Mahasuci Allah yang memiliki kerajaan langit dan bumi, dan apa yang ada di antara keduanya; kita memuji-Nya atas keagungan-Nya dan bersyukur pada-Nya atas nikmat-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah atas utusan-Nya, Nabi Muhammad. Allahumma shalli ’alaih.

Apa Itu Isim Mamnu’ Minash Sharf?

Isim Mamnu’ Minash Sharf adalah sebutan untuk isim-isim yang tidak boleh dibaca dengan tanwin. Kaidah asalnya, bagi isim mufrad dan jamak taksir adalah bisa dibaca dengan tanwin. Seperti yang kita tahu, tanwin adalah salah satu ciri isim. Dan biasanya jika tidak diawali alif dan lam, dia diakhiri dengan bacaan tanwin. Pada isim yang mamnu’ minash sharf, mereka memang tidak boleh dibaca dengan tanwin, misalnya pada kata أَحْمَدُ tidak dituliskan أَحْمَدٌ. Dan isim ini tidak menerima harakat kasrah.

I’rab Isim Mamnu’ Minash Sharf

I’rabnya hampir sama dengan isim-isim lainnya, kecuali dia tidak menerima harakat kasrah. Jika disimpulkan, i’rab isim mamnu’ minash sharf sebagai berikut:

  1. Dia marfu’ dengan dhammah (tidak boleh dibaca tanwin), misalnya: ذَهَبَ أَحمَدُ.
  2. Dia manshub dengan fathah (tidak boleh dibaca tanwin), misalnya: رَأَيْتُ أَحْمَدَ.
  3. Dia majrur dengan fathah, karena tidak menerima harakat kasrah (juga tetap tidak boleh dibaca tanwin), misalnya: مَرَرْتُ بِأَحْمَدَ.

Pembatal I’rab Mamnu’ Minash Sharf

Isim-isim tertentu tadi, tidak selamanya selalu mamnu’ minash sharf, adakalanya amalan mamnu’ minash sharf tadi batal, dan isimnya dii’rab seperti isim biasa (menerima kasrah). Ada dua alasan kenapa amalan tersebut bisa batal:

  1. Posisi isim tersebut adalah sebagai mudhaf. Misalnya dalam firman Allah:

﴾ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ فِیۤ أَحۡسَنِ تَقۡوِیمࣲ ﴿ “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At-Tin: 4)

  1. Isim tersebut dimasuki (diawali) alif dan lam. Misalnya dalam firman Allah:

﴾ وَلَا تُبَـٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمۡ عَـٰكِفُونَ فِی ٱلۡمَسَـٰجِدِ ﴿ “Tetapi jangan kamu campuri mereka (istri-istrimu), ketika kamu beri’tikaf dalam mesjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Macam-Macam Isim Mamnu’ Minash Sharf

Mamnu’ minash sharf dikategorikan menjadi ‘alam, sifat dan isim.

‘Alam menjadi mamnu’ minash sharf antara lain jika:

  1. ‘Alam Muannats. Baik diakhiri dengan ta marbuthoh (ة) atau tidak. Misalnya: فَاطِمَةُ ، زَيْنَبُ ، سُعَادُ. Namun khusus untuk ‘alam muannats yang tersusun dari tiga huruf dan huruf tengahnya sukun (seperti هِنْدٌ ) boleh mamnu’ minash sharf dan boleh juga tidak.

Jadi jika kita mengatakan كَنَسَتْ هِنْدٌ boleh-boleh saja. Atau kita ingin mengatakan كَنَسَتْ هِنْدُ juga boleh.

  1. Nama A’jamiy atau nama asing non-arab yang telah diserap kedalam bahasa arab fusha. Misalnya: إِبْرَاهِيْمُ ، إِدْرِيْسُ. Jika tersusun dari tiga huruf dan tengahnya sukun, diperbolehkan keduanya (mamnu’ minash sharf atau tidak).

Misalnya: نُوْحُ atau لُوْطُ , نُوْحٌ atau لُوْطٌ .

  1. Isim Murakkab Tarkib Mazjiy. Dalam arti mudahnya, tarkib mazji adalah penggabungan dua kata yang dijadikan satu kata. Misalnya dalam bahasa indonesia ada Sura (hiu)dan Baya (buaya)digabungkan menjadi Surabaya (bukan lagi hiu dan buaya). Dalam bahasa arab contohnya seperti: حَضْرَمَوْتُ .
  2. Akhir katanya ditambah dengan alif dan nun (ان) tapi bukan untuk menunjukkan makna dua (مثنى). Misalnya: سُلَيْمَانُ ، عُثْمَانُ.
  3. Jika mengikuti wazan fi’il. Misalnya: أَحْمَدُ (mengikuti wazan أَفْعَلُ), يَزِيْدُ (mengikuti wazan يَفْعِلُ).
  4. Berwazan فُعَلُ. Misalnya: عُمَرُ.

Sifat menjadi mamnu’ minash sharf antara lain jika:

  1. Berwazan فَعْلَان dan muannatsnya فَعْلَى. Misalnya: عَطْشَانُ (muannatsnya عَطْشَى) yang artinya haus, غَضْبَانُ (muannatsnya غَضْبَى) yang artinya marahdan sebagainya.
  2. Berwazan أَفْعَل. Misalnya: أَخْضَرُ (hijau), أَكْبَرُ (lebih/paling besar) dan أَحْمَدُ (Ahmad (nama orang)).
  3. Apabila isim dari 1-10 dibentuk dengan wazan فَعَالُ atau مَفْعَلُ. Misalnya: مَثْنَى ، ثُلَاثُ ، رُبَاعُ.
  4. Kata (أُخَرُ) jamak (أُخْرَىٰ).

Isim menjadi mamnu’ minash sharf antara lain jika:

  1. Shighah Muntahal Jumu’ (صِيْغَةُ مُنْتَهَى الجُمُوْعِ). Yaitu berwazan:

أَفَاعِلُ – أَفَاعِيلُ – فَعَائِلُ – مَفَاعِلُ – مَفَاعِيلُ – فَوَاعِلُ – فَعَالِيلُ.

Yang Mamnu’ Minash Sharf Secara Mutlak

Isim menjadi mamnu’ minash sharf secara mutlak, jika diakhiri alif ta’nits maqshurah (أَلِفُ التَّأْنِيْثِ المَقْصُوْرَةِ)atau alif ta’nits mamdudah (أَلِفُ التَّاْنِيْثِ المَمْدُوْدَةِ). Baik dia ‘alam, sifat atau isim, jamak atau mufrad.

Contoh yang diakhiri alif ta’nits maqshurah: عَطْشَى ، جَوْعَى ، سَلْوَى ، نَجْوَى.

Contoh yang diakhiri alif ta’nits mamdudah: زَهْرَاءُ ، خَضْرَاءُ ، صَحْرَاءُ ، أَصْدِقَاءُ.

Perlu diperhatikan, syaratnya adalah alif ta’nits, jika isim tersebut diakhiri alif maqshurah atau mamdudah namun bukan ta’nits, maka tidak mamnu’ minash sharf. Seperti kata فَتًى , alifnyaberupa alif maqshurah yang asli (bukan hasil ta’nits), maka dii’rab seperti biasa (bisa dibaca tanwin dan diberi harakat kasrah).

Referensi:

  1. Al-Qur’an Al-Karim
  2. Dalilus Salik ila Alfiyat Ibnu Malik, Abdullah bin Shalih Al-Fauzan
  3. Mulakhos Qawa’idil Lughah Al-’Arabiyah, Fuad Ni’mah
Kategori: Nahwu

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *