

Ini adalah konteks perintah paling umum, karena ada suatu kaidah dalam ushul fiqh yang mengatakan bahwa

الأمر يفيد الوجوب”

“Perintah (secara global) menunjukkan kewajiban.”

Contoh dari jenis pertama ini adalah firman Allah Ta’ala,

﴿وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ

“Dan laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat.”[1]

Dalam ayat ini disebutkan perintah untuk shalat dan zakat dalam bentuk fi’il amr, sehingga menunjukkan bahwa hukum shalat lima waktu dan zakat (bagi yang memenuhi syarat) adalah wajib.

Adapun contoh dari hadits adalah sabda Rasulullah ﷺ,

((صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي))

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”[2]

Kedua: Kata Kerja Bentuk Sekarang (Fi’il Mudhari’) yang Majzum Karena Adanya Huruf Lam yang Menunjukkan Perintah (Lam Al-Amr)

Contoh dari jenis kedua ini adalah firman Allah Ta’ala,

﴿وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“dan (hendaklah) mereka melakukan thawaf sekeliling rumah tua (Ka’bah).”[3]

Dalam ayat ini disebutkan fi’il mudhari majzum yang didahului lam al-amr, yaitu lafadz وليطوفوا sehingga menunjukkan bahwa hukum thawaf (mengelilingi ka’bah) saat haji maupun umrah adalah wajib.

Sedangkan dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

((وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ))

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka hendaklah ia berbicara yang baik atau diam.”[4]

Kata فليقل dan ليصمت yang disebutkan dalam hadits di atas merupakan fi’il mudhari yang bersambung dengan lam al-amr, sehingga keduanya menunjukkan bahwa kedua perbuatan tersebut hukumnya wajib.

Ketiga: Kata Benda (Isim) yang Menunjukkan Perintah (Isim Fi’il Amr)

Misal dari jenis ini adalah firman Allah ﷻ,

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu,”[5]

Dalam ayat ini disebutkan kata عليكم, dan kata ini merupakan isim fi’il amr yang artinya “wajibkan atas dirimu”, sehingga hal ini menunjukkan suatu hukum wajib.

Keempat: Mashdar yang Berkedudukan Seperti Fi’il Amr

Contoh dari jenis keempat ini adalah firman Allah ﷻ,

﴿فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ

“Maka apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang), maka pukullah batang leher mereka.”[6]

Disebutkan kata ضَرْب pada ayat ini, yang mana kata itu merupakan mashdar yang maknanya seperti perintah untuk memukul (اِضْرِبْ), sehingga menunjukkan bahwa perbuatan itu hukumnya wajib.

Misal lain adalah firman Allah ﷻ,

﴿فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَإِطْعَامُ سِتِّينَ مِسْكِينًا

“Tetapi barangsiapa tidak mampu, maka (wajib) memberi makan enam puluh orang miskin.”[7]

Kata إطعام dalam ayat ini merupakan mashdar dari kata kerja أطعم yang artinya memberi makan. Mashdar ini kedudukannya sama dengan perintah أَطْعِمْ (berilah makan), sehingga kafarat orang yang berjima’ di siang hari bulan Ramadhan, jika tidak mampu membebaskan budak dan berpuasa dua bulan berturut-turut, maka ia wajib memberi makan enam puluh orang miskin.

Kelima: Lafadz yang Secara Jelas Menggunakan Kata Kerja “Amara” (Memerintahkan) dan Turunannya[8]

Contohnya Allah ﷻ berfirman,

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,”[9]

Kata يأمر dalam ayat ini merupakan bentuk fi’il mudhari dari ”amara” yang artinya memerintahkan. Jadi, hukum menyampaikan amanat dalam ayat ini adalah wajib.

Begitu pula dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

((وَأَنَا آمُرُكُمْ بِخَمْسٍ اللَّهُ أَمَرَنِي بِهِنَّ، السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ وَالجِهَادُ وَالهِجْرَةُ وَالجَمَاعَةُ))

”Dan aku memerintahkanmu lima hal, yang mana Allah memerintahkanku itu: mendengarkan pemimpin, taat kepadanya, berjihad, berhijrah, dan menetap dengan jama’ah (kaum muslim).”[10]

Dalam hadits ini disebutkan kata آمِر yang merupakan bentuk fi’il mudhari dari kata أمر, sehingga kelima hal yang diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ tersebut hukumnya wajib.

Keenam: Lafadz yang Secara Jelas Menunjukkan Bahwa Suatu Perbuatan Hukumnya Wajib (Mengandung Kata “Awjaba”, “Faradha”, “Kataba” atau Kata Turunannya)

Misal dari jenis ini adalah firman Allah ﷻ,

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa,”[11]

Kata كتب dalam bahasa Arab juga memiliki arti “mengharuskan”, sedangkan dalam ayat ini disebut dengan bentuk fi’il madhi majhul كُتِبَ yang artinya “diharuskan”, sehingga hukum puasa yang disebutkan dalam ayat ini adalah wajib.

Contoh lainnya, Allah ﷻ juga berfirman setelah menyebutkan golongan-golongan yang wajib dizakati,

﴿فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ

“…sebagai kewajiban dari Allah,”[12]

Dalam bahasa Arab kata فريضة merupakan bentuk mashdar dari kata kerja فرض yang artinya mewajibkan. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa hukum menunaikan zakat kepada golongan yang telah disebut dalam ayat tersebut adalah wajib.

Adapun contoh dari sunnah adalah sabda Rasululllah ﷺ,

((إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ))

“Sesungguhnya Allah mewajibkan perbuatan baik (ihsan) dalam setiap perkara…”[13]

Dalam hadits ini disebutkan kata kerja كتب yang artinya mengharuskan, sehingga hukum berbuat ihsan adalah wajib.

Ketujuh: Setiap Gaya Bahasa Arab yang Menunjukkan Suatu Kewajiban

Contohnya adalah huruf jar على yang mana secara kebiasaan pengucapan bahasa Arab dapat menunjukkan bahwa kata yang diletakkan setelahnya hukumnya wajib. Seperti dalam firman Allah Ta’ala,

﴿وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ

“Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah Adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah,”[14]

Dari ayat ini dapat disimpulkan kewajiban berhaji bagi orang yang mampu, karena disbutkan على الناس (wajib atas manusia) setelah itu disebutkan perbuatan حج البيت (haji ke Baitullah).

Kedelapan: Kalimat yang Menunjukkan Konsekuensi Berupa Celaan atau Hukuman Jika Meninggalkan Suatu Perbuatan

Hal ini seperti dalam firman Allah ﷻ,

﴿فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.”[15]

Ayat ini menunjukkan secara jelas ancaman hukuman bagi orang yang menyalahi perintah Rasulullah ﷺ, sehingga dapat disimpulkan bahwa hukum menaati dan mengikuti Rasulullah ﷺ adalah wajib.

Penutup

Demikian dalam artikel ini dibahas secara ringkas macam-macam bentuk ucapan seperti apa saja yang memberi suatu faidah hukum wajib dalam syari’at. Penting bagi seorang muslim mengetahui hal ini agar ia mampu berpikir kritis dan menjadikan dalil sebagai dasar dalam ia beribadah.

Wallahu a’lam bish-shawaab.

Penulis: Zaky Hanifah

Pembimbing: Ustaz Khalid Saifullah, Lc., M.A.

Maraji’:

  • An-Namlah, Abdul Karim bin Ali bin Muhammad. 1420 H. Al-Muhadzdzab fi ‘Ilmi Ushul Al-Fiqh Al-Muqaran. Riyadh: Maktabah Ar-Rusyd. Cet. I.
  • Artikel yang diposting oleh akun fanpage di Facebook “من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين” pada tanggal 11 Februari 2011, dengan judul “توجد ألفاظ تدل على الوجوب: الحكم التكليفي الواجب أو الفرض”. (Diakses tanggal 30 November jam 13.35 WIB)

[1] QS. Al-Baqarah: 43>

[2] HR. Bukhari no. 631 (1/128).

[3] QS. Al-Hajj: 29.

[4] HR. Bukhari no. 6018 (8/11).

[5] QS. Al-Ma`idah: 105.

[6] QS. Muhammad: 4.

[7] QS. Al-Mujadalah: 4.

[8] Turunan yang dimaksud di sini adalah bentuk lain suatu kata kerja dalam ilmu sharaf, seperti fi’il madhi, fi’il mudhari’, mashdar, isim fa’il, fi’il amr, dan lainnya.

[9] QS. An-Nisa: 58.

[10] HR. At-Tirmidzi no. 2863 (4/445).

[11] QS. Al-Naqarah: 183.

[12] QS. At-Taubah: 60.

[13] HR. Muslim no. 1955 (3/1548).

[14] QS. Ali-‘Imran: 97.

[15] QS. An-Nur: 63.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *