Segala puji bagi Allah, dan segala kebajikan akhirat itu bagi mereka yang takut akan Allah. Maka tidak ada permusuhan kecuali atas orang-orang yang zalim. Shalawat dan salam atas Nabi Muhammad dan seluruh utusan lainnya, serta keluarga, para sahabat dan pengikutnya hingga hari akhir.

Mengenai dua kalimat syahadat: keduanya adalah kunci menuju Islam. Dua kesaksian ini adalah dasar agama, yang dengan keduanya orang-orang kafir yang mengucapkannya masuk Islam, terhitung menjadi bagian dari orang-orang Islam, dan dapat menerima haknya seperti orang-orang Islam lainnya.

Lafadz Dua Kalimat Syahadat

Lafadznya berbunyi: ‘Asyhadu allâ ilâha illallâh wa asyhadu anna muhammadar rasulullâh.’ Yang artinya: “Saya bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah.” 

Makna Asyhadu Allâ Ilâha Illallâh

Secara umum, makna kalimat pertama (saya bersaksi bahwasanya tiada Tuhan selain Allah) adalah pengakuan seseorang dengan lisan dan hatinya, bahwasanya tidak ada satupun yang berhak disembah selain Allah. Karena ketika seseorang menuhankan sesuatu, dia menyembahnya. Syahadat diharuskan dengan lisan dan hati sekaligus, bukan hanya salah satunya. Namun memang ada diantara manusia yang mengucapkan kalimat syahadat tanpa disertai hatinya, seperti orang-orang munafik. “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa engkau adalah rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar rasul-Nya; dan Allah menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (QS. Al-Munafiqun: 1) Terkadang juga ada orang yang mengakui esensi atau makna dari dua kalimat syahadat, namun tidak mengucapkannya. Pada kasus ini, menurut Syaikh Utsaimin, keimanan tersebut tidak bermanfaat baginya di dunia. Dalam artian tidak diakui keislamannya di dunia, selama dia tidak mengucapkannya. Kecuali jika dia tidak mampu, seperti pada orang bisu, maka hukumnya berubah sesuai keadaannya, wallahu a’lam.

Kalimat lâ Ilaha illallah sendiri mengandung makna meniadakan (makna nafi) sekaligus menetapkan sesuatu (makna isbat). Makna nafi terkandung dalam dua kata pertama لا إله (tiada Tuhan). Maka disini kita meniadakan, atau membantah eksistensi semua tuhan atau sesembahan.  Makna isbat yaitu pada kalimat إلا الله (kecuali Allah). Disini kita menetapkan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah,

Ringkasnya, ketika seseorang mengucapkan asyhadu allâ ilâha illallâh dia memberikan kesaksian atau pengakuan atas batilnya semua tuhan selain Allah dan eksistensi Allah sebagai satu-satunya tuhan yang berhak disembah. Dan kesaksian ini dilakukan dengan adanya keyakinan penuh atas apa yang dipersaksikannya.

Konsekuensi Kalimat Lâ Ilâha Illallâh

Karena kalimat ini sendiri mengandung makna memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata, maka konsekuensi bagi yang mengucapkannya, adalah wajib baginya beribadah ikhlashanya kepada Allah semata (tauhid) dan haram baginya memalingkan ibadah tadi kepada selain Allah (syirik). Singkatnya, wajib bertauhid dan menjauhi kesyirikan dan kemaksiatan. Karena ketika seseorang berbuat maksiat, seakan-akan dia menuhankan hawa nafsunya di atas perintah atau larangan Allah. Syirik jelas dilarang karena semua tuhan selain Allah adalah batil: “Apa yang kamu sembah selain Dia, hanyalah nama-nama yang kamu buat-buat, baik oleh kamu sendiri maupun oleh nenek moyangmu. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang hal (nama-nama) itu. Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40)

Tauhid sendiri dibagi menjadi tiga: uluhiyyah, rububiyyah dan asma wa sifat (telah dijelaskan dalam artikel ‘Apa yang Perlu Kita Ketahui Tentang Allah?’)

Syarat-Syarat Lâ Ilâha Illallâh

Syahadat lâ ilâha illallâh tidak akan bermanfaat bagi pengucapnya dan tidak akan melindunginya dari api neraka, kecuali dengan tujuh syarat:

  1. Dia mengetahui maknanya. Barangsiapa yang mengucapkannya tanpa tahu apa maksudnya, atau tanpa meyakini keesaan Allah di tiap ibadahnya, tidak berguna baginya syahadatnya.
  2. Yakin, bebas dari keraguan.
  3. Ikhlas, berlepas diri dari kesyirikan. Termasuk diantaranya, dia tidak menjadikan antara dia dan Allah perantara dalam bentuk apapun.
  4. Jujur, bebas dari kemunafikan.
  5. Kecintaan terhadap kalimat ini, makna yang terkandung didalamnya, dan dia berbahagia dengannya (tidak dengan terpaksa).
  6. Patuh terhadap hak-hak kalimat syahadat yang harus dipenuhi, seperti: menunaikan yang wajib dan meninggalkan yang haram.
  7. Penerimaan, bebas dari penolakan, penyangkalan atau perasaan enggan.

Bersambung insyaallah.

Referensi:

  1. Al-Irsyad ila Tauhid Rabb Al-‘Ibad, Abdurrahman bin Hammad Al-Umar
  2. At-Tauhid wa Ma’na Asy-Syahadatain wa Hukmul Mutaba’ah, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
  3. Al-Qur’an Al-Karim
Kategori: Tauhid

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *