بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين، الصلاة والسلام على أشرف الأنبياء والمرسلين، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد

Pada artikel sebelumnya kita telah membahas tentang kitab-kitab yang di dalamnya memuat hadis hasan, pada kesempatan kali ini insyaallah akan membahas perbedaan manhaj Abu Daud dan Imam Muslim dalam menyeleksi perawi.

Artikel sebelumnya menyatakan bahwa salah satu kitab yang memuat di dalamnya hadis hasan adalah sunan Abi Daud. Akan tetapi ada salah satu ulama yaitu Abu Fath Muhammad Ibn Sayyid An-Nas yang menyatakan bahwa Abu Daud sama sekali tidak memasukkan hadis hasan dalam sunannya. Beliau menyamakan syaratnya Abu Daud dalam sunannya dengan syarat Imam Muslim dalam sahihnya, kecuali ada hadis dha’if  yang dijelaskan oleh Abu Daud.

Persamaan Manhaj Abu Daud dan Muslim Menurut Muhammad Ibn Sayyid An-Nas

Perkataan Abu Daud dalam manhaj kitab sunan beliau:

ذكرت الصحيح وما يشبهه و يقاربه

“Saya mengeluarkan hadis sahih dan juga yang mendekati dan menyerupainya”.

Menurut Ibnu Sayyid An-Nas, maksud dari mendekati ini dekat dengan kesahihan dan menyerupai hadis sahih.

dan juga perkataan Abu Daud lainnya:

إن بعضها أصح من بعض

“Sesungguhnya sebagian hadis itu lebih sahih dari sebagian lainnya”

Menurut Ibnu Sayyid An-Nas hal tersebut menunjukkan bahwa hadis-hadisnya sahih walaupun ada perbedaan kualitas satu sama lain, kecuali dengan adanya hadis-hadis yang dibawah derajat sahih yang dijelaskan secara gamblang oleh Abu Daud.

Dua perkataan Abu Daud tersebut menurut Ibnu Sayyid An-Nas serupa dengan perkataan Imam Muslim:

ليس كل الصحيح نجده عند مالك و شعبة و سفيان, فاحتاج إلى أن ينزل إلى مثل حديث ليث بن أبي سليم, و عطاء بن أبي السائب, و يزيد بن أبي زياد, لما يشتمل الكل من اسم العدالة و الصدق, و إن تفاوتوا في الحفظ و الإتقان.

“ Tidak semua hadis sahih akan kita dapati dari Imam Malik, Syu’bah dan Sufyan, maka butuh untuk mengeluarkan hadis dari perawi seperti Laits ibn Abi Sulaim, dan ‘Atho ibn Abi As-Saib, dan Yazid ibn Abi Ziyad, karena mereka masih termasuk dalam perawi yang adil dan jujur, walaupun mereka berbeda tingkatan dalam hafalan dan itqan-nya.”

Berangkat dari ketiga perkataan inilah yang membuat Ibnu Sayyid An-Nas menyamakan syarat Abu Daud dan Imam Muslim.

Bantahan Terhadap Ibnu Sayyid An-Nas

  1. Kedua manhaj tidak serupa

Al-‘Iraqi membantah bahwa Imam Muslim mensyaratkan hadis sahih dalam kitab sahihnya, bahkan disepakati atas kesahihan hadis-hadisnya, maka kita tidak boleh menghukumi hadis yang dikeluarkan oleh beliau dengan hadis hasan apalagi hadis dha’if , karena keduanya berada di bawah derajat sahih. Adapun manhaj Abu Daud tidak mensyaratkan semua hadisnya termasuk hadis sahih, seperti perkataan beliau di artikel sebelumnya:

ما سكت عنه فهو صالح

“Hadis yang tidak aku sebutkan hukumnya maka itu adalah shalih

Kata shalih disini mencakup hadis sahih dan hasan, maka tidak akan naik derjatnya menjadi sahih kecuali dengan keyakinan.

  • Ketiga tingkatan diantara keduanya tidak serupa

Imam Muslim mebagi perawi menjadi 3 tingkatan:

  1. Perawi yang hafidz dan mutqin seperti Imam Malik & Syu’bah
  2. Hadis yang diriwayatkan oleh seorang yang kualitasnya berada di pertengahan seperti ‘Atha ibn Abi As-Saib, dan Yazid bin Abi Ziyad dan semisalnya.
  3. Hadis yang diriwayatkan oleh seorang yang dha’if dan tertinggal.

Di antara Abu Daud dan Muslim memiliki persamaan bahwa keduanya mengeluarkan hadis menurut ketiga tingkatan tersebut, akan tetapi di dalam sunan Abu Daud ketiga tingkatan tersebut merujuk kepada kualitas mutun hadisnya, sedangkan dalam Sahih Muslim kembali kepada perawinya, dan tidaklah lemahnya seorang perawi kontradiktif dengan kesahihan hadis dalam Sahih Muslim.

  • Abu Daud secara tidak langsung mensyaratkan adanya hadis yang lemah

Abu Daud menyebutkan bahwa manhaj beliau:

ما كان فيه وهن شديد بينته

“Jika terdapat hadis yang sangat lemah aku akan menjelaskannya”

Pernyataan ini menunjukkan bahwa ada hadis yang lemah akan tetapi tidak terlalu lemah yang tidak beliau jelaskan secara gamblang.

  • Perbedaan penempatan hadis dha’if

Imam Muslim meriwayatkan hadis dari perawi jenis yang ketiga (hadis yang diriwayatkan oleh seorang yang dha’if  dan ditinggalkan) untuk menambal kekurangan dari hadis yang diriwayatkan dari jenis kedua sebagai mutaba’ah dan syawahid, akan tetapi beliau sedikit sekali mengeluarkan dari jenis ini. Adapun Abu Daud sebaliknya, dan meletakkan hadis dha’if  sebagai hadis al-bab/ hadis al-ashl.

Demikian penjelasan mengenai perbedaan manhaj Abu Daud dan Imam Muslim dalam menyeleksi perawi, Insya Allah artikel selanjutnya akan membahas mengenai al-masanid.

  1. Al-Muqaranah Bayna ‘Amali Muslim Fii Sahihihi Wa ‘Amali Abi Daud Fii Sunanihi, Qalam Edu, 2020, https://qalamedu.org/topic/%D8%A7%D9%84%D9%85%D9%82%D8%A7%D8%B1%D9%86%D8%A9-%D8%A8%D9%8A%D9%86-%D8%B9%D9%85%D9%84-%D9%85%D8%B3%D9%84%D9%85-%D9%81%D9%8A-%D8%B5%D8%AD%D9%8A%D8%AD%D9%87-%D9%88%D8%B9%D9%85%D9%84-%D8%A3%D8%A8%D98-2/
  2. Tadrib Ar-Rawi jilid 1, Jalaluddin Asy-Syuyuthi, Daar Al-’Ashimah, Cetakan pertama, 1423 H.   
  3. Catatan pribadi penulis.

Penulis: Shalsabila


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *