Bismillah, Dengan menyebut nama Allah, Rabb semesta alam Yang Maha Perkasa dan Maha Mulia. Ar-Rahman, yang belas kasihnya meliputi seluruh makhluk. Shalawat dan salam atas utusan-Nya, Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Manusia sebagai salah satu dari sekian banyak ciptaan Allah, merupakan tanda atau bukti kebenaran Allah yang tak terbantahkan. Allah Ta’ala berfirman: “Dan (ada tanda kebesaran Allah juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)

Allah Sebagai Pencipta Manusia

Allah adalah satu-satunya pencipta manusia, bahkan satu-satunya pencipta seluruh alam semesta. Dan hal ini adalah fakta yang tak terelakkan dan tak terbantahkan dengan adanya banyak bukti atau dalil yang menguatkannya. Diantaranya firman Allah Ta’ala: “Dia (Allah) telah menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.” (QS. Ar-Rahman: 14) Allah adalah Sang Pencipta Yang Maha Pemurah dan Maha Bijaksana. Dia menyayangi semua ciptaan-Nya, mengayomi dan memberi mereka rezeki. Padahal tak jarang, beberapa ciptaan-Nya seperti manusia, malah berbuat durhaka dan tak bersyukur. Bahkan Allah berfirman: “Katakanlah: “Wahai hamba-Ku yang melampaui batas, janganlah kalian terputus dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53) Dan Dia tidak serta merta meninggalkan kita begitu saja, dibiarkan berkeliaran tanpa petunjuk. Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul (Muhammad) kepada kamu, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus seorang rasul kepada Fir’aun.” (QS. Al-Muzzammil: 15)

Allah adalah Tuhan yang akan menegurmu kala kau salah. Mengajakmu pulang setiap kali kau lupa rumah. Memanggilmu setiap kali kau berjalan terlalu jauh. Terkadang dia akan murka, memberimu hukuman dan cobaan yang beragam demi membimbingmu. Demi menguatkan akarmu agar kau tak goyah, dan melatih sayapmu agar kau bisa terbang dengan selamat. Mungkin kau akan merasa tak terima, menangis di malam hari karena luka di hati. Tapi di kemudian hari, begitu kau paham bahwa yang menzalimi dirimu tidak lain adalah dirimu sendiri, kau akan sadar bahwa Dia tidak pernah meninggalkanmu sendiri. Kau akan banyak menangis karena kesalahanmu, tapi tiap kali kau menghadap-Nya penuh penyesalan dan harapan, Dia akan menerimamu dengan lapang. “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sungguh, Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53) Maka sangat tidak pantas jika kita sampai mengkhianati-Nya, atau malah berpaling dari-Nya kepada sesuatu yang tidak memberi kita manfaat atau mudharat. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali.” (QS. An-Nisa: 116)

Penciptaan Manusia

Allah ‘azza wa jalla berfirman: “Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal dari) tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan ‘alaqah, lalu Kami jadikan ‘alaqah itu mudhghah. Maka Kami ciptakan (dari) mudghah itu tulang, lalu Kami bungkus tulang itu dengan daging, lalu jadikan dia sesuatu (ciptaan) yang lain. Maka Maha Suci Allah sebaik-baik pencipta.” (Q.S Al-Mu’minun: 12)

Allah menyebutkan dalam ayat-ayat ini tentang fase-fase dalam penciptaan manusia. Dia menyebutkan awal dari penciptaan manusia pertama, Adam ‘alaihissalam. Bahwa ia diciptakan dari saripati tanah liat yang diambil dari seluruh bumi. Itulah sebabnya anak-anaknya datang membawa sifat tanahnya: di antara mereka ada yang baik dan ada yang buruk, ada yang diberi kemudahan dan ada yang diberi kesedihan, dan ada pula yang di antara keduanya.

Kemudian Allah jadikan keturunan-keturunannya dari air mani, yang kemudian Allah tempatkan (simpan) di tempat yang kokoh (rahim), terlindung dari kerusakan dan bahaya, bahkan dari angin sekalipun. Kemudian Allah ciptakan ’alaqah, yaitu segumpal darah merah, empat puluh hari setelahnya (dari air mani tersebut). Empat puluh hari berikutnya Allah jadikan ’alaqah  itu mudghah, yaitu segumpal daging, atau potongan daging kecil. Kemudian Allah jadikan segumpal daging itu tulang belulang, diantaranya ada yang lunak dan keras, lalu membungkusnya dengan daging lagi sesuai dengan kebutuhan tubuhnya.

Kemudian dari sana Allah ciptakan sesuatu yang lain. Dengan dihembuskan ruh ke dalamnya, lalu berpindah dari benda mati hingga menjadi makhluk hidup (manusia).

Manusia Sebagai Ciptaan Allah

Sudah sepatutnya bagi manusia, untuk mengenal siapa penciptanya. Jika anak yang melupakan orang tuanya disebut durhaka, maka bagaimana dengan manusia yang tak mengenal siapa penciptanya, yang memberikannya kehidupan dan menjadikannya manusia? Karena itu pengetahuan tentang Allah sebagai pencipta manusia, sebagai rabb mereka, dikatakan sebagai salah satu dari tiga asas fundamental bagi manusia. Dan Allah tidak menciptakan manusia dengan sia-sia, melainkan dengan tujuan yang jelas:”Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah-Ku (beribadah kepada-Ku)” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Wajar saja jika islam disebut sebagai nikmat terbesar. Karena dengan islam kita mengenal Allah, mengenal Tuhan kita. Melalui islam kita tahu kepada siapa kita berdoa, untuk siapa kita hidup. Karena Allah memberi kita hidayah islam, kita tahu kenapa kita harus hidup. Kenapa kita harus bersusah payah membuka mata di pagi hari, apa tujuan hidup, mana yang benar dan mana yang salah.

Bisakah kau bayangkan bagaimana hidup seseorang yang tak mengenal Tuhannya? Kepada siapa dia berdoa? Kemana dia akan berlari? Dan jika seluruh dunia menolaknya, kemana lagi dia harus pulang?

Dan di hari-hari dia merasa putus asa, menatap ke langit dan meminta entah pada siapa, mungkin terbesit dalam hatinya, ‘Jangan berharap. Tidak akan ada yang menjawab doamu.’

Bisakah kau bayangkan hidup seseorang tanpa petunjuk?  Dia mempertanyakan setiap pilihannya, dipenuhi keraguan sepanjang hayatnya. Apakah yang kulakukan ini benar? Dihantui rasa bersalah, seakan semua beban di dunia ini miliknya.

Allahumma tsabbit quluubanaa ‘alaa diinik, wa tsabbit quluubanaa ‘alaa thoo’atik

Referensi:

  1. Al-Qur’an Al-Karim
  2. Al-Bidayah wa An-Nihayah, Ibnu Katsir
  3. Tafsir As-Sa’di, Abu Abdillah bin Abdurrahman bin Naashir bin Abdullah bin Naashir As-Sa’di
  4. Tsalatsatul Ushul wa Adillatuha, Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman At-Tamimi
Kategori: Tauhid

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *