Puji syukur kepada Allah Ta’ala yang melimpahkan taufik serta hidayah-Nya kepada kita semua. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad  ﷺ.

Pada pembahasan sebelumnya kita telah menyebutkan anugerah-anugerah yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad ﷺ di antaranya, ucapan yang dapat beliau dengar dari bebatuan dan pepohonan serta peristiwa mengenai pembelahan dada yang disaksikan oleh mata kepala orang lain secara jelas. Hal ini sebagai tanda bahwa Rasulullah ﷺ telah dipersiapkan dalam urusan yang telah diketahui umat manusia. Maka kali ini kita akan melanjutkan pembahasan berikutnya mengenai menyendirinya Rasulullah di gua Hira’.

Ketika masa kenabian Rasulullah ﷺ sebentar lagi tiba, di kalangan bangsa-bangsa lain telah tersebar berita bahwa Allah telah mengutus Nabi pada zaman ini dan masa itu telah dekat mereka yang mempunyai kitab akan mengenal hal tersebut dari kitab mereka. Sementara yang tidak berkitab mengenalnya dari tanda-tanda lain.

Di antaranya yang selalu dibicarakan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani mengenai Nabi adalah seperti riwayat yang menjelaskan bahwa seorang Yahudi dari tetangga Bani Abdu Al-Asyhal di Madinah dia bercerita kepada mereka tentang hari kebangkitan, perhitungan, timbangan surga, dan nereka. Warga Madinah mengingkarinya dan meminta tanda dan buktinya, hingga orang Yahudi itu berkata, “Akan datang seorang nabi yang diutus dari sekitar wilayah ini.” Sambil menunjuk ke arah Yaman dan Mekah.

Tatkala itu juga setan-setan dihalang untuk mencuri-curi kabar langit. Mereka dilempari dengan panah-panah berapi. Saat itulah jin-jin menyadari, bahwa pelemparan terhadap dirinya itu pasti terjadi karena satu urusan yang besar ditetapkan Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Ketika usia beliau mendekati empat puluh tahun, mulailah tumbuh pada diri beliau memiliki kecenderungan ‘uzlah (menyendiri) di Gua Hira’. Beliau menyendiri dan beribadah di gua tersebut selama beberapa malam, kadang lebih dari itu, sampai satu bulan. Kemudian beliau kembali ke rumahnya sejenak untuk mengambil bekal baru untuk melanjutkan ‘uzlah (menyendiri) di Gua Hira’. Demikianlah Nabi ﷺ terus melakukannya hingga wahyu turun kepadanya.

Pilihan beliau untuk mengasingkan diri ini termasuk satu sisi dari ketentuan Allah atas diri beliau, selagi langkah persiapan untuk menerima utusan besar sedang ditunggunya. Ruh manusia mana pun yang realitas kehidupannya disusupi suatu pengaruh dan dibawa ke arah lain, maka ruh itu harus dibuat kosong dari berbagai kesibukan duniawi. Begitulah Allah mengatur dan mempersiapkan kehidupan Rasulullah ﷺ untuk mengemban amanat yang besar, mengubah wajah dunia dan meluruskan garis sejarah.

Penulis: Elghautsa

Rujukan:

  1. , Ibnu Hisyam, cetakan Akbar Media, Jakarta.
  2. , Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri, cetakan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.
  3. ﷺ, Dr.Said Ramadhan Al-Buthy, cetakan Penerbit Naura Books, Jakarta.
Kategori: Siroh

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *