حمدا لله صلاة وسلاما لرسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه، ولا حول ولا قوة إلا بالله، أما بعد

Para ulama bersepakat bahwa mengusap kepala termasuk kewajiban wudhu, lalu mereka berbeda pendapat tentang batasan yang wajib dibasuh.

Sebab perbedaan pendapat dalam masalah ini adalah adanya ragam makna pada huruf baa’ dalam bahasa arab.

Pendapat pertama, Imam Malik dan Imam Ahmad berpendapat bahwa wajib mengusap seluruh kepala.

Dengan dalil firman Allah:

..وامسحوا برؤوسكم

Dan usaplah kepalamu… (QS. Al-Maidah:6)

Ulama yang berpendapat bahwa huruf baa’ adalah zaidah, mereka mewajibkan mengusap semua kepala, tanpa ada batasan tertentu, kehati-hatian kepada kewajiban.

Pendapat kedua, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i dan sebagian pengikut Maliki berpendapat bahwa yang wajib adalah mengusap sebagian kepala saja.

Dengan dalil firman Allah:

..وامسحوا برؤوسكم

Dan usaplah kepalamu… (QS. Al-Maidah:6)

Ulama yang berpendapat bahwa huruf baa’ mengandung makna sebagian, mereka mewajibkan mengusap sebagian kepala saja, mereka berpendapat pula dengan hadits Mughirah bin Syu’bah:

أن النبي صلى الله عليه وسلم توضأ فمسح بناصيته وعلى العمامة

“Sesungguhnya Nabi berwudhu, lalu mengusap depan kepala dan di atas serbannya.” (Shahih. HR. Muslim (274), Abu Daud (150), At-Tirmidzi (100), An-Nasa’i (1/63, 76), Ahmad (4/244, 274, 248, 249, 255), Ath-Thayalisi (1/56), Al-Humaidi (757), Abu Awanah (1/259), Ibnu Al-Jarud (83), dan Al-Baihaqi (1/58, 60)

Hadits di atas menunjukkan bolehnya mengusap sebagian kepala.

Pendapat rojih (yang mendekati kepada kebenaran) adalah pendapat pertama yang berpendapat wajibnya mengusap seluruh kepala. Sebagai berikut:

  1. Firman Allah

..وامسحوا برؤوسكم

(Dan usaplah kepalamu…) sama seperti firman Allah dalam ayat tayammum.

..فتيمموا صعيدا طيبا فامسحوا بوجوهكم وأيديكم منه

(Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik/bersih, usaplah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu..). Maka wajib mengusap seluruh kepala saat berwudhu seperti wajibnya mengusap seluruh wajah dan seluruh tangan saat tayammum.

  • Bahwasanya hadits Mughirah bin Syu’bah menunjukkan bolehnya mengusap serban, dan tidak menunjukkan bolehnya mengusap sebagian kepala mutlak, tetapi dipahami dari hadits tersebut adalah mengusap kepala seluruhnya.
  • Hadits Abdullah bin Zaid Al-Anshory radhiyallahu ‘anhu tentang sifat wudhu Nabi:

ثم مسح رأسه بيديه، قأقبل بهما وأدبر، بدأ بمقدم رأسه حتى ذهب بهما إلى قفاه، ثم ردهما إلى مكان الذي بدأ منه

“Mengusap kepalanya ke belakang, ia mulai dari ujung kepalanya lalu ditarik ke belakang sampai ke tengkuknya, lantas mengembalikannya ke tempat semula.” (HR. Bukhori no. 199 dan Muslim no. 235)

Perbuatan Nabi ini menjelaskan kewajiban, maka dibawalah kepada makna wajib, yaitu wajib mengusap seluruh kepala bukan sebagian.

Wallahu a’lam.

Penulis: Najla Aliyah Athifah

Pembimbing: Ustadz Yogi Galih Permana, B.A., M.H.

DAFTAR PUSTAKA

Jadawil Fiqhiyyah, Syaikh Dzahir bin Fakhri Adz-Dzahir

Mudzakkiroh Masalah Fiqih Wudhu, Ustadz Anas Burhanuddin

Terjemahan Bidaayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Ahmad Abu Al-Majd

Kategori: Fiqih

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *