Puji syukur kepada Allah Ta’ala yang melimpahkan taufik serta hidayah-Nya kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.


Pada pembahasan sebelumnya kita telah mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ di bawah asuhan sang kakek, yang bernama Abdul Muththalib. Namun, tatkala beliau berusia 8 tahun lebih 10 hari, sang kakek meninggal dunia pada usia 82 tahun. Kemudian pengasuhan dilanjutkan oleh paman beliau yang bernama Abu Thalib dan hak ini diwasiatkan sendiri oleh Abdul Muththalib. Keputusan ini sangat tepat karena Abu Thalib juga menyayangi beliau. Bukti kasih sayang Abu Thalib terhadapnya ialah apabila ia hendak bepergian ia selalu mengajak beliau. Oleh karena itu, ketika ia hendak pergi berdagang ke Syam, ia mengajak Nabi Muhammad ﷺ kala umur beliau menginjak 12 tahun. Perjalanan ke Syam inilah merupakan safar pertama kali yang dirasakan oleh Nabi Muhammad ﷺ.

Tatkala rombongan dagang Abu Thalib tiba di kota Bushra yang merupakan ibu kota Hauran, termasuk wilayah di Syam. Di sana ada seorang pendeta yang bernama Bahirah, yang menyepi di biaranya sejak menjadi pendeta. Ia menjadi rujukan ilmu bagi para pemeluk agama Nasrani. Akhirnya rombongan dagang Abu Thalib singgah di daerah ini, membuat sang pendeta mendatangainya dan mempersilakan mampir ke tempat tinggalnya sebagai tamu kehormatan. Padahal sebelumnya pendeta tersebut tidak pernah keluar, namun begitu dia mengetahui Rasulullah ﷺ dari sifat-sifat beliau, ia menghampiri rombongan beliau. Sambil memegang tangan beliau, pendeta tersebut berkata, “Orang ini adalah pemimpin semesta alam. Anak ini akan diutus Allah sebagai rahmat bagi seluruh alam.”


Abu Thalib bertanya, “Dari mana engkau tahu hal ini?”

Pendeta Bahirah menjawab, “Sebenarnya sejak kalian tiba di Aqabah, tak ada bebatuan dan pepohonan melainkan mereka tunduk bersujud kepada seorang nabi. Aku bisa mengetahui dari stempel kenabian yang berada di bawah tulang rawan bahunya, yang menyerupai buah apel. Kami juga mendapatkan hal itu dari kitab kami.”


Kemudian pendeta Bahirah meminta kepada Abu Thalib untuk mengembalikan Nabi Muhammad ﷺ ke Makkah, karena dia takut apabila terkena gangguan dari orang-orang Yahudi.

Hal ini pula yang menyebabkan Salman Al-Farisi masuk Islam, yaitu karena adanya sambung-menyambungnya berita tentang Nabi Muhammad ﷺ. Dikarenakan sifat-sifatnya yang disebut-sebut oleh Injil, para rahib dan orang-orang yang memahami Al-Kitab tidak menafikan bahwa banyak Ahli Kitab yang mengingkari pengetahuan ini, dan bahwa Injil yang beredar sekarang tidak mengandung satu pun isyarat tentang kenabian Nabi Muhammad ﷺ.

Rujukan :

  1. Nurul Yaqin Fi Sirati Sayyidil Mursalin, Muhammad Al-Khudari Bek, cetakan Ummul Qura, Jakarta.
  2. Ar-Rahiqul Makhtum, Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, cetakan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.
  3. As-siroh an-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, cetakan Qisthi Press, Jakarta.
  4. The Great Episodes of Muhammad ﷺ, Dr. Said Ramadhan Al-Buthy, cetakan Penerbit Naura Books, Jakarta.

Penulis: Elghautsa
Pembimbing : Ustadz Deni Irawan,LC., M.A.

Kategori: Siroh

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *