Standar Syariat

Sumber akhlak Islamiyyah adalah wahyu, yang merupakan nilai-nilai kokoh dan pedoman tetap yang sesuai bagi setiap manusia tanpa melihat jenis kelamin, waktu, tempat, dan jenisnya.

Adapun sumber akhlak teoritis adalah pikiran manusia yang terbatas atau apa yang disepakati oleh orang-orang dalam urf masyarakat. Oleh karena itu ia berubah dari satu masyarakat ke masyarakat lain dan dari satu pemikir ke pemikir yang lainnya.

Standar Budaya Lokal

Adat merupakan suatu hal yang berulang tanpa adanya hubungan akal.

Adapun Urf adalah apa yang menjadi kebiasaan banyak orang dan berjalan di seluruh negeri atau sebagiannya, baik yang berjalan sepanjang jaman atau pada era tertentu. Makanya, kata “adat” lebih umum daripada kata “urf.”

Dalam pengimplementasian akhlak, standar lokal disyariatkan untuk ditegakkan selama tidak bertentangan dengan asal syariat, nash, kaidah yang telah disepakati, dan ijmak.

Oleh karena itu, apabila suatu penduduk negeri terbiasa melakukan ibadah tertentu, maka ibadah tersebut tidak diterima, karena asal suatu ibadah adalah tauqif (tidak dilaksanakan apabila tidak ada dalilnya).

Standar ini (urf) merupakan bagian dari kaidah besar fikih dalam Islam yang memudahkan urusan dan kebutuhan manusia, dan diantara dalil yang menunjukkan kecocokan syariat di setiap waktu dan tempat adalah “sesungguhnya syariat tidak diturunkan untuk mempersulit”

وَمَا جَعَلَ عَلَيكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ) الحج : 78)

“Dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam beragama” [QS. Al-Hajj Ayat 78]

Dalam sebagian perkara akan mudah apabila sesuai dengan adat atau urf masyarakat. Oleh karenanya, syariat menetapkan hukum-hukum sesuai dengan adat istiadat manusia tanpa menyelisihi nash. Kaidah ini wajib diamalkan oleh setiap mufti ketika mengeluarkan fatwanya dan menjelaskannya dengan baik; Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan: Barang siapa memberikan fatwa kepada manusia hanya dengan dalil-dalil Al-quran sedangkan itu menyelisihi kebiasaan, jaman, tempat, dan keadaan mereka, maka sesungguhnya ia telah sesat dan menyesatkan.”

Pelanggaran dalam agama itu lebih berat daripada seorang dokter yang menyamaratakan resep obat kepada seluruh pasiennya dengan perbedaan negara, kebiasaan, dan jaman dari apa yang ada dalam suatu buku dari buku-buku kedokteran.

Bahkan, dokter jahil dan mufti jahil ini lebih berbahaya bagi agama dan tubuh mereka. (I’lamul Muwaqqi’in 3/70)

Standar Kontrol Psikologis

Allah ‘Azza wa Jalla telah menjelaskan dalam kitab-Nya bahwa dalam jiwa manusia dari awal pembentukannya telah diberi perasaan baik dan buruk;

وَنَفۡسٍ وَمَا سَوَّىٰهَا فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا) الشمس: ٧-٨)

“Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)Nya. Maka dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaan.” [QS. Asy-Syam: 7-8]

Sebagaimana manusia telah diberi kemampuan bahasa dan indera lahiriah, ia juga dibekali dengan wawasan moral;

بَلِ ٱلۡإِنسَـٰنُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦ بَصِیرَة) القيامة: ١٤)

“Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri.” [QS. Al-Qiyamah: 14]

Inilah yang disebut oleh sebagian ulama sebagai adh-dhomir al-akhlaqi atau al-hiss al-akhlaqi (nurani moral), sebagaimana setiap manusia telah diberi petunjuk ke dua jalan kebajikan dan keburukan;

  أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُۥ عَیۡنَیۡنِ وَلِسَانا وَشَفَتَیۡنِ وَهَدَیۡنَـٰهُ ٱلنَّجۡدَیۡنِ) البلد: ٨-١٠)

“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata. Dan lidah dan sepasang bibir? Dan Kami menunjukkan dua jalan kebajikan dan keburukan.” [QS. Al-Balad: 8-10]. Dan sungguh benar Firman Allah Ta’ala;

إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوۤءِ) يوسف: ٥٣)

“Sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan.” [QS. Yusuf: 53]. Akan tetapi manusia mampu untuk melawan hawa nafsunya:

وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِیَ ٱلۡمَأۡوَىٰ) النازعات: ٤٠-٤١)

“Dan adapun orang-orang yang takut terhadap Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya).”

Tidak seluruh manusia dapat membiasakan penerapan ini dalam dirinya, akan tetapi di antara mereka ada yang dapat melakukannya dengan taufik dari Allah, hal ini telah Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam tetapkan dalam hadisnya;

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا جَعَلَ لَهُ وَاعِظاً مِنْ نَفْسِهِ يِأْمُرُهُ وَيَنْهَاهُ أَخْرَجَهُ) الديلَمِي صَحِيحُ الجَامِع)

“Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hamba-Nya, Niscaya Allah berikan nasihat kedalam dirinya untuk memerintahnya dan melarangnya.” (Hadis ini dikeluarkan oleh ad-Dailami pada Shahih al-Jami’)

عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ رضي الله عنه، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: (اْلبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِيْ نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Kebaikan itu adalah akhlak yang baik, kejelekan (dosa) itu adalah sesuatu yang meresahkan jiwamu dan engkau benci apabila manusia mengetahuinya.” (HR. Muslim)

Dali-dalil diatas menunjukkan bahwa pada jiwa manusia ada nurani moral terhadap dosa, maka dari itu ia merasa tidak suka apabila ketika bermaksiat ada yang melihatnya. Karena sebenarnya ia sadar bahwa mereka merasakan apa yang ia rasakan. Dan itu adalah rasa moral yang ada di lubuk jiwa mereka. 

Oleh: Avivi Kayla

Referensi:

Materi Mata Kuliah Akhlak Islamiyyah 2021 – STDI Imam Syafi’i Jember

I’lamul Muwaqqi’in

Kategori: Akhlak

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *