“Muslim Bin Hajjaj adalah ulama’nya ummat manusia dan bejana nya ilmu” -Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Farra’

NASAB DAN KELAHIRAN

Beliau adalah Abul Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim bin Ward bin Kausyaz Al-Qusyairi An-Naisaburi. Lahir di Naisabur, sebuah wilayah di Khurasan, pada tahun 206 H, di masa kekhilafahan Harun Ar-Rasyid dari dinasti Abbasiyyah.

SEMANGAT BELAJAR DAN KEILMUAN DI MASA MUDA

Imam Muslim mulai melakukan rihlah mencari hadits di usia 18 tahun, dan berguru kepada Yahya bin Yahya At-Tamimi. Lalu menuntut ilmu ke Makkah kepada Al-Qa’nabi. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan ke Hijaz, Iraq, Syam Mesir dan Baghdad.

Era Imam Muslim di abad ketiga adalah era berkembangnya ilmu pengetahuan dimana tsaqafah Islamiyyah sedang menuju ke puncak kejayaannya. Pada masa itu ilmu hadits bersinar dengan muhaddits sekaliber Imam Bukhari, Ahmad bin Hanbal, Ali Al-Madini, Yahya bin Ma’in, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan banyak lagi dari kalangan ulama tersohor di bidang hadits. Ilmu tarikh juga melahirkan tokoh-tokoh sekelas At-Thabari dan Muhammad bin Sa’d. Ilmu bahasa tidak kalah sukses menelurkan Al-Jahidz, Ibnu Duraid, Ibnu Qutaibah, dan selainnya. Masa itu adalah masa keemasan ilmu dimana pendidikan berkembang dengan pesat.

Imam Muslim muda jatuh cinta pada ilmu pengetahuan. Ayah beliau merupakan salah seorang masyayikh dan memberikan sumbangsih besar dalam keilmuan beliau, diantaranya mengirim beliau ke kuttab untuk mempelajari Al-Qur’an dan bahasa arab.

Beliau mulai menyusun Shahih Muslim di usia 29 tahun di Naisabur dan menyelesaikannya selama kurang lebih 15 tahun, meringkas sebanyak 7395 hadits dari kurang lebih 300. 000 hadits yang beliau dengar dari guru-guru beliau.

GURU-GURU BELIAU

Imam Muslim berguru kepada Imam Bukhori, Imam Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Yahya An-Naisaburi, Ishaq bin Rahawaih, Abdulloh Ad-Darimi, Abu Khaitsamah Zuhair bin Harb, Qutaibah bin Said, Sa’id bin Manshur, Al-Qa’nabi, Muhammad bin Yahya bin Abi Umar, Muhammmad bin Yahya Adz-Dzuhli, Muhammad bin Al-Ala’, Abu Musa bin Muhammad bin Al-Mutsanna, Syaiban bin Farwakh, Haitsam bin Kharijah, Ahmad bin Yunus, Ismail bin Abi Uwais, dan selainnya dari kalangan ulama’ muhadditsin.

Al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal menyebutkan setidaknya beliau berguru kepada lebih dari 200 masyayikh.

MURID-MURID BELIAU

Diantara ulama’ yang mengambil ilmu dari beliau adalah Shahibus sunan, Imam Tirmidzi, An-Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah, juga Ibnu Abi Hatim Ar-Razi penulis kitab Al-Jarh wat Ta’dil, Abdulloh bin Hafidz Al-Balkhi, Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, Ibrahim bin Abi Thalib, Ali bin Ismail Ash-Shaffar, Ibrahim bin Ishaq dan masih banyak lagi dari kalangan muhadditsin.

KARYA-KARYA BELIAU

Imam Muslim menulis banyak karya ilmiah di bidang hadits diantaranya “Shohih Muslim”, kitab rujukan hadits kedua setelah “Shahih Bukhori”, kemudian kitab Al-Wuhdan (rawi yang bersendiri), “Al-Aqran”, “At-TAmyiz”, “Al-Ilal”, “Al-Afrad”, “Sual ila Ahmad bin Hanbal”, “Masyayikh Malik”, “Masyayikh Ats-Tsauri”, “Kitab Amr bin Syuaib”, “Masyayikh Syu’bah”, dan masih banyak lagi karya beliau di bidang hadits.

PUJIAN ULAMA’ TERHADAP BELIAU

Imam Adz-Dzahabi dalam As-Siyar menyebutkan, “Muslim bin Hajjaj adalah Al-Imam Al-Kabir, Al-Hafidz, Al-Mujawwid, Al-Hujjah, As-Shadiq.”

Muhammad bin Basyar berkata, “Para hafidz di dunia ini ada 4 orang, Abu Zur’ah di Rayy, Muslim bin Hajjaj di Naisabur, Abdullah Ad-Darimi di Samarqand, dan Muhammad bin Ismail di Bukhara.”

Ishaq Al-Kausaj berkata, “Sesungguhnya kebaikan tidak akan lenyap selagi engkau (Muslim bin Hajjaj) masih ada di antara kaum muslimin.”

Ahmad bin Salamah menyebutkan bahwa Abu Hatim dan Abu Zur’ah keduanya mendahulukan Muslim bin Hajjaj dalam hal mengetahui keshahihan suatu hadits daripada para ulama’ selainnya di masanya.

Maslamah bin Qasim menyebutkan, “Muslim bin Hajjaj adalah seorang yang tsiqah dan agung kedudukannya diantara para imam.”

WAFAT DAN UMUR BELIAU

Beliau wafat pada hari ahad di waktu malam, dan dikuburkan pada hari senin pagi, tanggal 25 Rajab tahun 261 H, pada usia 55 tahun.

Al-Khatib Al-Baghdadi menyebutkan bahwa sebab kematian beliau adalah tatkala dalam majelis mudzakarah beliau disebutkan sebuah hadits dan beliau tidak mengetahuinya, maka beliau berpaling ke rumahnya, menyalakan lampu dan bergegas mencari hadits tersebut. Lantas disuguhkanlah kepada beliau sekeranjang kurma dan beliau memakannya sambil mencari hadits sebutir demi sebutir hingga tatkala pagi tanpa disadari telah habis sekeranjang kurma tersebut, dan akibat dari makan kurma itulah yang diduga sebagai penyebab kematian beliau.

Rahimahullah Rahmatan Waasiatan. Wallohu A’lam.

Referensi:

1. Al-Imam Muslim bin Hajjaj, Syaikh Sholih bin Najib, Juni 2021

https://www. alukah. net/culture/0/147875/

2. Al-Ma’usuah At-Tarikhiyyah, Majmu’atul Bahitsin biisyrafi Syaikh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqqaf, Ad-Durarus Saniyyah, Januari 2012

https://al-maktaba. org/book/32634/795

3.  Ta’rif Al-Imam Muslim, Lara Abyat, Juni 2020

https://mawdoo3. com/تعريف_الإمام_مسلم

4. Siyar A’lamin Nubala’ juz 12, Syamsuddin Adz-Dzahabi, Cetakan Muassasah Ar-Risalah, Beirut

Penulis artikel: Khumairo’ binti Fritz

Pembimbing: Ustadz Hendri Waluyo Lensa, Lc. M. Hum.

Kategori: Biografi

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *