بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، الصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد.

Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas seputar Kitab-Kitab Populer Seputar Hadis Sahih. Pada kesempatan kali ini insya Allah akan membahas kelanjutan dari pembagian hadits maqbul  yaitu Hadis Hasan.

Definisi dari Hadis Hasan

Secara bahasa kata الحَسَن merupakan bentuk sifah (musyabbahah) dari kata “الحُسْنyang memiliki makna ‘kebaikan’.

Adapun secara istilah, para ahli hadis berbeda pandangan mengenai hal ini. Akan tetapi, menurut Imam As-Suyuthi rahimahullah semua pendapat tersebut tidak cukup memuaskan, karena beberapa pendapat tersebut tidak memisahkan antara istilah hasan dari pengertian hadis sahih. Dari beberapa pendapat tersebut pendapat Ibnu Hajarlah yang menjadi pilihan yang tepat untuk merepresentasikan hadis hasan, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Mahmud At-Thahhan hafidzahullah.

Istilah hasan menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah :

“Suatu hadis yang bersambung rantai sanadnya yang dinukil oleh perawi yang adil, yang kekuatan hafalannya di bawah perawi hadits sahih dari perawi semisalnya sampai akhir sanad tanpa ada syudzudz dan ‘illah”.

Hadis hasan terbagi menjadi 2:

  1. Hadis hasan lidzatihi: definisi hasan diatas merupakan definisi hasan lidzatihi.
  2. Hadis hasan li ghairihi: insya Allah akan dibahas di penjelasan selanjutnya.

Hukum Hadis Hasan:

Hukum hadis hasan sama halnya dengan hukum hadis sahih, walaupun memang ada perbedaan dari segi kekuatannya, hadis hasan derajatnya berada di bawah hadis sahih. Para ulama fiqih bersepakat bahwa hadis hasan merupakan hujah serta kandungan maknanya wajib diamalkan. Adapun para ahli hadis, sebagian besar mereka berhujah dengannya kecuali beberapa kalangan dari mereka yang memiliki pemikiran ekstrimis.

Contoh dari Hadis Hasan:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ: حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ الضُّبَعِيُّ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الجَوْنِيِّ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ، قَال: سَمِعْتُ أَبِي، بِحَضْرَةِ العَدُوِّ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ أَبْوَابَ الجَنَّةِ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ»

(Hadis ini dikeluarkan oleh Imam At-Tirmizi rahimahullah dalam Sunannya no.1659)

Imam Tirmizi rahimahullah mengomentari hadis ini: “حديث حسن  غريب” “hadis ini adalah hadis hasan gharib”. Syaikh Mahmud Ath-Thahhan hafidzahullah mengatakan bahwa perawi hadis ini semuanya tsiqoh (dapat dipercaya) kecuali Ja’far bin Sulaiman Ad-Duba’i, dikarenakan hadis-hadis beliau hasan.

Tingkatan-Tingkatan Hadis Hasan:

  1. Tingkatan paling tinggi dalam hadis hasan ialah hadis-hadis yang diperselisihkan perawinya, sehingga hukum hadis tersebut berada di antara sahih atau hasan. Tingkatan ini merupakan tingkatan paling rendah dalam hadis sahih.

Contoh:

حديث بهز بن حكيم، عن أبيه، عن جده، وعمرو بن شعيب، وابن إسحاق، عن التيمي.

dan yang semisalnya.

  1. Adapun tingkatan di bawahnya adalah: Hadis-hadis yang diperselisihkan perawinya sehingga hukumnya diantara hasan dan dha’if.

Contoh:

حديث الحارث ابن عبد الله، وعاصم بن ضمرة، وحجاج بن أرطاح.

dan yang semisalnya.

Maksud Perkataan Ahli Hadits:1 atau2

Jika menemukan perkataan seorang ulama hadis yang menghukumi hadis dengan redaksi di atas, bukan berarti hukum hadis tersebut sahih atau hasan secara mutlak. Karena bisa jadi yang disahihkan itu dari sisi sanadnya saja, bukan dengan matan hadisnya. Suatu hadis bisa dikatakan hadis yang sahih jika memenuhi 5 syarat: yaitu sanad yang bersambung, perawi yang adil, memiliki kualitas hafalan yang bagus, dan selamat dari syaz dan illah, adapun hadis yang dihukumi dengan redaksi di atas hanya memenuhi 3 dari syarat tersebut: yaitu sanad yang bersambung, perawi yang adil, memiliki kualitas hafalan yang bagus, tetapi belum terbebas dari adanya syaz dan illah. Lain halnya jika redaksi di atas diucapkan oleh seorang yang ulama hafiz yang mumpuni, kemudian beliau tidak menyertakan illah di dalamnya maka hadis tersebut dihukumi sahih baik dari sisi sanad dan matannya.

Maksud Perkataan Imam Tirmizi rahimahullah ((حديث حسن صحيح))

Redaksi di atas mungkin mengundang kebingungan, bagaimana mungkin sahih dan hasan bisa berkumpul dalam satu hadis, bukankan hadis hasan derajatnya berada di bawah hadis sahih? Para ulama hadis berusaha menjabarkan maksud Imam Tirmizi mengenai redaksi tersebut, akan tetapi perkataan yang paling bagus adalah perkataan Ibnu Hajar rahimahullah sebagaimana telah disetujui oleh Imam As-Suyuthi rahimahullah di bawah ini:

  1. Jika hadis tersebut memiliki 2 jalur periwayatan atau lebih maka artinya adalah sanad tersebut sahih pada salah satu jalur periwayatannya, dan hasan pada jalur lainnya.
  2. Jika hadis tersebut hanya memiliki satu jalur periwayatan maka maksudnya adalah hadis tersebut dihukumi sahih oleh suatu kaum dan dihukumi hasan oleh kaum lainnya. Imam Tirmizi rahimahullah seperti mengisyaratkan adanya perbedaan pendapat dalam hukum hadis tersebut, atau belum ada pendapat yang dikuatkan diantara keduanya.

Kitab-Kitab yang Memuat Hadis Hasan.

Sejauh ini tidak ada ulama hadis yang mengumpulkan hadis hasan menjadi satu kitab utuh, seperti halnya hadis sahih. Akan tetapi banyak  kitab-kitab hadis yang  memuat di dalamnya hadis-hadis hasan, diantaranya ialah:

  1. Jami’ At-Tirmizi
  2. Sunan Abi Daud
  3. Sunan Ad-Daruquthni

Demikan penjelasan singkat mengenai hadis hasan, insyaallah penjelasan selanjutnya akan membahas tentang salah satu jenis hadis maqbul lainnya yaitu sahih lighairihi. Wallahu A’lam.

Sumber:

  1. Taisir Mushthalahul Hadits, Dr. Mahmud ath-Thahhan, Maktabah al Ma’arif, Cetakan kesebelas, 1430 H.
  2. Tadrib Ar-Rawi jilid 1, Jalaluddin As-Suyuthi, Daar Al-’Ashimah, Cetakan pertama, 1423 H.      

Penulis: Shalsabila
pembimbing: Nandang Husni Azizi, S.Ag

  1. هذا صحيح الإسناد []
  2. هذا حديث حسن الإسناد []

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *