الحمد لله  رب العالمين، الصلاة و السلام على أشرف الأنبياء و المرسلين، و على آله  و صحبه أجمعين، و بعد

Para ulama bersepakat bahwa membasuh tangan sebelum wudhu adalah sunnah. Para ulama juga bersepakat tentang wajibnya membasuh tangan, jika tangan terkena najis sebelum masuk ke dalam bejana.

Namun, para ulama berbeda pendapat hukum membasuh tangan sebelum memasukkannya ke bejana jika belum terkena najis.

Sebab perbedaan pendapat ini adalah perbedaan perspektif mengenai hadits Abu Hurairah:

“إذا استيقظ أحدكم من نومه فليغسل يده قبل أن يدخل الإناء، فإن أحدكم لا يدري أين باتت يده”

jika salah seorang diantara kalian bangun dari tidurnya maka hendaklah dia membasuh tangan-nya sebelum memasukkannya ke bejana, karena sesungguhnya kalian tidak tahu di mana bermalam tangan kalian (karena ia tidak mengetahui apa yang disentuh tangannya semalam).

Imam Malik dan Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i berpendapat bahwa hukumnya sunnah secara mutlak apabila dalam keadaan suci. Dalilnya berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :  فليغسل يده (hendaklah dia membasuh tangan), mengandung makna perintah yang bersifat sunnah karena bertentangan dengan dzahir ayat :  إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا “dan jika kalian mendirikan shalat maka basuhlah” (Q.S. AL-Maidah: 6), karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam konsisten melakukannya, maka pekerjaan tersebut menjadi salah satu sunnah.

Abu Dawud dan sahabat-sahabatnya berpendapat bahwa hukum membasuh tangan yang belum terkena najis sebelum memasukkannya ke bejana adalah wajib bagi orang yang tidur siang dan malam. Dalilnya berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :  فليغسل يده (hendaklah dia membasuh tangan), maka dzahir hadits ini menunjukkan perintah dan tidak ada pertentangan di dalam hadits ini dengan ayat ini, إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا “dan jika kalian mendirikan shalat maka basuhlah” (Q.S. AL-Maidah: 6). Maka yang terbangun dari tidur lafadznya umum (tidak dibedakan antara tidur siang dan tidur malam), alasannya dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam : لا يدري أين باتت يده  “tidak tahu di mana bermalam tangannya”. Makna dari باتت  adalah صارت yang artinya لا يدري أين صارت يده  “dia tidak tahu di mana tangannya”.

Imam Ahmad berpendapat wajib apabila tidur di malam hari saja. Dalilnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam لا يدري أين باتت يده  “dia tidak tahu di mana tangannya bermalam” , lafadz البيات  (malam-malam) menunjukkan tidur di malam hari saja. Adapun hadits pendukungnya yaitu sabda shallallahu ‘alaihi wa sallam : إذا استيقظ أحدكم من الليل فليغسل يده  “jika salah seorang diantara kalian bangun di malam hari maka hendaklah dia membasuh tangannya”.

Pendapat yang rajih (kuat) dalam masalah ini adalah pendapat keempat. Yaitu pendapat Imam Ahmad yang mengatakan wajib membasuh tangan sebelum memasukkannya ke bejana jika belum terkena najis, hanya untuk tidur dimalam hari saja. Karena dzahir haditsnya menunjukkan kewajiban, dan lafadz باتت  (bermalam) menunjukkan tidur di malam hari. Wallahu a’lam.

DAFTAR PUSTAKA

Jadawil Fiqhiyyah, Syaikh Dzahir bin Fakhri Adz-Dzahir

Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid,  Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Rusyd Hafidi

Taudhihul Ahkam Syarh Bulughul Maram, Syaikh Al-‘allamah Abdullah bin Abdirrahman Al-Bassam Jilid 1

Penulis: Yusro Tika Affiyah

Pembimbing: Ustadz Muhammad Arifin Badri, Lc.MA

Kategori: Fiqih

1 Komentar

Zai · 10 Februari 2022 pada 12:03 PM

Masyaallah barakallahu fiikunna

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *